
Setelah memeriksa laporan anggaran belanja klan selama beberapa jam, Khan memutuskan kalau dia membutuhkan jeda istirahat dan kembali ke kamarnya untuk menyendiri seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini.
Saat ini Khan sudah mulai menjalani hari-harinya bertemu, dan menilai calon-calon wanita potensial yang akan mengikuti Seleksi untuk kelompok pertama. Daftar nama sudah dibuat oleh ibunya. Eej yang mencari dan memilih ketujuh nama yang cocok untuk menjadi calon.
Ketujuh wanita itu akan menjalani Seleksi tahap pertama, di mana hanya akan tersisa dua orang yang terpilih. Setelah itu beralih ke kelompok kedua hingga kelompok ketiga. Perwakilan dua wanita terpilih dari tiga kelompok akan maju ke Seleksi tahap akhir. Jadi di akhir Seleksi merupakan babak penentuan untuk keenam wanita yang terpilih dalam seleksi sebelumnya untuk menjadi ratu.
Berabad-abad yang lalu, sisa lima wanita yang tidak terpilih biasanya bisa diangkat menjadi selir oleh pemimpin klan. Pemimpin klan bisa memilih dari kelimanya atau beberapa saja dari mereka. Namun hal itu tidak mengikat, semua dikembalikan kepada sang pemimpin ingin mengangkat selir atau tidak.
Untuk sesuatu yang begitu sederhana, ini tampak luar biasa menakutkan. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, Khan memang sudah merasa kewalahan sejak mereka mengumumkan Seleksi, jadi ini seharusnya tidak mengherankan lagi.
Ibunya memilihkan semua kontestannya sendiri, memilih wanita-wanita muda dari kalangan bangsawan, aliansi-aliansi dari klan lain, dan keluarga-keluarga berpengaruh.
Eej tahu kalau dia harus membuat Seleksi itu memilih para wanita muda yang mewakili setiap kalangan berpengaruh dari keseluruhan klan agar terlihat absah. Dan tidak ada peserta yang diambil dari kalangan rakyat biasa.
Ibunya tahu, dewan bangsawan tidak akan menyetujuinya, meski aturan tertulis tentang itu tidak ada. Sejak berabad-abad Seleksi selalu memilih berdasarkan silsilah yang dimiliki oleh para calonnya. Semakin tinggi silsilahnya semakin besar kemungkinan akan terpilih.
Akan tetapi Khan tidak peduli pada semua itu, bahkan dia tidak melirik sedikit pun pada para wanita yang sudah dipertemukan oleh Eej dalam sebuah acara kencan tertutup.
Kencan tersebut diadakan di Astrakhan. Khan tidak bersedia memasuki kota Och, karena dia tidak mau ada campur tangan dewan bangsawan ataupun para tetua yang tinggal di kota itu.
"Bagaimana perasaanmu?" Ibunya tiba-tiba ada di sebelahnya, wajahnya terlihat ingin tahu.
"Baik."
Ibunya tersenyum. "Mustahil kau baik-baik saja. Ini mengerikan."
"Ah, memang. Kurasa tidak perlu kujawab lagi. Eej sudah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya."
Senyum lembut ibunya masih terlihat, dia menghembuskan napasnya. Matanya menerawang jauh ke depan.
"Aku sangat bersyukur tidak pernah mengalami hal ini saat dengan Ayahmu. Kami sudah dekat sejak kecil dan semua mengalir begitu saja hingga kami dewasa. Mungkin lebih tepatnya kami sudah berjodoh tanpa perlu melalui acara Seleksi pemilihan jodoh lagi yang menguras emosi."
Khan tidak yakin apa yang harus dikatakannya. Dia tahu bahwa sungguh beruntung kedua orang tuanya, dapat menemukan satu sama lain dan dapat bersama tanpa pertentangan apa pun dari pihak mana pun.
Ibunya merupakan putri dari salah satu tangan kanan kakeknya. Dan ayahnya sudah dekat dengannya sejak kecil. Saat beranjak dewasa mereka semakin dekat, dan ayah mulai menyadari bahwa Eej adalah belahan jiwanya. Ibarat gayung bersambut, Eej juga memiliki perasaan yang sama.
Mereka akhirnya menikah. Hingga di akhir hayatnya, ayah hanya mencintai ibu. Dan Khan juga ingin seperti mereka. Mencintai satu wanita hingga akhir.
"Aku merasa sangat tidak nyaman. Sebelumnya aku sudah mengalami perjodohan tanpa proses Seleksi seperti ini. Dan hal itu berakhir bencana. Sekarang aku harus melalui lagi proses perjodohan dengan Seleksi yang menguras waktu dan tenaga." Khan terdiam, dia mengepalkan tangannya di pangkuan.
"Mengapa aku tidak bisa memilih sendiri jodohku, tanpa campur tangan pihak mana pun?" Dia menggertakkan rahangnya.
Eej mendekati Khan, dia menepuk pundak pria itu. "Aku bangga kepadamu. Kau akan bisa melewati ini semua. Dan aku akan selalu mendukungmu," ucapnya. Eej lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya. Di tengah-tengah jalan dia berhenti. "Oh iya, nanti malam kau ada acara kencan dengan wanita ke lima. Aku harap kau dapat bersikap lebih manis," tambahnya sambil terkekeh geli.
Khan mencengkeram pinggir mejanya sambil mendengus kesal. Dalam waktu seribu tahun pun tidak akan sudi ia bersikap manis pada seorang wanita, kecuali wanita yang benar-benar ia cintai.
***
Malam telah tiba, Khan sudah bersiap menuju ke salah satu restoran mewah di kota itu. Dia duduk di bangku belakang mobil mewahnya dengan tampang dingin dan kakunya.
Saat mobil itu berhenti tepat di depan restoran, Khan merapikan jas pas badannya dan turun dari kendaraannya dengan aura dingin, namun pesona seorang pemimpin klan tetap melekat erat pada dirinya.
Dia melangkah menuju ke dalam, dan menemukan Taban sudah menunggu di sana. Dia mengangguk dan melakukan kontak mata dengan salah seorang pelayan. Pelayan itu bergegas masuk ke dalam ruangan lain tidak jauh dari situ.
Kemudian seorang wanita berjalan keluar dari ruangan yang dimasuki pelayan tadi, bergerak anggun dalam gaun long sleeve dress berwarna hijau tosca, yang senada dengan warna matanya. Wanita itu bertubuh ramping dengan tinggi rata-rata wanita Asia, tapi memiliki wajah yang cukup enak dipandang.
__ADS_1
Wanita itu berhenti di hadapan Khan, membungkuk untuk memberi hormat. "Kiaria Khenbish, Yang Agung."
Khan memiringkan kepalanya sebagai sambutan dan menganggukkan kepalanya. Dia langsung mengisyaratkan para pelayan untuk menarik bangku. Khan dan wanita itu segera duduk saat bangku sudah di tarik ke belakang oleh para pelayan tersebut.
"Senang bertemu dengan Anda, Yang Agung. Terima kasih banyak banyak karena memilih saya. Saya berharap bisa membuktikan bahwa saya pantas menjadi pendamping Anda."
Khan menelengkan kepalanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Benarkah? Dan, bagaimana kau melakukan hal itu?"
Kiaria tersenyum. "Saya akan memberi tahu Anda bahwa saya berasal dari sebuah keluarga yang sangat baik. Ayah saya memiliki garis darah bangsawan dari marga Khenbish."
"Apa itu saja? Tidak perlu diucapkan pun aku sudah tahu lebih banyak dari itu."
Tak terintimidasi, Kiaria melanjutkan, "Menurut saya itu cukup mengesankan. Dan saya juga bersedia memiliki anak yang banyak dan tidak menolak jika Anda ingin mengambil Selir nantinya."
Wajah Khan semakin dingin, dia menatap wanita itu dengan pandangan tajam.
"Sayangnya, tidak mengesankan buatku memiliki banyak pasangan sebagai pabrik untuk memproduksi anak dan sebagai pemanis klan saja."
Wajah Kiaria tertegun.
"Sebaiknya kita langsung menikmati makan malamnya," kata Khan dengan suara kakunya. Dia langsung mengisyaratkan pada Taban untuk memanggil pelayan. Mereka memesan makanan sesuai yang diinginkan.
Hingga makan malam berakhir, tidak ada percakapan lagi di antara keduanya. Khan tidak memberi kesempatan pada Kiaria untuk memulai percakapan tetap dengan wajah dingin dan kakunya.
"Kamu boleh pergi," kata Khan singkat. Saat mereka telah selesai menikmati santap malam mereka.
Taban mengerti aba-aba itu, lalu ikut membantu menarik bangku Kiaria dan mengucapkan, "Terima kasih atas kedatangannya." Taban tampak tersenyum pada wanita itu. Dan Kiaria membalasnya dengan senyum tipis.
Kemudian Kiaria membungkuk memberi hormat, dan mulai berjalan pergi. Wajah Kiaria terlihat begitu sedih berlalu dari hadapan Khan. Tapi pria itu tidak peduli, dia memang sengaja tidak mau bersikap manis.
"Jika kau terus bersikap seperti itu bisa-bisa kita tidak akan mendapatkan satu wanita pun yang akan maju ke babak selanjutnya, Sir." Taban berdiri di sebelah Khan sambil berusaha menahan wajah gelinya.
"Tapi bukan seperti itu aturan Seleksi ini, Sir. Kau tetap harus memilih, suka atau tidak suka dengan para wanita itu."
"Kalau begitu kau atau Eej saja yang memilih." Khan mengangkat tangan kanannya, melihat penanda waktu di pergelangan tangannya, dan mulai berdiri dari duduknya.
"Yang benar saja." Taban memutar bola matanya, tidak mempercayai ucapan yang keluar dari mulut Khan barusan.
Taban menatap pria di hadapannya ini dengan pandangan kasihan. Sejak Shanum kembali ke negaranya, Khan kembali lagi ke sikapnya yang dingin, kaku, tanpa senyum, seperti sikapnya sebelum bertemu gadis itu.
"Jika acaranya sudah selesai, aku ingin segera kembali ke rumah." Khan menatap Taban dengan pandangan bertanya.
"Memang sudah tidak ada acara lagi. Wanita tadi juga sudah pergi dari sini," jawab Taban.
Khan mengangguk, lalu bergerak keluar ruangan. Dia menuju mobil mewah yang sudah menunggunya. Khan masuk ke sisi belakang, mengatur posisi duduknya. Dia melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya, dan memijat pelipisnya. Wajahnya terlihat lelah.
Meskipun mungkin acara kencan ini tidak berpengaruh pada hatinya. Dia tetap saja merasa terganggu, ia tidak suka dipaksa melewati kegiatan yang sia-sia. Dan Seleksi ini sungguh hal yang sia-sia menurutnya.
Khan keluar dari mobilnya di lobby depan dan berjalan menuju ke dalam mansionnya. Dia mengatakan pada salah satu pelayannya untuk membuatkan kopi untuknya, dan diantar ke ruang kerja. Setelahnya Khan kembali berjalan menuju lorong yang menuju ruang kerjanya.
Khan duduk di belakang meja kerjanya dan mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Dia membuka aplikasi gallery, dan menatap foto Shanum yang sedang tersenyum di dalam layar ponsel.
Khan begitu merindukan gadis itu. Satu hal yang tak bisa dibantah lagi adalah ia sungguh merasa begitu kesepian. Khan tidak menyadari betapa sangat bergantungnya ia pada Shanum untuk mengisi kekosongannya, untuk menutup semua lubang dalam hidupnya.
Hari tanpa Shanum membuatnya merana. Khan meletakkan ponsel di meja. Ia memejamkan mata dan menekan keningnya ke kepalan kedua belah tangan, dengan kedua siku yang menyangga pada meja.
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu, lalu seorang pelayan masuk sambil membawa baki berisi kopi pesanannya. "Kopinya, Sir." Pelayan itu meletakkan cangkir kopi di meja, lalu pamit undur diri.
Khan meraih gagang cangkir, mendekatkannya ke bibirnya, dan mensesap kopinya perlahan. Kopi mengalir di tenggorokannya menghantarkan rasa hangat dan nikmat. Mendadak ia dikejutkan oleh suara dering ponselnya. Khan melihat nama Sergei terpampang di layar. Pria itu meneleponnya menggunakan video call.
Dia mendengus, tapi tetap mengambil ponsel dan menggeser layarnya. "Untuk apa kau menghubungiku, Sergei?" ucapnya ketus. Khan melihat wajah pria itu sedang menyeringai di layar.
"Well, apakabar, Yang Agung?"
"Berani sekali kau menghubungiku. Apa maumu?"
Sergei berdeham, wajahnya tampak serius. "Aku tidak tersinggung dengan boikotmu terhadap bisnisku, Yang Agung. Jadi tidak perlu sungkan."
Khan mengatupkan rahangnya dan mendesis. "Kau terlalu percaya diri, Sergei. Aku tidak pernah merasa sungkan kepada siapa pun."
"Kau yakin, Yang Agung. Aku rasa kau salah. Kau sekarang sedang merasa sungkan, terhadap Shanum mungkin... Buktinya kau tidak pernah menghubungi gadis itu."
Wajah Khan membeku saat Sergei mengucapkan nama gadis itu. "Itu bukan urusanmu, Sialan!" Khan menggeram marah.
"Woa, tidak perlu emosi, Yang Agung. Aku hanya berniat baik. Jika kau tidak segera bertindak, kau akan kehilangan gadis itu."
"Apa maksudmu?" Khan memicingkan matanya, dia masih curiga dengan pria itu.
Sergei terkekeh geli. "Ternyata, Yang Agung masih memperhatikan Shanum. Meski sudah berkencan dengan beberapa wanita yang mempesona dan anggun."
Khan memandang pria itu dengan dingin. "Mengapa aku merasa kau sedang menyindirku, Sergei?"
Sergei tergelak, tawanya membahana. "Kau terlalu perasa, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya mengatakan yang ku lihat."
"Jadi kau memata-mataiku, Sergei?" Khan menyeringai dingin.
"Yah... sedikit sih. Aku hanya penasaran saja." Sergei tersenyum geli.
"Kau urus saja dirimu dan pasanganmu. Jangan ikut campur urusanku."
"Baiklah, jika itu keinginanmu, Yang Agung. Berarti kau sudah move on dari Shanum. Aku hanya menyayangkan saja, karena kalian sebenarnya sungguh cocok."
"Sudah aku bilang, Sergei. Tidak usah ikut campur," geram Khan.
"Oke, kalau begitu aku akan mendukung Shanum untuk dekat dengan salah satu guru tampan di kampusnya," ucap Sergei sambil mengangkat bahunya.
Khan terdiam. Sekelebat Sergei melihat tatapan terluka di kedalaman matanya. Namun kemudian tatapan itu kembali dingin tak terbaca.
"Maaf sudah mengganggumu, Yang Agung. Aku harap kau mendapatkan calon wanita...."
"Tunggu..." Khan memotong ucapan Sergei. Ia lalu tampak mengusap wajahnya. Pria itu diam untuk beberapa detik.
"Ya, ada lagi yang kau perlukan dari saya, Yang Agung."
"Tolong... kau bantu aku untuk mengawasinya di sana. Aku akan membayar jasamu."
Perlahan senyum merekah di bibir Sergei, "Aku tidak membutuhkan uangmu, Yang Agung. Jasaku ini gratis. Lunaku menyayanginya, jadi aku otomatis akan ikut menjaganya."
"Oke, aku minta kau laporkan setiap aktivitasnya kepadaku. Dan jangan berani-beraninya kau mendukung pendekatan guru siapa itu tadi dengannya. Kalau perlu kau harus menjauhkan mereka," ucap Khan sambil menatap tajam padanya.
"Maaf, Yang Agung. Aku hanya bersedia sebatas mengawasi. Untuk menjauhkan mereka, itu bukan ranahku. Sebaiknya kau saja yang melakukan hal itu, Yang Agung."
__ADS_1
Khan menghela napasnya lalu sekejap memejamkan matanya. "Aku ingin sekali melakukannya, Sergei. Tapi sayangnya aku tidak bisa."
Sergei mengerutkan keningnya, namun dia tidak bertanya lebih lanjut. Melihat wajah kacau Khan, dia merasa tidak tega. Sergei tahu bagaimana perasaannya. Karena ia pernah mengalaminya, saat Diva membencinya.