
Lara memotong-motong coklat batang yang ia temukan di dalam lemari. Setelah itu ia menggabungkan semua bahan yang sudah ia persiapkan di dalam sebuah panci ukuran kecil. Mengaduk-aduk dengan hati-hati agar cokelat batang dan bahan lainnya tercampur menjadi satu. Wanita itu terlihat sangat antusias membuat coklat panas untuk Fabio. Wajahnya memerah karena malu ketika Fabio terus saja memandangnya.
"Sesimpel ini membuatnya?" tanya Fabio ketika Lara hampir saja selesai membuat coklat panas untuk mereka berdua.
"Ya, bukankah ini sangat mudah? Aku tidak perlu meminta chef untuk membuatnya. Hitung-hitung biar chef di rumah ini istirahat," jawab Lara. Ia mencari kain untuk mengangkat panci panas itu dari kompor. Dengan sigap Fabio menahan tangan Lara karena tidak mau wanita itu celaka.
"Biar aku yang melakukannya!" pinta Fabio. Ia merebut lain yang ada di genggaman Lara sebelum memegang gagang panci yang berisi cokelat panas.
Sebenarnya gagang panci itu sama sekali tidak panas. Hanya saja Lara terbawa-bawa sifatnya di rumah lama yang biasa mengangkat panci dengan kain. Kebiasaan itu terbawa-bawa sampai sekarang. Berbeda dengan Fabio yang memang sama sekali tidak pernah melihat keadaan di dapur bagaimana. Melihat Lara ingin mengangkat panci itu dia secara spontan berkeinginan untuk melakukannya.
"Di tuang di sini?" tanya Fabio.
"Ya. Hati-hati. Ini sangat panas," ucap Lara memperingati.
Chef yang sejak tadi mengawasi mereka saling melempar pandangan sebelum tersenyum. Pemandangan yang sangat manis hingga mengalahkan manisnya cokelat panas yang mereka buat.
"Oke, sekarang saatnya kita bawa ke depan," ujar Lara penuh semangat.
"Hanya begini saja?" tanya Fabio dengan alis saling bertaut.
"Ya. Apa ada yang salah?" Wajah Lara berubah serius.
__ADS_1
"Dimana resep cintanya? Sejak tadi aku tidak melihat ada bumbu cinta yang kau masukkan ke dalam cokelat panasku," protes Fabio.
Lara menepuk pelan dahinya sendiri. "Aku hampir saja lupa."
Tiba-tiba Lara berjinjit dan mengecup pipi kanan Fabio. "Bagaimana sekarang? Apa sudah sempurna?"
Fabio tersenyum melihat tingkah laku Lara. Pria itu menggeleng pelan sebelum menunjuk pipinya yang sebelah kiri. "Akan lebih manis jika yang sebelah sini juga di cium."
"Kak Bi …." Lara memalingkan wajahnya dengan senyuman yang manis dan menggemaskan. Kedua pipinya lagi-lagi memerah seperti tomat.
"Chubby, cepat. Nanti cokelat panasnya dingin."
Lara memutar tubuhnya dan memandang wajah Fabio. "Sini menunduk sedikit."
"Chubby, aku mencintaimu."
"Aku … juga mencintai Kak Bi. Jangan pernah tinggalin aku. Berjanjilah untuk tidak pernah selingkuh kak."
"Tidak akan." Fabio menarik dagu Lara sebelum mendaratkan kecupan di sana. Bibir merah Lara membuatnya menjadi candu. Pria itu tidak bisa untuk tidak menyentuh bibir merah itu. Setiap kali melihat Lara ia seperti ingin menarik dan mencium Lara.
Lara membalas kecupan Fabio. Walau dia tidak ahli dalam berciuman, tetapi setidaknya Lara juga tidak mengecewakan. Wanita itu membalas sentuhan-sentuhan manis yang diberikan Fabio di wajahnya.
__ADS_1
Ketika Lara menyadari kalau sejak tadi ada Chef yang memperhatikan mereka, wanita itu segera mendorong tubuh Fabio. Hal itu membuat Fabio kaget karena lagi seru-serunya mala di lepas.
"Chubby."
"Kak Bi, ada orang. Lara malu."
"Orang? Siapa?" Fabio melihat ke segala arah. Ketika tatapannya terhenti kepada chef yang kini ingin kabur, pria itu segera berteriak.
"Berhenti!"
Lara memandang wajah Fabio sebelum ke arah Chef itu lagi. "Gawat, jika masalah ini di perpanjang. Bisa-bisa chef itu di pecat," gumam Lara di dalam hati.
"Tuan memanggil kami?" tanya chef itu penuh basa-basi.
"Siapa yang menyuruh kalian berdiri di sana. Kalian mengintip?" tuduh Fabio.
"Tidak, Tuan. Kami ada di sini karena ingin membantu anda dan Nona Lara."
"Aku akan-"
"Kak Bi ... sudah ya. Jangan marah-marah gitu," bujuk Lara. "Mereka chef. Tentu saja ada di dapur. Sekarang ayo kita ke depan."
__ADS_1
Fabio memandang wajah Lara. Pria itu tidak jadi marah ketika melihat wajah Lara yang terasa menyejukkan hati. "Ayo kita ke depan," jawab Fabio tanpa mau mempedulikan dia chef yang sempat ia panggil tadi.