
Lara berjalan dengan langkah yang gusar. Masih terbayang jelas wajah marah Alex dan senyuman licik Fiona di kolam renang tadi. Saat menaiki tangga, Lara sengaja menghentakkan kakinya agar menimbulkan suara.
Dari atas tangga, Lara bisa melihat dengan jelas saat Alex menggendong Fiona dan membawanya ke salah satu kamar tamu yang ada di lantai bawah. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Lara. Mereka bertiga masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Sudah saya bilang, anda tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Nona Fiona," ledek Hana dari ujung tangga. Sambil membawa sapu di tangannya, wanita itu masih sempat-sempatnya meledek Lara.
Lara mengepal tangannya. Di saat hatinya lagi sedih, mendengar ledekan Hana membuatnya semakin kesal. Tidak mau membalas ledekan Hana, Lara segera masuk ke kamarnya. Wanita itu lebih memilih untuk menyendiri di kamar agar pikirannya bisa kembali tenang.
Di dalam kamar, Lara memandang tubuhnya melalui cermin yang ada di depannya. Lara memutar tubuhnya dan memasang wajah semakin sedih.
"Hana benar. Jika dibandingkan dengan Fiona, aku tidak ada apa-apanya. Besar tubuhku dua kali lipat dari tubuhnya. Pantas saja Kak Alex sangat sulit mencintaiku. Ternyata selama ini dia terus membandingkan tubuhku dengan tubuh wanita itu."
Lara duduk lagi. Ia masih kesal dengan tuduhan Fiona di kolam renang tadi. "Sepertinya wanita itu memiliki niat jahat. Dia ingin merebut Kak Alex dariku. Dia tidak sebaik yang dipikirkan Greta. Aku harus membuktikannya kepada semua orang kalau Fiona itu wanita jahat. Tapi ... bagaimana caranya?" gumam Lara di dalam hati.
Saat masih berpikir, tiba-tiba Alex muncul di dalam kamar. Pria itu memandang Lara sekilas sebelum melangkah ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya.
"Kak Alex," ucap Lara. Ia masih berharap kalau Alex mau percaya dengan apa yang ia katakan tadi. Namun sayangnya, pria itu tidak mau berhenti. Alex segera masuk ke kamar mandi tanpa mau menjawab pertanyaan Lara.
"Kak Alex kenapa seperti itu?" Lara berjalan ke luar kamar. Tiba-tiba saja Lara ingin menemui Fiona lagi. Kebetulan Alex lagi di kamar mandi.
***
Di kamar, Hana dan Fiona sedang tertawa kencang membahas apa yang terjadi tadi. Mereka terlihat sangat gembira. Greta juga sudah kembali ke kamarnya. Dengan begitu mereka bebas menceritakan apapun yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Nona, apa anda tahu? Ekspresinya sangat jelek tadi. Dia terlihat sedih karena Tuan Alex membela anda," ujar Hana.
"Bukan hanya membela. Tetapi Alex hampir saja menampar wajahnya. Aku sih senang sekali. Sayang, tadi Greta mencegah Alex. Kalau tidak kan, kita bisa dapat tontonan bagus," sahut Fiona.
Hana tertawa riang. "Nona, tapi anda baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit saat anda melompat tadi?"
Fiona menggeleng. Ia mengambil tas yang tergeletak di atas nakas. Mengambil sejumlah uang dan memberikannya kepada Hana.
"Ini bonus untukmu karena kau sudah membuatku senang."
Hana menerima uang itu dengan suka cita. "Terima kasih, Nona."
"Sekarang pergilah. Aku mau ganti pakaian dulu. Setelah ini aku mau bermanja-manja dengan Alex. Semoga saja Alex mau ngasih uang belanja nanti," ujar Fiona penuh semangat.
"Selamat berbahagia, Nona." Hana beranjak dari ranjang. Wanita itu segera pergi meninggalkan Fiona sendiri di dalam kamar. Fiona menggeleng pelan melihat tingkah laku bawahannya.
"Hana, ada apa lagi?" Fiona berputar. Wanita itu mematung melihat wanita yang tadi ia fitnah berdiri di sana. "Lara?"
"Ternyata benar. Selama ini berarti Hana memberikan semua informasi yang bersangkutan denganku kepada wanita ini. Aku sangat menyesal sudah percaya dengannya," gumam Lara di dalam hati.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Fiona. "Aku akan berteriak. Setelah itu, Alex akan datang dan menyalahkanmu!" ancam Fiona.
"Aku tidak takut. Bukankah tadi kau sudah melakukannya? Oh ya, sekedar informasi. Kak Alex lagi mandi. Sepertinya akan lama. Greta lagi dengerin musik di kamarnya. Sekeras apapun kau berteriak, dia tidak akan dengar. Dan ... orang bayaranmu itu sudah pergi untuk berbelanja. Sekarang, tinggal kita berdua di kamar ini. Kamar ini kedap suara. Apapun yang terjadi di dalam sini, tidak akan ada yang tahu," ancam Lara gantian.
__ADS_1
Fiona mulai ketar-ketir mendengar ancaman Lara. Wanita itu mengincar ponselnya. Ia berharap bisa menghubungi Alex agar segera datang untuk menolongnya. Namun, dengan cepat Lara mencegah Fiona mendapatkan ponselnya. Wanita itu merebut ponsel Fiona dan melemparnya ke sofa yang jaraknya sangat jauh dari tempat Fiona berdiri.
"Aku telah di tuduh melakukan hal yang sama sekali tidak aku perbuat. Sekarang, kau bisa merasakannya sendiri. Apa yang bisa aku lakukan." Lara berjalan mendekati Fiona dengan tangan di pinggang. Langkahnya ia hentakkan seperti langkah tentara yang mau perang. Sorot matanya tajam hingga membuat Fiona ketakutan.
"Lara, kau salah paham. Aku cuma bercanda tadi," ucap Fiona.
"Bercanda?" Lara semakin dekat dengan Fiona. Hal itu membuat Fiona mundur hingga akhirnya dia terjepit di tembok. "Sekarang aku juga sedang bercanda. Apa terlihat sangat lucu?"
"Lara, pergilah. Aku tidak bisa bernapas!" protes Fiona. Ia berusaha mendorong tubuh Lara namun tidak berhasil.
"Aku ingin kau pergi dari rumah ini! Jika tidak, aku akan datang ke kamarmu tengah malam dan menindih tubuhmu agar kau tidak bisa bernapas besok pagi!" ancam Lara.
"Baiklah. Aku akan segera pulang. Tapi, tolong mundur. Aku bisa mati sekarang jika kau terus menghimpit tubuhku seperti ini!" pinta Fiona.
Lara mengeryitkan dahi. Wanita itu melangkah mundur hingga membuat Fiona bisa bernapas dengan bebas.
"Satu lagi, jika kau berani mengatakan semua ini sama Kak Alex." Lara mengambil ponselnya. "Tadi aku sudah merekam apa yang kau katakan bersama Hana. Aku tidak akan segan-segan memberikan rekaman ini kepada Kak Alex. Bukan Kak Alex saja, aku juga akan memberikan rekaman suara ini kepada Greta. Agar mereka semua tahu, seburuk apa sifatmu?"
"Sial sial! Kenapa wanita ini bisa secerdas ini! Sepertinya aku harus pulang. Aku tidak mau Alex tahu kalau sama ini aku hanya menginginkan uangnya saja. Bisa celaka nanti. Darimana sumber uangku jika Alex pergi meninggalkanku," umpat Fiona di dalam hati.
"Baiklah. Aku tidak akan mengatakan semua ini kepada Alex," ucap Fiona.
"Bagus!" jawab Lara.
__ADS_1
Saat Lara belum keluar kamar, tiba-tiba Alex masuk ke dalam kamar itu. Alex mengeryitkan dahi melihat Lara ada di kamar Fiona. Tatapan pria itu tertuju pada tubuh Fiona yang masih basah sebelum beralih ke Lara lagi.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"