
Lara memandang Walter yang kini sudah masuk ke dalam lift. Mengingat kalau kini hanya ada dia dan Fabio saja di sana, membuat Lara grogi.
"Kak Bi." Lara beranjak dari kursi. "Ada yang mau Lara katakan sama Kak Bi."
"Tentang apa?" Fabio melirik koper yang ada di samping Lara. "Kenapa koper itu bisa ada di sini?"
"Koper ini berisi barang-barang Lara, Kak." Lara terlihat bingung. Ia memandang ke kanan ke kiri dengan wajah gelisah.
"Ada apa?" tanya Fabio tidak sabar.
"Kak Bi, terima kasih. Berkat Kak Bi, Lara bisa membalaskan sakit hati yang pernah Lara rasakan. Kini Lara sudah jauh lebih tenang. Mungkin terima kasih saja tidak cukup. Tetapi, Lara bingung apa yang harus Lara lakukan agar bisa membalas kebaikan Kak Bi," ucap Lara dengan kepala menunduk. "Kak Bi, Lara mau pamit. Sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk Lara tinggal di rumah ini. Lara gak mau terus menerus merepotkan Kak Bi. Lara akan memulai hidup Lara yang baru. Makan sepuasnya tanpa harus memikirkan berat badan Lara."
Fabio mengeryitkan dahi mendengar perkataan Lara. Jelas saja pria itu tidak setuju. Di tambah lagi kalau kini ia tahu Alex bukan pria sembarangan. Fabio belum tahu, kalau Alex yang pernah ia lihat bukanlah Alex yang asli. Melainkan Mark yang kini memiliki wajah sama seperti Alex.
"Kau tidak bisa pergi tanpa membayar semua yang sudah aku berikan," ucap Fabio. "Bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis?"
Lara kaget bukan main. Tadinya ia pikir kalau Fabio adalah tipe pria yang tidak akan pernah mengungkit apa yang sudah pernah ia berikan. "Kenapa jadi begini? Jika Kak Bi memintaku untuk mengembalikan apa yang sudah ia berikan maka aku tidak akan mampu," gumam Lara di dalam hati.
"Setelah kau berhasil membayarnya, kau boleh pergi dari rumah ini," sambung Fabio lagi.
Lara tersenyum manis. "Kak Bi, kalau boleh Lara tahu, berapa yang harus Lara bayar?"
Fabio melangkah ke jendela yang ada di depannya. "Chubby, kau pasti tahu kalau aku ini pria yang kaya raya. Aku tidak butuh uang."
"Tidak butuh uang? Jangan-jangan ...." Lara melebarkan kedua matanya. "Apa Kak Bi ingin aku membayar semua ini dengan tubuhku? Bukankah pria kaya selalu seperti itu!"
"Jangan Kak!" celetuk Lara. Hal itu membuat Fabio menahan langkah kakinya dan memandang wajah Lara yang kini berada tidak jauh dari posisinya berdiri.
"Jangan?"
"Kak Bi, Lara tahu Kak Bi pria yang baik. Bukan pria mesum seperti om-om kaya pada umumnya."
__ADS_1
Fabio terlihat kebingungan mendengar perkataan Lara. "Apa yang sebenarnya dia pikirkan?" gumam Fabio di dalam hati.
"Kak, Lara tidak mau melakukan hal seperti itu. Lara belum berpengalaman. Selain itu, kita juga tidak memiliki hubungan apapun. Tidak ada ikatan apapun. Bagaimana kalau Lara hamil? Lara tahu kalau Kak Bi pria yang baik. Tetapi, Lara tetap tidak mau melakukannya."
Fabio kaget bukan main mendengar apa yang baru saja dikatakan Lara. "Hamil?"
"Ya, hamil. Bukankah hal seperti itu bisa membuat wanitanya hamil?" sambung Lara cepat.
"Apa yang kau bicarakan?" Fabio semakin bingung. Belum pernah ia merasa bingung seperti ini. Di tambah lagi kini tidak ada Walter yang seharusnya bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Bi ingin Lara tinggal di rumah ini kan?" ucap Lara.
Fabio diam sejenak. "Kenapa dia bisa tahu?" gumam Fabio di dalam hati. "Ya," jawab Fabio.
"Tidak salah lagi. Ternyata Kak Bi sama saja dengan pria hidung belang di luar sana!" Lara melipat kedua tangannya dan membelakangi Fabio.
"Hidung belang?" Fabio menunjuk wajahnya sendiri. Pria itu berjalan mendekati Lara dan berdiri di depan wanita itu. "Kenapa kau memanggilku pria hidung belang?"
Fabio mulai paham dengan apa yang dipikirkan Lara. Pria itu memijat pangkal hidungnya sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya dia inginkan.
"Chubby, aku memintamu untuk tinggal di mansion ini karena aku tidak mau kau berada dalam bahaya."
"Bahaya?" Lara memandang wajah Fabio. "Bahaya bagaimana?"
"Mantan suamimu itu tidak akan menyerah. Dia pasti akan terus mencarimu dan memaksamu untuk kembali padanya. Kau harus ingat, kalau dia adalah pria dan kau hanya seorang wanita. Kau bisa kalah jika pria itu berniat berbuat jahat padamu, Chubby."
"Bukan karena Kak Bi ...." Lara menahan kalimatnya.
"Bukan. Aku bukan pria seperti itu. Sebaiknya kau tinggal di mansion ini sampai keadaan benar-benar aman. Aku akan mempersiapkan supir yang akan mengantarmu ke mana saja."
"Baiklah kak, jika itu yang kakak mau," ucap Lara pasrah. Ia kini tidak memiliki pilihan lain lagi selain menuruti apa yang dikatakan Fabio.
__ADS_1
"Sekarang bawa masuk koper ini ke kamar. Kita harus makan siang di bawah."
Lara mengangguk setuju. "Baiklah. Tapi sebelumnya Lara mau ucapin terima kasih karena Kak Bi sudah peduli dengan Lara." Lara menarik kopernya. "Lara ke kamar sebentar ya kak."
Fabio tersenyum. Ia memandang Lara membawa koper itu menuju ke kamar. "Bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu. Apa wajahku terlihat seperti lelaki hidung belang?"
Di dalam kamar, Lara terlihat sedih karena tidak berhasil pergi meninggalkan mansion mewah tersebut. "Jika Kak Bi terus-menerus membantuku seperti ini, maka hutang budiku akan semakin besar."
Lara meletakkan koper itu di samping tempat tidur. Ia segera keluar menemui Fabio yang masih menunggunya. Lara merapikan penampilannya sebelum keluar kamar.
Fabio membelakangi Lara. Ia memandang ke Kairo jendela sambil memikirkan sesuatu. Lara berjalan semakin dekat dengan langkah yang hati-hati.
"Kak Bi, ayo," ajak Lara.
Fabio memutar tubuhnya. Ia memberikan jalan kepada Lara agar jalan lebih dulu menuju ke lift. Lara terlihat bingung mau berkata apa. Suasana akan semakin canggung jika mereka berdua tidak ada yang berbicara lebih dulu.
"Kak Bi." Lara berhenti. Ia memutar tubuhnya dan memandang wajah Fabio.
Fabio menghentikan langkah kakinya. Pria itu memandang ke ujung lorong. Seorang pria telah berdiri dengan senjata api di tangannya. Tanpa mengucapkan satu katapun, pria itu menarik pelatuknya.
DUARR
Dengan sigap Fabio mengeluarkan senjata apinya. Pria itu tidak lupa untuk melindungi Lara dengan cara menarik pinggang Lara dan meletakkannya di samping.
Ketika melihat Fabio memegang senjata, pria itu berlari untuk bersembunyi. Fabio memandang Lara dan memeriksa tubuh wanita itu untuk memastikan kalau tidak ada yang terluka.
"Chubby, apa kau baik-baik saja?"
Lara gemetar. Ia memandang Fabio dan mengangguk pelan. "Apa apa ... apa yang ter-" Lara memandang pria yang berdiri di belakang Fabio. Pria itu kembali muncul dan berusaha mencelakai Fabio. "Kak Bi, awas!" Lara memeluk Fabio untuk melindungi.
DUARRR
__ADS_1