
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Shanum bergegas menuju dapur. Perutnya sudah berbunyi minta diisi sejak ia berada di dalam kamar mandi tadi. Shanum membuka kulkas, dan menemukan beberapa bahan yang dapat diolahnya menjadi sarapan sederhana. Dia pun langsung beraksi di depan kompor.
Lima belas menit kemudian, di depan jendela besar penthouse itu, ia terlihat sedang menikmati sepiring omelet dan segelas susu. Ia menyantap sarapan sambil melihat pemandangan kota di atas kursi yang ia geser dari tempat asalnya. Gadis itu mengunyah makanan sembari berpikir tentang mimpi buruknya tadi.
Andaikan mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan, apa yang harus ia lakukan? Melihat dan mendengar jeritan kesakitan Khan dalam mimpi saja sudah cukup membuat jiwanya menjerit sedih. Apalagi jika mimpi itu menjadi nyata.
Dan mengapa pria gila itu bisa berada di mimpinya? Sebuah pertanyaan lagi yang masih mengundang tanda tanya besar dalam benaknya.
Shanum harus membicarakan hal ini dengan Eej, karena dia adalah orang awam untuk urusan dunia persihiran ini. Mungkin saja memang ada orang yang memiliki kekuatan sebagai penjelajah mimpi.
Shanum mendesah lelah. Dia harus berhenti berpikir, jika tidak kepalanya akan semakin pusing. Dia tidak mau sesampainya di sini, malah jatuh sakit. Dan tidak lucu rasanya, kalau ia ikut dirawat bersama Khan.
Shanum segera bangkit, sarapannya sudah habis berpindah ke dalam perutnya. Ia mencuci kembali piring dan gelas yang dipakainya tanpa berpikir. Karena sudah terbiasa melakukan hal itu secara otomatis, setiap selesai makan.
Kemudian ia menulis sebuah pesan melalui ponselnya untuk kedua sahabatnya. Mengatakan bahwa ia akan turun ke ruang rawat Khan, dan mereka dapat menyusulnya ke sana setelah puas beristirahat.
Shanum mengambil tas selempang kecil yang ia bawa di tas bepergiannya, lalu melangkah meninggalkan penthouse tersebut.
Sesampainya di lorong panjang menuju ruang rawat Khan, dia berpapasan dengan Abdan. Pria itu menunduk hormat dan bertanya tentang keadaannya. Shanum menjawab ia baik-baik saja sembari tersenyum. Dia tahu pria itu hanya berbasa-basi, mencoba bersikap ramah kepadanya. Dan Shanum menghargai sikap santunnya itu.
Abdan berpamitan setelah menerima panggilan melalui ponselnya. Tampaknya ada yang harus dikerjakan oleh pria itu. Shanum menganggukkan kepalanya, dan kembali melangkah menuju tujuannya semula, yaitu kamar rawat kekasihnya.
Ruang tunggu di depan kamar terlihat kosong. Gadis itu menekan tuas pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam. Di sana ia menemukan Eej sedang menatap ponselnya. Wanita itu langsung menoleh saat mendengar derit pintu. Eej tersenyum ke arah Shanum.
"Masuk saja, Shanum," sambut Eej.
Shanum bergerak ke dalam, dan menutup kembali pintu ruang rawat itu. "Bagaimana keadaannya, Eej?"
"Masih sama," jawabnya dengan nada suara sedih.
Shanum menghela napas lega mendengar jawaban Eej. Setidaknya saat ini peristiwa dalam mimpinya tadi belum terjadi, dan semoga saja tidak akan pernah terjadi.
Shanum mendekati Eej, ia berkata dengan pelan bahwa ada hal penting yang harus didiskusikannya dengan wanita itu. Eej mengerutkan keningnya, tapi tidak berkomentar. Ia mengajak Shanum keluar dari kamar, dan duduk di sofa ruang tunggu di depan kamar rawat.
"Ada apa, Shanum?" tanyanya.
"Em, begini, Eej... Apakah ada orang yang yang diberkahi kekuatan untuk masuk ke dalam mimpi orang lain, atau dapat membuat suatu mimpi di dalam benak orang lain?" tanya Shanum.
Wanita itu tidak langsung menjawab, keningnya malah semakin berkerut dalam. "Maksudmu bertanya seperti itu, karena apa?"
Shanum menghela napasnya, ia lalu menceritakan mimpi yang dialaminya semalam. Semua diungkapkannya, dan suaranya terdengar serak sambil sesekali tercekat, menahan rasa tercekik akibat teringat kesedihan yang dirasakannya.
Terutama ketika ia mendengar teriakan dan rintihan memilukan yang dilontarkan oleh Khan. Gadis itu tak bisa menutupi netra matanya yang tampak berkaca-kaca.
Ibu Khan mendengarkan dengan seksama, tanpa pernah memotong atau pun menyanggahnya. Setelah seluruh cerita selesai diucapkan oleh Shanum, wanita itu mendesah keras. Ia tampak memijat pelipisnya, lalu menatap ke arah Shanum dengan pandangan ragu.
Wanita itu berdeham. Pandangannya tak lepas dari mata Shanum. "Yah, orang seperti itu memang ada, dan mereka dilahirkan dapat menguasai mimpi. Mereka bisa masuk ke mimpi mana pun sesuai keinginan. Dan bisa menimbulkan mimpi atau pun mengacaukan mimpi orang lain." Wanita itu menjelaskan dengan nada suara berhati-hati. Seolah-olah ia menyaring terlebih dahulu kata-katanya.
"Tapi sayangnya pemilik kekuatan itu sangatlah jarang. Perbandingannya, dari seratus orang hanya ada satu orang yang memiliki kekuatan itu. Biasanya orang yang memiliki kekuatan ini tidak akan berbuat seenaknya untuk masuk dan merusak mimpi orang lain. Karena butuh kekuatan yang luar biasa dari orang tersebut untuk mengeluarkan kekuatan itu. Sihir penguasa mimpi, menarik banyak tenaga, dan kematian akan terjadi jika pemiliknya tidak berhati-hati."
Shanum terpana. "Jadi tidak menutup kemungkinan pemilik kekuatan yang masuk ke mimpiku itu, sekarang sedang sekarat begitu?"
"Mungkin saja, jika ia memang pemilik kekuatan itu dan bersikap nekat menghabiskan tenaganya. Tapi bisa juga tidak, kalau ia meminta bantuan dari sihir hitam." Eej kembali terdiam.
"Sihir hitam itu sangat berbahaya. Sudah sejak lama dilarang digunakan di dunia kami. Sihir ini tidak bisa diprediksi, dan juga secara perlahan memakan habis sifat baik di dalam hati orang yang menggunakannya. Orang itu akan berubah menjadi monster jahat, yang akan sulit dikendalikan di kemudian hari oleh siapa pun," jawab Eej.
__ADS_1
Shanum merinding mendengar pengungkapan Eej tentang efek sihir hitam tersebut. Matanya lalu kembali terbelalak lebar, ia lupa mengatakan soal sesuatu hal, "Sepertinya aku yakin dia menggunakan sihir hitam. Karena di mimpi itu aku melihat dari dalam tubuh Khan muncul asap berwarna hitam yang pekat. Bukankah itu tanda-tanda sihir hitam, Eej?"
Wanita itu membeku. "Kau yakin melihat itu, Shanum." Gadis itu menganggukkan kepalanya. Wajah Eej menjadi terlihat keruh. "Apalagi yang mungkin luput kau katakan kepadaku?" tanyanya lagi.
Shanum tampak berpikir. Dia menggigit bibir dan terdiam untuk beberapa saat. Kemudian dia menggeleng. "Sudah semua aku ungkapkan, Eej."
Tiba-tiba mereka mendengar suara keras dari arah kamar rawat Khan. Wajah wanita itu lalu memucat, suara itu terdengar seperti suara alarm yang memberikan peringatan akan sesuatu. Eej langsung berlari ke dalam kamar, diikuti oleh Shanum.
Gadis itu melihat suara keras tersebut berasal dari monitor ICU yang berada di samping ranjang Khan. Eej membekap mulutnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu terlihat syok.
Shanum melihat, tak lama kemudian satu orang pria dan dua orang wanita berpakaian petugas medis masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Shanum dan Eej segera menyingkir ke sudut ruangan, tidak ingin menghalangi pergerakan mereka yang sedang berusaha melakukan tindakan terhadap Khan.
"Detak jantungnya mulai melemah, Shanum," ucap Eej dengan suara lirih. Shanum langsung mengalihkan pandangannya ke arah Khan dan membeku. Ia melihat para tenaga medis itu berusaha bahu-membahu menyelamatkan pria itu.
Shanum terasa lemas. Kini dia yang membekap mulutnya, menahan keinginan untuk merintih sedih melihat situasi di hadapannya.
Tidak, jangan menyerah, Adri. Jangan tinggalkan aku.
Ucapan itu berulang-ulang dikumandangkan oleh Shanum dalam batinnya. Dia lalu menutup matanya, dan berkonsentrasi menyentak ikatan jiwa mereka. Dia menariknya dengan keras, berusaha merengkuh ikatan itu ke dalam pelukan jiwanya.
Shanum merasakan percikan kecil sinar berwarna merah mengalir ke dalam dirinya. Namun kemudian percikan itu kembali memudar. Hati Shanum terasa nyeri. Dia berusaha kembali menarik dengan kencang, dan mengulangi proses seperti tadi.
Tidak... aku tidak akan membiarkannya. Kau memiliki separuh jiwaku, Adri. Tidak akan kubiarkan kau pergi membawanya dan menghilang selamanya. Tidak akan aku biarkan!
Shanum merasa percikan itu kembali dan kini tidak meredup kembali. Shanum ingin menangis merasakan sedikit sentuhan jiwa pria itu dalam dirinya. Meski masih terasa lemah, tapi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Mungkin paksaan yang dilakukan oleh Shanum berhasil membuat jiwa pria itu kembali perlahan ke dalam ikatan mereka.
Kemudian Shanum membuka matanya, melihat para tenaga medis itu telah merapikan satu demi satu alat-alat kembali ke tempatnya semula. Dia mendengar monitor itu berbunyi kembali tenang seperti biasanya dan bergerak dengan normal.
Shanum langsung menghela napas panjang. Dadanya masih terasa sesak merasakan ketakutan akan kehilangan pria itu. Dia menoleh ke samping, menemukan Eej sedang mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Selama ini tidak pernah terjadi jantungnya melemah seperti tadi. Hal itu yang membuatku yakin, dia akan sembuh kembali. Dan aku belum siap Shanum, tidak siap jika harus melihat dia pergi meninggalkanku seperti Ayahnya," ucap wanita itu dengan sedih.
"Kau bisa melakukan itu?" tanya Eej dengan takjub.
"Sebenarnya, tadi aku secara refleks langsung berbuat begitu. Karena kami memiliki ikatan dalam jiwa kami, aku berusaha menariknya dengan keras. Dan sangat bersyukur ternyata hal itu berhasil menyelamatkannya."
"Oh... terima kasih, Shanum." Wanita itu langsung memeluk Shanum sembari tertawa lirih. "Kau dewi penyelamatnya. Dan semoga dia akan sembuh dibantu olehmu."
"Kau tidak perlu berterima kasih, Eej. Aku melakukannya juga untuk diriku. Dia tidak boleh meninggalkanku untuk menyelesaikan semua kekacauan ini sendiri. Enak saja!" ocehnya mencoba bergurau. Dan Eej yang mendengarkan ucapan konyol Shanum itu seketika terkekeh geli.
"Kau mencintai anakku itu, Shanum. Aku tahu, itulah jawaban yang sesungguhnya," katanya sembari tersenyum.
Shanum berdeham. "Anakmu penuh pesona, dibalik kekakuan dan sikap dinginnya itu, Eej. Bagaimana mungkin aku bisa tidak terjerat kepadanya," jawab gadis itu dengan wajah bersemu merah.
Wanita itu tersenyum menggoda. "Dia persis seperti Ayahnya. Aku juga merasakan hal sama denganmu, Shanum. Bahkan hingga kini aku tidak pernah ingin mencari penggantinya. Meski ia sudah lama pergi meninggalkanku. Suamiku itu tak tergantikan," katanya dengan sendu.
Kemudian, Eej meminta Shanum menjaga Khan. Wanita itu ingin beristirahat sejenak, setelah mengalami kepanikan dari kejadian menakutkan tadi.
Shanum tidak mungkin menolak. Karena ia memang ingin menjaga Khan dan mulai mengobati pria itu dengan kekuatan penyembuhnya.
Eej sudah pergi ke penthouse. Kini tinggal Shanum menemani Khan di kamar itu. Gadis itu duduk di kursi di samping ranjang rawatnya. Dia menarik lengan pria itu dan mengusapnya. Lalu Shanum menurunkan kepalanya dan mengecup punggung tangan Khan.
Dia merasakan reaksi tersentak dalam ikatan mereka, dan Shanum tersenyum. Pria itu masih bisa merespon meski hanya lewat ikatan jiwa mereka.
Kemudian Shanum mulai berkonsentrasi. Ia menyalurkan kekuatan penyembuhnya. Perlahan-lahan sinar keemasan memancar dari tangan Shanum. Sinar itu bergerak menelusuri keseluruhan badan Khan.
__ADS_1
Setitik keringat muncul di pelipis gadis itu. Tapi ia tetap memegang dengan lembut jemari Khan. Kekuatan penyembuhnya mencoba meresap ke dalam luka bakar pria itu. Awalnya semua bergerak dengan dinamis tanpa ada kendala apa pun.
Akan tetapi, saat sinar itu bergerak semakin ke dalam, muncul asap kehitaman dari dalam tubuh Khan.
Shanum tersentak, ia merasakan sebuah energi kuat mencoba melontarkan keluar kekuatan penyembuhnya. Dan sinar keemasannya mengurai secara serentak.
Dia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Asap hitam itu mengingatkannya akan mimpinya. Shanum lalu mencoba kembali, ia tidak mau berputus asa. Tapi lagi-lagi kekuatan penyembuhnya tidak berhasil memasuki kulit Khan, dan terpental di udara seperti tadi.
Shanum menjadi geram. Dia sangat murka kepada pria gila dalam mimpinya itu. Ternyata ucapannya bukan sekadar gertakan biasa. Shanum tidak dapat menolong Khan. Pria itu mungkin akan membuktikan ucapannya yang selanjutnya. Dan Shanum menjadi cemas serta bingung, apa yang harus dilakukannya? Langkah apa yang harus diambilnya?
Shanum mengedarkan pandangannya, merasa ada sesuatu yang salah di ruangan ini. Namun setelah memperhatikan baik-baik, tidak ada yang aneh di sana. Tapi, entah mengapa hati kecilnya merasakan kegelisahan. Tidak ada orang di dalam ruangan itu selain ia dan Khan.
Namun ia merasa ada yang memperhatikannya di ruangan itu. Shanum lalu menggeleng dan menganggap hal itu mungkin hanya perasaannya saja yang terlalu paranoid.
Shanum menggigit bibir sambil memegangi bandul kalungnya, ia masih memikirkan solusi penyembuhan Khan. Dan saat sedang termenung sendiri, ia menjadi teringat pada kekuatan kalung di lehernya itu. Mungkinkah kalung ini bisa membantunya untuk menyembuhkan Khan.
Tidak ada salahnya untuk mencoba, Shanum. Kalung ini yang menyatukan jiwa kalian, dan semoga kalung ini juga dapat memunculkan keajaiban untuk menyembuhkan.
Gadis itu tampak berbicara sendiri. Kemudian ia berkonsentrasi dan memohon dalam hatinya kepada kalung itu. Meminta kesembuhan untuk kekasihnya. Awalnya tidak ada reaksi yang terjadi. Kalung itu tetap seperti benda mati biasa. Shanum terus berusaha mengucapkan permohonannya.
Bahkan ia mulai merasakan keputusasaan dalam hatinya. Tanpa terasa ia menangis, seluruh rasa takut, pesimis, kemarahan, kesedihan dan duka, ia tuangkan dalam tangisnya itu. Shanum menangis sembari sebelah tangannya memegang kalung dan sebelahnya lagi memegangi jemari Khan.
"Jangan menangis, Your Majesty. Kau bisa menolongnya. Dan memang hanya kau yang bisa."
Shanum langsung menoleh ke samping saat mendengar sebuah suara berbicara padanya.
"Nekhii..."
Wanita itu tersenyum tipis. "Ya."
"Kau benar-benar, Nekhii, Nenek Buyutnya Khan?" tanyanya lagi.
"Ya ini aku, mengapa kau bingung? Dan em... mengenai ucapan Nenek Buyut itu sebaiknya tidak perlu diucapkan lagi." Wanita itu lalu mendekat ke arah Shanum.
"Aku tidak mau dianggap sudah tua. Nenek Buyut itu identik dengan kata tua," bisiknya sembari tersenyum smirk.
Gadis itu kontan memutar bola matanya sambil tersenyum geli mendengar kata-kata wanita itu. Nekhii pun ikut tersenyum melihatnya.
"Nah, kan... akhirnya kau tersenyum. Jangan bersedih lagi ya," kata wanita itu dengan menepuk lembut pundak Shanum.
"Dan tentang obat untuk Yang Agung, kau hanya perlu memberikan darahmu, Shanum. Darah dari orang yang memiliki kekuatan empat klan merupakan obat yang ampuh untuk melawan kekuatan sihir hitam. Tapi kau harus berhati-hati. Tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini, simpan sendiri dalam dirimu. Kalau tidak kau akan selalu berada dalam bahaya."
Shanum menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Oh iya, berapa banyak darahku yang harus diberikan, Nekhii?"
"Sebenarnya tiga tetes saja cukup. Tapi karena pria itu sedang koma, sebaiknya kau menggunakan transfusi darah saja."
"Em, satu lagi, sebelum aku pergi. Gedung ini sudah aku bersihkan dan aku berikan perlindungan. Tadinya di sini banyak mata-mata tak terlihat, yang memantau kalian. Mereka bisa bergerak leluasa lewat Yang Agung. Di dalam pori-pori kulit terbakarnya itu banyak bersembunyi sihir hitam. Sekarang aku sudah menyegelnya, kau bisa melihatnya, sihir hitam itu tidak akan bisa kemana-mana." Nekhii menunjukkannya kepada Shanum.
Dan ia terperangah saat melihat di sekeliling Khan ada selubung tipis berwarna putih mutiara yang berkilauan. Selubung itu sekilas tidak akan terlihat oleh mata telanjang biasa.
"Apakah tidak akan menjadi masalah, jika nanti ada transfusi darah? Bisakah sihir itu terbebaskan lewat kegiatan itu?" tanya Shanum.
"Tidak, kegiatan apa pun yang dilakukan terhadap Yang Agung tidak akan mempengaruhi penyegelan itu. Segel itu akan terbuka otomatis saat seluruh sihir hitam itu hilang dari tubuhnya."
Nekhii memberikan senyum lembutnya dan berkata, "Aku pamit, Shanum. Sampai berjumpa lagi." Lalu wanita itu pun menghilang dari ruangan itu. Meninggalkan aroma khasnya, wangi lavender yang menenangkan.
__ADS_1
Shanum menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, wanita itu juga memiliki kemampuan berteleportasi seperti Jullian dan Ayahnya.
Dan ia pun lalu tersadar, Nekhii pernah masuk ke dalam mimpinya. Berarti dia juga adalah seorang penguasa mimpi. Shanum berdecak kagum, jadi bertanya-tanya sendiri, berapa banyak sebenarnya kekuatan sihir yang dimiliki oleh wanita itu?