Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 54. Bukan Rahasia Biasa


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu


Setelah perdebatan antara Fiona dan Alex, seorang pria mengamati mereka berdua dan bersembunyi di lokasi yang tidak terlalu jauh. Ia sedang menunggu perintah dari Alex. Tatapan matanya begitu mengerikan.


Alex berjalan ke mobil dan memandang pria itu dengan satu anggukan. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Di detik itu, Fiona dan Hana sempat berdebat. Tadinya pria itu ingin membunuh Fiona dan Hana bersamaan. Tetapi, ketika melihat Hana pergi ia memutuskan untuk membunuh Fiona saja. Memang sejak awal target utamanya adalah Fiona.


Fiona yang masih menangis di parkiran tidak sadar kalau ada pria yang berjalan mendekatinya. Tiba-tiba pria itu membekap mulutnya. Fiona berontak dan berusaha berteriak minta tolong. Tetapi, belum sempat ia berteriak tiba-tiba tubuhnya sudah melayang di udara. Wanita itu sempat menatap wajah pria yang sudah mendorongnya dan mengucapkan satu nama.


"Alex!"


BRUAAKK


Sebelum akhirnya semua gelap.


Pria tersebut mengukir senyuman licik. Ia mencari Hana yang tidak tahu menghilang entah kemana. Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Ia ingin menangkap Hana dan membunuh wanita itu juga. Ia tidak akan membiarkan orang-orang yang pernah berurusan dengan Alex lolos.


Tanpa sengaja, pria misterius itu mendapat kabar kalau Hana menghubungi salah satu pengusaha yang ada di kota tersebut. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh Hana.


...***...


Alex melajukan mobilnya menuju ke suatu gedung yang terlihat sunyi tanpa penghuni. Gedung itu begitu menyeramkan jika di lihat pada malam hari. Alex memberhentikan mobilnya ketika sudah tiba di lantai 5 gedung kosong tersebut. Ia melihat seorang pria duduk di depan mobil sambil menghisap batang rokok yang terselip di jemarinya.


"Pria itu. Aku harus tahu sebenarnya siapa dia!" gumam Alex di dalam hati. Ia segera turun dan berjalan mendekati pria tersebut.


"Apa kau sudah mempertimbangkan tawaran yang aku berikan kemarin?" tanya pria itu tanpa basa-basi.


"Ya. Maafkan aku karena sempat menuduhmu sebagai pembohong. Aku tidak menyangka kalau Lara muncul hanya untuk balas dendam. Tadinya aku pikir kau hanya orang iseng yang suka bicara tanpa bukti."


"Aku sudah menyingkirkan dua wanita itu dan berhasil merebut kembali perusahaanmu. Sekarang, saatnya kau membantuku untuk mengalahkan Fabio."

__ADS_1


"Fabio? Apa nama pria itu Fabio?" Alex tertawa pelan. "Nama yang jelek sekali!"


"Aku akan membantumu untuk mendapatkan wanita bernama Lara itu agar dia mau kembali kepadamu."


"Baiklah. Sebagai bayarannya, aku akan memberimu sejumlah uang jika aku berhasil mendapatkan Lara."


"Aku tidak butuh uang. Aku butuh nyawa Fabio."


"Apa pria itu pernah melakukan kesalahan? Kenapa kau terlihat dendam padanya?"


"Dia sudah membuatku kehilangan wajahku!" jawab pria itu dengan sorot mata yang tajam.


Alex tertawa lagi. "Lalu kau merubah wajahmu hingga mirip denganku? Ketika pertama kali bertemu denganmu aku berpikir kalau kita adalah saudara kembar!"


"Aku ingin, kau terus mengganggu Lara. Dengan begitu Fabio akan sibuk melindungi Lara dan tidak lagi ingat dengan geng mafia yang ia miliki! Sesekali aku akan muncul sebagai Alex dan berhadapan langsung dengan Fabio."


"Tunggu, mafia katamu? Maksudmu Mafia yang bisa membunuh dan suka menyiksa itu? Mafia yang memiliki senjata berbahaya? Apa seperti itu?"


Alex diam sejenak. "Aku sudah curiga sejak awal. Pria itu memang bukan pria sembarangan."


"Tetapi kau tenang saja. Selama aku masih hidup, aku akan melindungimu. Fabio tidak akan bisa melukaimu. Mulai besok kau harus mulai merayu wanita itu."


"Baiklah. Aku juga tidak akan pernah tahu kalau sebenarnya selama ini Fiona hanya memanfaatkan aku saja sebagai sumber uangnya jika kau tidak memberi tahuku, aku pasti tidak akan pernah tahu. Kau memang pria yang hebat. Kau bisa tahu segalanya," puji Alex. "Kalau aku boleh tahu, siapa namamu? Kita bisa menjadi rekan bisnis." Alex menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


"Kau bisa memanggilku Mark!"


"Mark! Baiklah. Tapi, aku harap kau jangan pernah membuka topi dan masker di wajahmu itu. Jika ada yang melihat wajah kita berdua bisa susah urursannya."


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kau tidak mempunyai hak untuk mengatur hidupku!"

__ADS_1


"Baiklah." Alex memilih untuk mengalah.


"Sebaiknya mulai besok bertingkah lah seperti orang miskin yang tidak lagi memiliki harta. Di mata Lara, kau sudah kehilangan segalanya!"


"Oke, baiklah. Itu hal yang sangat mudah. Aku akan melakukan apapun asal bisa meluluhkan hati Lara."


"Aku harus pergi. Ada banyak urusan yang harus aku selesaikan!" Mark memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Alex sendirian. Ketika sadar kalau dia sendirian di tempat sunyi tersebut, Alex segera berlari ke mobil. Pria itu juga ingin pergi ke apartemen yang sudah di persiapkan Mark untuknya.


...***...


Beberapa hari kemudian


Lara membereskan barang-barang miliknya yang ada di mansion Fabio. Wajahnya terlihat tidak bersemangat pagi ini. Setelah kejadian malam itu, lagi-lagi ia tidak bertemu dengan Fabio. Fabio sering sekali pergi dan menghilang tanpa kabar. Hari ini, berdasarkan kabar yang di terima Lara kalau Fabio sudah pulang dan ada di dalam kamar. Lara ingin menemui Fabio dan mengatakan sesuatu.


"Aku sudah berhasil membuat Kak Alex menderita. Greta juga sudah tinggal di rumah lamaku. Sepertinya aku juga harus pergi dari rumah ini. Aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal di rumah ini. Aku tidak mau memanfaatkan kebaikan Kak Bi. Aku pernah berjanji sama Kak Bi akan pergi dari rumah ini setelah aku berhasil balas dendam. Sekarang, adalah waktu yang tepat."


Lara membawa koper yang berisi barang-barang berharga miliknya. Semua barang yang pernah di beli dengan menggunakan uang Fabio telah ia tinggal di kamar tersebut. Lara hanya membawa barang-barang yang pernah ia beli dengan uang Tuan Moritz.


Sebelum masuk ke dalam lift, Lara melihat Fabio dan Walter berbincang-bincang di balkon. Lara melihat ke kanan dan ke kiri. Lorong itu terlihat sangat sunyi. Fabio dan Walter seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius.


"Bagaimana ini? Aku takut mengganggu mereka," gumam Lara di dalam hati. Lara menarik kopernya ke arah kursi yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Ia duduk di sana untuk menunggu Fabio keluar.


Lara memandang lorong yang pernah ia telusuri enam bulan yang lalu. Tiba-tiba saja ia merasa takut ketika membayangkan penembakan yang pernah dilakukan Walter di depan matanya.


"Sebenarnya apa pekerjaan Kak Bi? Kenapa dia bisa sekaya ini? Mansion ini juga sangat misterius. Ada banyak tempat yang tidak boleh dimasuki," gumam Lara di dalam hati.


"Bos, anda yakin?"


Walter dan Fabio berjalan beriringan menuju ke lorong rahasia. Fabio memandang Lara yang duduk sambil melamun. Pria itu tidak lagi fokus dengan apa yang dikatakan Walter.

__ADS_1


"Bos, kenapa anda berhenti?" Walter memandang apa yang dilihat Fabio. Pria itu mengukir senyum sebelum memutuskan untuk pergi tanpa permisi. Sedangkan Fabio, pria itu berjalan pelan mendekati posisi Lara berada.


"Chubby, apa yang kau lakukan di sini?"


__ADS_2