Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 33 Kebohongan


__ADS_3

Shanum hampir tidak tidur nyenyak sepanjang malam. Dia bolak-balik di atas ranjang, sering terbangun. Tepat sebelum jam enam, dia menyerah dan turun dari ranjang. Shanum meraih ponselnya, lalu turun ke dapur. Dia menemukan para pelayan sedang mempersiapkan sarapan.


Shanum meminta secangkir kopi untuk dia bawa ke ruang makan. Dia duduk di kursi yang berada di ujung meja dan bersiap-siap mengetik pesan untuk Khan di dalam salah satu aplikasi ponselnya. Selama kepergian pria itu Shanum berhasil menahan diri untuk tidak menghubunginya selama dua hari terakhir, dan dia belum mampu menyampaikan apa yang dia pikirkan. Khan juga tidak menghubunginya sama sekali.


Shanum menyesap kopi dan mulai mengetik, dimulai dengan ucapan bagaimana kabar Khan? Dan mulai menceritakan kegiatannya selama di tinggal pria itu. Tangannya gatal ingin mengetikkan kata-kata, "Apakah kau rindu padaku?" Namun Shanum ragu dan malu. Dia tidak berani mengakui bahwa ia sangat kehilangan pria itu. Mansion ini terasa sepi tanpa kehadirannya.


Shanum tiba-tiba meletakkan ponselnya di meja. Lalu berubah pikiran, dia mengambil kembali ponsel itu dan menghapus pesan yang sudah dia ketik. Gadis itu menggigit bibirnya sambil mengetuk-ngetukkan jari pada meja makan.


Shanum mendadak menyadari bahwa dia tidak merasa seimbang. Dia merasa mual, rasanya seolah sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Akhir-akhir ini perasaannya memang semakin tidak nyaman. Terutama saat Khan pergi meninggalkan mansion itu.


"Shanum. Benar-benar kejutan yang menyenangkan! Sudah dua hari ini kalian para gadis selalu menghilang entah kemana. Aku tidak pernah bertemu kalian saat sarapan." Gadis itu menoleh, melihat Taban berdiri di belakangnya sambil memegang secangkir kopi sepertinya. Ia mengenakan pakaian kerja dengan celana panjang serta dasi.


"Hai, kami memang terlalu lelah. Jadi hanya minta sarapan diantar ke kamar. Lumayan juga selama dua hari menjelajahi daerah yang kau rekomendasikan. Omong-omong kau pergi ke kantor setiap hari?" tanya Shanum.


"Yah, sialnya selama Khan pergi ke luar kota, sedang banyak pertemuan penting yang harus dihadiri. Aku juga harus mengambil alih sementara pekerjaannya. Selama dua minggu kemarin dia tidak ke kantor, dan mengerjakan tugas kantornya di rumah. Dia sibuk mengurusmu, Shanum." Taban menjawabnya sambil tersenyum smirk.


Shanum memutar bola matanya. "Enak saja, dia sibuk dengan kalian, sering mengadakan pertemuan kan. Dia juga lebih banyak berada di ruang kerjanya," kata gadis itu. "Iya, tapi kan pertemuan itu untuk membahas strategi guna melindungimu dari Chinua." Taban lalu menyesap kopinya. Dan mengambil sepotong roti isi dari piring saji.


Tiba-tiba saja Shanum teringat sesuatu. "Em, Taban, boleh aku bertanya sesuatu?" Pria itu berhenti mengunyah makanannya. Dia segera menelan makanan yang masih berada di mulutnya, lalu berkata, "Boleh, silahkan bertanya. Apa yang ingin kau ketahui?"


"Aku pernah mendengar kata-kata dalam bahasa kalian, tapi aku tidak mengerti artinya. Jadi kau bisa bantu aku untuk mengartikannya?" Taban menganggukkan kepalanya lalu mulai kembali mengambil roti isi dan memasukkannya ke mulut.


"Би энд байна. Би үргэлж чиний төлөө байдаг. битгий ай хонгор минь. Apa artinya?" tanya Shanum. Taban sontak terbatuk-batuk. Pria itu mendadak salah menelan rotinya hingga tersedak. Taban segera menarik cangkir kopi dan meminum isinya untuk menghilangkan rasa perih dalam tenggorokannya.


"Di mana kau mendengar kata-kata itu?" tanyanya serak. Shanum hanya menjawab dengan mengangkat bahunya dan tersenyum penuh rahasia. "Oke, aku akan katakan artinya. Tapi setelahnya kau harus memberitahuku dari mana kau mendengarnya," kata Taban. Shanum menganggukkan kepalanya.


"Artinya aku disini. Aku selalu di sini untukmu. Jangan takut sayangku," ucap Taban sambil menatap Shanum dengan geli. Gadis itu tertegun. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil duduk menyandar pada kursi. Ia tampak masih tidak percaya. "Tidak mungkin. Kau pasti salah, Taban," gumamnya.


Pria itu menghembuskan napasnya. "Aku tidak mungkin salah, kecuali kau yang tidak benar mendengarnya," sahut Taban. Shanum kembali melongo. "Kau yakin?" Taban mengangguk sambil tersenyum tipis. Wajahnya terlihat serius.


"Tidak mungkin Khan mengatakan kata-kata manis seperti itu padaku." Sekarang giliran Taban yang melongo mendengar kata-kata Shanum. "Maksudmu... Khan yang..." Pria itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. "Iya, dia yang mengatakannya," jawab Shanum. Gadis itu lalu menempelkan kedua telapak tangan pada pipinya. "Astaga, pipiku terasa panas."


"Hei, kenapa kalian berdua termangu begitu? Ada apa?" tanya Farah. Kedua gadis itu menarik bangku dan duduk di dekat mereka. "Iya, sepertinya ada sesuatu yang serius," timpal Diva. Taban dan Shanum saling berpandangan, lalu gadis itu itu mulai terkikik. Taban hanya tersenyum tipis.


"Ih, ada apa? Kok tidak menjawab." Diva masih penasaran, dia pindah duduk, lalu menarik kursi di sebelah Shanum. Diva duduk sambil menarik-narik pakaian Shanum seperti anak kecil. Sedang Farah sedang asyik mengambil sarapan yang tersedia di meja makan ke dalam piringnya.


Shanum berdeham, berusaha menghentikan tawa ceria yang ia rasakan. Gadis itu seolah-olah dapat terbang jauh ke angkasa saking bahagianya. Wajahnya merekah bercahaya. "Sepertinya ada kabar gembira nih," sahut Farah sambil mengunyah makanannya.


Perhatian Diva teralihkan, ia menoleh saat jus pesanannya diantarkan oleh pelayan dan diletakkan di meja dihadapannya. Diva mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.


"Sampai di mana tadi. Ah... kok tidak bilang-bilang, ayo cerita." Diva kembali bertepuk tangan sambil menatap Shanum dengan wajah berharap. "Sebaiknya aku segera pergi. Sepertinya ini urusan para gadis," potong Taban. Pria itu mengusap bibirnya dengan serbet makan, lalu berdiri. Dia menatap Shanum dengan pandangan tajam.


"Shanum, dia serius padamu. Apa pun yang akan terjadi di kemudian hari, tolong percaya padanya," kata Taban sambil tersenyum.


Kemudian Taban beranjak pergi keluar dari ruang makan, meninggalkan tanda tanya besar di pikiran ketiga gadis itu. "Jadi..." Farah menatap dengan pandangan penasaran. Shanum mendesah. "Oke, akan aku ceritakan." Lalu mengalirlah rangkaian kata-kata dari Shanum kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sudah bisa menduganya. Pandangannya berbeda terhadapmu, Sha," ucap Farah. "Iya, pria itu sungguh dingin dan kaku dengan orang lain. Tapi terhadapmu sikapnya lembut dan manis. Ah, seandainya aku bisa memiliki pria seperti itu," gumam Diva.


"Kau sudah punya, Diva. Masa kau lupa dengan pria malaikatmu itu." Shanum mencoba mengingatkan Diva akan Sergei. Diva rupanya tidak sependapat dengan Shanum. Wajahnya terlihat kesal. "Pria itu bukan malaikat, tapi iblis. Aku tidak mau membicarakannya," geram Diva.


Shanum tersenyum getir. "Aku yakin kau akan menyesal dengan sikap keras kepalamu ini, Diva." Gadis itu mengangkat bahunya acuh. Melihat sikap Diva, Shanum tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah menutup mata dan telinganya, jadi percuma Shanum mencoba meyakinkannya.


"Bagaimana dengan rencana kepulangan kita?" tanya Farah mengalihkan pembicaraan tentang Sergei. Shanum terdiam. Mereka memang hanya punya waktu dua minggu lagi di Astrakhan. Setelah itu harus kembali ke negara mereka. Shanum merasa waktu cepat berlalu. Masih banyak yang ingin dilakukannya.


Dia juga belum menemukan jawaban atas mimpi-mimpinya tentang Sarnai. Tentang kekuatannya memang sudah terjawab, dia mewarisi darah Klan Batbayar, dan tidak ada yang bisa meragukan hal itu. Begitu juga tentang dia dan Khan. Shanum mengusap pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.


"Kita memang harus kembali." Akhirnya gadis itu menjawab pertanyaan Farah. "Bagaimana dengan Khan?" tanya Diva. "Mungkin kami akan berhubungan jarak jauh. Tapi aku juga masih perlu membicarakan hal ini dengannya." Shanum tersenyum tipis.


"Oke, kita akhiri membicarakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Lebih baik hari ini kita jalan-jalan lagi." Diva terlihat antusias. Farah memutar bola matanya dan berkata, "Aku tidak ikut ya, mau istirahat."


"Yah, kau tidak asyik, Farah. Masa seharian di sini saja." Diva cemberut mendengar ucapan Farah. "Em... Diva, maaf ya. Aku juga mau di mansion saja, dan menelpon orang tuaku." Diva terlihat kecewa. "Oh, ya sudah, kalau maunya memang begitu. Kalau begitu aku berenang saja deh. Daripada tidak ada kegiatan," putus Diva. Mereka lalu mengakhiri sarapan dan pergi meninggalkan ruang makan.


Shanum telah selesai menelpon orang tuanya. Ayah dan ibu sangat bersemangat menanti kepulangannya dua minggu lagi. Mereka sudah sangat merindukan gadis itu. Kemudian Shanum kembali teringat Khan. Sedang apa pria itu? Gadis itu iseng menggeser-geser layar sentuh pada ponselnya dan menjelajahi internet.


Shanum mencoba mencari informasi tentang Khan. Sejak awal dia berada di Astrakhan tidak pernah dia penasaran mencari berita tentang pria itu. Sementara asyik mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Shanum tiba-tiba terpaku. Matanya menatap artikel yang ditemukan di kolom gosip.


Foto Khan dengan seorang wanita yang sangat cantik di semacam pesta koktail. Lengan Khan merangkul pinggang wanita itu, dan bahasa tubuh mereka tidak asing dan intim. Khan berdiri sangat dekat dengan wanita itu, bibirnya nyaris menyentuh pelipisnya. Wanita itu sedang memegang segelas minuman dan tertawa.


Shanum memicingkan matanya dan membaca penjelasan foto itu: Khan Adrian dan Jelena Chimea di pesta Iona Clothe.


Jemari Shanum gemetar sementara ia menggerakkan halaman itu ke atas dan membaca artikel singkat di sana, mencari-cari informasi lebih banyak. Tubuhnya mati rasa ketika dia menyadari bahwa pesta itu diadakan kemarin sore di Astrakhan. Berarti pria itu sudah berada di kota ini.


Dia beranjak dari tempat tidur. Ia berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir. Sambil menggigit bibirnya, dia melihat ke arah ponsel yang tergeletak di atas kasur. Namun akhirnya dia kembali meraih ponselnya dari tempatnya.


Shanum duduk di pinggir tempat tidur. Tubuhnya tampak bergerak-gerak gelisah. Dia menekan tombol untuk menghubungi ponsel Khan, dan menunggunya menjawab. Setelah deringan keempat pria itu menjawab.


"Ya, Shasha," katanya, suara berat dan sedikit serak itu membuat Shanum memejamkan matanya. Gadis itu terdiam selama beberapa detik. "Ada apa, Shasha? Aku benar-benar tidak bisa berbicara sekarang."


"Kalau begitu dengarkan saja. Aku tidak akan lama. Kau bisa memberikan waktu padaku?"


"Baiklah," jawab pria itu.


"Apakah kau masih berada di luar kota?"


Khan diam. Shanum menunggu dengan cemas jawaban pria itu.


"Mengapa kau tidak menjawab, Adri?" tanyanya lagi.


"Ya," cetus pria itu.


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu ini, Shasha?" Khan balik bertanya kepada gadis itu.


"Jawab saja, Adri. Katanya kau tidak memiliki banyak waktu," ucap Shanum dengan ketus.


"Ya, sejak aku pergi."


Tangan Shanum semakin kencang menggenggam ponsel, sementara amarah menerjang dirinya.


"Apakah kau yakin?"


Jeda yang lama, lalu, "Ya."


Shanum berusaha mengatur napasnya. "Oke. Menurutku kau benar-benar brengsek, karena selama kau pergi tidak pernah satu kali pun kau menghubungiku. Sebenarnya kau berada di Astrakhan kan, Adri. Kau datang ke pesta bersama seorang wanita kemarin sore. Aku melihat fotomu bersamanya. Ada artikel tentang kalian berdua di internet."


Shanum menelan ludah, ia berusaha menahan air mata amarah yang siap tumpah. Gadis itu cepat-cepat melanjutkan, sangat ingin mengatakan apa yang harus dikatakan sebelum dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.


"Menurutku kau pengecut karena tidak bersikap jujur. Apakah karena wanita itu? Kau tidak ingin aku tahu. Aku rasa hubungan kita tidak akan pernah berhasil, Adri. Jadi kita sudahi saja hubungan ini. Aku akan berusaha mengerti."


"Shasha!" bentak Khan.


"Oh, jadi sekarang kau membentakku, Adri. Setelah kau menghancurkan hatiku dan aku sudah tidak lagi memiliki rasa hormat kepadamu."


"Hentikan." Suara Khan hanya berupa bisikan, membuat Shanum bertanya-tanya apakah pria ini benar menyayanginya, seperti arti kata-kata yang dia dengar dari Taban.


"Tolong katakan yang sejujurnya, Adri. Apakah yang kau rasakan sebenarnya kepadaku? Karena aku ingin tahu, meski untuk yang terakhir kalinya."


Terdengar suara napas keras di dalam ponsel. Suara napas Khan yang menderu, seakan-akan pria itu menahan sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya.


"Kenapa kau diam? Kau tidak bisa menjawabnya, karena kau sebenarnya tidak memiliki perasaan apa-apa kepadaku...." Suara Shanum tercekat.


"Tolong hentikan, Shasha," ucap pria itu lirih. "Aku sudah selesai. Kuharap kau menemukan..." Tangan Shanum terkepal erat di pangkuannya. Dia menahan rasa sesak yang semakin meluap di dalam dadanya. "Lupakan saja. Selamat tinggal."


Shanum menutup telepon dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Dia lalu berjalan menuju kamar mandi. Menyalakan pancuran air hangat, dan jatuh terduduk di lantai sambil terisak keras. Gadis itu memukul lantai kamar mandi dengan tinjunya. Marmer di bawahnya tampak retak, dan jari-jari gadis itu berlumuran darah.


Suara gedoran pintu kamar mandi terdengar olehnya. Shanum tidak menghiraukannya, gadis itu tetap terdiam sambil menatap tetesan air yang mengalir dari pancuran. Tiba-tiba pintu terhempas dari tempatnya. Shanum menoleh, wajahnya tetap kosong tanpa ekspresi. Air mata sudah berhenti mengalir dari sudut-sudut matanya.


Taban berdiri di depan pintu, dengan kedua sahabat Shanum yang mengintip dari balik tubuhnya. Ketiganya kaget melihat tampilan Shanum. Wajah sembab, pakaian basah kuyup dengan jari-jari penuh darah dan lebam.


"Tolong bantu angkat dia, Taban," pinta Farah. Taban lalu mendekati Shanum. Gadis itu masih diam tidak bergerak, pandangannya masih kosong. Pria itu langsung meraup tubuh Shanum dan menggendongnya keluar dari kamar mandi.


Diva meneteskan air mata melihat keadaan Shanum, dan Farah terlihat khawatir. "Kalian harus mengganti bajunya. Aku akan mencari obat untuk mengobati luka dan memar di jari-jari tangannya. Kalian bisa memanggilku di luar jika sudah selesai," ucap Taban. Kedua gadis itu menganggukkan kepalanya.


Mereka bergegas mengganti pakaian Shanum, tidak ingin membuatnya masuk angin. Dan di sela-sela waktunya mengganti pakaian Shanum, Farah memperhatikan, gadis itu bagaikan cangkang kosong, tidak ada reaksi apa pun di wajah dan tubuhnya, meski matanya tetap terbuka. Ruhnya seakan-akan telah meninggalkan raganya. Farah sangat cemas melihat keadaan gadis itu.


"Apa yang terjadi padanya, Taban?" tanya Farah. Mereka memanggil Taban untuk masuk kembali, saat mereka sudah selesai mengganti pakaian Shanum. "Iya, dia seperti mayat hidup.Tatapannya kosong. Aku merasa ada yang aneh pada dirinya," sahut Diva. Taban sedang membalut jemari tangan Shanum setelah mengoleskan obat. Pandangannya tertuju pada gadis itu, yang saat ini sudah terlelap.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tadi aku di telepon Khan. Suaranya tampak panik, dia menyuruhku untuk segera menemui Shanum. Dan setelah aku sampai di sini dan menanyakannya pada kalian... yah, kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Karena kalian juga menyaksikannya."


__ADS_2