
Khan tidak mampu berkonsentrasi. Yang ia butuhkan hanya satu pesan yang dikirimkan kepadanya untuk menghancurkan seluruh harinya. Khan membuka ponselnya dan menemukan gambar Shanum sedang tersenyum di sana.
Foto itu diambil saat mereka sedang mengunjungi kebun mawarnya. Gadis itu begitu cantik duduk di atas rumput dikelilingi bunga mawar. Ia mengusap layar ponsel itu dan memandanginya dengan penuh kerinduan. Khan sangat ingin mengusap pipi gadis itu.
Shanum dan kedua sahabatnya menghilang. Mereka sudah check out dari hotel itu tanpa diketahui oleh orang-orang suruhannya. "Sial... ini gara-gara perjodohan bodoh itu." Khan memukul meja yang berada di hadapannya dengan kekuatannya. Meja itu retak dan menyerpih.
Dia harus memperbaiki semua ini. Tapi sungguh, dia tidak tahu bagaimana caranya. Pengalamannya sangat sedikit soal wanita. Sepanjang hidupnya, uang, dan kekuatan memperbaiki permasalahannya. Dengan banyak uang datanglah lebih banyak kekuatan dan solusi yang lebih cepat.
Perkataan Ibunya tersimpan di dalam kepalanya. Pelan-pelan. Dia harus memperlambat kehidupan pribadinya atau menyaksikannya berputar-putar tak terkendali. Menghilangnya gadis itu adalah pertanda dari kekacauan yang akan segera datang.
Khan memutar kursinya sambil dia menatap keluar ke arah kota. Dia sedang berada di kantornya di pusat kota Astrakhan. Langitnya kelabu, sama sekali tidak seperti biasanya. Cocok dengan suasana hatinya saat ini, pikir Khan. Suasana hati Shanum juga, duganya.
Khan tersenyum miris. Tujuan-tujuannya dapat dijelaskan dengan mudah beberapa bulan yang lalu, tapi sekarang mereka bercampur dengan emosi dan konsekuensi. Memiliki Shanum di sisinya selama tiga bulan ini, mendukungnya dalam segala situasi. Merawatnya saat ia terluka dan menyembuhkannya. Sungguh membuatnya ketagihan.
Sahabat-sahabatnya, dan orang-orang di mansion Khan memuja wanita itu. Mereka tidak segan-segan menguburkannya kalau dia melukai Shanum. Bahkan ibunya pun berada di pihak gadis itu. Eej tidak mau berbicara padanya saat tahu ia sudah menyakitinya.
Sebuah permohonan, ungkapan pesan lewat aplikasi ponsel, bunga-bunga... hal-hal ini tidak akan membuat hubungannya kembali erat. Dia menginginkan hubungannya kembali. Diperhatikannya kantornya yang tak berwarna dan memikirkan mansion yang menampung kehidupan kosong dan sepi yang sama. Dia menginginkan lebih.
Dan dia menginginkan bersama Shashanya. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. Sebuah rencana yang berarti memperlambat rencana-rencana para tetua dan bangsawan itu. Namun dia harus segera menemukan Shanum. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Khan meraih cangkir kopinya dan menyesapnya.
Lalu ponsel di dalam saku jasnya berdengung. Dia berpikir untuk mengabaikannya sebelum mengeluarkannya dari saku untuk mengecek penelponnya. Dilihatnya nama Dario yang muncul di layar. Harapannya pupus, ia masih berharap nama gadis itu sebagai penelpon.
"Ya Dario," Khan menjawab dengan suara dingin dan kakunya yang biasa. Kebisuan menjumpai telinganya. "Bicaralah Dario, jangan menguji batas kesabaranku." Dario berdeham sebentar. "Maaf, Sir. Gadis itu dan para sahabatnya sudah kembali ke negaranya. Dia menggunakan pesawat pribadi milik Sergei."
Perutnya meluruh. Dan cangkir di genggaman Khan hancur berkeping-keping. Darah mengalir di jemarinya bercampur dengan air kopi. "Sir, apakah kau masih mendengarkanku?" tanya Dario.
"Ya," katanya di antara kertakan giginya. "Aku menunggu perintahmu selanjutnya, Sir." Khan tidak dapat berpikir saat ini. Otaknya terasa buntu. Mendengar gadis itu kembali ke negaranya telah membuat napasnya sesak. "Tidak ada perintah lebih lanjut Dario."
"Kau yakin, mengapa kau tidak mengejar gadis itu?" tanya Dario. "Aku akan menghubungimu lagi nanti, Dario." Sambungan terputus secara sepihak. Khan menatap dinding di hadapannya dengan pandangan kosong. Ponselnya terlepas begitu saja dari genggamannya. Dan dia tidak mempedulikannya.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu juga diabaikannya. "Kau ada rapat sebentar lagi..." Taban mematung di depan pintu. "Apa yang terjadi?" tanyanya. Khan tidak menjawab, wajahnya dingin dan kaku. "Oh tidak. Kau pasti sudah dihubungi Dario."
Taban lalu maju ke meja Khan dan menekan sejumlah angka di tombol telepon di sana. "Tolong panggil cleaning service ke ruangan Komisaris." Taban langsung menutup telepon dan mencari kotak obat di dalam toilet. Dia menemukan perlengkapan pengobatan darurat, kemudian menghampirinya kembali.
"Boleh aku obati tanganmu, Sir." Khan tidak bergeming. Taban menghembuskan napasnya. Ia lalu menarik tangan Khan. Dia mulai membersihkan tangan tersebut dengan alkohol. Khan mendesis merasakan perih. "Jika kau menginginkan gadis itu sebaiknya kau kejar dia ke negaranya."
"Aku tidak bisa." Taban menghentikan gerakannya di luka Khan. "Apa maksudmu dengan tidak bisa?" Taban menyipitkan matanya. Terjadi jeda, pria itu tidak langsung menjawab. Dia tampak memikirkan apa yang sebaiknya ia katakan.
"Aku sudah berjanji dengan para tetua dan dewan bangsawan untuk tidak pergi kemana-mana selain di Astrakhan dan Och. Sampai dengan aku memilih para wanita yang menjadi kandidat," desis Khan. Taban melihatnya seolah ia sudah gila, mulutnya menganga, matanya membelalak. "Apa kau serius?"
"Sangat," jawab Khan datar. Dan terlebih lagi, dia juga hanya di beri waktu enam bulan untuk memilih. Khan tidak mau memilih yang lain. Ia sangat menyukai gadis itu, sialan, siapa yang ia bohongi? Ia bahkan memuja Shanum.
Ini kali pertama Khan memuja seseorang, sungguh-sungguh memujanya, dan perasaan ini tak terduga juga tak terencana. Sungguh, Khan tak yakin apa yang harus ia lakukan, terutama karena ini lebih dari sekadar hubungan singkat melintasi samudra. Shanum bukan sekadar gadis negara lain yang ia sukai dengan instan dan semakin disukainya karena kekuatan sihir luar biasanya.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Taban menatap Khan dengan ekspresi serius. "Apa kau akan melupakannya dan memilih gadis lain?" tanyanya lagi. "Aku akan mengabaikan pertanyaanmu itu," kata Khan, tampak mendidih. "Tapi sungguh, Taban, jika aku bisa menolaknya sudah kulakukan dari kemarin-kemarin."
Wajah Taban mengeras, dia melihat keluar jendela, menggerutukan sesuatu yang sedikit terdengar seperti sekumpulan pria sialan. "Well, terserah padamu kalau begitu. Jika kau tetap mengikuti kemauan para pria kolot itu," kata Taban sambil mengendikkan bahunya. "Dan aku harap kau dapat segera keluar dari segala kekacauan ini," tambahnya.
Acara jamuan makan malam yang mendadak itu dimulai saat Khan kembali ke mansion. Sebenarnya, Khan merasa tidak nyaman dengan gangguan itu. Namun melihat wajah serius ibunya, dia jadi merasa penasaran.
Khan duduk di antara ibunya dan Turgen, dan menatap orang-orang di meja. Turgen datang bersama Otgon dan Zod. Mereka bertiga para tetua yang bisa dibilang lebih sering terlihat bersama dibandingkan para tetua yang lainnya.
"Aku terkejut kalian bisa juga keluar dari kota Och, Turgen." Khan mendorong makanan di sekitar piringnya, jelas tidak tertarik untuk makan. "Kurasa kita hanya menghabiskan waktu dua hari bersamamu sejak pertemuan itu," kata Turgen.
Pandangan Khan melayang sebentar ke ibunya dan melihat ekspresi tegang di raut wajahnya. "Well, jadi apa yang kulewatkan?" tanyanya. "Mereka ingin kau memberikan tiga nama di minggu ini. Agar segera dapat mengecek pantas tidaknya ketiganya mengikuti kompetisi itu," jelas Eej dengan suara kaku.
Khan meletakkan tangannya di pangkuan. Wajahnya mengeras, matanya menatap tajam. "Bukankah aku diberi waktu selama enam bulan? Mengapa sekarang aku sudah harus menyerahkan daftar nama?" Khan menatap kesal pada para tetua itu.
Turgen memberikan kode pada Otgon saat pria itu terlihat ingin membuka mulutnya untuk menjawab. "Dewan bangsawan yang meminta hal itu. Mereka ingin melihat keseriusanmu dalam masalah ini." Otgon tampak meringis melihat pandangan dingin dan kaku Khan. Udara di ruangan itu mendadak terasa panas.
__ADS_1
"Apa mereka sudah kehilangan akal? Kau kira memilih tiga wanita itu perkara mudah. Aku menolak!" geramnya. Membuat kesepakatan dengan iblis mungkin lebih tidak berisiko ketimbang dengan mereka. Khan semakin geram melihat kearoganan mereka.
"Suka atau tidak, Yang Agung. Dewan bangsawan dihormati dan mungkin disegani rakyat. Seperti yang kau ketahui, mereka mungkin duduk pada sisi yang berlawanan mengenai cara mengatur dan menjalankan klan, mereka masih mengikuti pola lama yang diwariskan secara turun-temurun." Matanya menjelajahi meja sambil berbicara.
"Tapi kalian semua punya satu ikatan yang sama, yaitu untuk menjaga keutuhan dan kedamaian klan kita. Apa yang kau lakukan akan mencerminkan dewan dan sebaliknya. Akan lebih baik kalau kalian tetap sejalan. Jika terjadi sedikit gesekan, kita dapat mencari jalan tengahnya," lanjut Turgen.
Dewan bangsawan memang kolot, dan berbahaya. Pemikiran harus sejalan dengan mereka memilin perut Khan seperti asam. "Apa yang kau pikirkan?" tanya ibunya pelan. Pria itu menatap ibunya dengan pandangan ragu. "Aku tidak yakin dengan perihal pemilihan jodoh ini." Dia menggeleng.
"Apa keadaan ini bisa mempersulit situasi kita?" tanya Eej pada Khan. "Mungkin tidak dalam waktu singkat." Tetapi mereka itu selalu berhasil mendapatkan keinginannya. "Ya, aku ingat. Pada masa ayahmu memimpin pun, mereka selalu ingin ikut campur," sahut ibunya.
Khan menampilkan senyum yang tidak dirasakannya. Kepalanya semakin pusing mencari solusi cepat untuk membungkam permintaan mereka. Tapi tidak ada sesuatu pun yang terlintas di pikirannya. Apa yang harus dia lakukan?
"Yah... baiklah." Sang ibu meremas tangan Khan dan berbalik pada Turgen. "Aku ada usul untuk jalan tengahnya. Kami akan memberitahukan nama-nama calon yang diinginkan segera. Berapa banyak jumlah yang diminta?"
"Dibutuhkan tujuh kandidat," jawab Turgen. "Oke, kami akan berikan nama-nama itu minggu depan, ketujuhnya sekaligus." Khan mulai mendebat, tetapi ibunya memotongnya. "Percaya padaku," bisiknya. Pria itu menghembuskan napasnya. "Kalian dengar yang dikatakan Ibuku," ujar Khan akhirnya.
"Bagus." Ketiga tetua itu tampak tersenyum lega. "Tapi... aku minta waktu satu tahun lagi baru kompetisi itu dilakukan." Otgon mengerutkan keningnya. "Mengapa selama itu, Your Highness?" tanyanya.
"Tentu saja kami perlu waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Karena aku yang akan mengadakan dan mengatur kompetisi itu. Kalian dan dewan bangsawan tidak berhak ikut campur. Aku tidak akan membiarkan kalian mengacaukan keluargaku seperti beberapa abad yang lalu. Sudah cukup suamiku yang menjadi korban. Apa kalian mengerti?" Tatapan mata wanita itu sangat tajam. Menghunjam ketiga pria yang terlihat gelisah duduk di bangku mereka.
"Baiklah, kami akan membicarakan kembali hal ini dengan dewan bangsawan." Turgen memecah kebekuan di ruangan itu. Ia berdiri dari duduknya lalu menganggukkan kepalanya tanda hormat.
"Kami pamit, Yang Agung... Your Highness." Otgon dan Zod mengikuti gerakan Turgen. "Terima kasih atas jamuannya," sambung Zod. Khan dan ibunya menganggukkan kepalanya. Ketiga pria itu menuju pintu teras ruang makan, dan membuka portal di sana. Khan menatap kepergian mereka dengan pandangan muram.
Perlahan Khan menoleh ke arah ibunya. "Apa rencanamu sebenarnya, Eej?" Wanita itu tersenyum lembut. "Aku hanya mencoba membantu anakku yang sedang galau." Khan menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu.
"Apakah sangat terlihat, Eej," tanyanya. "Aku Ibumu, Sayang, tidak mungkin aku melewatkannya." Khan mengambil tangan ibunya lalu menggenggamnya erat. "Katakan padaku Eej, bagaimana caraku agar dia memaafkanku."
Wanita itu mengusap pipi Khan dengan lembut. "Berikan dia waktu, Nak. Tapi jangan lepaskan pandanganmu. Kau harus tetap memperhatikannya, meski dari jauh. Sementara sisanya nanti Ibu yang akan mengaturnya."
__ADS_1
"Tapi berapa lama, Bu?" tanyanya lagi. "Kita punya waktu satu tahun. Dan Ibu akan memastikan, mereka harus setuju dengan keinginanku." Mata sang ibu berkilat tajam. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh perhitungan. Khan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli. "Aku yakin mereka akan bertekuk lutut di hadapanmu, Ibu."