
Lara menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan kedua mata terpejam. Mengatur napasnya agar bisa kembali tenang. Sebenarnya ingin sekali tadi ia memarahi Fabio terus-menerus selama mereka ada di mobil. Tetapi, Lara merasa semua itu percuma. Toh, Fabio juga pasti tidak mengerti dengan apa yang ia inginkan.
Lara menginginkan proses dalam hubungannya. Tidak mau menjalaninya secara instan. Lara ingin merasakan pacaran, tunangan sebelum berakhir di kursi pelaminan. Sebenarnya keinginan Lara sangat sederhana. Tidak perlu mengeluarkan modal terlalu banyak. Hanya saja, Fabio tidak mengerti hal-hal seperti itu.
"Kak Bi ... apa benar dia mencintaiku? Apa benar dia mengajakku menikah karena dia mencintaiku? Atau jangan-jangan dia mengajakku menikah karena kasihan," gumam Lara dengan wajah sedih. Ia memiringkan tubuhnya dan memandang ke pintu. Tidak tahu kenapa, ketika memandang ke pintu ia merasa jauh lebih tenang daripada harus memandang ke jendela.
Fabio berdiri di depan pintu kamar Lara dengan wajah bingung. Ada rasa ingin menerobos masuk saja ke dalam seperti apa yang ia lakukan selama ini. Tetapi, tidak tahu kenapa ada rasa takut di dalam hatinya. Ia takut Lara marah lagi.
"Apa dia sudah sarapan?" tanya Fabio di dalam hati. Ia tahu kalau Lara belum ada sarapan sejak mereka tiba di mansion. Selama berjam-jam wanita itu mengurung dirinya di kamar. Kini Fabio tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Walter yang kebetulan lewat di sekitar situ melihat Fabio dengan alis saling bertaut. Sebenarnya dia juga ingin tahu apa yang ingin dilakukan big Boss nya. Tetapi, ketika melihat Fabio hanya diam seperti patung membuat Walter segera mendekat.
"Bos," sapa Walter.
Fabio yang tidak menyangka kalau Walter juga ada di sana kini terlihat salah tingkah. Pria itu merapikan penampilannya seolah tidak ada hal apapun yang ingin ia lakukan.
"Apa yang anda lakukan di sini?" Walter berdiri di dekat Fabio. Menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Aku ingin memastikan kalau di sekitar sini sudah ada penjaga." Fabio memandang ke arah lain. "Di sudut sana. Sepertinya perlu di tambah pengawal agar tidak ada penyusup masuk."
"Bukankah Anda sendiri yang bilang kalau penjagaan di dekat kamar Nona Lara jangan terlalu banyak, Bos? Anda meminta pengawal berjaga di pintu keluar dan dekat tangga."
Fabio membisu lagi. Memang sebenarnya bukan itu yang ingin dia lakukan. Fabio sendiri memang tidak suka ada banyak pria di dekat kamar Lara. Cukup menjaga ruangan yang biasa dilalui keluar dan masuk saja sudah cukup.
"Bos, anda ingin bertemu dengan Nona Lara?" tanya Walter yang memang sudah paham apa yang ada di dalam pikiran Fabio. "Kenapa anda tidak ketuk saja pintunya."
Fabio berdehem pelan. "Sudah ku bilang. Aku kebetulan lewat," sangkal Fabio.
"Walter ingin mengajakmu sarapan!" sahut Fabio.
Jawaban itu membuat Lara dan Walter sama-sama kaget. Begitu juga dengan Fabio yang tidak tahu apa yang baru saja ia bicarakan. "Maksudku ... kau sudah sarapan Chubby?"
"Belum."
Walter memilih untuk menunduk daripada salah langkah. "Ayo Bos ajak Nona Lara sarapan," gumam Walter di dalam hati.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untukmu. Mereka akan mengantarnya ke kamar," ujar Fabio yang di sambut dengan wajah kesal Walter.
"Kak Bi sudah sarapan?" tanya Lara gantian.
"Aku ...."
"Nona, sebenarnya Bos Fabio ingin mengajak anda sarapan di taman yang ada di dekat taman. Biasanya cuaca seperti ini sangat cocok untuk berjemur sambil menikmati roti dan teh hangat. Bos Fabio ingin mengajak anda menikmati keindahan rerumputan dan bunga-bunga yang sedang bermekaran." Walter memandang Fabio dengan senyuman penuh arti. "Bukankah begitu bos?"
Fabio diam sejenak. "Apa ini salah satu cara agar Lara tidak marah lagi? Sepertinya tidak terlalu sulit," batin Fabio. Ia memandang ke depan dan mengukir senyuman. "Ya. Apa kau mau sarapan denganku di taman?"
"Baiklah. Ayo kita ke taman." Lara melangkah lebih dulu menuju ke lift. Fabio segera mengikuti Lara dari belakang. Sedangkan Walter, cepat-cepat menghubungi nomor Chef yang bekerja di mansion tersebut.
"Dalam waktu 1 menit kalian harus membuat suasana di sekitar taman menjadi romantis. Ada teh, roti, bunga, atau apapun itu. Ingat 1 menit!" ujar Walter panik. Ia tidak mau sampai Lara dan Fabio tiba di taman, tetapi belum ada persiapan apapun di sana.
Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author ya. Semoga suka.
__ADS_1