
Ketika tiba di rumah, Lara segera masuk ke dalam. Masih terlihat jelas mata bengkak dan merahnya karena terlalu banyak menangis. Lara tidak bisa menyimpan masalah ini sendirian. Ia ingin Tuan Moritz tahu, seperti apa kelakuan Alex selama ini. Bahkan setelah menikah.
Saat tiba di dalam rumah, Lara menghentikan langkah kakinya. Ia melihat Tuan dan Ny. Moritz duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Mereka terlihat sedang membahas sesuatu. Ada canda tawa di sana. Di meja ada teh dan potongan cake untuk menemani mereka berbincang-bincang.
"Papa," lirih Lara.
Tuan Moritz mengangkat kepalanya. Ia mengeryitkan dahi melihat kedua mata Lara yang merah dan bengkak karena banyak menangis.
"Lara, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis seperti ini?" Tuan Moritz beranjak dari sofa. Sedangkan Ny. Moritz masih bertahan di sofa. Ia memandang Lara dengan tatapan tidak suka.
"Kak Alex, Pa ...." Lara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hatinya terasa semakin sakit setiap kali membayangkan apa yang dilakukan Alex dan Fiona di kantor tadi.
"Lara. Tenanglah." Tuan Moritz membawa Lara untuk duduk. Namun, Lara menolak. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Lara, ada apa? Ceritakan sama papa. Apa yang sudah Alex lakukan hingga kau menangis seperti ini?"
"Lara, kamu manja sekali. Tadi mama dengar dari Greta kalau Lara pergi ke kantor untuk membawakan makan siang Alex. Paling juga Lara di marahi Alex karena sudah mempermalukannya di kantor," sindir Ny. Moritz.
"Apa benar seperti itu, Lara? Alex sudah mempermalukanmu di kantor?"
"Tidak, Pa. Bahkan Kak Alex tidak tahu kalau Lara datang," jawab Lara. Ia berusaha menahan isak tangisnya agar bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu, kenapa kau menangis?"
"Kak Alex dan Fiona ... mereka." Air mata kembali menetes.
"Fiona? Wanita itu ada di kantor Alex?" Wajah Tuan Moritz berubah panik. Selama ini ia tidak tahu kalau Lara pernah bertemu dan mengenal Fiona.
"Mereka bermesraan di ruangan Kak Alex, Pa. Hubungan mereka sudah sejauh itu. Bagaimana kalau nanti Fiona hamil? Bagaimana nasip Lara?"
Wajah Tuan Moritz semakin marah. Ingin sekali ia memukul Alex jika pria itu ada di depan matanya. Sudah berbagai cara ia lalu agar hubungan Alex dan Fiona berakhir. Namun usahanya tidak juga membuahkan hasil. Tuan Mortiz sendiri pernah memergoki Fiona sedang berduaan dengan pria lain. Hal itu membuat rasa simpati Tuan Mortiz terhadap Fiona hilang.
__ADS_1
"Pa, apa yang harus Lara lakukan? Sepertinya Kak Alex tidak akan pernah mencintai Lara, Pa."
"Tentu saja tidak, Lara. Jika kau tidak hadir di rumah ini. Mungkin Alex dan Fiona sudah menikah!" jawab Ny. Moritz.
"Mama?" Lara tidak menyangka kalau ibu mertuanya juga ada di pihak Fiona. Bahkan Greta juga.
"Lara, kau seharusnya sadar diri. Jangan bersikap seolah kau korban. Fionalah korbannya. Dia yang paling tersakiti karena harus merelakan pria yang ia cintai menikah dengan wanita lain?" ketus Ny. Moritz dengan wajah menyalahkan. "Kau pelaku utama! Kau yang membuat Alex dan Fiona menjadi berpisah. Mereka berdua yang lebih dulu tersakiti!"
"MAMA, CUKUP!" teriak Tuan Moritz.
"Papa masih mau membela wanita ini? Papa rela mengorbankan kebahagiaan putra kita demi membahagiakan wanita ini, Pa? Dia bukan siapa-siapa bagi kita sebelum dia hadir di rumah ini," tantang Ny. Moritz.
"Ma, Papa tidak pernah menghalangi kebahagiaan Alex. Papa hanya mau Alex hidup bahagia dengan wanita yang memang pantas mendampinginya. Tidak seperti Fiona. Wanita itu seperti ular, Ma. Dia mau bersama Alex karena Alex kaya. Wanita seperti dia pasti akan meninggalkan Alex ketika Alex susah."
"Itu hanya alasan papa saja. Memang sejak awal papa tidak pernah merestui hubungan Fiona dan Alex."
***
Di sisi lain, Alex dan Fiona ada di salah satu mall untuk berbelanja. Alex berhasil membuat perusahaan besar yang ada di luar negeri untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dengan begitu, Alex mendapat bonus yang berlimpah. Fiona yang mengetahui hal itu langsung datang ke kantor untuk mengajak Alex berbelanja. Sayangnya, sebelum mereka berangkat Alex lagi-lagi mengajak Fiona bercinta di sana. Bahkan hingga detik ini Alex tidak tahu kalau Lara telah melihat apa yang mereka lakukan.
"Aku mau baju ini," pinta Fiona. Wanita itu merangkul lengan Alex dengan wajah yang manja.
"Baiklah. Hari ini kau boleh membeli barang apapun yang kau inginkan. Aku akan bayar semuanya!" jawab Alex.
"Terima kasih, sayang." Fiona mendaratkan kecupan di pipi Alex sebelum masuk untuk memilih beberapa model baju favoritnya. Wajahnya terlihat sangat ceria. Fiona tidak menyangka bisa mendapat rejeki nomplok seperti ini.
Tidak lama kemudian, Fiona membawa Alex ke kasir. Ia meminta Alex membayar semua barang yang sudah ia pilih. "Setelah ini aku ingin membeli sepatu," rengek Fiona.
"Baiklah," jawab Alex. Ia mengeluarkan kartu dan memberikannya kepada kasir. Pria itu sedikit mengeryit melihat barang belanjaan Fiona yang di luar batas. Tetapi, mau bagaimana lagi. Fiona akan marah dan merajuk jika ia tidak mau mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Apa ada kartu lain? Kartu ini tidak bisa."
Alex melebarkan kedua matanya. Ia memberikan kartu lainnya. Namun, setelah diperiksa hasilnya sama. Kartu yang dimiliki Alex tidak bisa dibuat membayar belanjaan Fiona.
"Alex, jangan mempermalukanku seperti ini. Berikan saja yang cash."
Alex menghela napas. "Sejak kapan aku memegang uang cash?" protesnya dengan suara berbisik.
"Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Kenapa kartumu tidak bisa semua?"
Alex segera mengambil ponselnya. Ia ingin menanyakan pria paruh baya itu siapa yang telah memblokir semua kartu yang ia miliki. Padahal seingat Alex, ia tidak ada melakukan kesalahan apapun. Terakhir Tuan Mortiz telepon juga perbincangan mereka terdengar baik-baik saja.
"Pa, kenapa semua kartu Alex tidak bisa digunakan?"
"Kau akan tahu jawabannya setelah pulang ke rumah!" Panggilan telepon Alex diputuskan secara sepihak. Hal itu membuat Alex semakin bingung.
"Alex, kenapa kau diam saja? Bayar!" paksa Fiona.
Alex memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Fiona, kita tunda dulu ya belanjanya," bujuk Alex.
"Tunda?" Fiona terlihat malu. Ia memandang orang yang kini melihatnya dengan tatapan menghina. "Kau mengecewakanku, Alex!" Fiona melempar semua barang belanjaannya ke wajah Alex dan berlari pergi. Wanita itu memutuskan untuk pulang dengan taksi dari pada harus satu mobil dengan Alex.
Alex sendiri mengutip pakaian yang berserak di lantai. Seorang wanita membantu Alex memungut satu persatu pakaian tersebut.
"Maafkan saya."
"Tidak apa-apa, Tuan."
Alex menggeram di dalam hati. Ia ingin segera pulang dan marah. Pria itu tidak terima dipermalukan seperti ini oleh ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1