
Dua minggu kemudian.
Mata Khan perih setelah satu malam lagi berlalu tanpa tidur nyenyak. Terjeda oleh mimpi tentang Shanum. Mimpi yang semakin lama semakin buruk. Di mimpi yang terbaru, ia sedang di Och, berkeliaran tanpa akhir di jalanan sempit yang berliku rumit bak labirin, mencari istrinya itu, hanya untuk melihat sekilas Shanum pada detik terakhir sebelum dia menghilang di sudut lain.
Khan membenci diri sendiri karena merasa lemah. Dia masih belum berhasil menemukan Shanum, jiwanya menjerit menginginkan pasangannya. Tubuhnya meranggas menahan rindu.
Sambil beranjak lesu dari tempat tidur, menuju kamar mandi, ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Khan tidak menyadari bahwa ada yang mengetuk pelan pintu kamarnya.
Setelah suara ketukan itu semakin kencang, ia baru tersadar. Khan berhenti bergerak, lalu menoleh ke arah pintu.
Keningnya mengerut tajam, merasa heran ada yang berani mengganggunya di pagi buta seperti ini.
Khan beranjak ke pintu dan membukanya. Wajahnya terlihat dingin menatap ke arah Dario yang berdiri dengan ekspresi ragu bercampur takut.
"Maafkan aku, Sir. Tapi, aku rasa berita ini sangat penting, dan Anda harus segera mengetahuinya," ucap Dario dengan suara terengah-engah. Seolah-olah pria itu langsung berlari menuju kamar Khan setelah mendengar berita penting itu.
"Katakan!"
"Kelompok pertama yang kita kerahkan untuk mencari menemukan sesuatu. Mereka mencurigai suatu tempat yang mengandung unsur sihir perlindungan."
"Di mana?" desak Khan.
"Jauh ke utara dari lokasi asli klan tersebut sebelumnya, Sir."
Khan tertegun. Kemudian rahangnya mengeras.
"Tidak jauh dari lokasi Klan Batzorig," bisik Khan.
"Kau yakin, Dario?" Khan berusaha memastikan. Dia tidak mau salah dengar yang akhirnya akan berujung kesalahpahaman.
"Ya, Sir. Roman melaporkan kepadaku seperti itu."
"Sepertinya aku harus menghubungi Klan Batzorig," ucapnya kemudian mengatupkan bibir. Dia harus mengetahui keterlibatan klan tersebut dengan klan pemilik sihir hitam yang membawa istrinya. Meski selama ini klannya tidak pernah bersinggungan dengan Klan Batzoriq, tapi ia tetap harus waspada.
"Mereka baru saja mengangkat pemimpin klan baru, dan sekarang sedang mempersiapkan pesta perjodohan pemimpin klan tersebut dengan putri salah satu bangsawan di sana." Dario memberikan informasi kepada Khan.
Khan menatap Dario dengan tajam. "Mengapa aku tidak mengetahui informasi ini?"
"Emm, maaf, Sir. Undangan pengangkatan itu diambil alih oleh Ibu Anda. Saat itu Anda sedang fokus mengobati Shanum yang sedang terkena racun berbahaya."
"Maksudmu yang menghadiri undangan itu adalah Eej?"
Dario menganggukkan kepalanya.
Khan sesaat terpaku, lalu membalikkan tubuhnya. Dia menuju meja cabinet di samping ranjang, meraih ponselnya. Khan terlihat mencoba menghubungi seseorang.
"Kemana Taban, Dario?" tanya Khan sembari menurunkan lengannya yang sedang menggenggam ponsel.
"Sudah beberapa bulan ini dia jarang terlihat di mansion, Sir. Bahkan semalam dia tidak tidur di sini."
"Aku tidak bisa menghubunginya. Teleponku tidak diangkat-angkat." Khan mengetukkan jarinya di bibir.
"Persiapkan keberangkatanku ke kantor, Dario. Aku akan mencari Taban di sana."
Dario mengangguk, lalu pamit undur diri seraya menutup pintu kamar.
Khan bergegas menuju kamar mandi, mempersiapkan dirinya sebelum pergi menuju kantor. Sejak Shanum dibawa oleh pria bertopeng itu, Khan tidak pernah datang mengunjungi kantornya. Dia sibuk kesana-kemari, mencari jejak keberadaan istrinya itu.
Sesampainya di kantor, sambil melangkah cepat melewati lobi, pria penguasa Klan Altan itu memperlihatkan wajah kaku dan dinginnya seperti biasa. Bahkan mungkin kali ini wajah tampan itu semakin dingin, tanpa ekspresi. Datar, dan semakin kaku.
Khan memasuki lift khusus menuju ke lantai teratas dari gedung pencakar langit miliknya itu. Dario dengan setia mengikuti di belakang Khan, begitu juga dengan beberapa pengawalnya.
__ADS_1
Saat lift terbuka, Khan menemukan seorang wanita sedang duduk di ruang tunggu untuk tamu.
Khan mengernyit dalam, ketika mengenali wanita tersebut adalah Sarnai. Hari terakhir ia bertemu dengan wanita itu adalah saat sebelum ia mendatangi Shanum di hotel. Sebelum peristiwa berdarah di pinggir kolam renang.
Wanita itu menoleh, dan senyum perlahan merekah di bibirnya ketika menemukan Khan sedang berdiri di depan pintu lift.
"Khan..."
Sarnai berdiri dari duduknya sembari tersenyum lebar. Wajah wanita itu berbinar cerah menatap ke arah Khan.
"Kemana kau pergi, Khan? Mengapa susah sekali menemuimu? Kau menghilang ditelan bumi, setelah pertemuan terakhir kita," kata wanita itu dengan perubahan ekspresi menjadi sedih.
Khan bergerak, dia melanjutkan langkah menuju ke ruangannya, tidak menggubris ucapan Sarnai.
Sarnai terlihat kaget melihat reaksi Khan. Namun dia tidak patah semangat, wanita itu langsung menghadang Khan, dia mencoba menarik lengannya. Khan otomatis menghentak lengannya yang ditarik oleh Sarnai dengan keras. Mata pria itu berkilat, terlihat tersinggung.
Sarnai meringis sembari mengusap lengannya yang dihentak dengan keras.
"Please, Khan. Aku hanya butuh sedikit waktumu. Ada yang harus kukatakan kepadamu. Hal ini berkaitan dengan kelompok penyihir hitam itu."
Khan terdiam, dia tidak menjawab. Pria itu sedang menimbang-nimbang baik dan buruknya untuk mempercayai ucapan wanita itu.
"Maafkan aku, Khan. Kalau aku mungkin telah membuatmu tersinggung. Aku sangat menyadari, kedatanganku kembali mungkin mengganggu hidupmu. Tapi, aku tidak ada maksud apa-apa. Saat ini aku hanya ingin menawarkan pertemanan diantara kita, dan aku ingin membantumu. Hanya itu, Khan." Sarnai mengatakan dengan nada suara lembut dan penuh permohonan.
Khan menoleh, dia menatapnya lama sembari mencoba melepaskan lengan Sarnai yang berada di tangannya. Lalu pria itu berkata, "Kita bicara di dalam."
Sarnai menganggukkan kepala dan mengikuti Khan yang kembali melangkah ke dalam ruang kerjanya.
Khan bergerak menuju belakang meja kerja lalu berdiri menghadap Sarnai. Dia menatap wanita yang sudah duduk di sofa panjang di sampingnya. Khan mencoba menelaah perasaannya terhadap Sarnai. Sejak pertemuan mereka kembali, darahnya tidak berdengung hanya karena berada di dekat wanita itu. Dia mungkin bertanya-tanya, mengapa ia tidak mencurigai hal ini sejak awal.
Dia merasa ucapan Shanum bahwa wanita ini bukanlah Sarnai adalah benar adanya. Seolah hati kecilnya akan langsung mengenali bahwa wanita itu adalah orang lain yang menyamar menjadi mantan kekasihnya.
"Apa maumu? Cepat katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu."
"Aku hanya ingin mengetahui kelanjutan rencana kita untuk mencari komplotan penyihir hitam itu. Dan tentunya ingin memastikan kabar yang kudengar tentang pernikahanmu. Apakah itu benar?"
"Siapa yang memberitahumu tentang kabar pernikahan itu?" desis Khan.
Sarnai tersenyum manis. Melihat emosi di wajah Khan membuat wanita itu memprediksikan bahwa pernikahan itu terjadi karena adanya unsur keterpaksaan.
"Hmm, aku tahu dari Ulagan. Kakak mengatakannya padaku bahwa kau menikah dengan gadis yang bernama Shanum. Gadis itu adalah kekasihmu dan kalian memiliki hubungan yang cukup rumit. Kalian harus menikah karena kau harus mengobati gadis itu dengan... hmm, sesuatu yang intim."
Khan menatap lama ke arah Sarnai, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekilas wanita itu melihat kesedihan terpancar di bola mata pria itu. Meski hal itu terjadi hanya sekian detik, tapi Sarnai melihatnya. Dan ia menjadi semakin yakin bahwa Khan tidak menginginkan pernikahan itu.
"Aku turut sedih untukmu Khan. Em, kalau kau berkenan aku bersedia membantumu melepaskan diri dari jerat pernikahan ini," kata Sarnai.
"Siapa yang bilang aku mau terbebas dari pernikahan ini?!" Suara Khan terdengar seperti lecutan cambuk. Dan pria itu melihat keterkejutan di wajah Sarnai. Pria itu menutup jarak di antara mereka, tapi tak menyentuhnya.
"Aku justru sangat menginginkan pernikahan ini. Dan kau atau siapa pun tidak akan bisa memisahkanku dari Shashaku. Akan aku musnahkan siapa pun yang mencoba melakukan hal itu." Wajah Khan dekat dengan Sarnai, terlihat sedingin Kutub.
Mata Sarnai terbelalak lebar. "Maksudmu, kau... kau... Kupikir..." Suara wanita itu terdengar mencicit gugup, seraya menelan ludah dengan susah payah.
"Ya, aku mencintai Shashaku. Tergila-gila padanya. Jadi apapun yang ada di kepala mungilmu yang licik itu sebaiknya dihapuskan mulai sekarang. Karena aku tidak tertarik untuk kembali kepadamu atau kepada wanita lain."
Kemudian Khan menarik tubuhnya menjauh. Dia bersedekap dan menatap Sarnai dengan ekspresi datar. "Dan untuk kerjasama kita untuk menangkap penyihir hitam itu aku putuskan tidak akan aku lanjutkan. Aku dapat mengurusnya sendiri, tanpa bantuanmu."
Ekspresi Sarnai berubah drastis. Kini yang terlihat adalah ekspresi memelas, mata wanita itu berkaca-kaca. Bahkan setetes air mata mulai menghiasi pipi mulusnya.
"Aku masih mencintaimu, Khan. Apakah tidak ada setitik pun lagi rasa di hatimu untukku?"
Khan masuk ke belakang meja kerjanya, lalu duduk. Dia menatap pertunjukkan penuh air mata yang diperlihatkan wanita itu dengan wajah muak.
__ADS_1
"Bahkan aku bersedia menjadi selir, jika kau mau menerimaku. Bagiku, selalu berada di sisimu sudah cukup, Khan. Aku benar-benar menyesal pernah meninggalkanmu." Wanita itu menarik napas dalam. Lalu mendekati Khan dan duduk bersimpuh di hadapan Khan.
Khan menggertakkan rahang, dia tidak menyangka wanita palsu itu berani untuk mengemis laksana ****** di hadapannya.
"Khan... selama ini aku tidak bisa langsung menemuimu karena aku terluka sangat parah. Ada pihak-pihak yang berusaha menyakiti dan berniat membunuhku. Mereka merusak wajahku dan menyiksaku. Aku berhasil selamat dan bersembunyi dibantu oleh seseorang. Orang ini yang akhirnya berhasil menyembuhkanku, meski membutuhkan waktu selama ratusan tahun."
Kemudian Sarnai bangkit dari posisinya, perlahan dia membuka pakaiannya sembari terisak.
Khan seketika bangkit, ia berusaha menghentikan gerakan Sarnai dengan ekspresi marah. Namun cekalan itu terlepas, Sarnai berhasil mengelak.
"Kau benar-benar ingin menguji--"
Dan bentakannya mendadak terputus begitu saja.
Khan berdiri mematung dengan mata terbelalak lebar. Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, sedangkan tangan kanannya yang dibiarkan menggantung di sisi tubuhnya tampak mengepal kuat-kuat, seakan ia sedang menahan diri agar tidak lepas kendali.
Khan melihat guratan-guratan dalam malang-melintang di punggung wanita itu. Bahkan di salah satu sisi pinggulnya terdapat cekungan dalam tak beraturan yang menyeramkan.
Selama beberapa detik, tak ada yang bicara. Sarnai sudah kembali menutup punggungnya dan membalikkan tubuh. Mereka saling bertatapan, sampai akhirnya Khan berdeham sekali, merasakan setitik penyesalan mampir di pikirannya. Khan sedikit melunak, namun tetap waspada.
"Siapa yang melakukannya kepadamu?" desak Khan.
Sarnai tersenyum miris. "Zuunaa Sarangerel Sukhbataar."
Khan melotot. "Wanita Sialan itu!"
"Ya, tunanganmu saat itu, Khan," jawab Sarnai dengan nada suara geram.
Rahang Khan mengetat dalam. "Kau tidak sedang membodohiku kan?!"
"Tentu saja tidak," jawab wanita itu dengan tegas.
"Tadi kau mengatakan memiliki luka di wajah. Mengapa sekarang wajahmu tetap mulus?"
Sarnai tersenyum datar, matanya berkilat tajam. "Aku memang sengaja meminta kepada penyembuhku untuk tidak menghilangkan bekas luka di tempat yang tidak terlihat, hanya sebagai pengingat bagiku untuk membalas setiap kesakitan yang ditorehkan oleh wanita iblis itu."
Sarnai melarikan tangannya ke pundak Khan dan mengusapnya. Khan menatap ke arah tangan wanita itu lalu menariknya. Ia membaliknya, dan langsung tertegun. Khan menemukan tanda lahir yang persis sama dengan milik Shanum di telapak tangan Sarnai palsu.
Khan sontak melepaskan telapak tangan itu, tak sanggup lebih lama lagi memegangnya. Pria itu menatap ke arah Sarnai dengan ekspresi tegang.
"Ada apa, Khan? Mengapa kau bersikap aneh, seolah-olah yang kau pegang barusan adalah bara api, bukannya telapak tangan?"
Khan menggeleng dengan kikuk. Mencoba menutupi kecanggungannya. "Tidak. Em, tadi itu aku mendadak tersadar, kalau kini aku tidak boleh seenaknya memegang tangan wanita lain."
Sarnai mengerutkan keningnya heran.
"Aku sudah menikah, kau ingat."
Mendengar kata-kata tentang pernikahan, wajah wanita itu menjadi keruh. Dia terlihat tidak menyukai ucapan yang keluar dari bibir Khan.
"Kau boleh saja melakukan itu. Toh aku adalah calon selirmu, Khan. Sampai kapan pun aku adalah milikmu. Jika kau jijik melihat luka-lukaku, aku bersedia mendatangi penyembuh dan membuatnya mulus kembali."
Khan mendesah dalam dan menatap wanita di depannya. Lalu pria itu menghampiri lemari minum, menuang minum untuk diri sendiri. Pria itu tidak menawari Sarnai minum.
Setelah beberapa teguk air masuk ke tenggorokannya, Khan berbalik. Dia tampak tenang, tetapi Sarnai bisa merasakan ketegangannya. Pria itu meletakkan gelasnya di salah satu sudut meja kerjanya, dan memicingkan matanya ke arah Sarnai.
"Boleh aku bertanya?"
Sarnai mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Setelah pertemuan terakhir kita di dalam gua di waktu lalu itu, saat kau menolakku. Apa yang kau lakukan? Kemana kau pergi?"
__ADS_1
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak mengerti. Pertemuan terakhir kita berada di pinggir sungai, tak jauh dari rumahku. Bukan di gua. Saat itu kau hendak menemuiku di depan rumah, tapi aku mengajakmu ke tempat yang lebih sepi, agar berada jauh dalam jangkauan penglihatan orang-orang yang suka usil."
Dia tahu tempat kami bertemu untuk terakhir kalinya itu. Padahal hanya kami berdua yang berada di sana, tidak ada orang lain. Jika dia memang bukan Sarnai yang asli, bagaimana dia bisa tahu?