Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 88. Sarapan Romantis


__ADS_3

Dari segi persiapan makanan, para chef tidak dibuat kesulitan. Mereka memang sudah selesai memasak aneka menu untuk sarapan pagi. Hanya tinggal membawanya saja menuju ke taman. Namun, jika Walter meminta agar mereka membuat taman menjadi suasana yang romantis, hal itu cukup sulit untuk mereka lakukan. Mengingat waktu yang diberikan Walter hanya satu menit saja.


Kini semua pekerja yang tugasnya ada di lantai bawah sedang sibuk membawa bunga, makanan, minuman dan segala hal yang berhubungan dengan sarapan romantis Fabio dan Lara. Ini pertama kalinya mereka melihat Fabio kasmaran sama seorang wanita. Jelas saja mereka tidak mau sampai Fabio gagal. Kebahagiaan Fabio akan membuat seisi mansion dipenuhi bunga-bunga.


Ketika Fabio dan Lara tiba di lantai bawah, terlihat beberapa pelayan yang berlari menuju ke taman dengan bunga indah di tangannya. Fabio yang melihat hal itu sudah paham apa yang ingin dilakukan oleh pekerjanya. Ia justru memikirkan cara agar Lara tidak melihat apa yang dilakukan oleh bawahannya itu.


"Chubby, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Fabio hingga membuat Lara berhenti. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang Fabio dengan saksama.


"Ada apa Kak Bi?"


Fabio memandang ke arah pelayan yang berlarian sebelum memandang wajah Lara lagi. "Kenapa mereka lama sekali. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar Lara tidak segera tiba di taman?" umpat Fabio di dalam hati. Pria itu tidak suka kegagalan. Walau perintah ini memang terkesan mendadak, tetapi Fabio mau semua terjadi sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Kak Bi kenapa diam saja? Apa yang mau Kak Bi katakan?" tanya Lara lagi ketika Fabio tidak juga mengucapkan satu katapun.


"Maafkan aku," ucap Fabio dengan wajah penuh penyesalan.


"Maaf karena sudah mengajak Lara menikah?" sahut Lara dengan wajah yang serius.


"Bukan," jawab Fabio pelan.


"Lalu?" Lara yang semakin penasaran kini menunggu jawaban Fabio dengan debaran jantung yang tidak karuan.


"Maafkan aku karena sudah mencintaimu ... Chubby."

__ADS_1


Deg.


Lara mematung. Seharusnya dia tidak kaget lagi ketika mendengar jawaban dari Fabio. Bukankah tingkah laku pria itu sudah menunjukkan kalau pria itu jatuh cinta pada Lara. Namun, tidak tahu kenapa mendengar jawaban Fabio kali ini membuat Lara bahagia. Walaupun begitu Lara masih menjaga hatinya. Belajar dari pengalaman adalah kunci dari sebuah kebahagiaan.


"Kak Bi yakin?" tanya Lara dengan wajah sedikit ragu.


Fabio menghela napas. "Kenapa sulit sekali membuatnya percaya? Lalu, apa lagi sekarang!" Fabio memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ternyata Kalimat itu adalah kalimat yang dikirimkan Walter untuk membantunya mendapatkan cinta Lara. Bukan dari pikiran Fabio sendiri.


"Chubby, kenapa kau tidak mau menikah denganku?"


Walter yang sejak tadi mengintip kini menepuk dahinya dengan keras. Pria itu mengumpat big bossnya sendiri karena lagi-lagi membahas hal yang sama dengan Lara.


Lara menghela napas sebelum melanjutkan langkah kakinya. "Untuk apa menikah kalau akhirnya tidak bahagia," sahut Lara asal saja.


"Bos, jangan bahas soal pernikahan. Itu hanya akan membuat Nona Lara marah."


"Tapi aku ingin dia menikah denganku!" jawab Fabio dengan ucapan.


Lara yang mendengar suara Fabio lagi-lagi memutuskan untuk berhenti. Ia berputar dan memandang wajah Fabio. "Kak Bi ngomong sama siapa?"


Walter segera bersembunyi. Sedangkan Fabio kini berdiri seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa. Ia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. "Tidak ada. Ayo kita sarapan," ajak Fabio. Ia lelah bersikap sok romantis karena memang sebenarnya ia bukan tipe pria yang romantis.


Setibanya di areal taman, Lara di buat kagum hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Taman itu kini terlihat berwarna-warni karena ada bunga yang bermekaran. Di sepanjang jalan menuju ke meja ada kelopak bunga yang sengaja di letak di jalanan berbatu. Belum lagi dilihat dari kejauhan, meja yang akan di duduki Lara dan Fabio untuk sarapan sudah terlihat sangat romantis. Ada kue, teh bahkan jus di atas meja. Di susun serapi mungkin hingga indah di pandang mata.

__ADS_1


"Sejak kapan tempat ini berubah menjadi seperti ini?" tanya Lara bingung.


"Ayo kita sarapan." Fabio menarik tangan Lara dan membawanya ke meja yang ada di tengah taman. Pria itu merasa puas melihat hasil pekerjaan bawahannya.


Lara duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana. Posisinya menghadap ke Fabio. "Kak Bi yang siapin semua ini?"


"Ya. Hanya untukmu," jawab Fabio singkat.


"Sejak kapan?"


Fabio diam sejenak. "Sejak kapan apanya?"


"Sejak kapan Kak Bi kepikiran untuk menikah denganku?"


Fabio diam sejenak sebelum menuang jus ke dalam gelas kosong yang ada di dekat Lara. "Aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan." Fabio meletakkan teko kaca tersebut sebelum memandang wajah Lara lagi. "Lara, aku tahu kalau saat ini kau masih belum bisa membuka hatimu untuk merima pria lain. Mungkin rasa trauma itu membuat kau takut untuk menerimaku. Tetapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikannya kepadamu kalau aku benar-benar sangat mencintaimu."


Lara membisu tidak tahu harus berkata apa lagi. Wanita itu mengambil gelas yang sudah berisi jus dan meneguknya. "Ayo kita mulai sarapannya kak."


"Dia bahkan tidak mau menanggapinya. Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan? Atau cinta ini bertepuk sebelah tangan?"


Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author. Semoga suka.❤️


__ADS_1


__ADS_2