
Shanum melintasi ruang tamu kamarnya dengan wajah gusar dan sedih. Kedua sahabatnya yang sedang berada di ruangan itu saling mengerutkan kening. Mereka tampak heran melihat sikap Shanum tersebut. Gadis itu melewati mereka begitu saja, seolah-olah tidak menyadari keduanya berada di sana.
"Apa yang sudah terjadi kepadanya?" bisik Diva. Farah mengendikkan bahunya sembari menggeleng. "Bukankah dia tadi mengirimkan pesan untuk bertemu dengan Taban?"
Farah memutar bola matanya. "Astaga, aku juga tidak tahu, Diva! Aku juga bertanya-tanya sama denganmu. Kalau kau penasaran ayo kita ke kamarnya dan mencari tahu." Farah bergerak bangun.
"Tidak, jangan! Biarkan Shanum sendiri dulu untuk beristirahat. Besok pagi saja kita bertanya kepadanya," sahut Diva sambil menahan Farah untuk kembali duduk.
Farah menghela napasnya lalu berkata, "Oke, kalau begitu aku masuk kamar saja. Aku ingin segera membaringkan tubuhku di atas kasur, sudah mengantuk ini."
"Ya sudah, kau duluan saja ke kamar. Aku masih harus menghubungi orang tuaku," jawab Diva.
Farah menganggukkan kepalanya sembari bangun, lalu melangkah menuju kamar. Meninggalkan Diva yang terdiam di tempatnya seraya mendesah. "Kali ini, apalagi yang menimpamu, Sha," ucap Diva dalam hati.
Shanum berdiri di depan jendela kamar yang terbuka, mendongak ke langit malam. Gadis itu sudah membersihkan tubuhnya dan berdiri seperti itu selama lima belas menit. Pikirannya berkecamuk, merasakan badai besar bakal datang dalam hidupnya.
Dalam hitungan hari sejak ia bertolak ke Astrakhan, hidupnya berubah. Dia pergi ke sini dengan harapan dapat menyelamatkan kekasih hatinya, pasangan jiwanya. Namun bukan hanya kekasihnya itu dapat disembuhkan, pria itu juga membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Shanum merasa jiwanya hampa.
Dia ingin bisa kembali melihat tatapan hangat Khan. Dia ingin kembali memiliki kesempatan untuk mendengar kata-kata lembut dari bibir pria itu, mendengar kata-kata cintanya dan membalas dengan kata-kata yang sama. Juga tentang betapa ia merindukan Khan. Rindu mendengar tawanya, tanpa mendengar kalimat kaku di wajah dinginnya, seperti yang selalu terlihat pada pria itu saat ini.
Awalnya permintaan pria itu untuk mengenalnya kembali sempat membuatnya terbang ke awang-awang. Membuatnya berharap pria itu merasakan sesuatu terhadap dirinya. Tapi hal itu mendadak musnah dalam sekejap mata, karena kedatangan wanita mantan kekasihnya itu.
Sesungguhnya Shanum sendiri bingung, untuk apa Sarnai selalu muncul dalam mimpi-mimpinya? Memperlihatkan rangkaian penyiksaan yang menimpanya, memintanya untuk menemukannya, sementara wanita itu bisa muncul sendiri dan terlihat sehat serta baik-baik saja. Banyak hal yang tidak sesuai di benaknya saat ini tentang wanita itu.
Shanum tidak cukup naif untuk berpikir bahwa wanita itu berniat mendekati Khan kembali. Dan itu bukan masalah jika Khan tidak kehilangan ingatannya.Tidak mengingat tentang ikatan jiwa mereka. Kemunculan Sarnai boleh dibilang dihiasi dengan tanda Peringatan! dan Berbahaya!
Shanum tidak takut bersaing. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kekasihnya. Yang ia takutkan hanya hasil akhirnya, andaikata Khan memilih Sarnai. Ia tidak sanggup menerima guncangan rasa sakit di dalam jiwanya.
Selama sedetik perasaan dingin menjalari punggung Shanum. Mungkin ia salah. Mungkin Sarnai memang benar hanya ingin membantu Khan melawan komplotan pemilik sihir hitam itu. Tak diragukan lagi dia sudah mengacau andaikan memang seperti itulah yang terjadi.
Akhirnya Shanum menyerah. Dia kembali menuju ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Gadis itu mencoba memejamkan mata, sembari mengingat bahwa ia membutuhkan istirahat setelah seharian diserang oleh guncangan perasaan yang bertubi-tubi.
Ketika Shanum terbangun, hari telah pagi. Ia membuka mata dan melihat ruangan itu bermandikan cahaya matahari. Ia tampaknya lupa menutup tirai jendela semalam. Shanum mendesah, ia merasa sendirian. Tetapi tepat saat ia memikirkan hal itu, suara ketukan terdengar di pintu kamar.
Shanum duduk tegak dan bergegas bangun. Ia menghampiri pintu sambil sesekali menguap. Shanum membuka pintu, dan menemukan kedua sahabatnya sedang tersenyum di depannya.
"Kau terlihat baik-baik saja pagi ini, tidak seperti tadi malam. Wajahmu sangat kusut, seperti baju belum disetrika," celetuk Farah sembari menyeringai.
Diva langsung menyikut Farah, sembari meringis. "Maaf, kami menganggu tidurmu, Sha. Tapi kami sudah sangat penasaran mendengar cerita tentang petualanganmu kemarin bersama Taban."
Shanum mengernyit. "Apa?" Ekspresi Shanum mencerminkan rasa heran. "Siapa yang berpetualang bersama Taban?"
"Jadi kau tidak pergi seharian bersamanya? Jangan katakan kau bersama..." Farah berhenti mengucapkan kalimatnya.
Shanum mendesah lelah, lalu berkata, "Izinkan aku ke kamar mandi dulu. Kalian tunggu di ruang tamu saja sambil memesan sarapan." Kedua sahabat Shanum itu mengangguk dan membalikkan tubuh, mereka, segera beranjak dari depan pintu. Shanum kembali menutup pintu dan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia menghampiri kedua sahabatnya yang telah menunggu di sofa. Shanum mengambil tempat duduk di samping Farah setelah membuat secangkir kopi untuk dia nikmati pagi ini.
Wajah kedua sahabatnya penuh tanda tanya. Meski penasaran, mereka menunggu Shanum yang memulai pembicaraan.
"Ya, aku pergi mengunjungi Taban di kantornya dan aku sengaja datang ke sana untuk bertemu dengan Khan. Taban hanya membantu mengirimkan sopir dan mengantarkanku ke ruangan pria itu," ucap Shanum dengan ekspresi datar. Dan reaksi kedua sahabatnya adalah melongo kaget.
"Kau menemui pria itu," tuduh Farah, seolah-olah itu adalah kejahatan besar. Shanum kembali tersadar dari ekspresi tak percaya Farah dan Diva yang tidak bisa dijelaskan namun sudah bisa diduga.
"Mengapa aku tidak bisa menemuinya? Dia pernah memintanya, dan aku penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya kepadaku."
__ADS_1
"Tapi, pria itu sudah menyakitimu." Diva menyahut dengan nada suara pelan bercampur heran.
Shanum menegakkan diri, menampilkan ketenangan bermartabat di setiap pori-porinya. "Pilihanku untuk menemuinya, dan aku harus siap menerima segala resikonya."
"Sepertinya aku sudah bisa menebak pria itu kembali menyakitimu." Farah menduganya dengan akurat.
"Jadi, apa yang sudah ia torehkan di pertemuan kemarin? Bolehkah kami mengetahuinya?" sambung Diva dengan suara mulai melunak. Dia merasa kasihan melihat wajah Shanum yang mengeruh saat mendengar tebakan Farah.
Kemudian Shanum menceritakannya pertemuannya dengan Khan yang berawal dengan baik. Sampai akhirnya kemunculan Sarnai dan Ula yang menyebabkan pertengkaran kembali antara dirinya dan Khan.
"Wanita dalam mimpimu itu tiba-tiba muncul?" Diva bertanya dengan ekspresi takjub. Begitu juga dengan ekspresi Farah.
"Ya. Wanita itu muncul. Dan entah apa artinya selama ini mimpi itu ada," jawab Shanum. Rasa mual membuat perutnya melilit, gigilan dingin naik-turun di sepanjang tangan dan kaki Shanum. Ia tidak boleh hancur. Masa depannya masih panjang.
Ia seorang pejuang. Seperti leluhurnya yang telah bekerja sangat keras untuk melindungi seluruh keturunannya dari pembantaian. Dia akan baik-baik saja, meski kebingungan, kesedihan dan kepedihan berputar bagaikan pusaran emosi di dalam dirinya.
"Kau masih memiliki kami, Sha. Kami selalu ada di sini untuk mendukungmu. Apa pun keputusanmu," sahut Diva menepuk punggung tangan Shanum.
"Ya. Dia tidak berharga, dan tidak perlu lagi diperjuangankan kalau sikapnya semakin menyakitimu," sambung Farah dengan wajah kesal penuh amarah.
"Terima kasih. Kalian memang sahabatku yang terbaik." Shanum memeluk satu persatu sahabatnya itu dengan wajah tersenyum.
"Ayo sekarang kita sarapan. Setelah ini kita pergi bersenang-senang ke tempat wisata yang belum pernah kita datangi." Diva berkata dengan antusias.
"Tunggu, kau belum mengatakan bagaimana hasil kepergian kalian kemarin ke rumah Sergei. Apakah kau bertemu dengannya?" desak Shanum.
Kebahagiaan di wajah Diva langsung surut. Dia menggeleng. Shanum melihat kesedihan kembali terpancar di mata gadis itu.
"Dia tidak ada di rumahnya, Sha. Kata pengurus rumahnya, Igei sudah dua bulan tidak datang. Karena pria itu sering menghilang selama berbulan-bulan, jadi mereka sudah tidak merasa heran melihatnya."
"Betul, Diva. Yang dikatakan Farah itu sangat tepat. Kau tidak perlu cemas lagi ya. Jika sudah selesai dengan misinya, Sergei pasti akan menghubungimu." Shanum ikut memberikan ucapan menghibur yang menenangkan untuk Diva.
Diva menganggukkan kepalanya. Lalu Shanum berdiri, ia menarik tangan kedua sahabatnya untuk menuju meja makan. "Ayo kita sarapan."
Suasana mendung yang awalnya terjadi berubah menjadi tawa gembira, tatkala mereka menikmati sarapan lezat yang sudah disediakan pihak hotel untuk mereka.
Setelah sarapan, ponsel Shanum berbunyi nyaring. Gadis itu sudah bisa menebak siapa orang yang bersemangat menghubunginya pagi ini. Sesuai janjinya semalam, Taban menagih penjelasannya tentang kejadian kemarin. Dengan enggan Shanum kembali mengulang apa yang sudah ia jelaskan tadi kepada para sahabatnya.
Reaksi Taban cukup mencengangkan. Dia mengatakan bahwa Khan pasti tidak waras. Sudah jelas wanita itu pernah membuangnya bagaikan sampah, kini malah kembali membiarkan wanita itu mendekati dirinya lagi.
Shanum tidak membalasnya dengan ucapan lain kecuali bahwa mungkin saja Khan masih mencintai wanita itu. Lalu dia mendengar suara dengusan keras dari dalam sambungan tersebut.
Sepertinya Taban menganggap ucapan Shanum barusan sangat menggelikan. Tidak mungkin pria yang sudah dihancurkan hatinya masih bisa mencintai kembali wanita yang sudah melakukan perbuatan itu.
Percakapan mereka akhirnya berhenti setelah Shanum memohon pada Taban untuk mengantarkan mereka berkeliling.Taban menyanggupinya, ia akan mengajak ketiga gadis itu ke suatu tempat wisata dengan pemandangan alamnya yang sangat indah. Ketiganya tentu saja sangat antusias, mereka segera bersiap-siap menunggu kedatangan pria itu.
***
"Silahkan masuk, Miss. Anda sudah ditunggu." Seorang pria mengenakan jas rapi dengan wajah datar mengantarkan Shanum ke sebuah ruangan. Pikiran-pikiran Shanum berputar-putar dengan kecepatan yang memusingkan, tidak ada kesempatan baginya untuk mencerna salah satunya.
Tiga hari kemudian setelah peristiwa pertengkaran dengan Khan itu, dia tiba-tiba ditelepon Eej yang mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Shanum. Wanita itu mengirimkan sopir untuk menjemputnya dan membawanya ke suatu ruangan di sebuah hotel yang berbeda dengan hotel yang ditempati Shanum saat ini.
Setelah melirik waswas ke arah pria berjas itu, Shanum masuk ke dalam ruangan dan menemukan Eej sudah duduk di sofa dalam ruangan itu.
Wanita itu tersenyum menghampiri Shanum. Dia memeluk gadis itu dengan erat. "Terima kasih sudah bersedia datang, Nak." Shanum balas tersenyum, dan ikut memeluk wanita itu.
Kemudian Eej menuntun Shanum untuk duduk di sampingnya di sofa besar yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan berdiri saja di sana?" Eej menoleh ke arah sosok seorang pria yang sedang berdiri di depan jendela di ruangan tersebut. Shanum tidak memperhatikan sebelumnya, karena posisi sosok tersebut membelakangi mereka. Mau tak mau Shanum ikut menoleh untuk melihat siapa orang yang ditegur oleh Eej itu.
Sosok itu membalikkan tubuhnya dan Shanum melihat Khan dengan wajah kaget. Tidak menyangka pria itu juga berada di sini. Mereka saling melemparkan tatapan yang membuat Eej mengeluarkan dehaman cukup keras.
Shanum memutuskan kontak tatapan mata tersebut terlebih dahulu, lalu menatap ke arah lain. Khan mendekat ke arah mereka, dia menghempaskan bokongnya di sofa yang berada di hadapan Shanum. Wajahnya terlihat datar dan dingin kembali. Seolah-olah tatapan panas yang tadi dilayangkannya menguap begitu saja.
"Bagus, sekarang kalian berdua sudah ada di sini. Ada yang harus aku katakan kepada kalian berdua. Dan aku juga sudah mendengar tentang pertikaian kalian." Ekspresi Eej seketika membuat Shanum gugup. Wanita itu melemparkan tatapan penuh kecaman ke arah putranya. "Kau sama sekali melupakan janjimu kepadaku."
"Semua ini bukan murni kesalahannya, Eej." Jawaban Shanum sama sekali tidak menyiratkan apa pun kepada Khan tentang bagaimana perasaan gadis itu sesungguhnya.
Dan meskipun Shanum tidak diragukan lagi berkata benar, ia tidak menyukai kenyataan bahwa dia cukup kasar mencurigai Sarnai tanpa bukti.
"Tetap saja, dia yang bersalah Shanum. Tidak sepantasnya dia berbuat sekasar itu terhadap dirimu yang seorang wanita." Eej menatap penuh harap ke arah Khan. "Bukankah benar, anakku?"
Khan mendesah. "Ya, tentu saja."
"Bagus. Sekarang aku ingin mengatakan padamu bahwa aku tidak setuju kau berhubungan lagi dengan wanita yang bernama Sarnai itu."
"Tapi aku dan dia..."
"Tidak ada bantahan. Kau seharusnya lebih banyak menghabiskan waktumu dengan Shanum, karena dia seharusnya pasanganmu di sini, bukan wanita itu. Dan untuk selanjutnya aku ingin kalian berdua ke kota Och. Kau harus membawa Shanum untuk diperkenalkan dengan ketua dewan dan para tetua. Aku sudah membantu meyakinkan mereka bahwa kau sudah memiliki pasangan," Eej menyela dengan sikap kurang bijaksana yang tidak biasa.
Ini pertama kalinya Khan mendengar bahwa ibunya dapat meyakinkan para tetua dan dewan yang kolot itu. Itu berarti ibunya berhasil mengatur pembatalan terhadap proses Seleksi yang seharusnya masih berlangsung.
Meskipun mengetahui sia-sia saja berdebat, Khan tetap mencoba. "Aku tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Sarnai, Eej. Hubungan kami sekarang murni tentang mencari komplotan pemilik sihir hitam itu."
"Tapi kau membiarkan dirimu mengikuti kemauan wanita itu. Selama dua hari terakhir aku tahu, kau sering menemui wanita itu dan sibuk mengantarkannya kesana-kemari. Benar kan?" tanya Eej, nadanya bercampur antara kecaman dan tekad sekeras baja.
"Eej tahu aku melakukannya dan aku tidak punya banyak pilihan tentang itu. Kami harus pergi bersama untuk melacak komplotan itu," jawab Khan, lagi-lagi dengan alasan yang sama.
"Walau bagaimanapun, Shanum adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawamu dan sungguh memalukan cara kau menelantarkan dia selama dia berada di sini. Kau tidak dibesarkan untuk menunjukkan sikap kurang ajar seperti itu."
"Ini bukan kondisi normal. Aku tidak mengingatnya. Dia asing bagiku." Khan kembali menjawab dengan ekspresi tidak bersalah.
"Seperti yang kauketahui, kondisi normal jarang terjadi pada kaum kita, Nak. Jangan membuat Amnesiamu itu alasan bagimu untuk berbuat hal yang dapat menyakiti orang lain."
"Oke, baiklah! Dia boleh ikut kemanapun aku pergi. Kalau perlu dia tinggal berdua bersamaku," Khan menantang. Ini bukan ide yang bagus. Ibunya harus menyadari itu.
"Memangnya kenapa? Aku yakin kalian tidak akan terlihat dalam posisi yang mencurigakan. Akan sangat baik bagi citra dirimu jika dilihat bersama pendamping setelah proses Seleksi dihentikan. Mereka pastinya percaya setelah melihat bahwa kau sudah memilih pasangan untuk dirimu."
"Tapi komplotan pemilik sihir hitam itu akan ikut mengincar Shanum."
Shanum tertegun mendengar ucapan Khan. Ternyata pria itu berusaha menjaga jarak dengannya setelah kedatangan Sarnai karena ingin melindunginya. Tapi, apakah memang benar seperti itu?
"Kau tidak perlu berkilah seperti itu seolah-olah berusaha melindungi Shanum." Eej menatap Khan dengan tajam.
"Katakan saja terus terang bahwa dengan kedatangan wanita itu kau kembali teringat dengan perasaanmu kepadanya. Andaikata tebakanku benar, berarti kau sungguh bodoh, Nak. Wanita itu sudah menyakiti hatimu, masa kau ingin kembali jatuh ke lubang yang sama," sambung Eej dengan geram.
Khan tidak yakin yang mana yang lebih mengganggunya, kata-kata ibunya atau kenyataan bahwa Shanum mengepalkan tangan dengan erat dipangkuan dengan ekspresi kaku.
"Aku tidak mungkin kembali kepada Sarnai, Ibu. Hubungan kami sejak lama sudah berakhir." Khan berbalik ke arah Shanum, tidak peduli apakah ibunya memahami pikirannya. Entah mengapa perasaan Shanum lebih penting baginya saat ini.
Shanum berusaha keras mengatur wajahnya menjadi topeng tanpa emosi. Namun, hal itu tidak menyembunyikan luka mendalam di mata hitam berkilau gadis itu. Terutama dari Khan.
Khan bergerak menghampiri Shanum, dipicu oleh kebutuhan tak tertahankan dalam hatinya untuk menghapus kepedihan di tatapan gadis itu. "Shasha..."
"Jangan." Shanum mengangkat tangan. "Apa pun yang kaupikir perlu kau katakan, jangan. Meskipun aku menghargai perhatian Eej terhadap diriku, aku tidak ingin kau merasa berutang nyawa atau apapun itu yang terbersit di pikiranmu kepadaku. Kita tetap dengan rencana semula, memutuskan ikatan jiwa yang ada di antara kita."
__ADS_1