Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 34. Teringat Selalu


__ADS_3


Selama perjalanan pulang, Alex terus saja terbayang-bayang wajah Lara yang sekarang berubah menjadi cantik. Ada rasa menyesal di dalam hatinya karena sudah membuang Lara dulu. Alex bahkan masih tidak percaya kalau Lara bisa berubah menjadi wanita yang mempesona. Kini Lara terlihat sempurna di mata Alex. Tidak ada kurangnya sedikitpun.


"Lara, apa kau sengaja merubah penampilanmu agar aku mau menerimamu sebagai istriku? Jika memang seperti itu ... aku akan pikirkan lagi. Aku bisa saja membatalkan perceraian diantara kita," gumam Alex di dalam hati.


Fiona terlihat kesal. Biasanya selama mereka berada di dalam mobil, Alex yang lebih banyak berbicara. Kali ini justru pria itu bungkam. Walaupun sebenarnya Fiona tahu apa yang sekarang dipikirkan Alex. Tetapi tetap saja dia tidak rela. Kali ini justru Fiona tidak hanya ingin menguasai harta Alex saja. Wanita itu ingin memiliki Alex seutuhnya. Ia tidak mau sampai kalah.


Alex memberhentikan mobilnya ketika tiba di depan rumah Fiona. Pria itu memandang wajah Fiona dengan alis saling bertaut. Ada yang aneh dari raut wajah yang kekasih. "Ada apa?"


"Aku mau malam ini kau tidur di rumahku," pinta Fiona.


Alex melempar senyum dan mengusap pipi Fiona. Walau kini ia sangat menginginkan Lara kembali, tetapi ia belum mau melepas Fiona begitu saja.


"Baiklah sayang. Aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan. Tapi, jangan marah lagi ya," bujuk Alex.


Fiona mengangguk pelan. Mereka sama-sama turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Fiona menggandeng Alex dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aku mau mandi dulu," ucap Alex. Pria itu melepas tangan Fiona yang masih melingkar di lengannya.


"Tunggu!" Fiona mencegah Alex untuk pergi. Ia menatap wajah Alex dan mengusap rambut pria itu dengan penuh godaan. "Katakan yang sejujurnya. Apa kau ingin kembali dengan wanita itu? Apa kau menyesal sudah meninggalkannya?"


Alex menarik pinggang Fiona. Tidak mungkin ia berkata jujur.


"Tidak! Hanya kau satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku," jawab Alex

__ADS_1


Fiona tersenyum manis. Ia mendaratkan bibirnya di bibir Alex dan menggoda pria itu dengan lidahnya. Alex memejamkan mata berusaha menolak rayuan Fiona. Namun, godaan itu sungguh fantastis. Hingga akhirnya, Alex segera ******* bibir Fiona. Mereka bercumbu untuk waktu yang lama. Fiona memang paling ahli dalam hal menggoda. Rayuannya membuat Alex selalu lepas kendali.


Fiona membawa Alex ke ranjang. Wanita itu merasa menang karena ia masih bisa mempertahankan Alex di sisinya. Namun, ketika Fiona sedang membuka satu persatu kancing kemeja Alex, tiba-tiba saja Alex menyingkirkan tubuh Fiona. Pria itu duduk dan memalingkan wajahnya.


"Ada apa?" protes Fiona.


"Maafkan aku, Fiona." Alex mengusap wajahnya dengan tangan.


"Maaf? Kenapa harus minta maaf?"


Alex membisu. Tiba-tiba saja ia melihat wajah Lara tadi. Hal itu membuatnya tidak lagi bergairah. kini yang ada dipikiran Alex hanya Lara dan Lara. Tidak ada nama Fiona lagi. Namun Alex tidak mau mengatakan yang sejujurnya kepada Fiona. Ia tidak mau berdebat dengan Fiona malam ini.


"Aku capek!" jawab Alex asal saja. Pria itu beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Sedangkan Fiona masih duduk di atas ranjang dengan wajah menahan amarah.


***


Lara baru saja tiba di mansion. Selama perjalanan, wajahnya terlihat sangat cerah. Ia sangat puas melihat reaksi Fiona dan Alex di hotel tadi. Rasanya, Lara sudah tidak sabar untuk melanjutkan misi selanjutnya.


Dari arah depan, seorang pelayan wanita berjalan mendekati Lara. Pelayan itu menunduk hormat sebelum menyampaikan sesuatu kepada Lara.


"Nona, besok pagi Tuan Fabio akan pulang," ucap pelayan wanita itu.


"Benarkah?" Lara semakin bahagia. Memang sudah lama ia ingin bertemu dengan Fabio. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada pahlawan yang sudah menolongnya itu.


"Tuan Fabio meminta Nona Lara untuk tetap di rumah sampai Tuan tiba," ucap pelayan itu lagi.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menunggu Tuan Fabio besok pagi. Terima kasih," ucap Lara.


Lara segera berlari menuju ke kamar tidurnya. Wanita itu tersenyum bahagia ketika membayangkan pertemuannya dengan Fabio besok.


Setibanya di dalam kamar, Lara duduk di atas ranjang dengan wajah bahagia. Masih terbayang jelas, bagaimana pertemuan mereka waktu itu sebelum Fabio pergi dan tidak ada kabar hingga tiga bulan lamanya.


"*Lara, apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan Chubby?"


"Kenapa harus Chubby?" tanya Lara gantian.


"Aku juga tidak tahu. Tapi, nama itu sangat indah."


"Baiklah. Tapi ada syaratnya."


"Syarat?" Fabio mengeryitkan dahi.


"Iya, izinkan aku memanggil Tuan dengan sebutan Kak Bi."


"Baiklah. Deal!"


Lara menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan memandang langit-langit kamar. "Kak Bi. Kira-kira bagaimana reaksinya besok ketika melihat tubuhku sudah sekurus ini? Apa dia akan kaget seperti Alex dan Fiona tadi? Atau biasa aja ya?"


Lara tersenyum membayangkan wajah Fabio. Kini wanita itu tidak lagi menyimpan nama Alex di dalam hatinya. Ucapan lembut dan segala rayuan yang akan ia lakukan hanya semata-mata untuk balas dendam. Tidak lebih dari itu.


"Aku akan membuat Alex dan Fiona merasakan berkali-kali lipat rasa sakit yang pernah aku rasakan!"

__ADS_1


__ADS_2