
Sinar matahari pagi menembus jendela yang terbuka ke arah luar, menghiasi ranjang dan lantai dengan pola cahaya yang bergelombang. Shanum berdiri di tengah kamar sambil menggigit bibirnya, ia merasakan kegelisahan yang tak dapat diungkapkan penyebab pastinya.
Hari ini adalah hari wisudanya. Sejak langit masih gelap, pukul tiga dini hari, dia sudah terbangun. Seharusnya dia masih dapat memejamkan mata, karena penata gaya yang akan mendandaninya baru akan datang tepat pukul enam.
Sebuah bayangan menyelinap masuk ke benaknya, dan untuk sejenak, dia tak berdaya untuk menepisnya, tak kuasa untuk menolak.
Wajah pria itu kembali muncul dalam kenangan. Senyum teduh di bibirnya, tatapan lembut di netra coklat keemasannya, yang selalu melahirkan desir hangat di dada Shanum. Dan suaranya yang serak sedikit berat, akan membuat setiap sel dalam tubuhnya menjerit histeris.
Setiap hari yang berlalu, sejak ia tidak bisa menghubungi pria itu, bayangannya semakin sering datang menghantui. Membuatnya resah, gelisah, menahan rindu dan cemas.
"Kau sudah bersiap, Nak?"
Kesadaran Shanum tersentak kembali saat mendengar ucapan Raisa. Dia menoleh dan melihat ibunya itu menatap penampilannya dengan alis mencuat sebelah. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Tanpa melihat ke arah Shanum, Raisa melintasi kamar menuju pintu penghubung dan beberapa saat kemudian, Shanum mendengar suara air mengalir.
Dengan cara tak biasa, Raisa sepertinya tahu apa yang saat ini putrinya itu butuhkan, yaitu segera mandi, jika tidak ingin terlambat menghadiri wisudanya sendiri.
"Ayo mandi, penata gayanya sudah datang!" Raisa mendesak gadis itu untuk segera masuk ke kamar mandi.
"Hah, sudah datang? Tapi ini kan masih pukul lima lewat tiga puluh menit, Bu," kata Shanum kaget.
"Iya, mereka penata gaya profesional, Nak. Tentu saja mereka sangat menghargai waktu," jawab Raisa sambil memberi isyarat dengan tangannya untuk menyuruh Shanum bergegas menuju ke kamar mandi.
Shanum terlihat cengengesan mendapati sikap tegas ibunya itu, lalu setengah berlari menuju ke kamar mandi. Kalau dia terus mengulur-ngulur waktu, ia khawatir ibunya akan semakin sewot kepadanya. Dan ia akan dipastikan mendapatkan ceramah panjang yang membuat telinga panas.
Kini gadis itu sudah selesai didandani oleh penata gaya yang di sewa oleh ibunya. Shanum terlihat cantik, mengenakan kebaya modern berwarna krem dengan bawahan rok kain lilit motif batik. Rambutnya yang biasa terurai indah, kini dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah sanggul modern yang indah.
"Kau cantik sekali, Nak. Ibu sampai pangling." Raisa tersenyum memandang ke arah putrinya itu. "Ibu juga cantik kok. Aku kan perpaduan sempurna dari Ibu dan Ayah," celetuk Shanum dengan senyum simpul menghias bibirnya.
Dimas, ayahnya--yang baru masuk ke kamar tamu, yang disulap menjadi ruang rias itu langsung menghampiri, dan berkata, "Iya, kau sangat menawan, Princess. Pantas saja pria itu tak bisa lepas dari pesonamu." Ayah Shanum itu menatapnya dengan pandangan takjub. Tak percaya putrinya semakin jelita, sangat mirip dengan istrinya.
"Siapa yang terpesona padaku? Ayah ya?" tanya Shanum pura-pura polos. Dimas mengangkat alisnya, lalu mencubit ringan hidung putrinya itu. "Aww, sakit Ayah!" Shanum mengusap-usap hidungnya yang habis dicubit tadi. "Nanti hidungnya merah ini, kan jadi tidak sempurna lagi dandanannya Shanum," tambahnya lagi dengan mulut mengerucut lucu.
Dimas terkekeh geli melihat reaksi putrinya itu. "Habisnya Ayah gemas," jawab Dimas singkat. "Sudah... sudah! Ayo kita berangkat, nanti terlambat loh." Ibu mencoba mengingatkan mereka.
Ketiganya langsung beranjak keluar dari kamar itu. Mereka menuju teras, dan di sana sudah menunggu Mang Jali, berdiri di samping mobil. Dia akan mengantarkan mereka ke gedung serbaguna kampus, tempat acara wisuda pagi ini diadakan.
Acara wisuda berlangsung dengan lancar, dan penuh sukacita. Wajah-wajah penuh senyum terpancar di seluruh area di dalam gedung serbaguna itu.
Setelah seluruh seremonial wisuda selesai dilaksanakan, ketiga sahabat karib itu berkumpul di luar gedung. Mereka menuju taman yang terdapat tak jauh dari gedung. Para orang tua masih berada di dalam gedung, sedang menikmati makanan yang disajikan secara prasmanan.
"Akhirnya kita lulus... yeii!" jerit Diva sembari merangkul kedua sahabatnya satu persatu. "Selamat untuk kita semua, horee..." sambung Farah. Mereka bertiga tertawa bersama dengan gembira sembari saling merangkulkan tangan di pundak.
"Terus kita mau kemana nih untuk merayakannya?" tanya Shanum. "Bali..." teriak Diva. "Astrakhan..." ucap Farah secara bersamaan dengan Diva ketika meneriakkan kata Bali.
Diva dan Shanum langsung menoleh ke arah Farah. Mereka menatap ke arah gadis itu dengan ekspresi heran. "Kenapa kau mau ke Astrakhan?" tanya Shanum dengan wajah penasaran.
Farah menyeringai. "Aku ingin bertemu Jullian." Gadis itu tersipu malu-malu.
"Ya ampun, Farah!" kata Diva sambil memutar bola matanya. Dia tak habis pikir, harusnya kan yang kebelet ingin pergi ke Astrakhan itu Shanum dan dirinya. Ini kok malah gadis centil itu yang bersemangat bertolak ke sana.
__ADS_1
"Em, Shanum..."
Tiba-tiba sebuah suara familier terdengar di telinga ketiga gadis itu. Mereka sontak menolehkan kepala dan menemukan Jullian sedang berdiri di dekat mereka. Pria itu terlihat setengah ragu.
Ketiga gadis itu melongo. Shanum merasa tenggorokannya macet saking kagetnya. Sedangkan Diva membekap mulutnya dengan telapak tangan.
"K-kau..." Farah terlihat lebih syok. Dia menunjuk pria itu dengan ekspresi tak percaya. Gadis itu lalu beralih mengucek-ucek matanya.
"Hei, kalian juga melihatnya kan? Aku tidak sedang bermimpi?! Astaga... Oh Tuhan..." Farah sibuk menceracau sendiri.
Diva yang mulai pulih dari rasa kagetnya langsung menarik tangan Farah, lalu mencubitnya.
"Aww..." jerit Farah.
"Sakit kan, berarti kau tidak sedang bermimpi. Tolong tenangkan dirimu. Jangan bikin malu!" desis Diva dengan ekspresi serius.
Farah langsung terdiam ketika mendengar ucapan tegas Diva. Gadis itu masih terlihat linglung, napasnya terdengar tidak beraturan dan wajahnya masih terkesima menatap ke arah Jullian.
Shanum berdeham. "Wow, sungguh kejutan yang tak terduga Jullian. Kami baru saja membicarakanmu, dan secara tiba-tiba dirimu muncul bagaikan hantu di hadapan kami."
Jullian mengangkat alisnya. Pria itu sepertinya tidak bisa menangkap maksud ucapan Shanum. "Kalian membicarakanku?" ulangnya.
"Ya, lebih tepatnya sih..." Shanum berhenti berbicara, karena Farah membekap mulutnya secara mendadak. "Maaf, sepertinya Shanum sedang melantur sedikit. Dia... dia merindukan Khan. Yah, dia rindu, tadi kami juga sedang membicarakan tentang pria itu," sahut Farah cengengesan. Gadis itu terlihat salah tingkah.
Shanum berusaha menarik tangan Farah yang sedang membekap mulutnya itu dengan mata melotot marah. Farah langsung melepaskan bekapannya saat dilihatnya Shanum mulai emosi. "Maafkan aku. Please, jangan katakan hal itu kepadanya. Aku kan malu!" bisik Farah seraya mendekat ke arah Shanum.
Shanum menghela napasnya. Emosinya perlahan surut. Gadis itu memandang Jullian. Pria itu terlihat heran bercampur bingung. Shanum tidak menyalahkan pria itu atas reaksinya tersebut. Pertunjukkan tadi memang cukup aneh dan mencengangkan.
Kemudian Farah menuju kursi taman yang berada di sampingnya, ia langsung menghempaskan bokongnya untuk duduk di sana. Tak berapa lama Diva ikut menyusul, menyisakan Shanum yang masih berdiri kokoh di tempatnya.
"Abaikan ucapanku tadi, Jullian. Apa kabar? Kau mencariku?" tanya Shanum dengan wajah penuh tanya dan penasaran.
Jullian mendesah, dia mengusap keningnya lalu memandang satu persatu gadis yang ada di hadapannya.
"Ya. Tapi sebelum aku mengatakan berita yang kubawa untukmu. Perkenankan aku mengucapkan selamat kepada kalian bertiga." Jullian tersenyum tipis.
Farah kembali melongo mendengar ucapan selamat dari bibir pria itu. Wajahnya tertegun, mulutnya sedikit terbuka saat ia melihat senyum simpul Jullian.
"Ya ampun Farah. Baru melihat senyumnya yang datar itu saja mulutmu sudah meneteskan air liur. Bagaimana jika kau melihat dia tertawa, bisa-bisa kau mungkin menggelepar di tempat kali," celetuk Diva pelan sambil memutar bola matanya.
Suara Diva memang pelan, tapi Shanum dan Jullian tentunya masih dapat mendengar kalimat sindiran Diva tersebut. Shanum sempat melihat mata Jullian sedikit berkilat dan mulutnya membentuk seringai tipis. Pria itu bereaksi terhadap ucapan Diva barusan.
Alis Shanum terangkat sebelah. Dia memperhatikan dengan lekat pria di hadapannya itu. Ternyata pria ini bisa memperlihatkan ekspresi beragam selain tampilan datar dan kakunya yang sudah sangat biasa.
"Ada apa Jullian?" desak Shanum, sementara wajah gugup Jullian membuat Shanum semakin tegang.
Shanum merasa dari wajah bimbang Jullian, apapun yang berusaha dikatakannya bukanlah hal yang mudah untuk dikatakan. Ada sesuatu yang membuat pria itu berat hati untuk langsung mengungkapkannya. Dan biasanya hanya kabar buruk yang melatarbelakangi seseorang dapat bersikap seperti itu.
"Kumohon beritahu aku apa yang membawamu kemari? desak Shanum untuk yang kesekian kalinya dengan nada suara cemas. "Apakah terjadi sesuatu dengan Khan?"
__ADS_1
Shanum menoleh saat Diva meraih tangannya, sahabatnya itu lalu menariknya ke kursi taman yang berada di tempat itu, dan Diva duduk di sebelahnya. Shanum mengikuti tanpa protes sama sekali, ia lalu meremas tas tangan di pangkuan hanya agar ada sesuatu yang dapat ia genggam.
"Sebaiknya kau juga duduk," kata Diva sembari memberikan kode dengan jemarinya ke salah satu kursi taman yang masih kosong.
Sedangkan Farah tidak bereaksi apapun, ia duduk diam dan memperhatikan saja gerak gerik Jullian tanpa mencoba mendapatkan perhatian lebih dari pria itu.
Jullian mengikuti isyarat Diva, ia menuju kursi yang berada di hadapan ketiga gadis itu. Pria itu mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat sangat aneh dan terpaksa.
"Sebenarnya Ibu dari Yang Agung yang mengutusku kemari. Kami tidak tahu kalau hari ini bertepatan dengan hari yang penting bagimu. Maaf jika aku datang di saat yang tidak tepat. Tadi aku sudah datang ke rumahmu. Kata penjaga di sana, kau sekeluarga berada di sini. Jadi akhirnya aku ke sini untuk... em..."
"Katakan saja, Jullian!" potong Shanum terlihat semakin tidak sabar.
"Yang Agung baik-baik saja, Shanum," ujarnya, dan kalimat pendek itu cukup untuk mengisi sekujur tubuhnya dengan sedikit gelombang kelegaan. "Tapi dia mungkin tidak akan terus begitu," sambung Jullian.
Dengan sama cepatnya, kelegaan itu mulai surut dari tubuhnya, membawa pergi bagian lain dari diri Shanum bersamanya. Apa yang dikatakan Jullian, apa yang dia coba beritahukan padaku?
Dada Shanum mulai terasa ditekan dari segala arah, hingga menyebabkan rasa sesak yang tidak biasa menguasainya.
"Ap-a maksudmu?" Shanum hampir tidak dapat berbicara. Suaranya terdengar tercekat.
Jullian menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Sekitar dua bulan lalu," ujar pria itu dengan hati-hati, "Yang Agung terluka sangat parah. Ada yang menjebaknya dalam sebuah bangunan yang terbakar oleh api sihir. Dan api sihir ini tidak bisa dilawannya, karena api itu berasal dari sihir hitam yang sangat kuat. Yang Agung terbakar di dalam gedung itu tanpa bisa keluar."
Jantung Shanum berhenti berdetak. Napasnya terhenti. Tas tangannya jatuh ke tanah. Dia tidak langsung mengambilnya, tubuhnya terasa lumpuh, tidak bisa menggerakkan... apapun.
Lagi-lagi peristiwa kebakaran!
Shanum tidak habis pikir, apakah ini ulah Klan Bataar lagi?
"Untungnya Ratu dari Klan Batbayar sedang berada di dekat tempat itu. Dia yang mengeluarkan Yang Agung dari sana. Dia mengalami luka bakar serius di seluruh tubuhnya."
"Tidak...," Shanum menggelengkan kepalanya terus menerus, tidak ingin mempercayai apa yang diceritakan Jullian padanya.
"Sejak saat itu dia masih belum sadarkan diri. Tapi menurut ahli pengobatan kami hal itu justru baik untuknya, agar proses pemulihannya dapat berlangsung baik. Kemudian semua pengobatannya berhasil baik, tapi sejak tiga hari yang lalu, kondisinya mulai memburuk kembali. Entah bagaimana secara tiba-tiba pemulihan yang sudah mulai berjalan langsung berhenti, seakan-akan tubuhnya menolak setiap obat dan terapi yang diberikan oleh ahli pengobatan kami."
Shanum menatap rumpun bunga yang berada di sebelah kursi Jullian dan berkata, "Tiga hari yang lalu aku juga merasakan perasaan sakit yang sangat buruk di dalam ikatan kami, jadi semua itu karena..." Kesadaran itu membuat Shanum semakin mati rasa.
"Benar, ujar Jullian pelan, "Tiga hari yang lalu dia tidak bisa lagi diobati, infeksi dari luka bakarnya mulai menyebar kembali. Dan kami semua menjadi sangat cemas."
Shanum menatap Jullian sekarang, matanya bersitatap dengan matanya. "Dia sedang sekarat, dan tidak ada yang berhasil mengobatinya. Walaupun dengan bantuan sihir penyembuhan," kata Shanum pelan.
"Benar."
Tubuh Shanum terasa dingin. Dadanya terasa seakan-akan ditusuk-tusuk ribuan jarum saat air matanya mengalir. Tangannya gemetar. Sekujur tubuhnya gemetar.
Jullian menambahkan dengan pelan, "Ikatan jiwa kalianlah yang menahannya untuk tidak segera pergi meninggalkan raganya."
Kedua tangan Shanum terangkat menutupi wajahnya lalu ia terisak, tubuhnya bergetar tanpa terkendali. Shanum merasakan tangan kedua sahabatnya melingkari pundaknya.
"Kau harus menemuinya, Shanum. Kami sangat berharap padamu untuk menyelamatkannya, sebagai pasangan jiwanya. Tapi kalaupun dirimu tidak berhasil mengobatinya, kau masih dapat bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya," kata Jullian dengan nada suara sedih.
__ADS_1
Shanum tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri, membisu... merasa mati dalam hati, perasaan paling menyakitkan yang pernah ia rasakan. Tidak... aku tidak bisa menerimanya jika ia meninggalkannya pergi dari dunia ini.
Jullian menatapnya sekali lagi untuk memastikan Shanum mendengarnya dengan jelas lalu berkata dengan hati-hati, "Aku akan memberikanmu waktu untuk bersiap. Sebaiknya kita tidak mengulur-ngulur waktu."