Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 100 Pernikahan Impian


__ADS_3

Seminggu kemudian, mereka semua bertolak ke Pulau Abbasid. Khan akan mengulang sumpahnya di hadapan Shanum, di tempat milik Klan Batbayar itu, sesuai permintaan Shanum.


Shanum memilih tempat itu karena ia ingin pernikahannya diadakan di pinggir tebing yang indah menghadap lautan. Sekaligus ia ingin melihat kastil dalam mimpinya itu lagi secara nyata. Shanum meyakini, kastil yang ia lihat itu pasti ada di Abbasid. Dan keyakinannya itu terbukti. Kastil kokoh dengan latar belakang lautan lepas memang berada di sana.


Chinua tidak menolak kemauan Shanum dan merasa senang mendengar Shanum ingin mengabadikan momen terindah dalam hidupnya itu di tempat cikal bakal leluhurnya berada.


Namun yang membuat Shanum merasa puas adalah ketika melihat ekspresi Dimas. Ayah Shanum itu terkesiap ketika melihat lukisan silsilah keluarga Klan Batbayar terpampang di salah satu dinding kastil.


Dia melihat kemiripan wajahnya pada salah satu lukisan leluhur yang berada di sana. Chenghiz, pria yang pernah bertemu dengan Shanum dalam mimpinya, terlihat bagaikan pinang dibelah dua dengan Dimas.


Yang membedakan mereka hanyalah warna netra matanya saja. Chenghiz memiliki netra biru gelap, sama seperti Chinua. Sedangkan Dimas, memiliki netra mata hitam seperti netra dominan di Asia.


Raisa, ibu Shanum bahkan sampai melongo kaget. "Ya Tuhan, Mas mirip sekali dengan pria dalam lukisan itu. Dan dia memiliki bola mata biru." Raisa memelototi lukisan itu.


"Nanti coba kita beli lensa mata dengan warna senada ya. Aku ingin melihatmu dengan warna mata sepertinya, Ayah." Raisa mendesah sembari menatap dengan kagum ke arah lukisan.


Dimas mendengus keras. "Aku bukan dia, Dik. Jadi untuk apa mengikuti warna matanya segala. Aku ya aku, dan dia adalah dia. Lagipula pria itu sudah terkubur di dalam tanah. Yang masih eksis di dunia ini sekarang adalah aku, bukan dia." Dimas terdengar sewot menjawab keinginan istrinya itu. Seolah-olah pria itu cemburu oleh sebuah lukisan tua.


Shanum akhirnya tidak tahan lagi melihat interaksi keduanya. Dia terkekeh geli. "Ya ampun, Ayah--Ibu, kok malah jadi bertengkar sih. Ayah dan pria dalam lukisan itu sama-sama tampan dan gagah kok. Apalah artinya perbedaan warna mata yang kalian miliki, keduanya tetap terlihat sempurna."


"Nah, coba dengar itu ucapan putrimu," sahut Dimas sembari melirik ke arah Raisa dengan wajah kaku. Sedangkan Raisa tidak merasa bersalah sedikit pun, ia tersenyum lembut dan berkata, "Aku kan hanya memberikan usul saja, mungkin saja Mas semakin tampan dengan warna mata yang berbeda. Tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Aku tetap terima Mas apa adanya kok."


Dimas menatap dalam ke arah Raisa, dan mereka saling bertukar pandangan satu sama lain dalam diam. Lalu Dimas memecah keheningan dengan berkata, "Ya sudah, kalau begitu kami ke kamar dulu ya, Princess." Ayah langsung menggamit lengan ibu dengan tergesa-gesa dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Raisa tersenyum geli ke arah Shanum seraya melambaikan sebelah tangannya.


Sedangkan Shanum merasakan kebingungan yang pekat, melihat tingkah laku keduanya. Gadis itu menoleh, terlepas dari rasa herannya, ia mendengar suara kekehan dari sampingnya.


Chinua tertawa. "Orang tuamu sungguh lucu. Tadi bertengkar, setelah itu malah ingin buru-buru bermesraan."


"Bermesraan?" beo Shanum.


"Ya, masa kau tidak bisa melihat gelagat Ayahmu itu sih. Wah, sepertinya kau masih membutuhkan banyak pengalaman untuk mengasah kemampuanmu membaca perilaku, Shanum. Hal itu sangat diperlukan dalam membaca gerak-gerik musuh nantinya. Kau kan seorang istri pemimpin klan. Jadi sudah sepantasnya kau ikut berperan membantu suamimu."


Shanum menatap Chinua dengan intens. "Apa hubungannya bermesraan dengan berperang?" tanya gadis itu mengerutkan kening.


Chinua memutar bola matanya. "Itu hanya contoh. Hal pentingnya itu, kau harus dapat membaca perilaku orang lain."


"Oh kalau begitu, tolong ajarkan aku caranya."


Chinua menyeringai. "Kau masih ingin berguru padaku dan tidak takut?" tanya Chinua lagi kepada gadis itu.


"Tidak. Kau adalah leluhurku. Mengapa aku harus merasakan takut?" jawab Shanum sembari mengangkat alisnya.


Chinua memang sudah banyak berubah. Hal nyata yang ditemukan Shanum adalah mendengar dari ucapan pelayan yang berada di kastil itu bahwa ia memperbaiki dan memasang kembali kumpulan lukisan itu yang sebelumnya sengaja dilupakan di dalam gudang kastil. Dan berdasarkan ucapan pelayan itu, akhirnya Shanum meminta diantarkan melihat ruangan tempat lukisan-lukisan itu ditempatkan.


Wanita itu pasti sudah berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Dan perkiraan Shanum itu tidak salah, Chinua memang semakin menyadari, bahwa masa lalu sebaiknya ditinggalkan jauh di belakang. Jika ia ingin membuat sisa hidupnya merasakan ketenangan. Dia ingin menjalani masa depan tanpa dihantui lagi oleh dendam masa lalu yang penuh dusta dan luka itu.


"Oke, nanti aku akan mengajarkannya kepadamu. Tentunya jika kau sudah bisa terlepas dari cengkeraman Khan." Chinua terkekeh geli dengan nada suara menggoda ke arah Shanum.


Wajah Shanum kontan memerah. "Huh, kau jadi mengingatkanku pada hal itu lagi dan membuatku semakin gugup. Sekarang kita bicarakan saja hal lainnya ya."


Tawa Chinua semakin membahana. Dia tergelak keras. "Astaga Shanum. Kau malah takut menghadapi hal yang seharusnya tidak perlu kau takuti. Sungguh mencengangkannya dirimu."


Shanum memutar bola matanya. "Aku tidak takut, hanya sedikit gugup. Bagaimana jika acaranya nanti tidak berjalan lancar. Atau mendadak sesuatu yang buruk terjadi," sahutnya beralasan.


Chinua melangkah mendekati Shanum. Ia menatapnya lalu memberikan isyarat kepada gadis itu untuk melangkah mengikutinya. Shanum merasa bingung bercampur heran, tapi ia tetap mengikuti isyarat tersebut. Mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong di kastil itu. Dan Shanum melihat di penghujung lorong, terdapat cahaya terang menyilaukan.


Dia menuju lokasi cahaya itu, dan menemukan suatu tempat terbuka di luar kastil. Tempat itu cukup luas, dan keseluruhan tempat itu sudah di hias sedemikian rupa dengan indahnya.


Bangku-bangku dan meja sudah disusun secara apik. Begitu juga dengan pernak-pernik hiasan yang akan semakin indah bila dikombinasikan oleh tanaman-tanaman dan bunga-bunga dalam pot.


Di ujung pagar pembatas kastil dengan tebing, Shanum melihat untaian tanaman yang dibentuk melengkung menyerupai huruf U terbalik. Sulur itu juga dikombinasikan dengan rangkaian bunga mawar beraneka warna.


Shanum merasa takjub. Lidahnya terasa kelu melihat tempat yang sudah disulap sesuai dengan tempat pernikahan impiannya. Dia hanya pernah membayangkannya dalam pikirannya. Seharusnya tidak ada satu orang pun yang tahu, kecuali... Hanya satu orang yang bisa mengetahui pikiran dan hatinya, yaitu Khan Adrian.


"Seharusnya kau tidak perlu cemas. Pria yang sudah mempersiapkan semua hal romantis dan indah ini untukmu tentu saja akan berusaha menjadikan acara ini berhasil dengan gemilang," ucap Chinua.

__ADS_1


"Maksudmu, semua ini Khan yang menyiapkannya?" tanya Shanum tak percaya, meski ia sudah mencurigainya sejak tadi.


"Ya. Kau pasti akan kaget jika mengetahui apa yang sudah dilakukan Khan Adrian untuk dirimu. Dia memerintahkan semua bunga-bunga itu dibawa ke sini dari taman di rumahnya. Belum lagi semua persiapan ini, dia sangat perfeksionis, tidak ada yang boleh melenceng sedikit saja dari konsep yang sudah ia buat. Aku hanya menyediakan tempat, dan tidak bisa berbuat lebih jauh daripada itu. Pria itu tidak mengizinkanku ikut campur."


Shanum masih terkesima, tapi akhirnya dia tersadar, ia menoleh ke arah Chinua dan menemukan senyum dikulum pada bibir wanita itu.


"Terima kasih sudah memberitahuku tentang hal ini, Chinua. Aku sangat menghargainya." Shanum ikut tersenyum ke arah Chinua.


Shanum senang, akhirnya dia memiliki satu orang lagi yang bisa dianggapnya sebagai keluarga, walaupun memang kenyataannya mereka adalah saudara berdasarkan keterikatan darah mereka.


Chinua membalas sembari menganggukkan kepalanya atas ucapan Shanum tersebut. "Tapi sekarang kita harus segera pergi dari sini. Sebenarnya hal ini seharusnya menjadi kejutan untukmu. Namun, karena aku kasihan melihat wajah cemasmu itu sejak tadi, jadi akhirnya aku memutuskan untuk memperlihatkannya padamu."


Shanum menyeringai lebar, kilat sekongkol terlihat dalam pancaran matanya. "Oke, aku akan berpura-pura tidak mengetahuinya. Ini akan menjadi rahasia kita berdua."


Chinua ikut menyeringai sembari mengangguk. Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Dalam langkahnya, Shanum tiba-tiba teringat pesan Chenghiz kepadanya di dalam mimpinya tempo hari. Dia harus menyampaikannya segera kepada Chinua.


Shanum berhenti melangkah. Chinua mendadak ikut berhenti juga. "Ada apa, Shanum?" tanyanya bingung.


"Em, boleh aku berbicara serius denganmu di tempat yang lebih pribadi?" desak Shanum.


Chinua mengerutkan keningnya. Tapi dia akhirnya menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengajak Shanum masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang berisi banyak buku, ruangan yang ia masuki sepertinya adalah perpustakaan di kastil itu.


Chinua mengajaknya untuk duduk di sebuah sofa empuk di sudut ruangan. "Aku menunggu Shanum. Jangan membuatku semakin penasaran. Ayo katakan."


Shanum berdeham. Kemudian dia menceritakan mimpinya kepada Chinua. "Chenghiz mengatakan dia sudah memaafkanmu, Chinua. Dia ingin kau melupakan rasa bersalahmu dan melanjutkan hidup. Dia ingin kau berbahagia."


Chinua bangkit dari duduknya. Dia melangkah ke salah satu rak buku, dan menopangkan tangannya di rak yang terbuat dari kayu kokoh tersebut.


"A-aku..." Chinua mengusap wajahnya.


Wanita itu terdiam. Dia lalu membalikkan tubuhnya kembali ke arah Shanum sembari memperlihatkan wajah muram.


"Oh, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Hal ini sungguh..." Suaranya tercekat.


"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa, Chinua. Aku mengerti," kata Shanum sembari tersenyum teduh.


Mata Chinua lalu berkaca-kaca. Tak lama, air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Chinua terisak dalam diam. Shanum berdiri, ia menghampiri Chinua dan memeluknya. Shanum mengerti kesedihan Chinua.


Tak mudah untuk melupakan kesalahan masa lalu yang pernah kau lakukan. Terutama jika kesalahan itu melibatkan keluarga kandung yang seharusnya kau cintai. Semua tragedi itu menimpa wanita ini, dan semuanya memiliki latar belakang cinta yang tak berbalas. Sungguh sangat drama sekali.


Chinua memeluk Shanum dengan erat. Dia masih terisak. Kemudian Chinua merenggangkan pelukannya. Dia menatap Shanum dari sela-sela air matanya dan mengusapnya.


"Maafkan aku," katanya sembari menghela napas. "Aku tidak pernah bertingkah seperti ini, kecuali saat melihat Dario mengorbankan dirinya untukku. Rasa pedihnya nyaris sama."


"Shanum menggeleng. "Tidak ada lagi yang perlu dimaafkan." Shanum tersenyum dalam hati. Wanita ini tanpa sadar mengungkapkan perasaannya tentang Dario. Shanum jadi semakin penasaran tentang hubungan keduanya saat ini.


"Terima kasih Shanum, kau sudah mengatakan hal yang sebenarnya masih menghantui diriku. Rasa bersalah terhadap kakakku itu tidak pernah hilang. Aku sangat menyesal atas semua yang sudah kulakukan kepadanya."


Shanum mendesah lelah. "Semua rangkaian peristiwa ini sudah kehendak takdir. Jadi sebaiknya kau petik saja manfaat di balik itu," kata Shanum.


Kemudian Shanum mendadak menyeringai. "Omong-omong, bagaimana hubunganmu bersama Dario? Barusan kau menyebutkan nama pria itu, apakah aku akan mendengar acara pernikahan juga dalam waktu dekat ini?"


Ekspresi Chinua langsung berubah. Matanya memancarkan sinar muram kembali. "Hubungan kami berjalan dengan baik. Tapi kalau untuk menuju ke jenjang pernikahan sepertinya belum terpikirkan. Aku tidak berani berharap Shanum, karena aku sudah berulang kali menyakitinya."


"Memangnya mengapa kalau kau sudah sering menyakitinya? Hal itu terjadi di masa lalu kan? Dan kau pastinya sekarang sudah meminta maaf kepadanya."


Chinua mendesah. "Err, belum... Aku terlalu pengecut untuk membicarakan masa lalu. Kesalahanku terlampau banyak, Shanum."


Shanum mengangkat alisnya sebelah. "Sebenarnya apa yang kau rasakan terhadap Dario, Chinua?"


Chinua menatap Shanum dengan malu-malu. "Aku... entahlah. Aku sendiri bingung. Dahulu aku tidak pernah mau memikirkan pria sebagai kekasih. Karena aku sangat paranoid, setiap pria yang mendekatiku pasti beranggapan memiliki pamrih, dan itu membuatku kesal. Aku menganggap cinta itu sebagai kelemahan, yang tidak ingin kualami. Xanadu sialan itu mendidikku dengan keras, hingga membenci kata cinta. Tapi..."


"Tapi, bagaimana dengan sekarang? Setelah kebenaran mulai terkuak. Apakah hatimu masih tetap berkata hal yang sama?" desak Shanum memotong ucapan Chinua.


Chinua mendesah. Kemudian ia bergeser posisi berdirinya menghadap pedang yang terpasang di dinding. "Aku masih tidak tahu Shanum."

__ADS_1


"Begini saja, aku akan mengatakan ciri-ciri cinta yang selama ini aku rasakan terhadap Khan. Kau tinggal menjawab iya atau tidak terhadap hal tersebut. Apakah kau bersedia?"


"Boleh." Chinua menjawab seraya melirik Shanum.


"Apakah kau merasakan kehilangan saat dia tidak ada di sampingmu?"


"Ya," jawab Chinua dengan tegas.


"Senang mendengar ceritanya."


Chinua tertawa. "Dario jarang bercerita kepadaku."


"Loh, jika dia bertemu denganmu apa yang dibicarakannya?" tanya Shanum dengan heran.


"Ehm, ya ada sih. Tapi bukan bercerita, lebih tepatnya kami hanya bertukar kata seperlunya saja."


"Astaga, kalian berdua sama-sama kaku begitu? Pantas saja hubungannya menjadi tidak jelas." Shanum menggeleng sambil tersenyum geli.


"Oke kita lanjutkan. Terus apalagi ya." Shanum tampak mengerutkan keningnya, ia berpikir.


"Ahh, iya. Apakah kau agak gugup saat berdekatan dengannya. Dadamu berdebar-debar mungkin?"


"Em, sebenarnya karena itu aku jadi tidak bisa berbicara padanya. Aku tidak bisa berpikir jernih ketika bersamanya. Dan itu menggelisahkan. Tidak pernah kualami hal seperti itu dengan pria lain."


Ya Tuhan. Wanita ini! Usia boleh uzur, tapi perilaku nya seratus persen bak bocah dalam hal cinta. Shanum tertawa keras dalam hati. Tapi tidak berani melakukannya, tidak mungkin dia menertawakan Chinua di depan orangnya.


Shanum berdeham. "Oke... Aku yakin itu cinta." Shanum setengah mati menahan tawanya agar tidak meledak. Bibirnya berkedut.


"Betulkah? Berarti aku mencintai Dario?" Chinua masih tampak tidak percaya.


"Iya. Kau mencintainya, Chinua. Hatimu sakit kan saat melihat dia terluka, tidak ingin kehilangannya?" tanya Shanum lagi.


"Ya." Chinua bergumam. "Aku tidak mau melihatnya meninggalkanku."


"Itu cinta, Chinua. Haduh!" Shanum menggeleng-geleng kembali sembari menepuk jidatnya. Padahal tadi wanita ini meremehkan dirinya yang katanya susah membaca perilaku orang lain. Tapi dirinya sendiri juga tampak buta membaca sikap Dario.


Sungguh susah memang meyakinkan wanita yang baru menemukan hatinya kembali setelah sebelumnya mengeras bak batu selama ratusan tahun.


"Benarkah?" Kau mencintaiku, Chici?" Sebuah suara maskulin terdengar nyaring di telinga kedua wanita itu.


Tiba-tiba dari arah pintu ruang perpustakaan muncul sesosok tubuh pria yang sedang dibicarakan. Dario masuk ke dalam perpustakaan itu. Dan Chinua langsung membalikkan tubuhnya, ia mengenali suara itu dan memucat melihat ekspresi penuh tanya dan dalam dari pria itu.


Wow, Chici... Panggilan sayang dari Dario untuk Chinua.


Shanum tidak ikut kaget, karena sebenarnya sejak tadi dia sudah menyadari kehadiran pria itu. Tapi karena pria itu tidak juga berniat menampakkan dirinya, jadi Shanum diam saja.


Shanum sengaja menanyakan rentetan segala hal berkenaan dengan cinta itu kepada Chinua. Ia ingin membantu wanita itu bersatu dengan Dario. Sebab Dario terlihat sangat memuja Chinua. Mereka hanya membutuhkan kesempatan dan kejujuran.


"Hem, sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua," ucap Shanum. Gadis itu lalu mendekati Chinua. "Kau harus berani, seperti dirimu yang aku tahu sangat ahli dalam bertempur," bisik Shanum.


Shanum pun melanjutkan langkahnya menuju pintu, dan melemparkan senyum menyeringai ke arah Dario. "Semoga sukses." Gadis itu mengedipkan sebelah matanya dan mendapatkan anggukan penuh hormat dari pria itu.


Sore harinya, pesta dilaksanakan dengan meriah. Shanum mengenakan baju pengantin berwarna krem dengan bahu terbuka dan rok mengembang. Gadis itu terlihat cantik. Khan terpukau melihat pengantinnya hingga tidak bisa memalingkan wajah.


Khan mengucapkan sumpahnya kemudian acara dilanjutkan dengan saling memadukan kekuatan sihir mereka. Pada saat mengucapkan sumpah pertama, ketika Shanum sakit, proses itu dilewati. Karena pengantin wanitanya tidak mungkin bisa ikut melaksanakan.


Dan sebenarnya proses itu bisa dilakukan belakangan saat mereka melakukan malam pertama. Namun, karena sekarang pernikahan itu diulang, maka seluruh tahapan dapat dilakukan dengan sempurna.


Khan mengucapkan mantra berpasangan sembari menyatukan keseluruhan jari jemarinya dengan Shanum. Dia menggenggam erat. Kekuatan berwarna merah keluar dari sela-sela jemari Khan. Shanum tidak mengatakan apa pun, secara otomatis tubuhnya merespon, kekuatan berwarna kuning keemasan ikut keluar dari sela-sela jemarinya.


Kemudian Shanum merasakan sesuatu merayap di sepanjang lengannya, menjalar hingga ke leher. Sisi leher sebelah kanannya mulai terasa gatal. Shanum menahan rasa itu. Setelah perpaduan kekuatan mereka menghilang seluruhnya, rasa gatal itu ikut menghilang.


Khan tersenyum, lalu ia mengecup satu demi satu jemari Shanum. Pria itu menariknya mendekat, dan bergerak menuju lehernya yang terasa gatal tadi. Khan mengecup juga sisi leher Shanum itu. Dan Shanum merasakan gelenyar aneh di lehernya.


"Sekarang kau adalah milikku, Shasha. Sudah sah, menjadi milikku," bisik Khan dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2