Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 20. Masakan Spesial


__ADS_3

Lara memilih tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Wanita itu merasa sedih dengan perlakuan Alex malam ini. Lara sudah bersusah payah menahan rasa lapar dan memakai pakaian terbuka demi mendapatkan perhatian Alex. Bahkan menurunkan harga dirinya. Sampai-sampai menghilangkan rasa malu. Tidak di sangka respon yang diberikan Alex sungguh menyakitkan hati.


"Kenapa harus Fiona? Apa selama ini Kak Alex selalu membandingkan tubuhku dengan Fiona?" Lara menggeleng pelan. "Tidak. Aku tidak mau Fiona menang. Dia wanita yang jahat. Aku tidak mau Kak Alex meninggalkanku dan lebih memilih untuk bersama Fiona. Aku tidak mau. Aku sudah terlanjur cinta dengan Kak Alex," lirih Lara.


Lara berbaring di atas tempat tidur dan memandang langit-langit kamar. "Apa aku bisa secantik Fiona? Apa aku bisa kurus seperti dulu lagi? Bagaimana caranya? Apa aku harus diet?" Lara memiringkan tubuhnya. "Jika nanti aku mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dan wajahku menjadi jelek, apa kak Alex masih bisa menerimaku? Aku tidak mau dicintai karena fisik. Aku ingin Kak Alex mencintaiku tanpa syarat."


Lara mengatur napasnya agar kembali tenang. Ia tidak mau menyerah hanya karena penghinaan Alex tadi. "Aku harus tetap berusaha. Besok pagi aku akan bangun pagi dan memasak makanan spesial untuk Kak Alex. Kata orang cinta juga bisa datang dari makanan. Dari perut naik ke hati. Siapa tahu ketika nanti Kak Alex suka dengan masakanku, dia bisa menerima keadaanku. Aku harus semangat!"


Lara memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda. Ia berusaha keras melupakan apa yang terjadi di kamar tadi. Walau terkadang masih terbayang dan membuat hatinya kembali sakit. Tetapi Lara berusaha keras melupakan dan memaafkan kesalahan Alex. Hatinya telah dibutakan dengan cinta.


...*...


Pagi yang cerah. Lara sudah bangun dan bersiap-siap ke dapur untuk memasak makanan spesial. Tadi saat semua orang belum bangun, secara diam-diam dia berlari ke kamar dan mandi. Bahkan Lara melakukannya secara diam-diam agar Alex tidak terbangun. Setelah pakaiannya terganti dengan pakaian tertutup, Lara turun ke lantai bawah dan melangkah menuju dapur.


Di dapur Lara di sambut oleh koki yang sedang memasak sarapan pagi. Mereka sempat kaget melihat Lara memilih bahan makanan. Mereka membujuk Lara agar kembali ke kamar. Tetapi, karena Lara keras kepala. Para koki yang ada di sana menyerah. Mereka membiarkan Lara memasak makanan apa yang dia inginkan.


"Nona, kami sudah selesai memasak sarapan pagi. Apa anda tidak masalah kami tinggal sendirian di sini?" tanya salah satu koki.


Lara mengangguk. "Ya, tidak masalah. Aku ingin memasak makanan spesial untuk Kak Alex."


"Tapi, Nona. Sepertinya Tuan Alex sudah berangkat tanpa mau sarapan," jawab koki tersebut.


"Benarkah?" Wajah Lara berubah kecewa. Padahal jelas-jelas tadi saat dia mandi Alex masih tidur di kamar.


"Nona, anda tidak perlu khawatir. Anda bisa datang ke kantor dan mengantarkan makanan buatan anda untuk Tuan Alex. Tuan Alex pasti senang," ucap koki tersebut. Koki tersebut tersenyum, pertanda kalau ia berada di pihak Lara kali ini.

__ADS_1


"Anda benar. Saya akan mengantarkan makanan ini ke kantor Kak Alex," ucap Lara dengan wajah semakin bersemangat. Wanita itu melanjutkan kegiatannya memasak tanpa mau ada yang mengganggu.


Di meja makan, Greta mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Ia tidak berselera untuk sarapan karena hanya sendirian di meja makan. Wanita itu melirik kursi yang biasa di duduki Lara dan menghela napas panjang.


"Dimana wanita itu? Tumben dia gak makan. Sepertinya dari semalam siang dia juga tidak makan. Apa dia ingin diet?" gumam Greta di dalam hati.


"Nona, apa makanannya tidak enak?" tanya koki yang mendampingi Greta sarapan pagi.


"Enak. Tapi aku tidak berselera. Mama dan papa tidak jadi pulang pagi ini. Kak Alex juga gak mau sarapan," jawab Greta dengan wajah sedih.


"Kalau Nona Lara masih sibuk di dapur, Nona."


"Di dapur? Apa yang dia lakukan di sana?" Greta mengeryitkan dahi.


"Nona Lara ingin membuat makanan spesial untuk Tuan Alex, Nona."


"Sepertinya bisa, Nona. Dilihat dari cara Nona Lara memilih bahan makanan, dia sudah terbiasa memasak, Nona."


Greta mengangguk pelan. "Pergilah. Tinggalkan aku sendiri!"


"Baik, Nona." Koki itu memilih pergi. Sedangkan Greta terlihat sedang memikirkan sesuatu ketika ia tahu kalau Lara kini masak di dapur.


"Makanan apa yang ingin dia buat? Aku jadi penasaran," gumam Greta di dalam hati. Ia beranjak dari kursi dan melangkah ke dapur. Greta ingin memastikan sendiri kalau Lara benar-benar pintar memasak.


Lara mencicipi masakan keduanya. "Sepertinya ada yang kurang." Lara mencari garam untuk dimasukkan ke dalam masakannya. Wanita itu sudah tidak sabar memberikan makanan yang dia masak ini kepada Alex. Dari arah pintu, Greta muncul dengan wajah angkuhnya.

__ADS_1


"Masak apa?" tanya Greta.


"Pangsit goreng untuk cemilan Kak Alex dan Udang asam manis untuk makan siang kak Alex. Aku juga ingin membuat sushi untuk sarapan kak Alex. Bukankah tadi Kak Alex tidak sarapan?" jawab Lara apa adanya.


"Kak Lara yang masak semua ini?" tanya Greta tidak percaya.


Lara mengangguk. "Kau mau mencobanya?"


Greta merasa tertarik dengan masakan yang di masak Lara. Namun, ia merasa gengsi untuk mengatakannya. "Tidak!"


"Coba dulu baru nolak," ujar Lara. Ia meletakkan beberapa pangsit goreng di piring dan mendekatkannya ke Greta. "Kau pasti suka."


Greta melirik lagi makanan yang ada di depannya. "Apa ini bisa bikin gendut?"


Lara menggeleng. "Jika hanya beberapa seharusnya tidak," jawab Lara santai.


Tiba-tiba saja Greta kepikiran untuk memasukkan garam ke masakan Lara yang ada di wajan. Secara diam-diam ia mengambil garam dan memasukkannya ke dalam masakan Lara. Saat itu Lara tengah sibuk mencari kotak nasi di lemari. Greta sendiri tidak terlalu banyak memasukkan garam ke masakan Lara karena takut-takut.


"Masakan asin ini akan membuat Kak Alex marah," gumam Greta di dalam hati.


Lara melihat jelas apa yang dilakukan Greta. Namun, ia tidak mau memarahi Greta karena Lara merasa lelah berdebat. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati masakannya.


"Lain kali kalau mau ngasih garam, agak banyak sedikit!" sindir Lara dengan nada yang lembut.


Greta melebarkan kedua matanya. Wanita itu berputar dan memutuskan meninggalkan Lara sendirian di dapur. Sedangkan Lara menambah gula dan air ke dalam masakannya.

__ADS_1


"Greta ... Greta. Iseng banget sih. Padahal memang masakan ini kurang asin," gumam Lara dengan senyuman di bibirnya. Ia kembali mencicipi masakannya untuk memastikan masakannya sudah enak atau belum.


__ADS_2