Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 63 Merancang Strategi


__ADS_3

Keadaan di ruangan itu saat ini terasa semakin memanas. Suara tawa Sergei sudah berhenti secara mendadak ketika ia melihat tatapan mengerikan Khan yang dilayangkan kepadanya.


"Aku rasa hal ini bukan untuk konsumsi umum. Aku hanya akan menjelaskannya kepada Shashaku," ucap Khan dengan nada suara datar dan kakunya.


"Maafkan Sergei, Sir. Dia terkadang memang suka usil," kata Diva sembari tersenyum takut-takut.


"Tidak perlu membelaku, Hon. Aku memang sengaja, ingin membalas ocehan seenaknya itu." Sergei menyeringai dengan wajah tak bersalah. Dan rahang Khan terlihat semakin mengetat mendengar ucapan pria itu.


"Sttt, sudah! Jangan menambah runyam keadaan!" Diva mencubit dengan kencang pinggang Sergei, dan mendapatkan reaksi ringisan pria itu.


Khan menghela napasnya, dia berusaha menekan rasa kesalnya kepada Sergei. Meski sebenarnya dia ingin sekali menonjok wajah tampan bak malaikatnya itu. Namun ia tidak bisa berbuat seperti itu. Khan masih membutuhkan Sergei untuk melacak komplotan yang berusaha membunuh Shanum.


"Oh, sudahlah! Mari kita segera duduk," Shanum langsung menarik tangan Khan ke arah sofa sembari memberikan isyarat kepada Sergei dan Diva untuk mengikutinya.


Setelah duduk di sofa, Shanum berusaha memulai percakapan. "Jadi ada kabar apa?" tanyanya. Diva dan Sergei tidak segera menjawab. Keduanya masih melihat ke arah Khan dengan pandangan beragam. Diva dengan pandangan cemasnya dan Sergei dengan ekspresi gelinya.


Shanum melirik ke arah Khan, dan melihat wajah pria itu masih terlihat angker. Shanum langsung mendekat ke arah pria itu. Tangannya menangkup pipi dan menarik wajah Khan menghadapnya. "Jangan berwajah seram begitu dong. Nanti ketampanannya luntur loh," bisik Shanum di telinga Khan sembari tersenyum menggoda.


Pria itu seketika menyeringai sembari memutar bola matanya.


"Em, Adri... Mungkin ada banyak aturan Klan Altan yang aku memang belum waktunya untuk tahu. Dan aku maklum akan hal itu," tambahnya dengan bijaksana sambil tersenyum.


Khan menatap Shanum dengan dalam, kemudian senyum tipis ikut terbit dari bibirnya. Dia menarik jemari Shanum dan mengecupnya.


Sergei berdeham memotong interaksi intim keduanya. "Sebenarnya Diva memaksa ke sini karena dia ingin melihat keadaanmu, Shanum. Sekaligus aku ingin mengembalikan kunci mobilmu. Tadi Abdan menitipkan kepada kami. Kami memang datang beriringan menuju kemari. Mobilmu sudah aman berada di parkiran bawah." Sergei meletakkan di meja kunci mobil Shanum di meja.


"Iya, Sha. Bagaimana keadaanmu?" tanya Diva.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin tadi aku hanya kaget saat merasakan hentakan kekuatan yang menyerangku. Wanita yang menyerangku itu memiliki kekuatan yang cukup kuat."


"Wanita?" tanya Khan sembari mengangkat alisnya.


"Ya, seorang wanita yang berada di belakang otak penyerangan ini. Dan kau pastinya akan terkejut Yang Agung, jika kau tahu siapa orang ini."


"Katakan!" perintah Khan.


"Pria yang berhasil tertangkap itu sempat mengaku dia berasal dari Klan Bataar. Dan dia hanya menjalankan tugas dari atasannya. Hanya itu yang sempat dia katakan, setelahnya pria itu langsung kejang-kejang dengan mulut mengeluarkan busa. Di tubuhnya sudah di pasang mantra pembunuh yang akan aktif jika mereka membuka mulut kepada pihak musuh. Dan seingatku Jenderal dari klan tersebut adalah seorang wanita," tutur Sergei.


Diva terkesiap kaget mendengar cerita Sergei dan Shanum bergidik ngeri.


"Maafkan aku, memang sangat sadis jika berada di duniaku, Hon. Tapi kau tidak perlu takut, aku akan selalu melindungimu." Sergei mengusap pipi Diva sembari tersenyum sayang.


"Sofia Bayarmaa," gumam Khan.


"Ya, itu namanya," sahut Sergei. "Wanita itu menggantikan tugas Ayahnya sebagai Jenderal di Klan Bataar sejak dua ratus tahun yang lalu, kalau tidak salah. Dan dia sangat berbahaya," tambah Sergei.


Mendadak Khan membeku, wajahnya terlihat keruh. Sepertinya pria itu menyadari sesuatu.


"Ada apa? Mengapa wajahmu mendadak aneh seperti itu?" tanya Shanum.


Khan langsung bangkit dari duduknya, dia melangkah menuju jendela, dan menatap pemandangan kerlap-kerlip kota dibalik kaca jendela.


"Klan Bataar merupakan tempat mantan tunanganku berasal," jawab Khan dengan nada suara datar.


"Woa, sepertinya hantu-hantu masa lalu mulai berdatangan untuk mengejarmu kembali. Dan sayangnya kali ini mereka mengancam juga keselamatan kekasihmu," sahut Sergei dengan sinis.


"Untuk apa mereka ingin membunuhku, Adri? Aku tidak mengenal mereka." Shanum terlihat bingung, keningnya berkerut dalam.


"Menurutku mereka mengejarmu karena kau kekasih Khan. Sepertinya ada yang masih menyimpan rasa dengan priamu, Sha," timpal Diva.


"Bisa juga, tapi bisa juga tidak. Karena hubungan Shanum dengan Khan setahuku belum dipublikasikan. Apakah sebenarnya ada yang berusaha untuk memata-mataimu, Yang Agung?" tanya Sergei.

__ADS_1


Khan membalikkan tubuhnya, dia kembali ke sofa dan duduk di sebelah Shanum. "Tentang ada yang memata-mataiku, aku tidak tahu. Masih harus di telusuri secara menyeluruh terlebih dahulu." Terjadi jeda. Mereka menunggu lanjutan kata-kata Khan.


"Dan soal hubunganku dengan Shasha sudah di publikasikan apa belum? Jawabannya adalah belum. Tapi sudah banyak orang yang tahu, terutama para pegawaiku dan orang-orang dari Klan Batbayar," ucap Khan lagi.


"Apakah mungkin hal ini berhubungan dengan Seleksi itu, Yang Agung?" Sergei bertanya kembali kepada Khan.


"Aku tidak tahu." Khan menggelengkan kepalanya. Pria itu masih belum berani menjawab tentang itu, karena semakin ke sini semakin banyak masalah yang menghadangnya.


Jika Gerel kembali mengacaukan hidupnya, dia tidak akan mengampuninya lagi. Saat itu Khan hanya mengusir wanita itu untuk tidak pernah menampakkan diri kembali di hadapannya. Dan selama ini dia tidak pernah bertemu atau mendengar kabar tentangnya lagi.


"Aku mengerti," ucap Shanum, sambil menatap Khan dengan dalam. "Aku mengerti kenapa mereka mulai bermunculan untuk membunuhku."


Membayangkan dikejar oleh orang-orang dalam dunia sihir ini membuat darah Shanum mendingin. Dia tidak menyangka takdirnya akan menjadi serumit ini. Tatapan Khan terpaku pada Shanum, waspada dan penuh tanya. Gadis itu menelan ludah. "Dan aku mengerti kenapa masa lalumu akan berdatangan kembali."


"Maksudmu apa?" tanya Sergei sembari mengerutkan keningnya. Dia semakin bingung mendengar ucapan Shanum.


"Kau kedengarannya mendapatkan penglihatan tentang masa depan, Shasha. Betulkah begitu?" Pertanyaan blak-blakan yang tajam muncul dari Khan. Pria itu khawatir Shanum mendapatkan penglihatan yang buruk.


Shanum mengusap wajahnya. "Semua ini karena ramalan itu. Menurut ramalan hanya gadis yang memiliki darah keempat klan yang akan menjadi pasanganmu."


Mata Khan melebar mendengar penjelasan Shanum. Gadis itu menaruh tangannya di siku tangan Khan, sementara ia berkata, "Karena akulah gadis itu, Adri. Jadi mereka semua mengejarku."


Shanum lalu bergeser dari posisi duduknya, hendak bangkit berdiri. Namun Khan menyambar tangannya, memeganginya, dan berkata, "Jika memang demikian adanya, aku akan sekuat tenaga melindungimu."


Shanum mengamati tangannya serta wajahnya yang penuh tekad, dan tersenyum lembut. "Aku percaya, Adri. Dan aku juga akan melawan mereka. Kita satu tim, ingat." Khan membalas dengan senyum yang sama lembut, beserta tatapan hangat terpancar dari netra matanya.


Sergei berdeham. "Boleh aku tahu cerita lebih lengkapnya, Shanum. Karena saat ini aku masih bingung perihal ucapanmu tadi." Mata biru langit pria itu menatap Shanum kemudian beralih sekali lagi ke arah Khan.


"Baiklah, aku akan menjelaskan secara lengkap. Agar kalian tidak bingung lagi." Setelah itu Shanum menceritakan tentang kata-kata Nekhii dan tentang ikatan mereka.


Setelahnya Sergei menggeleng, wajahnya tampak takjub. Begitu juga dengan Diva, bahkan gadis itu masih melongo kerena kaget.


"Kenapa aku menjadi cemburu dengan kalian berdua ya? Sial, kalian sungguh beruntung!" Sergei tersenyum lebar.


"Memangnya kita tidak bisa seperti mereka ya, Igei?" tanya Diva sembari menatap penuh harap ke arah Sergei.


Sergei mengusap tengkuknya. "Aku tidak tahu, Hon. Hal seperti itu tidak semua orang beruntung mendapatkannya. Lagipula aku dan kamu..." Pria itu menyugar rambutnya, mengembuskan tawa lirih. "Kita berbeda. Maaf Hon, kau bukan berasal dari duniaku."


Kejujuran Sergei membuat netra mata Diva meredup sedih. "Hei, aku tidak mau membuatmu kecewa," ucap Sergei. "Tapi aku tidak peduli, meski kau bukan berasal dari duniaku, aku tetap menganggap kau belahan jiwaku. Tanpa adanya mantra pengikat, kau tetap segalanya untukku."


Diva langsung menoleh dan merubah ekspresinya. Dia tersenyum hangat, dan matanya berkaca-kaca. Tampaknya gadis itu merasa terharu mendengar ucapan Sergei. "Aku juga merasa begitu," ucapnya lirih sambil tersipu malu.


Shanum berdeham sembari tersenyum. "Oke, jadi bagaimana sekarang? Apa kita akan memancing para perusuh ini," tanya Shanum berusaha mengembalikan pembicaraan kembali ke awal, tentang Klan Bataar yang berusaha membunuhnya. Dia merasa gatal ingin segera menghentikan tindakan orang-orang itu.


"Kau bersedia menjadi umpan?" Kata Sergei. Shanum mengangguk sembari memandang kerutan di dahi dan ekspresi sedikit tak percaya di wajah Sergei. Shanum heran mengapa ia tercengang, karena pria itu menduga ia tidak seberani itu untuk menantang bahaya.


"Aku tidak setuju." Khan langsung menjawab dengan tegas. Pria itu tentu saja tidak mau membahayakan keselamatan gadisnya. Jenderal Klan Bataar bukan wanita yang bisa dianggap sebelah mata.


"Oh tidak perlu cemas begitu, Adri. Aku kan punya kau dan Sergei, dan kalian tentunya bisa melindungiku."


Khan kelihatannya mempertimbangkan ini sejenak. Kemudian ia bersandar dan memiringkan tubuh ke arah Shanum, matanya memperhatikan gadis itu dengan tajam.


"Tetap tidak! Aku tidak mau kau ikut menghadapi para pengacau ini." Dengan wajah serius dan kaku, pria itu menolak.


Shanum memandang pria itu beberapa saat, tapi dengan sorot kecewa. Dia tidak percaya Khan masih menolak mengikutsertakannya.


"Baik, kalau begitu kau bersiap saja untuk menerima kematianku. Aku yakin mereka akan terus mencari kesempatan lain untuk menyerang, dan mungkin saja saat itu mereka akan berhasil," kata Shanum ketus.


Sejenak Khan hanya mendengar raungan di telinganya. Bayangan demi bayangan berkelebatan di benaknya. Wajah pucat Shanum saat ia pingsan tadi seakan-akan sudah membuat ia kehilangan separuh napasnya. Dia tidak bisa membayangkan jika kekasihnya itu tidak akan pernah sadar lagi dan harus pergi untuk selamanya.


Khan tersadar tangannya sudah mengepal demikian erat, sampai-sampai ia mungkin akan mematahkan jari-jari tangannya sendiri. Namun Khan memaksakan diri untuk tenang, dan memusatkan perhatian.

__ADS_1


Meski emosi-emosi yang berkecamuk terasa seperti asam di perutnya, tetap saja ini terlalu sulit baginya. Terlalu mengingatkannya pada hari di saat ia kehilangan Sarnai dan mendengar kematian Ayahnya. Orang-orang yang sangat berarti baginya.


Dan kini dia harus memikirkan situasi yang kemungkinan nyaris sama. Khan masih membeku, karena ia bahkan tak pernah memikirkan kemungkinan yang terburuk akan terjadi pada Shanum.


Khan berusaha memblokir kemungkinan itu. Ia tidak akan mau merasakan kembali kehilangan itu. Apalagi tentang Shanum, pasangan ikatan jiwanya, jika ia kehilangannya, kemungkinan ia akan kehilangan kewarasannya.


Khan merasakan tangan hangat menempel di wajahnya, mengangkat dagunya sementara ia menatap Shanum yang tersenyum sedih. Mata hitam berkilau itu bertemu dengan mata coklat keemasannya.


Shanum merasakan kesedihan yang menguasainya, karena mereka terhubung. Dan Khan tidak bisa menutup ikatan mereka, karena emosinya yang kacau. Dia semakin mendekat, matanya menyiratkan penyesalan, napasnya tak beraturan. Shanum mendesah lelah.


Dia mendekatkan hidungnya ke leher Khan sembari berbisik, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Setidaknya aku tidak mau diam saja sementara banyak pihak berusaha menyakiti kita. Please, biarkan aku membantu."


Hati Khan yang keras melunak, dia mundur. Ibu jarinya mengelus pipi Shanum. "Kau harus berjanji padaku untuk menjaga dirimu, jangan sampai terluka."


Shanum menyelipkan tangannya ke sekeliling pinggang Khan dan berkata pelan, "Aku berjanji dan terima kasih." Keduanya saling berpandangan dengan dalam. Pemahaman mengendap di pikiran Shanum, bahwa pria ini cemas jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Hem, aku punya rencana..." Sergei tiba-tiba mengeluarkan suaranya dengan keras. Dia mencoba menarik perhatian mereka.


Shanum dan Khan menoleh, melihat ke arah pria itu. Keduanya tertarik untuk mendengarkan kelanjutan kata-kata Sergei.


"Kita akan memancing mereka di suatu tempat yang jauh dari kota. Aku akan menyamar menjadi wanita sembari menemani Shanum," lanjut Sergei.


"Aku juga ikut," sahut Diva dengan antusias. Wajahnya terlihat cerah, sembari menepuk pundak Sergei.


Sedangkan Sergei langsung menghela napasnya. "Tidak Hon, kau tidak menguasai sihir. Aku tidak mau membuatmu celaka. Lagipula aku tidak bisa fokus menjaga Shanum jika nantinya harus ikut menjagamu juga."


Diva cemberut sembari mendengus saat mendengar kata-kata Sergei. Dia seakan-akan menolak untuk tidak dilibatkan oleh mereka.


"Iya Diva, situasi ini sungguh berbahaya. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada dirimu," sambung Shanum. Dia menatap Diva dengan pandangan memohon pengertiannya.


"Oh, baiklah. Aku tidak jadi ikut," kata Diva. Gadis itu masih terlihat kecewa karena keinginannya ditolak mentah-mentah. Bibirnya masih terlihat mengerucut kesal.


"Omong-omong kau yakin akan menyamar sebagai wanita?" tanya Shanum sembari tersenyum geli. Meski Shanum yakin pria itu pastinya sudah ahli soal itu. Sergei seorang pelacak terkenal, atau dengan kata lain dia mirip dengan agen rahasia di dunia nyata. Pria itu pasti sudah punya rencana khusus mengapa dia harus menyamar menjadi wanita.


"Ya, aku sudah terbiasa menyamar menjadi wanita. Dan untuk membuat situasi ini sealami mungkin, kau harus berada bersama wanita. Mereka pasti tidak akan curiga dan menganggap kita hanya sekumpulan wanita yang lemah," kata Sergei sembari menyeringai.


"Aku yakin kau pasti akan lebih cantik dariku, Sergei," ucap Shanum dengan senyum menggodanya. Yang digoda hanya mengangkat alisnya. Ide tentang memakai atribut wanita mungkin tidak masalah untuknya.


"Wajahnya saja sekarang sudah mirip wanita," celetuk Khan sembari mendengus. Sergei tersenyum tipis ke arah pria itu. "Oh, kurasa kau juga akan cantik. Karena tidak hanya aku yang akan menyamar sebagai wanita," jawab Sergei dengan tawa berderai.


Khan langsung menatap ke arah pria itu dengan sinis. "Jangan harap aku mau mengikuti saranmu itu yang sungguh menggelikan," sungut Khan.


"Kalau kau tidak bersedia, berarti kau tidak akan ikut dalam rencana ini," jawab Sergei lagi.


"Aku tetap ikut, tapi tidak menyamar menjadi makhluk jadi-jadian seperti itu." Khan bersikeras menolak menyamar menjadi wanita seperti arahan Sergei.


"Terus kau ingin menjadi apa? Jika kau tidak menyamar, mereka tentunya tidak akan terpancing untuk datang menyergap Shanum."


"Aku bisa menyamar menjadi pria yang lain dengan merubah wajahku." Khan menawarkan alternatif lain yang lebih baik.


Namun Sergei menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan berhasil jika tetap ada pria yang muncul. Mereka tidak akan bergerak. Percayalah padaku. Aku sudah sering menemukan situasi seperti ini " Sergei berusaha menjelaskan kepada Khan, agar pria itu mengerti dan mau bekerja sama.


Strateginya akan sia-sia jika Khan tetap memaksa berperan menjadi pria. Sergei menarik napasnya. "Susah sih ya, kau tidak pernah berperan menjadi orang yang bukan dirimu."


"Ayolah, Adri. Aku yakin kau pasti bisa," desak Shanum. Dia menatap Khan dengan pandangan memohon. Dia ingin perangkap ini sukses dijalankan oleh mereka. Dan bisa segera meringkus komplotan itu.


Khan mengusap wajahnya dengan wajah terpaksa. "Oke. Tapi aku tidak mau berpenampilan mencolok dan aneh-aneh."


Sergei tersenyum menyeringai sembari mengacungkan jempolnya. "Serahkan semua padaku. Aku janji, kau tidak akan didandani seperti badut. Bahkan Shanum mungkin akan terkesima melihatmu."

__ADS_1


__ADS_2