Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 127 Silsilah Rumit


__ADS_3

Khan melepaskan pelukannya. Dia ikut duduk di tanah bersama Shanum. Pria itu bernapas dengan berat sembari menghapus kembali jejak air mata di pipi Shanum yang terus mengalir. Seluruh derita yang dirasakan wanita itu mengisi ikatan mereka, membuat pria itu merasakan sesaknya.


"Shasha," gumam Khan dengan nada terengah.


Shanum masih tidak percaya, sampai ia menatap mata itu. Mata coklat keemasan yang indah itu.


Shanum tidak membiarkan dirinya percaya bahwa itu bukan apa-apa selain khayalan--


"Ta-tapi bagaimana mungkin?" kata Shanum seraya terbata.


Ekspresi Khan terlihat sendu. "Aku kembali untukmu. Kau yang membawaku kembali."


Tangis Shanum kembali meledak. Dia mendekap Khan erat. Hingga membuat pria itu tersentak.


Syukurlah. Oh, syukurlah. Jangan tinggalkan aku lagi, Adri.


Khan akhirnya membalas pelukan istrinya itu dengan erat pula. Pria itu menutup mata, menghidu keharuman memabukkan istrinya yang tidak pernah membuatnya bosan.


*Tadi aku bertemu Ayahku, Shasha. Aku tidak bisa mendekatinya. Seolah ada sekat yang memisahkan kami. Ayah tersenyum melihatku dan mengucapkan selamat, katanya aku sangat beruntung sudah mendapatkan pasangan jiwa yang sangat luar biasa. Dia berpesan padaku, kalau aku tidak boleh menyakitimu. Kemudian aku mendengar suaramu sangat kencang memanggilku, memintaku tetap di sisimu. Aku menoleh kembali kepada Ayah dan ia berkata, bahwa aku harus kembali. Pasangan jiwaku membutuhkanku. Setelah itu ada energi sangat kuat yang mendorongku. Aku terhempas, kemudian saat tersadar, sudah ada Nekhii di sampingku*.


Khan merenggangkan pelukan mereka. Matanya menatap dengan dalam. Dia mengangkat jemari Shanum ke bibir, menempelkan di sana, sembari tetap menatap lekat mata Shanum.


Hembusan napas pria itu di jemarinya membuat darah Shanum seketika berdesir. Dan pandangan lekat yang dipancarkan mata keemasan itu, membuat tenggorokannya merasakan dahaga.


Khan menyandera jemarinya, lalu berbisik di kulitnya dengan sangat pelan sehingga hanya Shanum yang bisa mendengarnya.


"Kuungkapkan lewat bibirku, Shasha. Aku berjanji padamu, kuharap kau akan selalu mengingatnya. Aku berusaha untuk selalu berada di sisimu. Dan kurasa kau tahu alasannya, tentang seberapa besar aku memujamu, Ratuku. Sama seperti kau tahu aku selalu tak rela jika kehilanganmu."


Shanum mengangguk dengan mata kembali berkaca-kaca. Dia berusaha menahannya. Karena seharusnya air mata sudah tidak dibutuhkan untuk mengalir lagi.


Sepantasnya senyuman bahagia yang ia perlihatkan kepada suaminya, dan Shanum mewujudkan hal itu, senyum manis terbit dari bibirnya. Senyum yang melukiskan, bahwa ia percaya dengan cinta suaminya.


"Omong-omong, aku suka netra matamu yang baru. Warnanya sangat indah." Khan mengecup sudut mata Shanum sembari tersenyum teduh.


"Netra mata baru," ulang Shanum sambil mengerutkan kening. Perubahan mendadak topik pembicaraan mereka membuatnya sedikit bingung.


"Lihatlah." Pria itu mengangkat tangannya, tangan itu bergerak membentuk pola lingkaran, sebentuk kabut terlihat, semakin memadat dan Shanum melihat sebentuk wajah memantul di sana.


Kabut itu seperti cermin. Shanum dapat melihat dirinya di sana, dengan netra matanya yang telah berubah.


"Ini..." Shanum berkedip, sekali... dua kali, lalu menoleh.


"Mirip warna matamu?" ucap Shanum lirih.


"Ya. Bedanya hanya iris matamu dikelilingi oleh warna hitam," sahut Khan.


"Bagaimana bisa?" Ekspresi Shanum terlihat takjub.


"Tentu saja bisa. Kau menyerap kekuatan sihir suamimu. Kini kekuatan sihirnya ada di dalam dirimu," ucap seseorang.


Shanum menoleh ke arah seorang wanita yang tadi berbicara. Wanita itu mendekat. Seulas senyum terbit di bibirnya.


"Kita bertemu kembali, My Lady."


"Nekhii?"


Shanum berdiri, dikuti oleh Khan. Senyum lebar terbit dari bibir Shanum. Wanita yang berdiri di hadapannya itu, sudah banyak membantunya selama ini. Dalam situasi sulit, Nekhii akan muncul untuknya. Dan dia mencurigai kemunculan wanita itu kali ini, pastinya karena ada sesuatu yang penting juga.


"Aku senang bertemu denganmu lagi, My Lady," ucapnya sembari menempatkan tangan di dadanya sebagai simbol penghormatan.


Shanum menggeleng. "Tidak, Nekhii. Kau nenek suamiku. Jangan memanggilku seperti itu. Kita keluarga sekarang. Panggil saja dengan namaku," kata Shanum.


Nekhii tidak mengiyakan atau menolak permintaan Shanum, dia hanya melemparkan senyum simpul ke arahnya.


Kemudian Eej maju ke hadapan Shanum diikuti oleh dua orang wanita.


"Shanum, perkenalkan, ini Changia, Ibu dari Sergei. Dan di sebelahnya adalah Armaa, tunangan Sergei."


Kedua wanita itu tersenyum sembari memberi hormat seperti Nekhii tadi. Dan Shanum membalasnya dengan pandangan kosong.


Wanita itu tertegun ketika mendengar satu kata perkenalan dari Eej, yaitu kata tunangan. Ketika tersadar, dia langsung menoleh ke arah Sergei dengan tatapan sedikit tajam. Dan pria itu membalas tatapan Shanum hanya dengan senyum kecut.


Shanum mengalihkan pandangannya kembali ke arah kedua wanita itu. Dia menatap tunangan Sergei dengan lekat. Memperhatikan wanita bernama Armaa itu dari atas ke bawah. Memang terlihat kurang sopan untuk perkenalan pertama, tapi Shanum tak bisa mengekang keingintahuannya.


Armaa wanita yang sangat cantik. Ia memiliki raut wajah lembut dengan tubuh mungil. Penampilan dan gestur tubuhnya mencerminkan bahwa ia wanita berkelas dari kalangan bangsawan. Dan ia memiliki aura sihir dari tubuhnya. Shanum dapat mendeteksinya lewat kekuatannya.


Armaa sangat berbanding terbalik dengan sahabatnya Diva. Sahabatnya itu hanya manusia biasa. Meski Diva berasal dari kalangan kaya, tetap saja tingkah lakunya tidak terpoles halus seperti wanita itu. Sepertinya Diva akan mengalami patah hati yang berat kalau mengetahui informasi ini.


Dalam renungannya, Shanum mendengar sebuah suara bernada sinis. Suara itu mengungkapkan kebencian yang cukup besar.


"Memuakkan. Untuk apa kalian beramah tamah di sini," ucap suara itu.


Shanum mendesah lelah. Pria yang bernama Avraam itu tetap saja mulai mencari gara-gara kembali. Dia tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang ada di otak pria itu. Tidakkah dia lelah, memikirkan dendam yang tak berkesudahan.


Kemudian suara mantra membahana. Kabut hitam terlihat di batas cakrawala. Bergulung, mendekat ke arah mereka. Shanum memicingkan matanya. Tampaknya pria itu memiliki nyali yang sangat besar. Dengan tubuh terikat, ia masih berani membaca mantra penyerangan.


Tatapan waspada terlihat dari pandangan semua orang tatkala melihat gulungan kabut tersebut bergerak mendekat. Shanum melihat Nekhii melangkah tergesa mendekati Avraam.


"Hentikan, cucuku? Sudah cukup kau membuat kekacauan kali ini. Aku tidak mau terus menerus memperbaiki ulah merusakmu itu lagi," ucap Nekhii sambil mengangkat tangannya. Sinar berwarna hitam berkilau ******* gulungan kabut hitam itu hingga habis tercerai berai.

__ADS_1


Shanum menatap takjub. Nekhii berhasil menghentikan sihir Avraam dengan mudah. Dan yang membuat Shanum lebih terpana, Nekhii memiliki sihir hitam juga seperti Avraam.


Shanum melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Khan. Dan Khan membalas pandangannya dengan wajah kaku. Rahang pria itu terlihat mengetat.


"Tidak perlu menghentikanku, Wanita Tua Sialan! Pergi saja lagi kau dari sini." Avraam melemparkan ucapan dengan nada tajam penuh amarah. "Kau merusak rencanaku," desisnya.


"Oh, sepertinya kau ingin melihat aku menghabisi cucu tersayangmu itu ya," kata pria itu lagi sembari menyeringai. Avraam mulai merapal mantra kembali.


"Cukup!"


Shanum berteriak kencang.


"Jangan ucapkan mantra itu lagi!" Shanum membuat mulut Avraam menjadi bisu dengan sihir. Yang tentu saja dihadiahi tatapan tajam dari pria itu. Namun bukan Shanum namanya, jika ia gentar oleh sebuah tatapan. Wanita hanya mendengus dan mengalihkan pandangan.


Tatapan Shanum beralih kepada Nekhii. "Jadi pria berengsek itu cucumu, Nekhii?"


Nekhii mendesah keras. "Ya, dia cucuku." Matanya terlihat sedih. "Sebelum aku menemukan pasangan jiwaku, aku sudah menikah dan memiliki seorang putra. Avraam adalah anak dari putraku itu."


"Dan dia juga anakku," sambung suara lantang seorang wanita.


Changia maju mendekat ke arah Avraam. Pandangannya terlihat sendu. "Akhirnya Ibu bisa bertemu denganmu, Nak. Setelah sekian lama Ibu mencarimu."


Avraam menggeram. Dia berusaha membebaskan ikatan sihir pada mulutnya sambil membelalakkan mata ke arah Shanum. Bukan tatapan sadis di mata Avraam yang membuat Shanum rela melepaskan sihir pada pria itu. Tapi melihat pandangan memelas dari Changia yang membuat Shanum tergerak untuk melambaikan tangannya membuka bekapan sihir tersebut.


Pria itu menggeram. Setelah memperoleh kembali suaranya, ia berkata, "Kau bukan ibuku. Ibuku sudah mati. Jangan pernah mengatakan hal yang menggelikan, Wanita Tua. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggap kalian ada."


Changia tersentak mundur. Wajahnya memucat, perlahan air mata mengalir dari kedua belah pipinya yang mulus. Shanum melihat Sergei segera maju meraih ibunya dan memeluknya.


"Dia kakakmu, Nak. Saudara kembarmu," kata wanita itu kepada Sergei sambil tersedu.


Sergei menarik ibunya menjauh, tetap memeluknya tanpa mengatakan satu patah kata pun. Dari posisinya mata pria itu memicing tajam, seolah Sergei ingin mencabik-cabik Avraam karena sudah membuat ibunya menangis.


Shanum masuk ke dalam rengkuhan hangat Khan. Meski kaget mendengar pembicaraan yang baru saja terjadi, ia tidak bertanya lebih lanjut.


"Hentikan pandangan kalian itu. Aku tidak butuh penghakiman kalian. Mereka itu bukan apa-apaku," geram Avraam memecah keheningan yang terjadi.


Shanum mendesah lelah. Dia merasa serba salah. Silsilah rumit yang terjadi pada keluarga suaminya membuat kepalanya ingin meledak. Dia tidak berani membayangkan bagaimana perasaan suaminya saat ini. Ketika ia menemukan ternyata pria yang selama ini ingin membunuhnya serta menginginkan istrinya ternyata adalah sepupunya sendiri.


Shanum mencoba meraih suaminya lewat ikatan mereka, namun pria itu sepenuhnya menutup rapat ikatan mereka. Khan tidak ingin Shanum mengetahui perasaannya yang terdalam.


Shanum berdeham. "Nekhii. Ada yang mau aku tanyakan. Kau tadi berkata, tentang kemungkinan aku memiliki kekuatan Khan. Apakah itu juga berarti adalah seluruh kekuatannya?" Shanum bertanya seraya melirik ke arah Khan dan menemukan wajah itu masih saja dingin serta kaku.


Nekhii menoleh, ia menarik napas dalam lalu tersenyum. "Hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya Shanum. Sebab tidak pernah aku melihat kekuatan seperti itu selama ini."


Shanum melihat ungkapan terima kasih terpancar dari mata Nekhii. Wanita itu menyadari kalau dia sengaja bertanya untuk mengalihkan situasi yang semakin tegang.


Lalu wanita itu menatap serius ke arah Khan. "Yang aku masih belum tahu efek lanjutannya terhadap kekuatan Khan. Bisa saja dia akan kehilangan sebagian kekuatannya."


"Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Shanum dengan nada suara cemas.


Nekhii melemparkan pandangan ke arah Khan. "Apa kau merasakan keanehan pada tubuhmu?"


"Tidak. Setelah tadi kau menyalurkan tenaga dalammu, aku sepenuhnya merasa normal." Khan menjawab dengan cepat seraya melarikan jemarinya ke punggung Shanum, mengusapnya lembut. Tindakannya itu meredam kecemasan yang sempat dirasakan Shanum.


"Bagaimana jika kau salah?" sahut sebuah suara lantang dari samping mereka.


Shanum menoleh, ia menatap Zuunaa melangkah mendekat bersama Oriod dan juga Sofia.


"Ah, ternyata ada perwakilan dari Klan Bataar di perang ini." Nekhii melemparkan senyum misteriusnya kembali.


"Tentu saja. Kami adalah pendukung Khan Adrian. Jadi sudah tentu akan berada di sini untuk membantunya," sahut Zuunaa.


"Apa maksudmu dia bisa saja salah?" sambung Chinua sambil menatap penasaran bercampur serius ke arah Zuunaa. "Apa yang kau tahu?" tanyanya lagi.


"Maksudku, bisa saja Yang Agung tidak kehilangan kekuatannya sama sekali. Dan aku tidak mengetahui apa pun. Ini murni menurut pemikiranku saja," Zuunaa menjawab dengan cepat, seolah wanita itu merasa ngeri melihat ekspresi intimidasi yang dilayangkan Chinua.


Hening.


"Bagaimana jika kita semua melihatnya dalam pertarunganku melawan dia."


Semua kepala yang berada di sana menoleh serentak ke arah sumber suara tersebut. Keheningan yang tercipta sebelumnya, terpecahkan oleh ucapan yang dilontarkan suara tersebut.


"Aku meminta Duongan Sakhai," sambungnya.


Suara kesiap terdengar dari seluruh orang yang mendengarnya. Mungkin hanya Shanum yang terlihat bingung, tidak mengerti maksud kata-kata terakhir sosok tersebut.


"Apa maksudnya?" tanya Shanum, pandangannya mengamati orang-orang yang terpaku di sekelilingnya. Dengan cepat ia mencondongkan badan ke depan lalu memandangi Khan dengan mata yang disipitkan. "Katakan padaku."


"Dia meminta pertarungan sampai mati," sahut Khan dengan rahang mengetat.


Shanum menoleh dengan cepat ke arah Avraam, melihat pria itu menyeringai. Begitu juga seringai yang ia lihat dari bibir Taban dan Sarnai jadi-jadian itu.


Getar-getar kecemasan berubah menjadi ketakutan yang dingin dalam diri Shanum. Tampaknya pria jahat itu masih berusaha ingin memisahkannya dengan suaminya, hingga menggunakan berbagai cara.


"Jangan lakukan, Adri," bisik Shanum.


Khan menggelengkan kepalanya. Ekspresinya semakin menggelap. Seolah pria itu sedang menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.


"Jangan bilang Yang Agung Khan Adrian tidak bernyali." Taban berusaha menebarkan hasutannya.

__ADS_1


"Oh, diam kau, Berengsek!" bentak Shanum sembari bergerak mendekati Avraam.


"Tarik tantanganmu itu. Sudah cukup kau menggangguku selama ini. Jika kau tidak mau menariknya, berarti kau harus bersiap menghadapi kematianmu. Aku sudah tidak lagi merasa ragu untuk membunuhmu," ancamnya begitu ia berhenti di hadapan pria itu.


Lagak angkuh yang sering ditunjukkan oleh Avraam tidak tampak sewaktu ia berdecih dengan kasar. Tidak ada lagi pria lembut penuh perhatian kepada Shanum. Mata Avraam berkilat keji, seolah semua perhatian yang pernah dilakukannya adalah sebuah muslihat.


"Sangat memalukan! Ternyata Khan Adrian bersembunyi dibalik rok istrinya," hina Avraam.


"Ya, dia ternyata seorang pengecut," sambung Taban ikut memberikan hasutan.


Shanum langsung maju, bergantian ia meninju wajah Avraam dan Taban. "Tutup mulut busuk kalian!" Setelah ia puas menyarangkan tiga kali pukulan pada wajah keduanya.


Suara keretakan tulang patah saat pertama kali ia menghabisi wajah kedua pria itu tidak menyurutkan keinginannya untuk terus memukul.


Avraam terpana, lebih karena syok. Dan Taban tidak bisa melawan balik, ia hanya bisa menatap Shanum dengan kebencian yang semakin besar.


Darah mengalir dari hidung kedua pria itu dan dari salah satu sudut bibir mereka. Wajah keduanya terlihat mengerikan. Pukulan Shanum memang tidak bisa diremehkan. Sebelum memiliki sihir, wanita itu juga merupakan pemegang sabuk hitam Karate, yang sudah sering memenangi kejuaraan di negaranya.


Kedua pria itu meludahkan darah yang memenuhi mulut mereka. Shanum meninju mereka tanpa belas kasihan, hingga meninggalkan jejak bibir sobek dan hidung yang patah.


"Jika kau tidak menarik tantanganmu, selanjutnya seluruh tulang di tubuhmu yang akan remuk seperti hidungmu itu," ancam Shanum kepada Avraam.


"Good job, Shanum. Kalau perlu putuskan saja sekalian pita suara keduanya. Biar keduanya tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata busuk dari mulut mereka," kata Chinua seraya terkekeh geli.


"Kau... Wanita Laknat!" Taban menggeram marah sembari menatap tajam ke arah Chinua.


"Diam!" Shanum berteriak.


Dia mendekat ke arah Taban. Matanya memicing dan mengangkat telunjuknya ke arah pria itu.


"Kau, manusia terkutuk, tidak tahu terima kasih. Masih berani bicara. Kau sudah membuatku merasa seperti pecundang. Berpura-pura baik padaku, ternyata berusaha menikamku dari belakang. Kurang baik apa selama ini suamiku kepadamu. Dia sudah menganggapmu saudara. Bahkan pada saat kau sekarat dalam serangan Chinua waktu itu dia berusaha untuk menyelamatkan nyawamu. Walau pada akhirnya aku yang melakukan itu. Aku yang telah menyelamatkan nyawamu. Seharusnya kau berhutang nyawa padaku, Bajingan."


Wajah Shanum terlihat memerah, napasnya tersengal-sengal mengeluarkan amarahnya. Dia menunjuk-nunjuk Taban di depan wajah pria itu. Wanita itu sangat geram, menyaksikan pengkhianatan Taban yang selama ini sudah dianggapnya seperti sahabat itu.


"Jadi sebaiknya tutup mulutmu. Aku tidak mau mendengar suaramu lagi saat ini. Apa perlu aku lakukan seperti saran Chinua tadi, memotong pita suaramu?! Atau mau kupotong lehermu sekalian?!"


Shanum kembali ke tempat Khan berdiri. Meninggalkan sekelebat ekspresi kaku dan dingin pada wajah Taban, dan pria itu tidak lagi mengeluarkan suara. Sepertinya Shanum berhasil membungkamnya.


"Aku masih menunggu jawabanmu, Khan Adrian. Tantanganku masih berlaku. Jangan menjadi pria pengecut." Avraam kembali melancarkan hasutannya. Pria itu tidak jera, meski Shanum sudah berusaha menakuti pria itu.


"Tidak perlu terpancing, Adri. Biar aku saja yang mengurus bedebah ini."


"Oh, jadi bagaimana kau akan mengurusku, My Queen. Aku sangat penasaran mendengar penuturanmu tentang hal itu. Apakah kau akan menawarkan dirimu seutuhnya kepadaku. Aku akan langsung membatalkan tantangannya, jika kau bersumpah untuk menjadi milikku."


"Berengsek. Aku akan membunuhmu, Avraam. Dan aku menerima tantanganmu itu." Khan mengepalkan tangan saat amarah yang ganas melandanya, tidak sedetik pun ia berpikir kalau ada orang yang bisa memiliki istrinya.


Shanum menutup matanya sembari menarik napas dalam. Berusaha menahan amarah yang akan muncul ke permukaan. Usahanya ternyata sia-sia. Suaminya sudah terpancing dan terjebak dalam rencana pria jahat itu.


Dia melirik Avraam yang sedang tersenyum puas mendapati rencana berhasil. Seketika Shanum mencengkeram bahu Avraam. "Batalkan tantangan itu!" katanya, sembari menunggu jawaban pria itu dengan ancaman. Shanum mencengkeram semakin keras, hingga terdengar suara ringisan dari bibir Avraam. Pria itu tidak bergeming untuk membatalkan tantangannya, hanya suara menahan rasa sakit yang terdengar, meski Shanum nyaris meremukkan tulang bahunya.


"Kau tidak bisa menyuruhnya untuk membatalkannya, Shanum." Suara Nekhii terdengar dekat di telinganya.


Shanum menoleh dengan senyum muak terulas di bibirnya.


"Kenapa tidak bisa dibatalkan?" tanyanya dengan ketus.


"Karena suamimu sudah menyambut tantangannya," kata Nekhii dengan nada muram. Wanita itu meraih tangan Shanum, berusaha membebaskan cengkeramannya dari bahu Avraam. Namun Shanum tidak melepas cengkeramannya begitu saja.


"Aku tidak perlu bantuanmu," ucap Avraam dengan suara mencicit menahan sakit. Pria itu tetap kukuh pada pendiriannya untuk tidak ingin dibantu oleh Nekhii.


"Walau bagaimanapun kau tetap cucuku, Avraam." Wajah Nekhii semakin terlihat muram. "


"Lepaskan, Shanum. Bukan seperti ini caranya menolong suamimu. Semua sudah terjadi. Kau harus siap. Seperti aku yang harus sanggup untuk kehilangan salah satu cucuku."


Nekhii mencoba sekali lagi melepaskan cengkeraman Shanum, dan kali ini ia berhasil. Shanum melepaskan lengan Avraam dengan setengah hati.


Dia berusaha untuk menepiskan ketakutan yang membuat perutnya mulas. Tubuhnya terasa lemas. Bukan karena tenaga yang dikeluarkannya dalam mencengkeram tadi, tapi lebih kepada kenyataan pahit yang barusan ia dengar.


Shanum tak percaya begitu saja, saat mendengar bahwa tantangan itu tidak bisa lagi dibatalkan. Dan fakta bahwa ia baru saja membuat kedua bersaudara itu akan saling membunuh untuk memperebutkannya, membuatnya dilanda kengerian.


Meski Khan-lah satu-satunya hal yang penting.


Satu-satunya hal yang berarti. Namun, Shanum juga tidak bisa menahan rasa bersalah kepada Nekhii. Avraam juga cucu wanita itu. Jika pria itu mati, tentu luka akan tertoreh di hatinya. Tapi masa ia harus berdiam diri menyaksikan suaminya kembali menyongsong maut.


Terdiam sebentar hingga Shanum bisa menguasai kegundahannya, ia berjalan perlahan menuju Khan.


"Adri," bisiknya di tengah kesunyian. "Kau yakin akan melakukan hal ini?" desak Shanum.


Dengan muram Khan menganggukkan kepalanya. "Kehormatanku akan dilucuti jika aku membatalkannya, Shasha. Dan seumur hidup, aku tidak akan berani lagi menatap wajah orang-orang. Tapi semua itu tetap bukan hal yang terpenting. Aku tidak sudi menyerahkanmu padanya. Lebih baik aku mati daripada melihatmu ikut dengannya."


Shanum terengah karena amarah yang tiba-tiba meliputinya. "Lalu bagaimana denganku? Kau tidak memikirkan perasaanku. Bagaimana jika kau terbunuh dalam pertarungan itu?" Shanum mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.


"Kalian... dan aturan tantangan serta kehormatan ini benar-benar menggelikan. Zaman sudah berubah, tapi masih saja memakai aturan yang biadab seperti itu. Aku benci harus terlibat dalam hal memuakkan ini. Aku membencimu karena keputusanmu ini, Adri. Lebih baik aku pergi, tidak berada di sini untuk menyaksikan kau mati."


Shanum bergerak ingin meninggalkan Khan, namun lengan wanita itu berhasil ditarik oleh pria itu. Khan bergerak dengan sangat cepat sehingga Shanum tidak sempat bereaksi sebelum ia menundukkan kepala dan menempelkan bibirnya ke bibir wanita itu dengan kasar dan dalam.


Lidah api membara saat Khan mereguk kemanisan berbalut amarah pada bibir Shanum, melukai bibirnya dan nyaris melucuti pakaiannya. Rasa frustasi telah mengaburkan pikirannya sebelum ia akhirnya tersadar dan menjauh.


Menutup mulutnya dengan tangan, Shanum tidak berkata apa-apa. Itu benar-benar perlakuan yang kasar, dan dilakukan dengan adanya penonton. Rasa malu, karena merasa dilecehkan membuat hatinya sakit. Bibir Shanum membengkak dan berdarah, pakaiannya juga berantakan.

__ADS_1


__ADS_2