
Wanita itu kembali tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan ucapan Khan adalah lelucon abad ini. "Oh, aku sangat takut--" Dia tersenyum meremehkan ke arah Khan.
Kemudian wanita itu memperhatikan wajah Khan, dari atas ke bawah, dan kembali ke wajahnya lagi. Alisnya melengkung sebelah, lalu senyum genit perlahan merekah di bibirnya.
"Untuk pria setampan dirimu, sungguh sayang jika menyia-nyiakan diri hanya demi gadis ingusan jelek seperti dia. Lebih baik kau bersamaku. Aku akan senang sekali menerimamu di sisiku. Kita akan menjadi pasangan yang sangat serasi," rayu wanita itu sembari tersenyum nakal.
Shanum menegang dan langsung meradang mendengar rayuan terang-terangan wanita itu. Dasar wanita murahan! Bisa-bisanya dia merayu kekasihku di depan wajahku.
Walaupun wanita itu tidak tahu tentang hubungannya dengan Khan, tetap saja Shanum merasa tidak terima. Dia baru hendak membuka mulutnya saat merasakan ada seseorang yang mencengkeram tangannya. Shanum menoleh, dan menemukan Sergei menggeleng lalu memberi isyarat untuk memperhatikan kembali ke depan.
Khan tertawa dengan nada serak yang terdengar seksi, dan hal itu semakin memancing reaksi terpesona pada wanita itu. Pria itu mengencangkan genggamannya pada pedang. Seakan-akan ia ingin segera menyerang wanita itu. "Tawaran yang menarik. Sayangnya aku tidak tertarik." Khan memandang jijik pada wanita itu. "Kau bukan tipeku, terlalu murahan!" ucapnya lagi.
Wanita itu membeku. Khan sudah menghinanya di hadapan banyak orang. "Kau kurang ajar!" desis wanita itu. Khan tertawa lagi, namun kemudian ia terdiam. Tatapannya tajam, dingin dan membekukan. Wanita itu bereaksi dengan tersentak mundur dari posisinya. Dia bertanya-tanya siapa pria ini? Auranya terlihat berwibawa dan mendominasi. Hingga ia rasanya ingin membungkuk dan menghormat kepadanya.
Shanum yang melihat adegan itu merasa senang, luar biasa puas mendengar ucapan Khan tadi. Jantungnya berdebar-debar di dalam dadanya, seirama dengan kehangatan yang menyebar di seluruh darahnya.
Ikatan di antara mereka terasa ikut berpijar. Dan ia berusaha menutupi senyum yang merekah dari bibirnya, saat merasakan sebaris kata-kata manis yang bergema di ikatan mereka.
Kau tetap yang tercantik, Shasha.
"Kenapa wajahmu tersipu-sipu seperti itu?" bisik Sergei tiba-tiba sembari menyikut lengannya. Shanum memutar bola matanya, lalu memberi isyarat tutup mulut kepada Sergei. Pria itu malah semakin memiringkan kepala, sambil mengawasi Shanum, penasaran melihat reaksi gadis itu yang mendadak menjadi aneh.
Shanum berusaha bertindak menutupi kegelisahannya di bawah tatapan tajam Sergei. Sungguh sulit memang jika kau berteman dengan ahli pelacak terkenal. Semua hal yang tersembunyi tak pernah lolos dari pengamatannya.
Tiba-tiba wanita itu memberi aba-aba kepada para pria di sebelahnya untuk maju menyerang mereka. Khan dan Sergei sudah bersiap dengan pedang mereka. Saat mereka sedang beradu pedang, dari dalam kegelapan di depan mereka, sebuah tombak tajam berkelebat, merobek jaket panjang yang dikenakan Shanum dan merobohkannya ke atas tanah.
Keempat pria itu kecolongan. Mereka terkecoh oleh tipuan wanita itu. Dari sudut matanya Khan melihat Sofia menerjang ke arah Shanum yang sedang terkapar. Berusaha menghantam lawan dengan kekuatannya, Khan bergerak ke samping lalu memukul tengkuk pria lawannya dengan gagang pedang. Ia ingin segera membantu Shanum melawan serangan Sofia.
Namun musuh terus berdatangan menyerangnya dengan membabi buta. Sergei dan para pengawal Khan juga tidak bisa membantu Shanum. Mereka harus melawan gelombang serangan dari anak buah Sofia, yang ternyata cukup banyak.
Di tempatnya, Shanum berusaha untuk segera bangkit, dan melepas tombak yang menahan jaket panjangnya dari tanah. Namun saat ia sedang fokus dengan tombak itu, mendadak muncul serangan kembali. Ia reflek menghindari sebilah pedang yang mengayun ke arahnya dengan memiringkan tubuhnya.
Pedang Jenderal wanita itu tidak berhasil mengenainya dan menancap ke tanah di sebelah kepala Shanum. Gadis itu sempat bengong karena kaget melihat pedang yang nyaris mengenai kepalanya. Meski masih syok, saat Sofia kembali melakukan serangan, ia secara otomatis bergerak memukul wanita itu dengan kekuatan cahaya keemasannya.
Pengetahuan Shanum tentang bela diri ternyata sangat bermanfaat. Ia dapat mengeluarkan jurus-jurus bela diri tersebut digabungkan dengan kekuatan sihirnya. Wanita itu terhempas jatuh, setelah Shanum kembali mengelak dan memukul dadanya dengan keras.
Merasa ada kesempatan, Shanum berusaha kembali menarik tombak itu dari tanah, dan kali ini ia berhasil. Gadis itu bangkit berdiri sembari memegang tombak. Wanita itu menggeram marah karena ia tidak berhasil melukai Shanum. Kini wanita itu menempelkan kekuatan apinya di pedangnya.
Shanum mengikuti wanita itu. Ia melumuri ujung tombaknya dengan api juga. Sofia sempat terpaku sejenak melihat Shanum memiliki kekuatan api yang sama. Namun kemudian wanita itu bergerak menyerang lagi sembari berteriak nyaring.
Shanum tersenyum geli, entah mengapa ia merasa wanita itu tidak cocok menjadi Jenderal Klan tertentu. Bukannya ia meremehkan gendernya. Ia hanya merasa wanita itu tidak sesuai berada di medan perang, bahkan teriakan wanita itu masih terdengar sangat merdu di telinganya. Bagaimana dia bisa memimpin peperangan, jika suaranya semerdu itu?
"Seharusnya kau menjadi penyanyi, Jenderal Merdu. Suaramu lebih cocok berada di atas panggung pertunjukkan daripada panggung peperangan," cemooh Shanum sembari menghadang laju pedang. Suara benturan pedang dan tombak terdengar di sekeliling mereka dengan keras.
"Kau kira kau bisa meremehkanku, Gadis Ingusan!" Wanita itu menarik pedangnya, lalu mulai menyabet lagi pedangnya ke perut Shanum. Shanum lagi-lagi mengelak dengan mundur ke belakang. Rasa panas kobaran api sempat ia rasakan. Api itu mengenai pakaiannya, dan ia menepuknya langsung dengan kekuatannya untuk memadamkannya.
__ADS_1
Wanita itu kembali menyerang, Shanum bertahan. Shanum menyerang, wanita itu menangkisnya. Mereka bergerak dengan lincah--menyerang, menangkis, dan menusuk. Keduanya bagaikan sedang menarikan tarian perang yang energik.
Hingga pada suatu titik, wanita itu berbuat curang. Dia melemparkan suatu serbuk putih dari genggaman tangannya ke mata Shanum. Wanita licik itu sudah merencanakan kecurangan itu. Entah bubuk apa yang dilemparkannya, secara otomatis mata Shanum merasakan perih.
Gadis itu tidak dapat menghindar, ia mundur beberapa langkah ke belakang, memutar tubuhnya, dan berhenti dari pertarungan untuk mengusap mata, dan menepuk-nepuknya. Namun tindakan itu merupakan sebuah kelalaian yang sangat fatal.
Sofia langsung mengambil kesempatan untuk menyerang Shanum. Ia hendak membunuh gadis itu, pedang di arahkan ke jantungnya. Khan yang sudah selesai melumpuhkan semua pria yang menyerangnya, mendadak membeku. Ia melihat gerakan Sofia yang mempersiapkan ancang-ancang ingin menyerang ke arah Shanum, saat gadis itu tidak siap.
Seketika tubuh Khan bergerak menuju gadis itu. Dia berlari sangat cepat, dan meloncat ke arah kekasihnya itu. Serangan Sofia menjadi meleset. Pedang api itu tidak mengenai Shanum, namun mengenai Khan. Yang Agung dari Klan Altan itu menyelamatkan pujaan hatinya dengan mengorbankan tubuhnya sendiri.
Pandangan Shanum terkejut saat ia sudah bisa melihat kembali. Ia tersentak kaget ketika tiba-tiba ada yang meloncat dan menubruknya. Shanum terguling jatuh bersama pria itu ke atas tanah, dengan posisi tubuh berpelukan.
Tubuh Khan terluka oleh tusukan pedang dan luka bakar. Shanum merasakan rangkulan pria itu melemah, Khan tergeletak lemas di atas tanah sembari menahan sakit. Shanum mencoba bangun dan mengecek luka pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Sofia yang melihat buruannya berhasil lolos dari tusukannya membeku sesaat. Apalagi saat ia melihat pria yang dikaguminya harus terluka karena menyelamatkan nyawa gadis itu. Entah mengapa Sofia tidak bisa bergerak. Tubuhnya serasa lumpuh, saat ia melihat Shanum menjerit pedih melihat kondisi Khan.
Saat Shanum sedang sibuk mengobati Khan, Sergei sudah berdiri di samping Shanum. Dia menatap tajam ke arah Sofia. Disusul oleh Abdan dan Jullian yang mengapit keduanya di sisi lain. Pandangan mata mereka penuh peringatan ke arah wanita itu agar tidak mencoba menyerang Shanum lagi.
Sembari bersiaga, mereka melihat Khan tergeletak dengan luka tusuk dan bakar yang cukup parah. Sedangkan Shanum hanya mengalami luka gores dan memar. Gadis itu mencoba menyalurkan kekuatan penyembuhnya. Akan tetapi Khan menggelengkan kepalanya.
"Jangan diteruskan, aku masih dapat menahannya. Tidak perlu menghabiskan tenagamu untukku. Kau harus melawannya terlebih dahulu. Kita harus segera menyelesaikan misi ini."
"Kau yakin, Adri?" bisik Shanum. Khan mengangguk lagi seraya meringis menahan sakit. Shanum menempelkan bibirnya di kening Khan dan kembali berbisik, "Aku akan kembali."
Setelah berkata demikian, Shanum berdiri, ia menoleh ke arah wanita itu. Dia menatapnya dengan pandangan bengis.
"Tutup mulutmu, ******! Aku tidak peduli dengan hinaanmu. Aku hanya peduli dengannya. Dan karena kau sudah melukainya, sekarang terimalah pembalasanku." Shanum menggerakkan tangannya.
Tiba-tiba sisa batang pohon bekas terbakar berukuran besar melayang di udara, batang itu bergerak mendekati Sofia dalam kecepatan luar biasa. Shanum memicingkan matanya. Dari jarak jauh dia mengatur pohon itu untuk menghantam wanita itu.
Jenderal itu terlempar cukup jauh. Pohon itu kembali mendekatinya dan memukulnya kembali. Tapi kali ini wanita itu melawan. Dia menangkis dengan kekuatan apinya. Shanum berdecak kesal, saat melihat pohon itu hancur menjadi serpihan.
Sergei yang melihat tindakan Shanum itu tersentak kaget. Matanya memandang serius ke arah Shanum. Gadis ini memiliki kemampuan telekinesis juga.
"Jadi cuma sebegitu saja kekuatanmu," ejek wanita itu sembari menyeringai. Shanum mendengus dan menggerakkan tangannya kembali. Pada saat yang bersamaan, ia mengeluarkan kekuatan cahaya keemasannya. Cahaya keemasan itu bergerak mengincar Sang Jenderal.
Dan Sang Jenderal sudah bersiap melawan dengan kekuatan apinya. Mereka saling beradu kekuatan. Kekuatan cahaya melawan kekuatan api. Letupan dan percikkan terlihat di sekitar medan pertempuran itu.
Mereka yang menontonnya tidak berani bergerak sedikit pun, dan tampak menahan napas. Menanti dengan tegang siapa yang berhasil menang.
Beberapa saat kemudian, Sang Jenderal wanita mulai tampak lelah. Kening wanita itu mulai mengerut, darah terlihat mengalir keluar dari hidungnya. Kekuatan api yang dipancarkannya mulai meredup. Melihat lawannya mulai lengah, Shanum langsung menghentakkan kekuatannya dengan menambah porsi laju cahaya keemasannya.
Sang Jenderal melotot melihat aliran kekuatan Shanum yang mulai mengikis habis kekuatan apinya. Bumi terasa bergetar, angin bertiup dengan kencang saat Shanum mengerahkan seluruh kekuatan cahayanya. Pada akhirnya kekuatan api milik Sang Jenderal meredup habis. Ia tersentak, lalu jatuh dan terseret di atas tanah.
Shanum tidak begitu saja melepaskan kekuatannya, cahaya itu diubahnya membentuk sulur ikatan, dan diarahkannya ke sekitar tubuh wanita itu. Wanita itu menjerit sembari berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
Shanum mengangkatnya ke atas dan mengarahkannya ke pohon terbakar yang batangnya masih berdiri kokoh. Ia menahan wanita itu terikat di sana sambil tersenyum penuh kemenangan.
Gadis itu tidak tampak kehabisan napas atau merasa lelah sama sekali. Ia merasakan adrenalin sudah menguasai seluruh tubuhnya. Matanya berkilat keemasan, begitu juga dengan rambut hitamnya, berkibar dikelilingi cahaya keemasan.
Semua orang yang berada di sana berdiri mematung sementara Sofia, sang Jenderal wanita masih berusaha untuk mematahkan cengkeraman sulur emas itu dari tubuhnya. Dia bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri memegang sulur itu sembari mengeluarkan sumpah serapahnya.
Sofia bahkan berusaha kembali mengeluarkan kekuatan apinya. Tapi usahanya itu berjalan sia-sia, cahaya itu tidak berhasil dipatahkan olehnya. Kekuatan Shanum memang luar biasa kuat. Yang pernah berhasil mengimbanginya hanyalah Chinua, leluhurnya itu.
Shanum mengamati usaha Sofia sembari tersenyum sinis. Saat ia melihat wanita itu mulai menatapnya dengan tajam dan melemparinya dengan bola api dari posisinya, Shanum mengetatkan ikatan cahaya itu. Sofia mulai mengalami kesulitan untuk bernapas. Wajahnya memucat dan lidahnya terjulur keluar.
Melihat pemimpinnya berada dalam bahaya, beberapa orang dari pihak lawan mencoba bergerak ingin membantu. Namun Shanum sudah bersiap mengantisipasinya. Sulur keemasan itu bergerak menahan para pria itu, mengikat dada mereka masing-masing dengan erat, hingga mereka semua berguguran jatuh ke tanah menahan sesak.
Setelah melihat para lawan yang terikat sudah tidak bergerak, Shanum melonggarkan ikatan di dada mereka. Ia kembali berpaling ke Sang Jenderal dengan menggerakkan sulur dan mengikat tangan wanita itu. Lalu melonggarkan ikatan di dadanya. Wanita itu langsung terbatuk-batuk keras dan berusaha menghirup udara.
"Kalian semua, tidak ada yang boleh berusaha membantu wanita ini atau pun rekan kalian! Jika kalian tidak mengindahkan ucapanku, nasib kalian akan sama dengan mereka." Shanum menunjuk ke arah para korban yang sedang terikat tak bergerak di tanah.
Sisa para pria yang belum dilumpuhkan dari pihak musuh menjadi tidak berkutik mendengar seruan Shanum tersebut. Mereka melemparkan pedangnya agak jauh dari tempat mereka berdiri, dan tidak berani mengeluarkan kekuatan api milik mereka. Dengan bersikap seperti itu, mereka menegaskan bahwa mereka menyerah kalah.
"Kalian berdua tolong ikat mereka yang sudah menyerah itu dan kumpulkan dalam satu tempat." Shanum memberi perintah kepada Jullian dan Abdan. "Jika ada yang mati, tolong kalian urus penguburannya," tambahnya lagi dengan suara tegas. Keduanya langsung bergerak mengerjakan hal yang diperintahkan oleh Shanum. Sergei juga ikut bergerak membantu.
Setelah semua tangan dan kaki para pria itu sudah terikat sempurna, gadis itu melepaskan ikatan pada dada Sofia. Dia menurunkan tubuhnya masih dengan posisi terikat pada tangan dan kaki.
Kemudian Shanum kembali menuju Khan. Dia berlutut dan menempelkan telapaknya pada bahu pria itu yang terluka. "Bagaimana keadaanmu, Adri?" tanya Shanum dengan lembut.
Khan bergerak dan membuka matanya. Dia tersenyum hangat membalas sapaan gadis itu. "Aku sudah lebih baik. Dan, aksimu tadi sungguh luar biasa, Sayang. Kau sudah sesuai menjadi pasanganku."
"Oh ya, memangnya kau bisa melihatnya?" Shanum bertanya sambil mengusap pipi pria itu yang kotor dengan jemarinya. Pandangan penuh kasih sayang terlihat di matanya.
"Bisa, aku tinggal memejamkan mataku dan melihatnya dari ikatan kita." Khan lalu menahan tangan Shanum di pipinya, seraya menatap gadis itu dengan dalam.
"Maafkan tingkahku setelah kau berenang tadi, Shasha. Aku sudah bertindak seperti anak kecil yang sedang merajuk." Khan menghela napasnya dalam. "Aku merasa kecewa kau tidak melibatkanku saat penyembuhan traumamu dulu. Aku menjadi cemas sendiri jika sesuatu terjadi pada dirimu saat itu--" Khan tidak meneruskan ucapannya karena Shanum menempelkan telunjuknya di bibir pria itu, dan menggeleng.
"Shhh, sudah Adri. Itu sudah berlalu, dan aku baik-baik saja hingga hari ini. Aku berjanji, untuk selanjutnya akan melibatkanmu dalam hal apa pun yang penting untukku. Setidaknya aku akan mencoba mengatakannya kepadamu terlebih dahulu. Oke!"
Khan menganggukan kepalanya dengan mata berbinar penuh penghargaan. "Tolong bersabar denganku ya," ucapnya lagi sembari mengecup jari gadis itu. "Aku harap kau juga bisa bersikap sama denganku, Adri. Kita masih sama-sama belajar untuk mengerti satu sama lain." Shanum tersenyum ke arah Khan.
Luka di bahu Khan mulai menutup. Dan pria itu dibantu Shanum bergerak duduk, lalu perlahan bangkit berdiri. Keduanya lalu melangkah menghampiri Sofia. Shanum mendekatinya dan tanpa disuruh langsung menempelkan telapaknya untuk menyembuhkan luka di tubuh wanita itu. Khan tersenyum tipis melihat kebaikan gadisnya itu. Meski bisa bertindak garang, gadisnya itu tetaplah penuh belas kasih.
Sedangkan reaksi Sofia, perbuatan Shanum yang menyalurkan energi penyembuh itu menyebabkan mata Sofia terbelalak lebar. Ia tertegun saat merasakan badannya yang sakit mulai mengabur rasa sakitnya, dan luka di tubuhnya perlahan mulai menutup.
Wanita itu menatap ke arah Khan dan Shanum dengan pandangan bingung dan penasaran. "Siapa sebenarnya kalian berdua? Dan mengapa kau juga diincar oleh banyak orang, Gadis Ingusan?"
Shanum mendengus dan menekan lebih keras tangannya ke salah satu luka, sehingga menyebabkan Sofia meringis sakit. "Namaku Shanum, bukan Gadis Ingusan" protesnya sembari tetap fokus memberikan energi penyembuhnya.
"Aku tahu." Wanita itu menyeringai ke arahnya. "Dan namaku Sofia." Wanita itu menyebutkan namanya kepada Shanum. "Aku tahu," jawab Shanum membalas ucapan wanita itu sebelumnya. Setelah dirasa Sofia sudah mulai pulih, Shanum melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu.
__ADS_1
"Omong-omong, mengapa kau bilang gadisku diincar oleh banyak orang, Sofia? Dan siapa yang mengincarnya?" Khan bertanya sembari menatap tajam ke arah wanita itu.
Sofia menelan ludahnya, wajahnya terlihat pucat pasi. Ekspresi wanita itu terlihat gugup. Mungkin tadi dia juga keceplosan mengatakan Shanum diincar oleh banyak orang. "Kenapa kau tidak menjawab, Sofia," desak Khan. "A-ku... a-ku, m-aaf aku tidak bisa mengatakannya." Sofia menjawab dengan terbata-bata dan terlihat semakin resah.