Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 9. Belanja Baju Big Size


__ADS_3

Alex terlihat sibuk di kantor. Ia memeriksa beberapa laporan yang baru saja diberikan bawahannya. Ketika tugasnya belum selesai, tiba-tiba Fiona sudah muncul. Dengan penampilan yang seksi dan cantik, wanita itu berusaha menggoda Alex agar mau menuruti permintaannya.


"Fiona, kenapa kau tidak bilang kalau mau datang?"


"Kenapa? Kau tidak suka?" jawab Fiona dengan bibir cemberut. Ia duduk di sofa yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja kerja Alex.


"Bukan. Bukan seperti itu." Alex beranjak dan berjalan mendekati Fiona. "Aku senang kau datang."


"Benarkah?" 


"Hmm." Alex duduk di samping Fiona dan membelai rambut wanita itu.


"Aku ingin shopping," rengek Fiona.


"Shopping?"


"Ya." Fiona bergelayut manja di lengan Alex. "Aku mau ke mall."


"Butik saja ya," bujuk Alex.


"Aku tidak mau!" Fiona melepas rangkulannya. Ia memasang wajah marah. "Apa kau takut ketahuan istrimu?"


Alex diam sejenak. Sebenarnya memang itu yang dia takutkan. Bahkan bukan hanya takut kepergok Lara saja. Alex takut kalau orang-orang kepercayaan Tuan Moritz melihatnya bersama dengan Fiona.


"Bukan. Bukan seperti itu. Aku banyak kerjaan hari ini. Aku tidak bisa keluar lama-lama. Mall kan luas."


Fiona memandang wajah Alex. "Tapi aku tidak mau ke butik," rengek Fiona lagi. "Aku mau beli tas saja." Fiona mengambil ponselnya dan menunjukkan foto tas pilihannya. "Ini. Aku mau warna hitam dan merah."


Alex mengeryitkan dahi ketika melihat harga tas itu. Namun, ia juga tidak mau melihat Fiona marah. Alex sudah terlanjur tergila-gila dengan wanita itu hingga tidak mau kehilangan Fiona.


"Baiklah. Aku transfer ya," bujuk Alex. Ia mengambil ponselnya dan membuka mobile banking. 

__ADS_1


Fiona tersenyum bahagia karena rencananya berhasil. "Akhirnya aku bisa mendapat uang yang jauh lebih banyak dari wanita kampung itu!" gumam Fiona di dalam hati.


***


Lara sudah ada di salah satu mall yang ada di kota. Kini wanita itu sibuk mencari toko baju yang menjual pakaian ukuran big size. Tadi sudah ada beberapa toko yang ia datangi. Lara sudah membeli blouse, celana, rok, gaun, cardigan hingga jumsuit. Tidak lupa Lara membeli sendal dan tas baru. Lara memilih harga yang tidak terlalu mahal. Ia tidak mau menghabiskan semua uang yang diberikan Alex tadi pagi. 


Beberapa paper bag sudah menggantung di genggaman Lara. Ia merasa belanja hari ini sudah cukup. Jika kurang dia bisa kembali lagi lain hari. 


Perjalanan Lara hari ini bisa di bilang cukup panjang. Dari toko satu ke toko yang lainnya berada di lantai yang berbeda. Di tambah lagi Lara tidak berani naik lift. Jadi, mau tidak mau ia harus naik turun tangga saat ingin pindah ke lantai atas.  


"Hari ini panas sekali," gumam Lara. Ia mengeringkan peluh di wajah dengan tisu. Wanita itu mengeryitkan dahi melihat restoran yang ada di depannya. Lara mengambil tasnya dan memeriksa uang yang tadi di berikan Alex. Jumlahnya masih banyak. Senyum indah terukir di bibirnya. 


"Jika aku ambil sedikit untuk beli makanan, Kak Alex tidak akan marah kan?" gumam Lara di dalam hati. Ia beranjak dari kursi itu dan berjalan ke restoran. Belum juga tiba di dalam Lara sudah memikirkan kira-kira makanan apa saja yang akan ia makan nanti. 


Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Lara dengan senyuman. Pelayan itu membawa Lara ke kursi yang kosong. Lara memilih duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Di sana ia bisa melihat dengan jelas taman bunga dan menikmati udara yang masuk melalui jendela.


"Nona, anda mau pesan apa?" Pelayan wanita itu memberikan buku menu kepada Lara. Alis Lara saling bertaut ketika melihat harga makanan di restoran itu cukup fantastis. Jenis menunya sama dengan menu yang di jual cafe pinggiran jalan dekat rumahnya. Tetapi, harga di restoran ini hampir 3 kali lipat jika dibandingkan dengan harga di sana.


"Nona, beef steak dengan saus blackpaper adalah menu andalan kami. Daging yang kami gunakan adalah daging segar pilihan yang rasanya di jamin enak," bujuk pelayan itu.


"Benarkah? Saya pesan 3!" jawab Lara mantap. Masih mendengar ceritanya saja, sudah membuatnya lapar. Tidak bisa dibayangkan. Berapa lama makanan itu bertahan di meja setelah tiba nanti. Hanya hitungan detik saja mungkin makanan itu sudah habis di lahap Lara.


"Baik, Nona. Anda mau minum apa?"


"Lemon tea."


"Baik, Nona. Mohon di tunggu." Pelayan wanita itu pergi bersama kertas yang berisi pesanan Lara. Lara mengukir senyuman indah. Ia memandang sekelilingnya dengan wajah ceria. 


"Restoran ini sangat luas dan ramai. Pasti makanan di sini enak-enak," gumam Lara. Ia mengambil air mineral di meja dan membuka tutupnya. Tenggorokannya terasa kering sekali. 


"LARA!" 

__ADS_1


Lara kaget bukan main ketika ada yang menepuk pundaknya. Wanita itu sampai tersedak. Ia memandang ke samping dan melihat wajah orang yang baru saja mengagetkannya.


"Vera, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lara dengan wajah kaget. "Dari sekian banyak tempat makan yang ada di mall ini, kenapa dia harus ada di sini juga," umpat Lara di dalam hati.


"Tentu saja aku mau makan. Memang di sini tempat langgananku." Vera memperhatikan penampilan Lara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajahnya lagi-lagi terlihat sedang menghina. "Kau mau ngapain di sini Lara? Apa kau mau makan? Apa di rumah Tuan Alex kau tidak di kasih makan?" Vera tertawa menghina. "Atau jangan-jangan mereka tidak mau memberimu makan karena makanmu sangat banyak?"


Lara beranjak dari kursi. "Ya. Aku ke sini mau makan! Kenapa? Apa ada yang salah?"


Vera melipat kedua tangannya di depan dada. "Tentu saja ada yang salah!" ujar Vera. "Wanita kampung sepertimu tidak pantas ada di tempat makan mewah seperti ini."


"Oh ya?" Lara mengambil uang dari dalam tasnya. "Jangankan bayar makan di sini. Bayar muncungmu yang pedas itu saja aku sanggup!" ketus Lara tidak mau kalah. Ia memamerkan setumpuk uang yang ia miliki hingga membuat Vera kaget bukan main.


"Sial! Baru menikah saja dia sudah memiliki uang sebanyak ini. Barang belanjaannya juga banyak sekali. Apa Tuan Alex menikahinya memang karena dia cinta? Tapi, apa mungkin?" gumam Vera di dalam hati.


"Ada apa, Vera? Kaget?" sindir Lara.


"Dasar OKB. Maruk banget sih!" Vera membuang tatapannya. "Aku jadi gak selera makan, karena melihat wanita monster juga ada di sini!" umpat Vera sebelum pergi.


"Pergi sana! Tidak sanggup bayar bilang saja!" sindir Lara gantian.


Hal itu membuat pengunjung di restoran memandang Vera dan berbisik-bisik. Sebagian orang yang melihat langsung kejadian itu, memang bisa menilai. Kalau sejak awal Vera lah yang salah.


"Kenapa jadi aku yang dipermalukan? Tidak. Aku akan balas perbuatanmu Lara. Lihat saja nanti," umpat Vera di dalam hati.


Lara kembali duduk di kursi. Wanita itu merasa sangat puas karena telah berhasil membalas perbuatan Vera. 


"Padahal aku tidak pernah mengusiknya. Kenapa dia sangat membenciku hingga separah ini? Apa salah jika aku gendut? Apa salah jika aku bisa menikah?"


Lara memandang koki yang datang membawa makanan pesanannya. Semua rasa kesal di dalam hatinya hilang begitu saja ketika melihat makanan lezat itu ada di depan matanya.


"Saatnya makan," ujar Lara penuh semangat. "Setelah ini aku mau beli donat, kentang goreng, ayam goreng dan Fizza untuk cemilan di rumah."

__ADS_1


__ADS_2