Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 79 Terluka Melihatmu


__ADS_3

Shanum mendengar sayup-sayup suara orang berlarian. Ia membuka matanya dan mengerjap. Shanum mengerutkan kening, tampak bingung, melihat beberapa orang berpakaian seperti petugas medis, hilir mudik memasuki ke suatu ruangan.


Kepalanya terasa nyeri. Ia menyentuh pelipis, pikiran dan perasaannya meraung-raung di dalam kepala. Semua ini tidak masuk akal baginya. Semuanya terasa jungkir balik. Kesibukan orang-orang yang bolak-balik tadi langsung terlupakan.


Shanum mengatur napasnya. Mencoba meredam rasa nyeri yang menggedor-gedor kepalanya itu. Perlahan rasa nyeri mulai berkurang, dan baru menyadari bahwa ternyata ia sudah berada di suatu ruangan mirip ruang tunggu.


Dia mengedarkan pandangan, dan menemukan Jullian berdiri kaku sedang menatapnya dengan wajah ragu dan sedikit cemas.


Melihat wajahnya, Shanum jadi teringat bahwa ia tadi berteleportasi bersama pria itu. Apakah mereka sudah sampai di tempat Khan dirawat?


"Kita sudah sampai. Sebaiknya kau duduk terlebih dahulu dan minum. Wajahmu sepucat kertas." Jullian menyodorkan botol air kemasan di hadapannya. "Kepalamu pasti sangat pusing. Apakah perutmu mual dan tubuhmu terasa lemas?" tanya pria itu.


"Hanya pusing," jawabnya singkat. Lalu Shanum mengambil botol air tersebut dan menghempaskan bokongnya di atas sofa di sampingnya.


"Kita berada di mana Jullian? Tempat ini tidak mirip dengan ruang perawatan rumah sakit."


"Kita berada di tempat rawat khusus untuk Klan Altan. Karena kondisi metabolisme kami berbeda dengan manusia pada umumnya, kami tidak bisa dirawat di rumah sakit untuk manusia biasa."


Kemudian Shanum melihat seorang wanita keluar dari sebuah pintu tak jauh dari mereka. Wanita itu tampak sedih. Lalu dia melihat ke arah Shanum, dan sontak berhenti melangkah.


"Shanum..." ucapnya.


Shanum menganggukkan kepalanya. "Ya, Eej," jawabnya sembari tersenyum tipis. Gadis itu langsung bangun dari duduknya dan berdiri tegak.


Ibu Khan itu menghampiri Shanum dan memeluknya erat. "Syukurlah kau sudah di sini. Kau baik-baik saja, Shanum? Bagaimana perjalananmu?"


"Aku baik, Eej. Teleportasinya berjalan lancar. Aku hanya merasakan sedikit pusing saja."


Wanita itu memegang bawah bahunya dan menatapnya seraya tersenyum. Shanum merasakan kehangatan di dalam hatinya, dan ketenangan saat berada di sisi wanita itu. Ibu Khan itu seorang wanita yang lembut, mirip dengan ibunya sendiri.


"Kau tidak naik pesawat?" tanya wanita itu dengan nada heran.


"Tidak Eej, yang berada di pesawat hanya para sahabatku. Em... tidak apa-apa kan mereka ikut?"


Wanita itu kembali tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku tahu, kalian tiga serangkai memang susah untuk dipisahkan."


Shanum tersenyum lebar. "Terima kasih, Eej," jawabnya.


"Em... bagaimana keadaannya?" tanya Shanum dengan lirih.


Wanita itu menghela napasnya. Wajahnya menjadi keruh. Dengan lemas dia duduk di sofa diikuti oleh Shanum.


"Sejak peristiwa itu kondisinya naik turun. Barusan ia sempat memburuk, namun sekarang sudah kembali stabil."


"Apakah dia boleh dikunjungi, Eej?" tanya Shanum.


"Tentu saja boleh. Kau yakin sudah cukup kuat untuk melihatnya. Setelah berteleportasi sedemikian jauhnya aku takut kau masih merasa lelah."


"Nyeri di kepalaku sudah berkurang, Eej. Aku ingin segera melihat kondisinya." Shanum memperlihatkan wajah memohonnya.


"Baiklah. Tapi jangan kaget melihat penampakannya, Shanum. Anakku yang sekarang tidak tampan seperti dia yang dulu. Jika kau tidak sanggup, segera bilang padaku," ucap wanita itu dengan senyum miris terlukis di bibirnya. Shanum menganggukkan kepalanya.


Lalu Eej bangkit dan melangkah menuju pintu di dekat situ, diikuti Shanum di belakangnya. Sebelum memutar kenop pintu Eej menoleh ke belakang, dan menatap Shanum. "Kau siap, Shanum?" tanyanya lagi untuk memastikan. Gadis itu tersenyum sembari mengangguk kembali.

__ADS_1


Wanita itu memutar kenop pintu, membukanya dan menyingkir ke samping. Memberi ruang kepada Shanum untuk melihat Khan.


Shanum tertegun. Dia merasa bagaikan mengalami Deja vu. Khan berada di hadapannya dibalut dengan perban. Suara pengukur detak jantung dan tekanan darah berbunyi lembut. Membuatnya teringat ketika pria itu juga terluka dan dirawat demi menolongnya.


Yang berbeda kini adalah, wajah pria itu juga di tutup perban, menyisakan hanya mulut, hidung dan mata. Sedangkan untuk bagian tubuh lainnya tertutup oleh sehelai selimut tipis. Dia harus menyibaknya kalau ingin mengetahui tentang seberapa luas luka bakar itu mengenai tubuh Khan.


Eej mendekati ranjang rawat Khan dan menyibakkan selimut itu. Shanum tercekat, dia membekap mulutnya. Kini ia tahu bahwa luka bakar itu mengenai sembilan puluh persen tubuh Khan. Gadis itu masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia menatap ke arah Eej, seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi mengurungkan niat, tahu bahwa ia tidak mungkin diizinkan jika memintanya.


"Kau pasti ingin melihat seberapa parah luka bakarnya kan, Shanum?" Tiba-tiba Eej mengemukakan apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Gadis itu terlihat kaget, lalu mengangguk dengan cepat. Jika diizinkan dia akan mengambil kesempatan itu tanpa ragu.


Wanita itu memberi isyarat kepadanya untuk mendekat ke sisi ranjang di sebelahnya. Dan Shanum menurut, ia melangkah sesuai yang diisyaratkan oleh wanita itu.


Shanum melihat Eej membuka dengan hati-hari perban yang berada di wajahnya. Secara perlahan Shanum memandangi kulit yang memerah, melepuh, bengkak, dan ada di beberapa bagian yang mengelupas itu. Shanum tidak bisa lagi mengenali Khan.


Dia merasa mual, dan menahan dorongan kuat untuk muntah. Hatinya juga terasa nyeri, teramat nyeri. Pria itu tidak sekadar terbaring koma, tapi juga terlihat mengerikan. Wajahnya..., hal itu membuat Shanum ikut merasakan rasa sakitnya.


Tanpa pikir panjang, ia mencengkeram erat pinggir ranjang yang terbuat dari besi, berusaha menopang tubuhnya yang terasa lemas. Wajahnya memucat, dan matanya berkaca-kaca.


"Shanum, kau harus tenang," kata Eej dengan lembut. Wanita itu mendadak sudah ada di sampingnya, meraih tangannya, lalu memeluk punggungnya, seraya menariknya mendekat sebelum lututnya menekuk lunglai.


"Mari duduk," ujar Eej, membimbing Shanum duduk di satu-satunya bangku yang berada di ruangan itu. Shanum berkeringat dingin, dan yang lebih buruk lagi, sangat sedih. Ia pasti gemetar, karena Eej menyelubunginya dengan selimut rajutan tipis.


"Ini selimutku, aku memakainya saat merasa kedinginan berada di ruangan ini," ucap Eej.


Shanum membenamkan muka di selimut itu, malu karena terguncang. Selimut itu beraroma manis dan lembut. Aroma khas wanita itu.


"Maaf," kata Shanum cepat. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan? Ia duduk sembari terlihat menyesal telah merasa mual melihat wajah Khan. "Mestinya aku tidak... maksudku seharusnya..." Ia menggeleng-geleng merasa bersalah.


Wanita itu lalu berjalan ke arah jendela. Posisinya membelakangi Shanum. "Putraku mengalami luka bakar tingkat tiga, begitu yang dikatakan oleh tenaga medis yang merawatnya. Andaikata dia manusia biasa mungkin ia sudah mengalami kematian. Kau mungkin sudah diceritakan oleh Jullian tentang campur tangan sihir hitam di sini." Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya kembali ke arah Shanum.


"Aku tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan terlarang itu. Tetapi aku akan mencari tahu dan menghancurkannya, hingga ke akar-akarnya!" Wanita itu terlihat marah. Matanya berkilat tajam dan bengis, di sana tergambar kematian mengerikan yang akan diterima oleh orang pemilik ilmu hitam itu jika berhasil ditemukan.


Shanum bergidik ngeri, melihat hal itu. Dia memang pernah diceritakan oleh Khan, bahwa ibunya itu adalah wanita yang sadis dibalik kemasannya yang lembut. Ilmu sihirnya juga cukup tinggi, dan tidak ada orang yang berani untuk mencari gara-gara dengannya, terkecuali ingin menjemput mautnya lebih cepat.


Tapi dia juga selalu bersikap adil dan bijaksana, tidak seenaknya bertindak kejam kecuali jika ada yang menantangnya. Kemudian Eej memperlihatkan kembali ekspresi wajahnya yang lembut dan keibuan, lalu berkata, "kau harus beristirahat Shanum. Hari ini sudah cukup banyak menguras tenagamu. Nanti Jullian akan mengantarkanmu ke salah satu kamar di lantai teratas rumah rawat ini."


"Di sini disediakan juga kamar inap untuk tamu yang berkunjung?" tanyanya bingung. Dia baru mendengar ada fasilitas kesehatan yang melayani hal itu.


"Ya, rumah rawat ini milikku, aku menyediakan lima lantai untuk penunggu yang ingin menginap. Dan satu lantai paling atas hanya diperuntukkan khusus bagi keluargaku," jawabnya dengan senyum tipis.


Eej, mendekati Khan dan mengembalikan perban di wajahnya seperti sediakala. Shanum memperhatikan proses itu dengan wajah pilu. Setelah selesai Shanum meminta izin dengan isyarat untuk mendekati Khan lebih dekat, dan ia diizinkan. Pria itu terlihat seperti mumi, seluruh tubuhnya penuh perban, ia bagaikan terpanggang hidup-hidup saat peristiwa kebakaran itu. Dan itu sungguh menyeramkan, membayangkan rasa sakit yang dialaminya.


Shanum menahan bobot tubuhnya di ujung ranjang lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu yang tertutup perban juga. "Kau harus berjuang, Sayang. Dan percaya bahwa kau kuat. Aku akan selalu berada di sini, menjagamu, dan tidak akan meninggalkanmu. Jadi kau harus berusaha melawan sihir hitam itu untuk pulih," bisik Shanum dengan air mata menetes dari sudut matanya, dan langsung mengusapnya.


Lalu ia mendekati kening pria itu, menatapnya sesaat, dan mengecup lembut perban yang berada di sana. Agak lama ia menempelkan bibirnya. Gadis itu berusaha memberikan kehangatan dalam ikatan yang menyatukan jiwa mereka. Berharap ada setitik reaksi dalam ikatan tersebut. Namun dia terlalu berharap, tidak ada reaksi apa pun. Keheningan itu masih terasa, seakan-akan ada kekuatan tertentu yang membentengi di dalam ikatan tersebut.


Setelah itu, dia mengangkat wajahnya. Ia melarikan ujung jemarinya ke wajah pria itu, turun ke pundaknya lalu menuju ke lengannya, yang tertutup oleh perban sambil mengusapnya dengan sangat berhati-hati. Di sepanjang kegiatan itu, air mata terus-menerus menetes dari kedua belah matanya. Napasnya tercekat, ia merasakan sesak yang luar biasa di dalam dadanya.


"Shanum, mari keluar," sela Eej sembari menepuk lembut pundaknya. Dia membimbing Shanum keluar dari ruangan itu. Shanum sempat menoleh kembali ke arah Khan, merasa berat untuk meninggalkannya. Mereka kembali ke ruang tunggu, disambut oleh Jullian dengan wajah datarnya, langsung bergerak dengan setengah membungkuk hormat ke arah keduanya.


"Antarkan Shanum ke penthouse kami Jullian," kata Eej memberi perintah kepada pria itu. "Baik, Your Majesty," jawabnya sembari kembali mengangguk hormat.


Kemudian Shanum mengikuti pria itu menuju lift yang berada di ujung lorong dengan langkah gontai. Mereka memasuki lift dan Jullian menempelkan sidik jarinya pada sebuah layar. Dan secara mengejutkan di samping layar itu muncul tombol angka dua puluh enam, dan pria itu langsung menekannya.

__ADS_1


Tampaknya tombol angka tersebut tidak boleh sembarangan diketahui oleh orang lain. Karena orang-orang yang memasuki lift itu hanya dapat menemukan tombol sampai dengan di angka dua puluh lima saja. Tombol angka ke-dua puluh enam dilindungi dengan keamanan berlapis.


Shanum tidak merasa heran melihat hal itu. Sebab sebelumnya ia juga sudah pernah melihat yang lebih canggih di mansion Khan.


Lift berhenti di lantai dua puluh enam, pintu lift terbuka otomatis, dan mereka pun keluar dari kotak baja itu.


Berada di luar, ia menemukan lorong, mirip penampakan lorong hotel bintang lima, dengan hiasan mewah di dinding, dan karpet tebal yang terasa empuk jika diinjak. Lampu di atas kepala mereka pun menyala otomatis seiring dengan langkah mereka menuju pintu yang berada di ujung lorong.


Jullian menempelkan kembali sidik jarinya di bidang segi empat di sudut pintu. Lalu lampu di atas pintu menyala dan terdengar suara 'klek' tanda kunci pintu sudah terbuka.


"Semuanya memakai sidik jari, bagaimana jika aku harus kembali ke sini setiap harinya? Tidak mungkin aku mengandalkanmu terus, Jullian." Suara Shanum memecah keheningan di ruangan tersebut.


"Tentu saja nanti aku akan mendaftarkan sidik jarimu Shanum," jawab pria itu.


"Nanti itu kapan?" desaknya.


"Setelah kau beristirahat," kata Jullian.


"Bagaimana jika aku memintanya sekarang? Supaya aku tidak terus-terusan mengganggumu," desak gadis itu lagi.


Jullian terdiam, ia tampak memikirkan sejenak desakan Shanum itu. "Oke, jika kau meminta sekarang. Kita akan memulai prosesnya. Tapi tetap aku dan Abdan yang akan mengawal selama kau berada di sini Shanum."


"Untuk apa kau mengawalku terus? Apakah kalian tidak percaya kepadaku?" tanyanya dengan wajah kecewa.


"Bukan seperti itu maksudnya. Kami diberi perintah untuk menjagamu dan juga kedua sahabatmu selama berada di sini, karena khawatir orang jahat yang mencelakai Yang Agung juga ikut mengincarmu, Shanum."


Shanum menghembuskan napasnya. "Maaf, aku melupakan hal itu. Tapi jika situasi masih berbahaya, mengapa kalian mengizinkan kedua sahabatku ikut ke sini."


"Perintah itu berasal dari Your Majesty, Ibunda Yang Agung sendiri. Aku juga tidak tahu pertimbangan khusus apa yang dipikirkan oleh beliau."


Shanum menganggukkan kepalanya tanda paham dengan semua jawaban Jullian. "Oke, kalau begitu kita bisa memulai memindai sidik jarinya," kata gadis itu.


Kemudian Jullian kembali menempelkan sidik jarinya di layar segi empat kecil di dekat pintu. Dan ia menekan tombol berwarna merah di samping layar tersebut, dan di layar tersebut muncul sederet angka yang entah berfungsi sebagai apa. Pria itu menekan beberapa angka, lalu muncul gambar sidik jari di sana.


Shanum diminta menempelkan ibu jari tangannya di bidang itu untuk merekam sidik jarinya. Proses itu berulang selama tiga kali. Lalu mereka mencobanya untuk membuka pintu, dan semua berhasil dengan baik.


"Bagaimana dengan liftnya? Apakah kita harus kembali ke sana untuk merekam sidik jariku?"


"Tidak perlu. Akses ini sudah mencakup lift," jawab pria itu. Shanum mengangguk sebagai reaksi dan membuka kenop pintu untuk masuk ke dalam penthouse itu.


Setelah dia berada di dalam ruangan penthouse, Jullian memanggilnya. "Oh ya Shanum, di meja makan sudah tersedia makanan untukmu. Jadi selamat menikmatinya." Lalu pria itu menutup kembali pintu penthouse, ia meninggalkan Shanum sendirian berada di dalam ruangan itu.


Gadis itu melihat keseluruhan isi penthouse yang sangat mewah dan nyaman itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mulai melihat-lihat isinya lebih dalam.


Setelah membuka masing-masing ruangan, ia memutuskan memilih salah satu kamar kosong yang tidak terisi barang milik seseorang, dari lima kamar yang berada di sana.


Dua kamar sudah diisi oleh seseorang, di salah satunya Shanum menemukan perlengkapan wanita, yang pastinya adalah milik Eej. Dan satu lagi ia memperkirakan sebagai kamar milik Khan, sebab terlihat barang-barang milik pria terdapat di kamar itu. Ia bahkan sempat menangis tersedu-sedu di tepi ranjang saat melihat telepon genggam milik pria itu.


Setelah mandi, ia menuju ke meja makan, melihat makanan apa yang dapat dinikmatinya. Namun setelah beberapa suapan dengan makanan pilihannya, ia kehilangan selera. Akan tetapi ia harus mengisi perutnya, dan mencoba menelan kembali makanan itu dengan terpaksa. Sampai akhirnya ia tak tahan lagi, piring itu disingkirkannya ke samping.


Gadis itu memasuki kamar, lalu naik ke atas ranjang. Mencoba memejamkan matanya, dan mengistirahatkan otot tubuhnya yang menjerit sakit. Dia perlu tidur agar dapat mengeluarkan kekuatan penyembuhnya untuk Khan besok.


Secara perlahan ia mulai merasa tenang, napasnya terdengar teratur, tak berapa lama gadis itu mulai terlelap. Tak menyadari bahwa pintu kamarnya sudah terbuka, menampakkan sosok ibu Khan yang sedang tersenyum lembut menatap ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2