
"Senang bertemu denganmu, Mr. Dimas. Perkenalkan, saya Nomia, Ibu dari Khan. Mereka biasa memanggil Eej, yang artinya Ibu dalam bahasa kami. Maaf, saya telat memperkenalkan diri, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali." Nomia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Dimas membalas salam itu sembari tersenyum tipis.
Nomia berdeham. "Mr. Dimas, sepertinya aku tidak perlu berbasa-basi lagi. Tentang putrimu, kau harus segera memutuskan saat ini. Menyelamatkannya dengan bantuan putraku, atau mencari orang yang memiliki kekuatan Poison Absorber lainnya yang tentunya belum pasti."
Tampaknya wanita itu sempat melihat amarah di ekspresi ayah Shanum tadi terhadap putranya, jadi ia berusaha mengingatkan kembali. Seharusnya pria itu menyadari, bahwa hanya satu pilihan cepat yang tersedia saat ini, yaitu mengizinkan Khan mengobati Shanum.
Wanita itu refleks membantu putranya karena ia yakin, putranya itu akan terpuruk sangat dalam jika kehilangan Shanum. "Ingat Mr. Dimas, kondisi putrimu sewaktu-waktu dapat semakin memburuk." Desakan Eej itu sederhana dan tenang, tapi tegas.
Dimas mengangkat kedua alis dengan curiga, jelas masih sangsi dengan teknik pengobatan yang harus dilakukan terhadap putrinya.
"Kau yakin hanya itu pilihan yang aku punya? Tidak adakah cara lain yang tidak intim, walau bagaimanapun putriku masih lajang?"
"Tidak ada. Kau sudah dengar sendiri penjelasan Chinua tadi," jawab Eej cepat. Wanita itu menatap intens tapi tetap dengan ekspresi ramah.
Sedangkan Dimas tidak menjawab, tatapan sepasang mata hitam itu berpindah menjadi mengamati wajah Khan lekat-lekat, mungkin mencari maksud tersembunyi di dalamnya. "Bagaimana aku dapat meyakini setelah kau melakukan perbuatan itu putriku benar-benar akan sembuh?"
Khan balas mengamati Dimas dengan wajah tenang. Dan Khan terdiam, karena memang ia tidak tahu apakah proses itu akan berhasil. Dia belum pernah menguji kekuatannya yang satu itu.
Saat ini Khan berusaha meletakkan kepercayaannya pada Chinua, karena hanya itu jangkar penyelamatan terdekat dari keputusasaan yang mulai menggerogoti hatinya. Sejujurnya, menyakitkan rasanya untuk akhirnya memberi Shanum hal yang akan mencoreng nama baiknya.
Tapi tidak ada pilihan lain, desakan atas kesembuhan gadis itu lebih penting saat ini. Khan tidak mau menyesal karena kehilangan gadis itu.
"Maaf Sir, sejujurnya aku juga tidak tahu. Karena aku tidak pernah melakukan proses itu. Tapi jika demi kesembuhan Shanum aku harus melakukannya, tentunya aku harus mencobanya." Ia berhenti sejenak, menatap dengan sikap serius ke arah Dimas.
"Aku mencintai putrimu, Sir. Andaikata aku harus menikah dengannya sebelum melakukan tindakan itu pun aku bersedia. Agar tidak ada suara-suara sumbang di luar sana, yang berani memberikan stigma buruk kepadanya."
Dimas melengos. "Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin kau mencintai putriku tapi selama ini selalu saja menyakiti hatinya. Dan--"
Khan menyela protes Dimas dengan berkata, "Aku sangat menyesal, Sir. Semua itu di luar kuasaku. Siapa yang tahu aku akan mengalami Amnesia, dan mendadak melupakan hubungan kami."
"Lalu mengapa sekarang kau memaksa ingin menikahinya jika kau tidak ingat terhadapnya?" Dimas menyilangkan kedua lengan dengan sikap defensif.
Khan menyugar rambutnya. "Karena," ujarnya, "aku sudah mengingat semuanya saat ini."
Eej melompat bangkit dari duduknya, kegembiraan dahsyat yang terbangkitkan oleh ucapan putranya barusan telah mendorongnya melesat bangun dari kursi tersebut dan mendekati Khan. "Astaga, Nak. Seluruh ingatanmu sudah pulih?"
Khan tersenyum hangat ke arah ibunya. Eej lalu memeluk putranya itu. "Syukurlah, Nak. Aku sangat senang kau sudah menjadi dirimu seutuhnya."
Khan balas memeluk ibunya, dan berkata, "Ya, aku juga." Dia memang sedikit lega, ingatannya sudah kembali. Meski hantaman ingatan baru membuatnya meringis sakit, terutama sikapnya terhadap Shanum selama ia kehilangan ingatan. Hal itu malah membuat perasaan bersalah semakin mendera dalam jiwanya.
__ADS_1
Kemudian wanita itu merenggangkan pelukannya, menatap wajah putra satu-satunya itu. "Aku sangat setuju dengan pernikahan ini, Nak. Bukankah itu juga keinginanmu sebelum peristiwa celaka itu terjadi. Kita bahkan sudah mempersiapkannya dalam Seleksi tahap kedua, di mana Shanum akan menjadi calon yang terpilih. Terlepas bahwa pernikahan itu harus dipercepat sebagai cara untuk menyelamatkan nyawanya saat ini."
Khan tersenyum sedih, lalu ia menoleh ke arah Shanum dengan sendu. Eej yang melihat hal tersebut mengerti, putranya tidak yakin akan dapat meyakinkan ayah Shanum.
Wanita itu menepuk bahu putranya lalu ketika Khan menoleh, ia tersenyum sambil mengedipkan matanya. Khan balas tersenyum sembari mengangguk. Mereka saling memberikan isyarat khusus, yang tentu saja hanya dimengerti oleh keduanya.
"Jadi, Mr. Dimas. Bagaimana keputusanmu?" tanya Eej. "Apakah kita dapat memulai untuk merencanakan pernikahan keduanya."
Dimas menatap Nomia cukup lama sampai jemari pria itu, yang memegangi jemari pasangannya, agak berkedut gugup. "Kurasa, dengan sangat terpaksa aku harus menyetujuinya."
Dimas mendesah berlebihan, perlahan mendorong kursinya sedikit ke belakang, bersedekap, lalu menatap tajam ke arah Khan.
"Tapi aku mau pernikahan itu hanya berlaku sementara. Setelah putriku benar-benar sembuh kalian harus berpisah, dan aku akan membawanya pulang." Suara Dimas terdengar tenang meski sudah agak ditinggikan.
Suasana menjadi hening. Seisi ruangan itu yang awalnya merasa lega kini berubah menjadi sulit untuk menerima kata-kata tambahan dari pria itu.
Terdengar ******* tidak setuju dari Eej, dan ia bergumam: "tidak, aku tidak setuju. Bukankah lebih baik kita menyerahkan tentang hal itu kepada keduanya. Biarkan mereka yang memutuskan apa yang keduanya inginkan."
"Memangnya kenapa, jika aku menginginkan demikian? Putriku sudah cukup banyak dikecewakan olehnya," jawab Dimas dengan alis terangkat.
Sikap yakin Dimas membuat Khan dan Eej tertegun.
Ibu Shanum tiba-tiba meraih pipi suaminya, mengarahkan wajah itu kepadanya. "Sudah cukup, Mas. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah keselamatan putri kita. Tidak perlu berdebat kusir terus. Putri kita masih dalam bahaya, kau tidak mungkin membiarkannya seperti itu kan?"
Dimas menghembuskan napasnya. "Baiklah. Aku akan mengalah untuk saat ini." Pria itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Eej. "Anda bisa mengatur pernikahan mereka, Mam. Aku dan istriku sepenuhnya percaya kepadamu."
Kemudian Dimas mengarahkan pandangannya kepada Khan. Matanya berkilat kesal, tapi ia melanjutkan bicaranya dengan tenang. "Seperti yang tadi kukatakan, sejak aku tahu kau menyakiti putriku, kepercayaanku padamu musnah. Jadi saat ini aku kembali memberikan sedikit kepercayaan itu, lakukan dengan benar proses penyembuhan itu. Hanya 'skin to skin'. Tidak ada proses lainnya."
Wajah Khan memanas karena malu. Tidak menyangka ayah Shanum dapat membaca keinginan terdalamnya yang sedang mati-matian ia redam. Khan tahu ia akan berada dalam masalah besar jika tidak menahan luapan penuntasan berpasangan itu.
Kendali diri. Ia harus bisa mengendalikan hal itu nanti saat proses penyerapan racun dari tubuh Shanum berjalan. Sekarang yang diinginkannya terlebih dahulu adalah menikahi gadis itu.
"Aku tidak akan menyalahi kepercayaan Anda kali ini." Khan memberikan janjinya dengan gerakan khusus Klan kepada Dimas. Dan Dimas sepertinya bisa menerka simbol janji yang diungkapkan Khan, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah itu, semua orang secara serempak meninggalkan ruangan. Eej melirik ke arah Khan dan tersenyum lebar, ia tampak senang mendengar keputusan Dimas untuk menikahkan Khan dengan putrinya. Dia lalu mendekati ibu Shanum dan mengajaknya bercakap-cakap. Mereka langsung akrab bagaikan sahabat lama yang baru berjumpa kembali.
Ruangan itu mendadak sepi, hanya Khan yang masih berada di dalam kamar tersebut. Ia tidak mengikuti yang lain untuk keluar dari kamar itu, karena ia sudah terbiasa mengawasi Shanum setiap harinya.
Khan mendekati kekasihnya dan menarik bangku untuk duduk di samping ranjang. Pria itu tersenyum sendu.
__ADS_1
"Akhirnya aku akan menikah denganmu, Shasha. Meski bukan seperti ini pernikahan yang ingin kupersembahkan untukmu. Yang kuinginkan adalah pernikahan yang meriah di tengah-tengah rakyat Klan Altan. Dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahmu, bukannya pernikahan yang tidak akan kau sadari," ucapnya lirih.
Khan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia menatap Shanum dengan pandangan getir. Jika dia tidak mengalami Amnesia. Tapi tak ada gunanya menyesali itu sekarang. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah terus melangkah. Menghadapi kesalahan demi kesalahan dan memperbaikinya, jika memungkinkan. Mengurangi dampak kegagalannya, jika tidak memungkinkan.
Dan soal pernikahan sementara ini, solusi yang terbaik, menurutnya setelah menjalaninya, adalah tidak merenungkannya terlalu dalam. Dia akan memikirkan hal itu. Setidaknya ia dapat mencoba membuat Shanum tetap hidup.
***
Hari ini dia akan memulai proses pengobatan Shanum dengan kekuatannya. Selama tiga hari, Eej mengurus seluruh persiapannya. Termasuk menghubungi tetua dan dewan bangsawan. Sempat terjadi perdebatan yang cukup panjang di antara mereka.
Namun saat mendengar intimidasi Chinua dengan wajah menyeramkannya, bahwa Shanum adalah keturunan dari kakaknya. Dan dia akan menuntut balas kepada Klan Altan terkait nyawa keluarganya, jika Shanum sampai tak tertolong. Mendengar hal itu para tetua dan dewan bangsawan terdiam, lalu menghentikan segala protes mereka.
Mereka cukup takut kepada Chinua, karena wanita itu sudah sangat terkenal dengan kesadisan dalam sepak terjangnya yang radikal. Dan jika Shanum merupakan keturunan penguasa Klan Batbayar, maka gadis itu seharusnya sangat sesuai jika disandingkan dengan Khan sebagai pemimpin Klan Altan.
Akhirnya kedua petinggi yang disegani dalam Klan itu mengalah, dan merestui terjadinya pernikahan dadakan ini. Selanjutnya proses persiapan dilakukan secara maraton. Pernikahan tentunya dilakukan di mansion Khan, sebab Shanum tidak boleh dipindahkan ke tempat lain sesuai dengan kondisinya.
Pagi tadi, mereka sudah menjalani proses pernikahan tertutup yang hanya dihadiri keluarga terdekat, perwakilan tetua klan dan dewan bangsawan. Prosesi pernikahan itu berjalan lancar tanpa kendala. Khan hanya perlu mengusapkan sumpah pernikahan lalu memadukan energinya dengan mantra khusus pernikahan.
Mereka melewatkan janji dari pihak pengantin wanita, karena memang Shanum tidak bisa melakukan hal tersebut. Tapi hal itu bisa diwakilkan orang tua Shanum, dan dilakukan oleh Dimas sebagai ayahnya. Setelah itu, dia dan Shanum telah resmi terikat sebagai pasangan yang sah dalam pernikahan.
Mereka meninggalkan dirinya seorang diri di dalam kamar rawat Shanum. Semua orang beralih menikmati makanan dan minuman yang disajikan di ruang makan. Khan tidak ikut, ia meminta untuk makan di dalam kamarnya saja. Dan menunggu di dalam kamarnya, malam datang dengan perasaan tegang.
Dan waktu yang dinantikan itu tiba. Ia harus memulai proses itu malam ini. Khan mulai menyeberangi ruangan dengan langkah-langkah lambat dan berhati-hati. Dia mendekati ranjang Shanum.
Pria itu merasa gugup. Tapi dia tetap melanjutkan melepaskan pakaiannya dan menyusunnya dengan rapi di meja yang berada di samping ranjang. Alat bantu medis pada Shanum sudah dilepas semua. Kini gadis itu bergantung sepenuhnya kepada Khan dan kekuatannya.
Pria itu menarik lepas selimut dari tubuh Shanum dan terkesima. Gadisnya sungguh cantik jelita. Khan tidak bisa menjabarkan perasaannya saat ini, melihat Shanum tanpa busana dan tak berdaya di atas ranjang. Ibu Shanum sendiri yang sudah melepaskan pakaian putrinya dan menutupi tubuh putrinya itu dengan sehelai selimut.
Wanita itu tadi mengatakan kepada Khan dengan wajah tersipu malu. Khan menanggapi dengan anggukan seraya ikut salah tingkah di hadapan ibu mertuanya itu. Kemudian Raisa, ibu Shanum segera keluar dari ruangan, tidak ingin berlama-lama di dalam situasi yang cukup membuatnya jengah.
Khan menelan ludah dengan susah payah. Dia terdiam, tampak tersiksa. Gairah menjalari seluruh pembuluh darah Khan. Dia berusaha menahannya hingga menggertakkan rahang kuat-kuat. Walau bagaimanapun dia seorang pria yang normal. Tentunya akan bereaksi jika melihat pasangannya dalam kondisi seperti sekarang.
"Maafkan aku," bisik Khan. Lalu pria itu mulai naik ke atas ranjang, berbaring dan memiringkan tubuhnya dengan hati-hati. Khan secara perlahan menarik Shanum miring ke arahnya, dia memeluk Shanum dengan lembut, namun tetap erat.
Khan merasakan pertemuan tubuh mereka langsung menyetrumnya. Dia berusaha menjaga tangannya tetap berada di pinggang Shanum. Dan tidak berusaha membelai serta menyentuh kulitnya yang selembut beludru.
Oh, betapa sulit ia mengekang gairahnya saat ini. Betapa ingin dia menuntaskan ritual penyatuan yang sebenarnya. Tubuhnya berteriak-teriak memprotes, ingin meneruskan segala kontak fisik dengan pasangannya. Khan ingin melenguh menyalurkan rasa frustasinya. Situasi ini membuatnya sulit bernapas dan lututnya gemetar lemas.
Tenang Khan. Kau harus mulai memusatkan pikiran dan berkonsentrasi. Pikirkan kesembuhan Shanum. Kau sudah berjanji. Khan mengatur napasnya perlahan-lahan. Dia menutup mata dan menempelkan bibirnya pada kening Shanum. Khan mulai menyalurkan kekuatannya ke dalam tubuh Shanum.
__ADS_1
Saat energi dari kekuatan itu mulai keluar dari tubuhnya, Khan merasa sentakan pada tubuh Shanum, dan juga tusukan menyakitkan di seluruh tubuhnya. Tusukan itu sangat menyiksa, bagaikan ribuan jarum ditusukkan secara serentak ke dalam kulitnya. Khan berusaha menahannya, dia harus bisa melewati ini. Dia pasti bisa menyelesaikannya hingga tuntas.