
Tidak butuh waktu lama, mobil yang membawa Tuan Moritz telah tiba di rumah sakit. Bersamaan dengan itu, taksi yang di tumpangi Lara juga telah sampai. Mereka di sambut oleh tim medis yang berjaga di depan. Tuan Moritz di letakkan di atas brangkar.
"Tolong selamatkan papa saya, Dok," pinta Greta pada dokter yang ada di sana.
"Baik, Nona. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien," jawab Dokter tersebut.
Tim medis segera membawa Tuan Moritz ke IGD. Ny. Moritz menangis di dalam pelukan Greta. Lara hanya berani berdiri dengan jarak 5 meter dari posisi Ny. Moritz berada. Ia merasa bersalah. Tuduhan yang tadi diucapkan oleh Alex dan Ny. Moritz membuatnya sadar diri.
Setelah 15 menit, seorang dokter keluar dari IGD. Hal itu membuat semua orang menjadi semakin khawatir.
"Dokter, bagaimana keadaan papa saya?" tanya Greta.
"Apa anda yang bernama Lara? Pasien meminta wanita yang bernama Lara untuk menemuinya."
Semua orang terdiam. Termasuk Lara. Greta dan Lara saling melempar pandangan dengan pikiran masing-masing.
"Dia yang bernama Lara," tunjuk Greta ke arah Lara.
Ny. Moritz tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu hanya bisa menangis dan berdoa agar suaminya baik-baik saja.
"Nona Lara, ikut saya masuk ke dalam," ajak dokter.
Lara mengangguk pelan sebelum melangkah mengikuti dokter. Sebelum masuk ia kembali memandang wajah ibu mertuanya dan adik iparnya.
"Lara masuk dulu ya, Ma."
Di dalam IGD, tubuh Tuan Moritz telah di pasang beberapa alat medis untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Pria itu terlihat sangat lemah. Namun, ketika Lara muncul ia masih sempat melempar senyum ke menantu kesayangannya itu.
"Lara, ke sini lah. Ada yang ingin papa katakan."
__ADS_1
Lara menangis. Ia kembali ingat dengan kedua orang tuanya yang sudah tiada. Lara segera memegang tangan Tuan Moritz dan menangis lirih. "Maafkan Lara, Pa."
"Jangan salahkan dirimu, Lara. Papa yang salah. Papa sudah melibatkanmu dalam hal ini. Jika saja papa tidak pernah menemuimu, mungkin hari ini kau tidak akan sakit hati."
"Pa, papa gak salah. Lara yang salah. Kalau saja sejak awal Lara sadar diri dan menolak pernikahan ini. Mungkin hari ini keluarga papa baik-baik saja. Benar apa yang dikatakan Kak Alex. Lara hanya wanita pembawa sial."
"Gak, Lara. Kau wanita baik. Alex sudah di butakan oleh Fiona." Tuan Moritz memegang dadanya yang kembali terasa sakit.
"Pa." Lara semakin khawatir.
"Lara, papa tidak akan memaksamu untuk tetap bertahan bersama Alex. Tapi papa mohon satu hal. Buat hubungan Alex dan Fiona berakhir."
Lara membisu. Tadinya ia ingin pergi jauh dan tidak mau bertemu dengan Alex lagi seumur hidupnya. Tapi kini mertuanya justru memintanya melakukan sesuatu yang sangat mustahil untuk ia wujudkan.
"Lara tidak yakin Pa," jawab Lara.
"Lara, kau wanita yang cantik. Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. Papa punya ini." Tuan Moritz memberikan kartu debit kepada Lara. "Kau bisa menggunakan uang yang ada di dalam sini untuk memenuhi kebutuhan hidupmu Lara. Papa sudah tidak bisa menjagamu lagi."
"Lara gak butuh uang. Lara hanya ingin papa sehat."
Tuan Moritz menggeleng pelan. "Papa ... Uhuk uhuk." Tuan Moritz terlihat sesak napas. Hal itu membuat Lara panik. Kartu yang sempat ia pegang juga ia letakkan begitu saja.
"Dokter!" teriak Lara.
Dokter segera memeriksa keadaan Tuan Moritz. Mendengar kegaduhan di ruang IGD membuat Greta dan Ny. Moritz menerobos masuk ke dalam. Mereka semakin panik melihat Tuan Moritz yang kembali kritis.
"Nona, silahkan tunggu di luar," ucap suster.
Lara, Greta dan Ny. Moritz kembali keluar. Mereka menangis dan kembali berdoa agar Tuan Moritz bisa melewati masa kritisnya. Suster memberikan kartu debit Lara yang terjatuh. Hal itu menjadi perhatian Ny. Moritz. Secara tiba-tiba ia merampas kartu debit yang sempat di genggam Lara.
__ADS_1
"Bisa-bisanya di saat seperti ini kau meminta uang kepada suamiku!" tuduh ny. Moritz.
"Ma, Lara-"
"Aku bukan mamamu!" teriak Ny. Moritz. "Sampai kapanpun aku tidak pernah sudi untuk menjadi mertuamu Lara!"
"Ma, sudah ya. Kita jangan buat keributan. Yang harus kita pikirkan saat ini adalah kesehatan papa," ucap Greta. Ny. Moritz memasukkan kartu itu ke dalam tasnya sebelum memalingkan pandangannya. Ia tidak mau berlama-lama memandang Lara karena jijik.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari IGD. Kali ini, wajah dokter itu tampak berbeda.
"Dokter, bagaimana dengan papa saya?" tanya Greta cepat.
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Papa Anda. Beliau sudah tiada."
Lara mematung dengan air mata yang menetes semakin deras. Pernyataan dokter itu jauh lebih sakit ketika Alex menghinanya. Lara tidak mau Ayah mertuanya pergi. Hanya pria itu satu-satunya orang yang membuat Lara bertahan hingga sekarang.
"Papa," lirih Greta. Begitu juga dengan Ny. Moritz. Mereka berpelukan dengan penuh kesedihan. Suasana di depan IGD itu menjadi pilu. Bahkan karena tidak sanggup kehilangan suaminya, Ny Moritz sampai pingsan. Ia tidak sadarkan diri. Seorang suster membantu Greta untuk membawa Ny. Moritz ke ruangan lain. Sedangkan Lara. Ia duduk diam sambil menangis sejadi-jadinya. Semua masih terasa seperti mimpi. Padahal belum ada sebulan ini mengenal Tuan Moritz. Kini mereka harus dipisahkan oleh takdir.
"Papa, kenapa papa pergi? Kenapa semua ini harus terjadi? Jika saja Lara tahu akhirnya akan jadi seperti ini. Lara gak akan menceritakan apa yang dilakukan Kak Alex dan Fiona di kantor," gumam Lara.
Sambil menutup wajahnya dengan tangan, Lara berusaha untuk menenangkan pikirannya. Walau itu akan menjadi hal yang sulit. Cobaan yang ia hadapi hari ini sangat-sangat berat.
"Nona." Seorang suster berdiri di samping Lara. Lara mengangkat kepalanya dan menghapus air mata yang masih saja menetes tanpa henti.
"Ya, sus. Ada apa?"
"Sebelum meninggal, beliau memberikan ini untuk anda." Suster itu memberikan sebuah jam tangan. Lara menerima jam tangan tersebut sebelum menangis sedih. Ia tahu jam tangan itu harganya sangat mahal. Namun, Lara tidak mempedulikan harganya. Ia senang karena sebelum ayah mertuanya pergi. Pria itu masih sempat meninggalkan kenangan untuknya.
"Maafkan Lara, Pa. Maafkan Lara," gumam Lara di dalam hati.
__ADS_1
Greta berdiri dan menghapus air matanya. Ia sendiri tidak tahu sekarang harus bagaimana. Perginya Tuan Moritz membuat keluarga mereka tidak lagi utuh. Greta duduk di lantai dan bersandar di dinding. Wanita itu kembali menangisi kepergian ayah kandungnya.