
Hari ini adalah hari pertama bagi Lara menjadi bagian dari keluarga Moritz. Karena tadi malam ia tidak bisa tidur, akhirnya pagi ini Lara tidak bisa bangun pagi. Cahaya matahari yang terang membuat tidurnya semakin lelap.
Alex yang baru saja selesai mandi merasa risih melihat Lara masih tidur seperti itu. Alex melemparkan handuk basah yang ia gunakan untuk mengeringkan tubuhnya ke tubuh Lara. Lara kaget ketika handuk itu mendarat di wajahnya. Ia segera duduk ketika menyadari matahari sudah tinggi.
"Kau bukan hanya jelek. Tetapi kau juga pemalas!" ketus Alex dengan wajah tidak suka.
Lara duduk di karpet dan menyingkirkan handuk yang sempat menutupi wajahnya. Walau sakit hati tetapi Lara berusaha tetap tersenyum.
"Kak Alex mau pergi ke kantor?" tanya Lara.
Alex terlihat enggan untuk menjawab. Pria itu memilih pakaian yang ingin ia gunakan tanpa mau memandang Lara lagi.
"Cepat mandi. Jika bukan karena papa, aku tidak mau membangunkanmu," sahut Alex dengan wajah malas. "Bikin susah saja!"
"Kak," ucap Lara lagi.
"Ada apa lagi!" Alex semakin kesal.
"Apa yang bisa aku lakukan agar Kak Alex mau menerimaku sebagai istri kakak?" tanya Lara dengan wajah memohon. Ia sama sekali tidak peduli walau harus menurunkan harga dirinya di depan Alex.
"Tidak ada! Apapun yang kau lakukan, tetap saja tidak bisa merubah perasaanku terhadapmu!" ketus Alex dengan senyum jijik.
"Tapi, Kak-"
"Mandi!" ketus Alex dengan wajah kesal.
Lara segera berdiri dan membereskan selimut yang tadi malam ia kenakan. Tidak lupa memasukkan handuk basah yang dilemparkan Alex ke keranjang pakaian kotor.
Sambil melangkah ke kamar mandi, Lara memandang punggung Alex yang terbuka. Ingin sekali ia menyentuh tubuh suaminya. Namun sayang, semua hanya mimpi. Alex tidak mencintainya walaupun status mereka sudah suami istri.
"Apa lagi!" ketus Alex melalui cermin yang ada di depannya.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Lara. Ia menunduk dan melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar mandi.
"Jika sedang marah seperti itu, Kak Alex terlihat semakin ganteng," gumam Lara di dalam hati.
***
Selesai mandi, Lara berdandan di depan cermin. Walau alat make up yang ia miliki ala kadarnya, tapi di tangan yang tepat Lara tetap bisa terlihat cantik. Make up natural itu membuat kecantikannya terpancar jelas.
Sayang memang, setiap kali menunduk dan memandang tubuhnya. Wajah cantik itu langsung hilang. Lara berubah jelek ketika tubuhnya itu setiap harinya semakin gemuk. Lipatan di perut bertambah hingga membuatnya memakai baju ala saja tidak cocok.
"Apa aku harus diet? Tapi, terakhir kali diet aku jadi jatuh sakit." Lara merapikan meja riasnya. Ia memandang ke sofa. Di sana Alex sudah tidak ada.
"Katanya mau nungguin, tapi turun duluan," protes Lara di dalam hati.
Alex yang terlihat tidak sabar, memutuskan untuk turun duluan. Tidak lupa pria itu mengancam Lara agar segera turun ke bawah. Lara kini sendirian di kamar.
"Sebaiknya aku segera turun agar Kak Alex gak marah lagi." Sebelum melangkah pergi, Hana masuk ke dalam kamar untuk membereskan kamar. Pelayan wanita itu bahkan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Lara berdiri di depan pintu dan memandang wajah Hana dengan bingung.
"Aku baru selesai mandi," jawab Lara dengan suara pelan.
Hana tersenyum manis. "Nona, apa malam pertamanya berjalan lancar?" ledek Hana.
Lara diam membisu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia jawab gagal, itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Tetapi jika dia jawab sukses, maka itu juga tidak akan membuat perasaannya bahagia.
"Hana, apa kau ke sini untuk membereskan kamar?"
"Ya, Nona."
"Tolong selimut itu di ganti. Aku tidak suka warna gelap," ucap Lara sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar. Ia tidak mau menjawab pertanyaan Hana apa lagi terlalu banyak basa-basi.
Di dalam kamar, Hana mendengus kesal. "Berani sekali dia mengaturku seperti itu. Merasa jadi Nona muda?" Hana memandang seprei berwarna hitam yang terbentang di tempat tidur. Seprei itu terlihat berserak. Hana merasa bingung dan penuh tanya.
__ADS_1
"Apa mereka benar-benar melewati malam pertama tadi malam? Kenapa Tuan Alex tidak mengusir wanita kingkong itu keluar kamarnya," gumam Hana di dalam hati.
***
Lara berjalan pelan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Di lihat pada siang hari, rumah mewah itu terlihat sangat indah. Ukiran dan detail cat yang ada di dinding terlihat dengan jelas. Lara merasa bahagia. Ingin sekali ia mengambil ponselnya dan foto-foto untuk di posting. Lara yakin, semua orang yang pernah menghinanya pasti akan iri. Bahkan sebagian mengatakan semua editan.
"Setelah sarapan aku akan foto di samping vas bunga itu," gumam Lara penuh semangat.
Wanita itu segera turun ke bawah. Di bawah tangga, Lara bertemu dengan wanita muda yang sangat cantik. Penampilannya styles dengan brand mewah dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Greta?" ucap Lara sedikit ragu. Lara tahu kalau wanita di depannya adalah adik iparnya. Semalam saat resepsi, wanita muda itu sempat berfoto bersama dengannya dan ibu mertuanya .
"Ya!" jawab Greta tidak tertarik. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum menghina melihat penampilan Lara. "Apa ini baju terbaikmu?"
Lara memandang bajunya sebelum mengangguk. "Ya. Aku membelinya dengan harga 500.000 ribu. Aku beruntung bisa mendapatkan harga segitu. Jika tidak diskon, harganya bisa mencapai dua juta," jawab Lara penuh rasa bangga. "Aku berbelanja saat promo akhir tahun. Cuci gudang. Itu sangat menyenangkan," sambung Lara lagi.
"Dua juta setara dengan harga bandoku," sambung Greta dengan wajah sombongnya. Ia lagi-lagi melirik sendal yang dikenakan Lara.
"Apa sendal itu sudah satu tahun kau pakai?"
Lara berusaha tetap tenang. Ia menganggap karakter orang kaya memang seperti itu. Ia yakin Greta juga sayang padanya. "Sebenarnya sendal ini sudah dua tahun aku pakai. Ini hadiah dari mama saat ulang tahunku dua tahun yang lalu."
"Sendal kesayangan?"
"Ya."
Greta mengangguk. "Bahkan menjadi pembantu di rumah ini kau tidak layak! Bagaimana bisa kau menjadi istri Kak Alex. Pilihan papa benar-benar payah!" ketus Greta sebelum pergi meninggalkan Lara begitu saja. Ia bahkan tidak mengajak Lara untuk ke meja makan bersama dengannya.
Lara berusaha tetap tenang dan sabar. Ini hari pertamanya tinggal di rumah itu sebagai keluarga baru. Lara ingin memberikan kesan yang baik. Walau ia tidak bisa membanggakan harta bendanya. Setidaknya ia masih bisa membanggakan sopan santun yang selama ini di ajarkan oleh kedua orang tuanya.
"Aku harus tetap tersenyum." Lara mengepal kuat tangannya. Walau kini hatinya ingin menangis, tetapi Lara tetap berusaha tersenyum di depan semua orang. Lara mau hanya dirinya saja yang tahu kalau kini hatinya sedang terluka.
__ADS_1
Like, Like dan Like!