Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 83 Dinding Penghalang


__ADS_3

Shanum tersenyum ke arah kedua sahabatnya. Mereka tadi datang ke dalam kamarnya dengan bersikap penuh rasa bersalah, mengira Shanum tersinggung dengan kata-kata mereka. Padahal ia tadi hanya kebelet ingin ke kamar mandi. Panggilan alam itu tidak mungkin ditahannya. Dan karena kedua sahabatnya itu sedang asyik berdebat, ia merasa akan percuma untuk menginterupsi mereka.


"Maafkan kami ya, Sha," kata Diva sambil meringis. Sedangkan Farah memberikan gerakan isyarat 'damai' sembari tersenyum lebar.


"Aku tidak apa-apa kok. Bagaimana debatnya? Siapa yang menang?" tanya Shanum mengangkat alisnya.


Keduanya cengengesan. "Hum, tidak ada kalah-menang sih. Cuma kata sepakat saja," sahut Diva.


"Dasar, kalian itu! Kalau tidak cekcok ya saling meledek. Tidak pernah berubah, dan jangan-jangan sampai tua akan begitu," ucap Shanum lagi dengan kepala menggeleng-geleng.


"Tapi kau sering terhibur kan dengan adanya kami, Sha," kata Farah dengan senyum smirknya.


Shanum menatap Farah, membalas senyumnya. "Iya sih, tanpa kalian hidupku sepi. Tapi terkadang kalian bikin pusing juga." Ketiganya lalu saling berpandangan. Reaksi pertama di mulai dari Diva yang tampak terkekeh geli, kemudian disusul oleh keduanya. Tawa terdengar berderai di kamar itu.


Mereka seolah-olah melupakan sejenak permasalahannya masing-masing. Shanum dengan urusan Khan yang secara mendadak melupakan dirinya. Diva dengan hilangnya Sergei bagai ditelan bumi dan Farah dengan cintanya yang tak kunjung bersambut.


Mereka saling menguatkan, dan menghibur. Melewati segala kebahagiaan serta kesukaran bersama. Persahabatan yang dimiliki oleh ketiganya bagaikan ikatan saudara kandung. Dan Shanum berharap tidak akan pernah berakhir selama hidup mereka.


"Jadi, sekarang apa yang mau kita lakukan?" tanya Farah. "Iya, Sha. Apa kau akan kembali ke kamar rawat Khan?" Diva ikut menyambung pertanyaan Farah.


Shanum menghela napas. "Sepertinya aku mau di kamar saja hari ini. Tadi tenagaku cukup banyak terkuras untuk menyembuhkannya. Dan hatiku masih sakit merasakan sikap pengabaiannya. Meski aku tahu, dia begitu karena tak mengingat diriku," jawab Shanum dengan ekspresi sedih.


Farah menggeram. "Entah mengapa mendengar ucapanmu barusan, aku menjadi semakin kesal pada Es Balok itu. Benar-benar pria tak tahu... Ah, sudahlah--" Farah terlihat kesal.


"Namanya Khan Adrian, Farah. Bukan es balok, es batu, kulkas berjalan, dan apa pun lagi sebutanmu itu untuknya. Dia juga bersikap begitu karena memorinya tentang Shanum lenyap dari pikirannya." Diva terlihat mendengus sembari memutar bola matanya.


Farah mengangguk. "Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku tak suka melihatnya membuat sahabatku bersedih. Dan julukan yang kuberikan itu memang sesuai kok dengan ekspresinya yang sangat dingin dan kaku itu."


"Terus, bedanya apa sama Jullian?" Kalimat Diva lebih terdengar mengejek daripada bertanya.


Dan kini Shanum yang terdengar terkikik geli. "Astaga betul sekali. Jullian juga ekspresinya mirip Khan."


Farah langsung bersungut-sungut. "Tetap saja beda lah! Jullian itu berbeda, dia itu--" Farah terdiam ia terlihat bingung sendiri.


"Ayo bedanya di mana? Kau sendiri tidak bisa menjawabnya kan," kata Diva lagi sembari menyeringai lebar.


"Huh, iya kau benar. Mereka sama." Akhirnya Farah mengakuinya. "Tapi tetap saja Jullianku tidak menyeramkan seperti Khan. Kekasih Shanum itu lebih arogan dan kaku dengan tata krama," elak Farah.


"Tentu saja dia bersikap begitu Farah, pria itu seorang pemimpin klan dan berdarah bangsawan. Pastinya berbeda dengan Jullianmu yang cuma seorang pengawal biasa," ledek Diva.


"Sudah cukup. Nanti kalian malah jadi bertengkar." Shanum berusaha menghentikan perdebatan kedua sahabatnya itu. Dia merasakan situasi kembali memanas.


"Terserah kau saja deh, Diva." Farah lalu bangkit dari duduknya di atas ranjang. Dia memutar tubuh, dan melangkah meninggalkan kamar itu dengan wajah ditekuk. Tak ada kata-kata lagi yang terdengar dari mulutnya.


"Tuh kan, dia marah. Kalian itu memang benar-benar ya! Ampun deh! Kau harus minta maaf kepadanya, Diva." Shanum mengingatkan sahabatnya itu.


"Biar saja, Sha. Sebentar lagi juga baik lagi. Dia kan memang begitu." Diva menjawab sembari mengendikkan bahunya.


"Aku mau ke dapur dulu ya, mencari camilan. Kau istirahat saja," katanya lagi. Diva pun keluar dari kamar itu sesuai dengan keinginannya menuju dapur.


Shanum yang melihat tingkah kedua sahabatnya itu hanya bisa mendesah lelah. Sepertinya situasi menguras pikiran dan hati yang dia alami, ikut mempengaruhi tindakan mereka juga. Ah, semoga kejadian buruk ini cepat berlalu.


Kemudian Shanum mulai merebahkan tubuhnya, dia kembali teringat peristiwa tadi. Banyak hal yang terbersit dipikirannya. Jika Khan melupakannya, bagaimana dengan ikatan mereka?


Dia memejamkan matanya, mencoba menelusuri jejak ikatan mereka. Melihat dengan mata batinnya. Gadis itu merasa ikatan itu masihlah ada, terasa dari kehangatan yang menyambut kedatangannya.


Shanum beranjak lebih dalam dan ia membeku. Ada dinding es menjulang begitu tinggi di hadapannya, begitu kokoh yang menghalangi ia mendekat. Sebelumnya dinding itu tidak ada di sana.


Seharusnya ia dapat melangkah terus menuju suatu ruangan tanpa pintu, dengan pemandangan yang terlihat luar biasa. Sebuah sinar menyerupai sinar inframerah terpampang mengelilingi sebuah obyek cahaya keemasan. Dia menemukannya tanpa sengaja pada saat awal mereka berpisah. Karena merasa kesepian dan rindu kepada pria itu, ia sering berkomunikasi melalui ikatan mereka. Dan di saat sedang fokus menyelami alam bawah sadarnya, ia menemukan ruangan itu.

__ADS_1


Anehnya Khan tidak bisa melihatnya. Shanum mengatakan kepadanya keesokan harinya, pria itu terdiam seraya memperlihatkan ekspresi seakan-akan ia meragukan ucapannya. Shanum meyakinkannya, dan akhirnya Khan mencobanya, namun setelah berulang kali mencoba, ia tak jua menemukan ruangan itu.


Shanum menggelengkan kepalanya, setelah pikirannya berkelana kemana-mana, ia berusaha memusatkan pikirannya lagi. Dia memaksa mendobrak dinding es tersebut dengan mengirimkan energi psikis ke arahnya.


Shanum terperangah.


Energi tersebut menumbuk dengan keras, kemudian hancur berkeping-keping membentuk percikan warna-warni, menyebar bagaikan kembang api yang ditembakkan ke udara. Terlihat indah, tapi menyesakkan untuknya.


Shanum bergeming seperti dinding dingin yang terdapat di hadapannya, matanya terbelalak lebar.


Dinding es itu tidak tertembus.


Dengan gelombang menyakitkan dari adrenalin yang membuat jantungnya berdetak terlalu cepat, Shanum berputar perlahan. Samar-samar, pikirannya terpaku pada fakta bahwa rasa dingin tersebut hanya berada di sekitar dinding. Jika ia melangkah lebih jauh ke belakang, hawa akan terasa lebih kering dan hangat.


Shanum kembali melirik dinding itu, lalu wajahnya terlihat keruh. Dia merasa frustasi dan sedikit putus asa. Apakah dinding itu yang membuat pria itu melupakannya? Jika seperti itu, apa yang membuat dinding itu tiba-tiba muncul?


Di saat yang bersamaan, di tempat lain. Seorang pria tersentak bangun dari tidurnya, paru-parunya seakan kekurangan oksigen. Dia mencengkeram tenggorokannya, menepuk-nepuk dada dengan kepalan tangannya dan menarik napasnya yang terasa menyakitkan.


Tangannya mencoba meraih segelas air di samping tempat tidurnya, dia mencoba beberapa kali sebelum akhirnya dapat benar-benar meraih gelas itu dengan baik. Gemetaran, Khan menenggak minumannya sampai habis lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.


Dia berkeringat. Merasa menggigil dan demam di saat bersamaan. Dia juga mengernyit merasakan nyeri yang menggedor keras kepalanya. Ia yakin barusan ia habis bermimpi buruk. Ia merasakan sesuatu yang mengerikan seakan-akan sedang berusaha menghisap tubuhnya menuju ke suatu tempat.


Sebelum itu ia juga merasa ada bayangan-bayangan samar menghantuinya di sudut mata. Bayangan itu selalu memberontak, dan seiring dengan itu, ia merasa dadanya terasa sakit. Seolah-olah ada yang berusaha menarik jantungnya keluar dari tempatnya. Apakah ada yang berusaha membunuhnya lewat mimpi? Dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


Khan mengaktifkan energi psikisnya dan masih merasakan bayangan-bayangan itu berada di dalam tubuhnya, meski ia sudah terbangun sepenuhnya. Merasa murka, ia menahan bayangan-bayangan itu dengan kasar, mengeluarkan amarah untuk menghancurkannya tanpa mencoba untuk mencari tahu lebih jelas apakah itu.


Khan memusatkan pikirannya, mencari si bayangan penyusup, melingkupinya dengan keinginannya, dan dengan usaha yang sangat besar memaksanya untuk keluar dari persembunyiannya.


Lalu tiba-tiba dia mencium aroma seorang wanita. Gambarannya kabur, tetapi ia dapat merasakannya, bahkan ia dapat mencium wangi kulitnya. Serbuan rasa rindu memenuhi dirinya, hampir meluluhkan ketetapan hatinya untuk mencari sosok sang penyusup.


Kemudian gambaran itu menjadi semakin jelas. Namun anehnya, dia hanya dapat melihat matanya saja dan sosok tubuhnya. Wajahnya masih terlihat samar, seolah-olah wanita itu mengenakan sebuah topeng yang hanya dapat memperlihatkan matanya. Dia terpaku sesaat, merasa pernah melihat mata itu.


Siapa wanita itu? Sudah jelas itu bukan Sarnai, ia tahu mata itu bukan miliknya.


Kemudian ia teringat harus kembali mencari bayangan yang menyusup itu. Khan tidak merasakannya lagi. Penyusup itu seolah-olah menguap begitu saja, seiring dengan menghilangnya sosok wanita itu.


Apakah wanita itu sang penyusup? Yang berusaha untuk menyakitinya dan bahkan membunuhnya?Tapi, dia pun tak yakin lagi. Mata wanita itu hanya menggambarkan kesakitan yang dalam, bukan untuk menyakiti.


Hatinya bergemuruh dan ia merasa seolah baru saja merasakan kebingungan paling pahit yang paling pernah dirasakannya dalam hidupnya. Seakan sesuatu telah menjalar ke dalam tubuhnya dan mencoba mengklaim dirinya.


Khan menyugar dengan gemetar, ia segera bangkit ke posisi duduk sembari menyandar pada punggung ranjang. Dia menatap lama ke arah dinding di hadapannya, perlahan menarik napas dalam-dalam, dan mencoba untuk mendapatkan kembali ketenangannya.


Pria itu menoleh ke arah pintu, saat dilihatnya sang ibu sudah menutup pintu dan melangkah menghampirinya. "Kau sudah bangun, Nak? Mengapa wajahmu terlihat pucat? Apakah kau merasakan sakit kembali?"


Banyak pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu dan dia hanya menjawab dengan menggeleng lemah. Khan tidak ingin membuat ibunya merasa semakin khawatir. Dia sudah tahu apa yang menimpanya. Dan dia sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup.


Ibunya juga mengatakan soal dewi penyelamatnya. Yang tak lain adalah gadis yang tadi berada di ruangan ini. Dia tidak terlalu bersikap baik kepada gadis itu. Karena Khan merasa dia asing. Ia memang selalu bersikap seperti itu kepada orang yang baru dikenalnya.


Eej tidak banyak bercerita lagi, karena dia mengatakan sudah sangat mengantuk. Mungkin hal itu disebabkan tubuhnya masih dalam masa pemulihan, ia menuntut lebih banyak beristirahat.


"Em, ada yang ingin kukatakan kepadamu, Nak. Dan kuharap kau mau menerimanya dengan baik." Eej terlihat gelisah, dan termenung sendiri. Khan curiga banyak yang dipikirkan oleh ibunya itu saat ini.


"Apakah masih ada yang belum kau katakan Eej," tanya Khan dengan wajah menelisik ke arah ibunya. Dia tidak ingin ibunya menyimpan banyak beban di kepalanya. Terlebih kalau beban itu berhubungan langsung dengan dirinya.


"Oh, tidak. Ini hanya soal gadis yang sudah menyelamatkanmu itu. Dia..." Eej menghentikan kata-katanya, ia tampak ragu untuk melanjutkannya.


"Apa yang berusaha kau katakan, Eej? Katakanlah, aku akan mencoba mendengarkannya dengan baik, meski itu adalah hal buruk sekali pun," kata Khan dengan senyum lembut ke arah ibunya itu.


"Tidak. Ini bukan hal buruk. Aku hanya ingin kau mau ditemani oleh gadis yang bernama Shanum tadi dan kedua sahabatnya selama aku pergi," ucapnya dengan cepat.

__ADS_1


"Kau akan pergi kemana, Eej?" tanya Khan.


"Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Jadi apakah kau bersedia, Nak?" ulang Eej. Wanita itu masih khawatir untuk meninggalkan Khan tanpa pengawas lain selain Jullian dan Abdan.


"Mengapa tidak Dario atau Taban saja yang menemaniku di sini, Eej?" tanyanya lagi. Khan merasa tidak nyaman jika ditemani oleh orang yang tidak dikenalnya. Karena selama ini dia adalah tipikal pria tertutup yang tidak pernah peduli untuk bergaul secara luas.


"Tidak bisa! Dario dan Taban sedang sibuk mengurus perusahaanmu dan juga membantuku mencari informasi tentang pelaku yang mencoba mencelakaimu itu."


Eej lalu menarik napas dalam. "Belum lagi aku harus melaporkan kembali kondisimu kepada para tetua, dan meminta penundaan seleksi tahap kedua yang seharusnya dimulai bulan depan," tambahnya lagi.


"Seleksi?" tanya pria itu sambil mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak ingat pernah meminta Seleksi. Malah selama ratusan tahun ia berusaha menghindarinya dengan berbagai cara dan alasan.


"Kau tidak ingat juga soal hal itu?" Eej bertanya balik. Jika putranya memang tidak ingat, berarti memorinya yang terakhir adalah benar-benar sebelum ia bertemu dengan Shanum. Ah, tampaknya akan semakin banyak yang harus dia jelaskan kepada putranya itu.


"Tidak. Aku tak mengingatnya. Batalkan, Eej. Aku tidak mau hal konyol itu dilaksanakan," kata Khan sembari mengetatkan rahangnya menahan amarah.


"Tapi..."


Khan melihat pancaran wajah bingung dan ragu dari ibunya itu.


"Batalkan! Tolak saja! Aku tidak berminat mengikuti parade sirkus yang dikemas secara berkelas itu," ucap Khan lagi, kali ini tidak lagi menahan rasa tidak sukanya.


"Aku pikir," kata Eej hati-hati, "Kita tidak bisa membatalkannya begitu saja, Nak. Seleksi itu sudah berjalan, dan yang akan aku tunda adalah Seleksi tahap dua. Kita sudah memiliki hasil Seleksi tahap pertamanya."


Matanya Khan semakin dingin. "Pokoknya tidak!" tolaknya dengan wajah kaku. Pria tidak akan sudi mengalami kembali perjodohan tak masuk akal yang merampas kebebasannya untuk berhendak.


Eej menarik napas panjang. Wanita itu bingung bagaimana ia menjelaskan nanti kepada para tetua dan dewan bangsawan. Mungkinkah berkilah dengan kondisi hilang ingatan yang menimpa putranya dapat membuat mereka mengerti, dan dapat mengabulkan permintaannya? Wanita itu berpikir sepertinya itu alasan yang terbaik untuk saat ini.


"Baiklah, aku akan mencoba menolaknya," jawab ibu Khan itu pada akhirnya. "Tapi kau harus menerima permintaanku tadi. Harus mau ditemani oleh Shanum," desaknya dengan ekspresi memaksa.


Khan memicingkan matanya, menusuk ibunya dengan tatapan serius. "Kau tidak sedang berperan menjodohkanku dengannya kan, Eej?" tanyanya curiga. "Aku tidak mau berhasil menghindar dari Seleksi, malah jatuh ke peristiwa yang sama karenamu."


Wanita itu menaikkan sebelah alisnya. "Oh, kau akan tercengang jika ingatanmu sudah kembali, dan mengingat segalanya tentang gadis itu, Nak." Eej tampak tersenyum simpul.


Khan memandangi ibunya sebentar, matanya menyipit. "Apakah ada yang kau sengaja lewatkan dalam penjelasanmu sebelumnya, Eej?"


Ketika wanita itu tidak bergerak untuk menyangkalnya, Khan mendengus. "Oh, yah, jangan katakan lelucon yang sungguh lucu, bahwa gadis itu adalah gadis yang terpilih dalam Seleksi pertama, karena aku yang memilihnya."


"Er... aku yakin... mungkin kata yang tepat adalah... bukan untuk yang pertama, tapi iya untuk yang kedua. Dan itu juga bukan lelucon yang kubuat untuk membuatmu tertawa, melainkan sebuah kenyataan yang pasti." Entah bagaimana Khan semakin bingung mendengar jawaban ibunya itu.


"Apakah kau kehilangan akal sehatmu, Eej?" tukas Khan. Kerutan dalam tercetak jelas di keningnya. Dia menjadi semakin heran dengan jawaban ibunya itu yang penuh teka-teki.


Eej berdeham. "Em, kau mencintainya, Nak. Dan dia kekasihmu dari sebelum adanya Seleksi itu," kata Eej dengan nada suara berhati-hati kembali. Seakan-akan Khan terbuat dari porselen, yang gampang pecah.


"Maafkan aku tidak mengatakannya sejak awal. Aku hanya tidak mau membuatmu semakin bingung dan memaksa kepalamu yang sedang terluka itu untuk mengingat. Dan tentang gadis itu, bersikap baiklah padanya, Nak. Dia sudah cukup menderita sejak mendengar kau terluka."


Khan menganga dan mengatupkan mulutnya lagi. Dia merasa telinganya mungkin salah mendengar ucapan ibunya itu. Tidak mungkin ia mencintai gadis lain selain Sarnainya. Khan tidak bisa percaya begitu saja, jika bukan ibunya sendiri yang mengungkapkannya.


"Tidak. Kau pasti sedang bercanda." Khan terlihat syok mendengar ucapan ibunya itu.


Ibunya menggelengkan kepalanya, seulas senyum terpasang di bibirnya. "Aku sudah mengatakan kepadamu sejujurnya yang aku tahu," katanya, "tetapi ada batasan yang aku mungkin tidak dapat menjawabnya. Hanya kau dan gadis itu yang mengetahuinya. Hmm... tentunya itu dirimu yang sebelumnya. Dan kalau kau ingin mengetahui tentang hubunganmu dengan gadis itu, sebaiknya kau bertanya langsung kepadanya, Nak."


Eej lalu meraih tangan putranya itu dan menepuknya, Khan merasa ada yang lucu dalam perilakunya. Dia terakhir kali diperlakukan seperti ini oleh ibunya adalah saat masih kecil. Dan itu sudah berlalu ratusan tahun yang lalu. Tapi dia cukup senang, setidaknya kasih sayang wanita itu tersampaikan kepadanya.


Eej memegang tangan Khan untuk beberapa saat, matanya menyipit, ekspresi wajahnya termenung. Khan merasakan sensasi yang jelas namun tidak pasti, bahwa ibunya itu sedang mencoba menelaah reaksinya.


"Baiklah, Nak," kata wanita itu. "Aku harus pergi. Ingat, jangan bersikap kasar pada gadis itu!" lanjutnya sambil tersenyum.


Khan menghela napasnya, lalu ia mengangguk. Dia merasa setengah hati menerima permintaan ibunya itu. Jika bisa menolaknya, ia akan langsung melakukan hal tersebut. Tapi sayangnya, ia tidak bisa beralasan. Meski ia tidak berminat bertemu dengan gadis yang katanya adalah kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2