Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 12. Berkeliling


__ADS_3

Matahari kembali bersinar terang. Setelah beberapa hari gagal berkeliling rumah karena hujan di luar, siang ini Lara memiliki kesempatan untuk menjelajahi rumah mewah keluarga Moritz. Tempat yang pertama kali di datangi Lara adalah kolam renang. 


Di sana Lara bisa melihat sofa yang banyak untuk bersantai. Kolam renang luas dengan air biru. Ada dinding tinggi yang membatasi kolam dengan kebun buah. Jika di lihat dari atas bisa kelihatan jelas taman buahnya. Namun, jika berdiri dari dekat kolam renang hanya terlihat tembok berwarna putih yang kokoh.


Lara sangat ingin berenang di kolam renang mewah tersebut. 


Kapan lagi bisa mandi sambil menikmati keindahan rumah mewah keluarga suaminya. Sayangnya, akhir-akhir ini Lara tidak bersemangat. Sifat Alex semakin hari semakin dingin. Apapun yang ia lakukan selalu salah di mata Alex. Termasuk cara dia berpakaian dan makan juga salah. Demi membuat Alex tidak marah lagi kadang Lara hanya menghabiskan satu porsi makanan saja. Tidak mau tambah. Apa lagi sampai menghabiskan semua makanan di meja seperti kemarin. Walau semua usahanya itu tetap saja dipandang sebelah mata oleh Alex.


Hana selalu ada di samping Lara untuk menemani Lara berkeliling. Sebenarnya ia juga merasa malas menemani Lara. Tapi mau bagaimana lagi. Ini salah satu usaha yang bisa ia lakukan demi mendapatkan kepercayaan dari Lara.


"Nona, apa anda sakit?" Lara menggeleng pelan sebelum duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Ia memandang ke arah kolam dengan tangan menopang dagu.


"Anda terlihat murung sejak tadi pagi, Nona. Tidak seperti biasanya," ucap Hana lagi.


"Hana, apa aku ini jelek sekali? Kenapa semua orang menghinaku karena aku gendut? Apa gendut sebuah dosa? Apa gendut membuat semua orang menjadi sial?" tanya Lara dengan wajah sedih.


"Nona, kenapa anda bicara seperti itu? Anda itu wanita yang hebat. Saya saja kadang iri sama anda."


"Iri? Kau iri padaku?" Lara menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah tidak percaya.


"Ya, Nona. Di saat semua orang menghina anda. Anda tetap terlihat tegar. Jika saya jadi anda, saya tidak akan berani melihat wajah orang-orang yang pernah menghina saya," sahut Hana. "Apa lagi sampai melawan mereka!" Ia sengaja mengatakan kalimat itu agar Lara tidak lagi berani keluar kamar. Menjadi wanita penyendiri yang menyedihkan.

__ADS_1


"Aku berpikir kalau aku wanita yang baik. Aku tidak pernah mau membuat orang lain celaka apa lagi sampai tersinggung. Tapi, tidak tahu kenapa, semua orang benci melihatku."


"Nona, anda tidak pernah kepikiran untuk diet?"


"Diet?"


"Ya, Nona. Jika anda kurus mungkin semua orang tidak akan menghina anda lagi."


Lara tertawa kecil. Hal itu membuat Hana bingung. "Hana, saat aku kurus juga semua orang suka menghinaku. Sejak kecil aku selalu di bully. Yang katanya penyakitan, kurus kurang gizi. Hidupku serba salah, Hana." Lara menutup wajahnya. "Beban hidupku sudah sangat berat sejak aku SD. Saat itu kulitku hitam dan memang aku sangat jelek. Aku bertekad untuk mengurung diri di kamar agar kulitku bisa putih. Mama bilang aku lahir dengan kulit putih. Kulitku hitam karena aku sering bermain di bawah terik matahari. Hal itu justru membuatku jadi hobi makan. Aku jadi gemuk. Berat badanku naik setiap bulannya. Aku bahkan sempat tidak sadar kalau ternyata tubuhku sudah gemuk. Hingga pada akhirnya semua pakaianku tidak muat lagi."


"Cerita yang membangongkan. Kurus di hina gemuk di caci. Sepertinya nasipnya memang sudah di takdirkan tidak bahagia sejak kecil hingga dewasa," gumam Hana di dalam hati.


"Hana, jika sedih dan stres, tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain makan. Dengan makan aku bisa merasa jauh lebih baik."


"Aku kesulitan berjalan sekarang Hana. Bagaimana bisa aku olahraga? Tidak ada jaminan apapun saat ini. Belum tentu Kak Alex mau menerimaku kalau aku kurus."


"Anda mau mempertahankan berat badan anda, Nona? Bukankah itu juga tidak terlalu baik untuk kesehatan?"


"Aku mau berubah Hana. Tapi tidak di saat Kak Alex membenciku seperti sekarang. Jika dia mencintaiku saat tubuhku cantik, itu sama saja dia mencintaiku karena fisik. Jika suatu saat aku kecelakaan dan wajahku rusak, bukankah kita sudah bisa tahu bagaimana nasipku setelah itu?


Sudah pasti Kak Alex akan mencampakkanku karena dia mencintaiku karena fisik. Aku akan berubah jika Kak Alex mencintaiku dalam keadaan seperti sekarang. Karena aku anggap itu cinta yang tulus darinya. 

__ADS_1


Apapun keadaanku kedepannya nanti, Cinta Kak Alex tidak akan pudar. Wanita melewati banyak perubahan dalam hidupnya. Dari mulai mengandung. Tubuhnya akan gemuk kan? Melahirkan. Belum lagi menyusui yang akhirnya membuat aset kita terlihat kurang menarik. Untuk mendapatkan pria yang bersungguh-sungguh mencintai kita adalah di saat sekarang."


Hana membisu. Semua yang dikatakan Lara memang benar. Tapi, dia bekerja untuk Fiona. Ia tidak bisa memihak Lara. Apapun yang dikatakan Lara baik benar atau salah tetap saja tidak menggoyahkan kesetiaan Hana terhadap Fiona.


"Nona, anda tidak mau melihat kebun buah di taman belakang? Di sana kita bisa makan buah. Kebetulan sekarang jeruk kita lagi berbuah, Nona."


"Benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi. Ayo kita ke sana." Lara beranjak dari sofa. Saat mau melangkah, tiba-tiba Lara melihat Tuan dan Ny. Moritz berjalan menuju ke tempatnya berada. Lara dan Hana saling memandang sebelum mengukir senyum ramah.


"Selamat siang, Pa. Ma."


"Siang juga Lara. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tuan Moritz.


"Lara jalan-jalan saja Pa," jawab Lara dengan senyuman indah. Ia berharap mama mertuanya juga bisa tersenyum. Tapi, sejak pertama kali melihat Lara justru Ny. Moritz terlihat cuek.


Tuan Moritz mengangguk. "Lara, ada hal penting yang ingin Papa sampaikan. Untuk beberapa minggu ini papa harus pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Papa harap, setelah papa dan mama pulang. Hubunganmu dan Alex bisa lebih membaik. Jangan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Alex ya. Papa yakin kalian bisa bahagia suatu hari nanti," ucap Tuan Moritz penuh harap.


"Lara akan berjuang untuk meluluhkan hati Kak Alex, Pa." Mendengar jawaban Lara membuat Ny. Moritz tersenyum menghina. Namun ia tidak mau mengatakan satu katapun karena tidak mau ribut dengan suaminya.


"Papa pergi dulu ya." Tuan Moritz menepuk pundak Lara. 


"Hati-hati, Pa. Tetap jaga kesehatan ya."

__ADS_1


Mereka berdua pergi setelah berpamitan dengan Lara. Hana tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Is sudah tidak sabar memberi tahu Fiona kabar baik ini.


"Sepertinya ini waktu yang tepat bagi Nona Fiona untuk datang ke rumah ini dan menginap. Lara … bersiaplah sakit hati. Karena tidak lama lagi kau akan sadar siapa sebenarnya dirimu. Betapa tidak pantasnya kau bersanding dengan Tuan Alex! Hanya Nona Fiona yang berhak mendapatkan Tuan Alex," gumam Hana di dalam hati.


__ADS_2