Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 103. Tuduhan Fabio


__ADS_3

Greta diam sejenak. "Tidak mungkin nama pria itu Pinky Boy. Bukankah itu sekedar julukan saja karena sebagai seorang pria dia pecinta warna pink?" gumam Greta di dalam hati.


"Greta, apa yang kau pikirkan? Siapa orang yang kau maksud Pinky Boy?"


"Pria yang sudah membawaku ke rumah ini kak," jawab Greta. "Aku tidak kenal. Sekarang dia ada di depan bersama seorang pria juga."


Lara memandang wajah Fabio. "Apa Walter yang membawa Greta kemari?"


"Seharusnya menang Walter. Tapi, kenapa dia bilang Walter Pinky Boy?" gumam Fabio di dalam hati. "Mungkin Walter sibuk. Jadi dia tidak sempat membawa Greta ke rumah ini," jawab Fabio. Ia tetap menyangkal kalau Walter lah pria yang dimaksud Greta.


"Greta, kau pasti lelah. Kakak antar ke kamar ya. Ada banyak sekali yang ingin kakak tanyakan," ajak Lara.


"Baiklah Kak." Greta tersenyum sebelum mengikuti Lara menuju ke lift. Sedangkan Fabio melirik Walter yang sejak tadi berdiri di tempat tersembunyi. "Keluarlah!" Fabio kembali duduk di sofa. Pria itu ingin mendengar langsung informasi yang di bawa oleh Walter.


Walter keluar dari tempat persembunyiannya. Pria itu melangkah dengan tatapan yang tidak terbaca. Sebenarnya ia bisa mendengar dengar jelas obrolan Greta dan Lara tadi. Ketika Greta masuk ke dalam, Dokter Alfred juga pamit pulang kalau ada pasien yang harus segera ia tangani. Kini pria itu sedang memikirkan jawaban yang pas ketika nanti Fabio menanyakan soal pinky boy yang baru saja di ucapkan oleh Greta.


"Kau sudah meletakkannya alatnya?" tanya Fabio.


"Sudah, Bos," jawab Walter. "Apapun yang akan mereka lakukan bisa kita dengar dan kita lihat, Bos. Selama alat itu masih menempel di tempat yang saya pilih."


"Mungkin setelah mereka tahu kalau Greta tidak ada lagi di rumah itu, mereka tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi. Tetapi, tidak ada salahnya mencoba." Fabio bersandar di sofa. Ia memandang Walter dengan tatapan yang serius. "Kau yang membawa Greta kemari?"


"Benar, Bos!"


"Kau bertemu dokter Alfred di depan?"


"Benar, Bos!"


"Kau pinky Boy yang dimaksud Greta?"

__ADS_1


"Benar-" Walter menahan kalimatnya. "Itu bukan milik saya, Bos. Kebetulan Greta melihat benda warna pink ada di dalam mobil. Seharusnya saya memberinya pelajaran agar dia tidak-"


"Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak. Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun. Hanya jawaban! Ya atau tidak!" tegas Fabio.


Walter menunduk. Pertanyaan Fabio memang sangat mengerikan. Berbicara bohong sama saja bunuh diri. Jujur juga bisa menghilangkan harga diri.


"Saya bukan pinky boy!"


Fabio mengangguk setuju. "Ya. Memang jawaban itu yang aku suka," sahut Fabio. Ia mengambil air minum yang ada di meja dan ingin meneguknya.


"Tapi saya suka warna pink Bos!"


"Uhuk uhukk!" Fabio tersedak mendengar pernyataan Walter yang terakhir. Pria itu sampai melebarkan kedua matanya. "Walter, apa kau mabuk?"


***


Di kamar, Greta dan Lara duduk di atas ranjang. Greta menangis sambil memeluk Lara. Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin menangis. Namun, masih ia tahan karena di sana tadi ada Fabio. Pria asing yang ia sendiri tidak tahu apa hubungannya dengan Lara.


"Greta, Alex bukan pria baik. Tidak memiliki kakak seperti dia juga tidak membuatmu menderita," jawab Lara.


"Tapi, Kak. Sejahat-jahatnya Kak Alex. Dia tetap kakak kandung Greta. Greta tahu dia sudah salah. Menculik kakak dan memaksa kakak untuk menikah dengannya lagi. Tapi, Kak Alex melakukan semua ini karena dia sudah terlanjur cinta sama kakak. Dia ingin kakak kembali kepadanya. Pasti ada cara lain untuk membuat Kak Alex berubah kak. Greta yakin Kak Alex tidak sejahat yang kakak katakan tadi."


Lara diam membisu. Ia sendiri tidak tahu harus bicara apa lagi. Jelas-jelas Greta memihak kepada Alex. Walau sudah panjang lebar Lara menjelaskan bagaimana jahatnya Alex. Tetap saja Greta tidak terima kalau sampai Fabio menangkap dan menyiksa Alex. Bahkan sampai membunuh pria itu.


"Greta, istirahatlah. Masalah ini kita bicarakan besok lagi. Bagaimana?" bujuk Lara agar Greta tidak bersedih lagi. "Di kemari sudah ada baju ganti. Kakak juga akan meminta pelayan untuk mengantar makanan ke kamar."


Greta menghapus air matanya. "Kak, apa Greta boleh tanya satu hal lagi?".


"Apa yang ingin kau tahu?"

__ADS_1


"Kak, apa pria tadi kekasih kakak?"


Lara diam sejenak sebelum mengangguk dengan bibir tersenyum. "Kami akan segera menikah."


Greta juga tersenyum. "Selamat kak. Greta doakan Kakak bahagia bersama Tuan ...."


"Fabio," jawab Lara cepat.


"Ya. Tuan Fabio."


Saat dua wanita itu saling memandang, tiba-tiba terdengar suara helikopter yang begitu ramai. Sepertinya bukan hanya ada satu helikopter saja.


Lara dan Greta sama-sama lari ke jendela. Mereka melihat helikopter-helikopter itu mendarat di lapangan yang ada di tengah mansion.


"Kak, ada apa? Kenapa banyak sekali helikopter?" tanya Greta bingung..


"Kakak juga gak tahu." Lara memandang pria yang ada di dam helikopter. Tiba-tiba saja tembakan dan ledakan terjadi dimana-mana. Lara menarik tangan Grata agar menjauh dari jendela. "Awas!"


DHOOOMMM


***


Hai reader ... selamat hari raya idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf baru kasih kabar lagi. Hari raya benar-benae sibuk dengan dua bocil dan segala kerewelannya. Hari ini saya akan umumkan pemenang Give away ya. Ada 5 akun yang berhak mendapat Novel cetak Mafia's in love.



Buat pemenang bisa chat author di WA ya untuk proses pengiriman hadiahnya.


082272899554.

__ADS_1


Buat yang belum beruntung. Tenang. Nanti kita Adain Give away lagi kalau rejeki novelnya bagus. Terima kasih buat reader setia Lara. ❤️❤️❤️


Buat pemenang segera hubungi author ya. 😘


__ADS_2