
Dataran berumput luas yang membentang hingga ke pegunungan batu. Satu mil di kaki bawah gunung berbatu, di sanalah Avraam menyimpan tambahan pasukannya.
Pasukannya mengombak, kerumunan besar yang gelap dan membentang sampai ke horizon di bagian Timur. Sebagian pasukannya sudah berada di luar gunung batu di dekat padang ilusi.
Shanum terdiam bersama Khan di atas bukit kecil lebar yang menghadap ke pemandangan itu. Chinua, Sergei, Dario, dan Sarnai berada dekat di belakang mereka.
Shanum tidak mengira, Sarnai masih berada di tempat ini. Setelah mendapatkan ultimatum tegas Khan semalam, seharusnya wanita itu merasa malu dan segera meninggalkan peperangan ini.
Tapi ternyata perasaan mendamba wanita itu terhadap Khan tidak boleh dipandang sebelah mata. Shanum merasa ia tidak boleh meremehkan wanita itu. Meski sekarang Khan bersikap tidak peduli, ia tetap harus waspada. Bukan ia tidak percaya dengan suaminya, ia hanya berjaga-jaga akan munculnya kemungkinan buruk. Sebab seorang wanita yang terobsesi dapat melakukan tindakan apapun, dan itu sangat berbahaya.
Pada barisan depan jauh di sana, Sofia, memberi perintah untuk berhenti. Semua pasukan mematuhinya, bergeser ke posisi yang sudah mereka atur. Tatapan Zuunaa yang ikut bersama Sofia juga tampak dingin memperhatikan sekelilingnya.
Namun pasukan musuh yang mereka hadapi membuat mereka menunggu. Dengan gestur siap. Begitu banyak yang harus diperhitungkan, karena mereka kalah jumlah banyak sekali.
Shanum teringat tadi pagi saat ini berpapasan dengan Sofia. Wanita itu langsung memeluknya dengan erat, seolah mereka adalah sahabat lama yang baru saja bertemu kembali. Sofia memperkenalkannya kepada Zuunaa, seorang putri dari pemimpin klan mereka. Zuunaa bersikap sangat sopan, ia menyebutnya Queen seraya tersenyum tipis.
Wanita itu sangat cantik. Kulit putihnya yang mulus bak porselen, dengan sepasang mata sipit berwarna coklat karamel yang menakjubkan serta hidung mungil di tengah wajah yang indah bagaikan boneka Tiongkok. Namun keanggunan itulah yang paling menarik perhatian. Shanum melihatnya bagaikan sosok putri raja dari buku dongeng yang pernah dibacanya.
Setelah itu Sofia mulai berceloteh tentang perjuangan mereka menuju tempat itu. Keikutsertaan mereka memang tanpa persetujuan dari pemimpin klan. Sofia dan Zuunaa nekat menentang perintah pemimpin klan mereka.
"Kami ke sini murni karena merasa terpanggil untuk membantu. Walau bagaimanapun Khan Adrian juga sudah banyak membantu kami. Pihak musuh yang akan diperanginya ini sudah menebarkan teror di seluruh Klan. Dan peran Khan Adrian untuk menyelidiki serta menumpas musuh itu tak bisa dianggap sebelah mata," ucap Sofia menjelaskan kepada Shanum.
"Ya, Khan sudah banyak membantu Klan kami. Meski dahulu kami memiliki kesalahan, namun dengan hati yang besar dia memaafkan kami," timpal Zuunaa.
Wanita itu menatap ke arah Shanum dengan pandangan lekat. "Aku yakin, Khan pasti sudah bercerita tentang masa laluku dengannya. Dan kau harus tahu, bahwa aku sangat menyesali kebodohan yang sudah kulakukan saat itu."
Shanum tertegun.
"Seharusnya aku tidak mengikuti kecemburuanku yang tak terkendali. Aku sangat mencintainya. Khan Adrian adalah pria yang hangat dan ramah. Dia memperlakukanku seperti itu. Meski aku juga menyadari bahwa perasaanku itu tidak berbalas. Dia hanya bersikap baik, karena aku adalah sahabatnya sejak kecil."
Zuunaa mengalihkan pandangan, dan menatap ke suatu titik di kejauhan. "Orang tuaku juga ikut andil, mereka mendorongku untuk mendapatkan pria itu dengan cara apa pun. Akhirnya melalui aku, pihak-pihak yang memiliki ambisi menghancurkan Klan Altan dengan cepat bergerak. Aku yang secara tak sadar dimanfaatkan oleh mereka untuk masuk ke dalam lingkup klan yang seharusnya tertutup, hanya bisa syok saat melihat kenyataan yang terjadi di depan mataku. Dan... Ayah Khan berhasil dibunuh oleh pihak-pihak itu."
Zuunaa menolehkan kepalanya kembali. Matanya memicing tajam. "Kau harus berhati-hati terhadap Sarnai. Dia memang wanita yang dicintai Khan di masa lalu. Tapi aku merasa, wanita itu berbeda dengan Sarnai yang kukenal dulu. Aku sangat tahu, karena aku dulu sering memata-matai dan menyakiti wanita itu."
Shanum mengangkat alis, mendengar lompatan objek pembicaraan wanita itu, tapi ia tidak berkomentar.
Kemudian Zuunaa tertawa lirih. "Aku memang menyedihkan saat itu. Mengemis cinta dari pria yang sudah jelas mencintai wanita lain."
"Apakah sekarang kau masih mencintai suamiku?" tanya Shanum dengan tiba-tiba dengan pandangan menyelidik.
Zuunaa terdiam, lalu ia tersenyum tipis. "Tidak. Kini aku sudah mencintai orang lain. Dan aku bersyukur, menerima cintanya itu," jawabnya dengan lugas.
"Kalau begitu selamat datang di tempat ini Lady Zuunaa. Tanganku terbuka sangat lebar untuk kalian sebagai teman." Shanum tersenyum sembari menyodorkan lengannya untuk dijabat.
Zuunaa maju selangkah, meraih tangan Shanum dan menjabatnya dengan erat. "Panggil saja aku Zuunaa atau Gerel. Keduanya adalah nama panggilanku. Kita teman sekarang."
"Baiklah, Zuunaa." Shanum melepas jabat tangannya lalu mata Shanum menyorot tajam. "Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kebetulan aku baru mengingatnya. Apakah kau pernah datang ke rumahku dan bertemu dengan orang tuaku?"
Hening.
"Ya, kami pernah datang ke sana." Seorang pria menjawab pertanyaan Shanum. Dia muncul dari arah belakang Shanum, melangkah perlahan mendekati Zuunaa. Lalu pria itu membungkukkan setengah badan sembari berkata, "Salam, Queen Shanum. Perkenalkan, namaku Oriod. Aku adalah kekasih wanita cantik yang berada di sampingku ini."
Sofia terkekeh geli sedangkan Zuunaa mendengus keras.
Shanum masih terkesima, dia menatap keseluruhan pria itu. Karena tidak ada yang umum tentang wajah kekasih Zuunaa itu. Wajahnya, satu di antara sejuta, tak ada keraguan soal itu. Wajah yang tak bisa dilupakan, sama dengan wajah para pria pemimpin klan. Para manusia alfa itu memiliki kadar ketampanan yang berbeda namun menyesakkan dada para wanita yang melihatnya.
Oriod memiliki tulang pipi sangat tinggi, rambut berkilau bagaikan batu hitam Galena yang terkena sinar matahari. Kulit sewarna zaitun di wajahnya yang maskulin dan sehat, menggambarkan secara nyata bahwa pria itu lebih sering menghabiskan waktu di luar ruangan daripada di balik meja. Ada kesan angkuh di rahangnya yang tegas, menandakan dia juga seorang pria yang terbiasa memberikan perintah.
"Kami datang ke rumahmu karena kekasih cantikku ini mendapatkan informasi kalau keluargamu dalam bahaya. Kami memang sudah mengamati tentang dirimu dan Khan Adrian sejak awal." Pria itu memberikan isyarat dengan tangannya saat melihat ekspresi tersinggung tampak di wajah Shanum.
"Sebaiknya aku saja yang menjelaskan, Sayang. Kau malah membuat situasinya menjadi kacau," potong Zuunaa.
"Tolong jangan salah paham, Shanum. Setelah kami bebas dari hukuman isolasi yang diperintahkan Khan. Ayah dan Ibuku mulai mencari-cari kelemahan Khan. Mereka berniat membalas dendam dan masih tidak terima dihukum olehnya. Sudah berkali-kali aku memohon pada mereka untuk melupakan saja semua masa lalu itu. Bukan karena aku seorang pengecut. Tapi aku tahu, memelihara dendam tidak akan menyelesaikan masalah, namun akan memunculkan masalah baru." Zuunaa melirik kepada Oriod dan pria itu mengangguk sembari menarik pinggang wanita itu merapat kepadanya.
"Kami berusaha melindungimu dari perintah penculikan dan pembunuhan dari orang tuaku. Meski akhirnya kami gagal melakukannya, karena rumahmu tetap terbakar. Seperti yang kau ketahui, Sofia yang dimintanya untuk melakukan tindakan itu. Dan salahku, tidak pernah mengatakan kepada Sofia tentang fakta yang sebenarnya. Dia sudah termakan oleh kebohongan yang dilancarkan oleh Ayah dan Ibuku. Tapi tampaknya dia akhirnya mengetahui kebenarannya setelah bertemu denganmu dan Khan."
__ADS_1
Sofia memperlihatkan ringisan di wajahnya. Wanita itu tampak menyesali kebodohannya di masa lalu itu.
Dan Shanum mendesah lega, dia akhirnya mengetahui kenyataan yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam benaknya.
"Jadi, setelah sekarang kalian melawan perintah Yang Agung Klan kalian untuk membantu kami. Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Shanum dengan nada suara ramah. Dia menerima mereka dengan baik tanpa ada prasangka kali ini.
"Kami memiliki agenda selanjutnya yang akan dijalankan. Namun untuk sementara kami akan tinggal di wilayah Klan Altan, dalam perlindungan Khan Adrian. Dan tentunya dengan seizinmu juga, Shanum," jawab Zuunaa.
Shanum tersenyum lebar. "Tentu saja aku mengizinkannya. Kalian teman-temanku juga sekarang. Jika suamiku, mengizinkannya tidak ada alasan bagiku untuk menolak."
"Tapi, pertama-tama yang harus kita pikirkan saat ini adalah untuk memenangkan perang ini," sahut Oriod. Ketiga wanita yang berada di sana menganggukkan kepala mereka menandakan persetujuan.
Kemudian ketiga orang dari Klan Bataar itu pamit undur diri untuk mempersiapkan pasukan. Khan sudah menceritakan pada Shanum, pasukan yang ikut dari klan itu adalah seluruh pasukan elit di bawah kepemimpinan sang Jenderal sendiri, yaitu Sofia. Sepertinya mereka lebih mematuhi Sofia dibandingkan Yang Agung Klan mereka sendiri.
Suara kelebat pakaian membuat Shanum menoleh seketika. Lamunannya tentang peristiwa tadi pagi mendadak buyar, saat dia menemukan Jullian dan Abdan tiba-tiba muncul di samping Khan dengan berteleportasi, wajah mereka tampak serius dan dingin.
"Pria yang bernama Avraam itu memenuhi setiap inci dataran tinggi dan mengambil semua keuntungan yang bisa ia temukan. Kalau kita mau memukul mundur mereka, kita harus mengejar mereka ke bukit-bukit itu. Tapi aku yakin sekali dia sudah memperhitungkannya. Mungkin dia juga sudah menyiapkan berbagai macam jebakan," ucap Abdan.
Khan bertanya, "Menurutmu, kita punya waktu berapa lama?"
Jullian mengatup rahangnya, memandang Abdan. Jullian mengawasi pasukan dari tempat mereka di ketinggian rendah, dia menggelengkan kepala.
"Ada tiga Yang Agung bersama kita, dia hanya sendirian. Kita bisa memasang lapisan pelindung tambahan untuk sementara waktu. Tapi mungkin kita tidak ingin menghabiskan semua tenaga seperti itu. Dia juga akan memasang pelindungnya. Selama ini kita tidak mengetahui sejauh mana kekuatannya yang sesungguhnya. Tapi sekarang aku yakin sekali dia pasti akan melakukannya."
"Avraam pasti akan menggunakan mantra sihir hitam," seloroh Shanum, mengingat bahwa dia tahu mantra sihir hitam Avraam sangatlah kuat.
"Pastikan Sofia, Zuunaa dan Oriod waspada," usul Chinua. "Ya, karena mereka berada di baris pertahanan pertama," sambung Sergei.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," Khan berkata kepada Jullian.
Jullian mengamati pasukan Avraam yang tak berujung, lalu pasukan mereka sendiri. "Andaikata ini berjalan buruk. Dinding pelindung hancur, kacau balau, dan dia menggunakan sihir hitam... maka waktu kita hanya beberapa jam."
Shanum memejamkan mata. Seharusnya selama waktu itu, Shanum dapat menyeberangi medan pertempuran di hadapan mereka, mencari celah dengan pedang ratu yang berada di genggamannya, dan menghentikan pria itu.
Chinua menundukkan kepala dan berkata kepada Dario, "Kita butuh orang untuk menyusup kembali ke pertahanan mereka."
Mereka semua menatap Shanum. Dan wanita itu mengangguk tegas, melipat tangannya. Shanum merasa dia harus yakin pada dirinya sendiri, keraguan tidak boleh lagi menguasai benaknya.
"Aku saja yang menyusup ke sana, Adri."
Khan menggeleng dengan ekspresi dingin. "Kita cari cara lain yang tidak beresiko mengorbankan istriku." Shanum mendengus kesal mendengar ucapan pria itu. Dia juga ingin dilibatkan dalam peperangan ini, bukan hanya menjadi pihak yang pasrah diperebutkan saja. Shanum merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu.
Chinua menepuk bahu Khan. "Baiklah, setelah kau memberi perintah, aku dan Dario akan membawa pasukan ke arah Utara. Setelah itu, kami menunggu sinyal darimu untuk menyerang. Tidak ada cara lain."
Khan mengangguk dengan wajah datar, perhatiannya masih tertuju pada pasukan yang melimpah ruah itu.
Chinua mundur selangkah untuk menjauh, lalu melihat ke Sarnai yang berada di belakang. Wajah Sarnai sekeras granit. Chinua membuka mulut, tapi sepertinya memutuskan untuk menyimpan apa pun yang ingin dikatakannya. Hanya ekspresi tidak suka dari wajahnya yang tidak bisa ditutupi oleh wanita itu.
Sarnai juga tidak mengatakan apa-apa, meski melihat wajah jijik yang diarahkan Chinua. Dario menarik tangan Chinua, dan mereka meluncur dengan cepat berlari dari tempat itu. Akan tetapi, mata Sarnai mengikuti ke mana Chinua pergi sampai ia hanya berupa titik gelap lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Aku punya cara lain, aku bisa memperlihatkan diriku langsung di hadapan Avraam. Tidak perlu mengendap-endap, Adri. Kau masih bisa memantauku. Pria itu pastinya akan terfokus padaku dan kau bisa meluncurkan serangan di saat ia lengah," kata Shanum kepada Khan.
"Tidak," jawab Khan tegas, tidak bisa ditawar.
Shanum tampak mau mendebat, tapi Sergei memberi peringatan dengan menggelengkan kepala, dan Shanum pun mundur, dengan tatapan geram.
"Kalau kau berbuat seperti itu, sama saja dengan menyerahkan diri, Shanum. Untuk apa ada perang, kalau ujung-ujungnya Khan tak berkutik, karena dirimu kembali dikuasai oleh musuh. Kau sangat berharga untuknya, dan pihak musuh sangat mengetahui itu," bisik Sergei mencoba membuka pikiran Shanum.
Shanum mendesah pasrah, lalu menganggukkan kepala, tanda ia mengerti tanpa banyak perdebatan lebih lanjut.
Dalam hening, mereka menyaksikan pasukan mereka membentuk barisan kokoh dan rapi. Menyaksikan tentara-tentara Klan Batbayar berangkat mengikuti komando apa pun yang diberikan Khan tanpa suara kepada Chinua.
Pakaian perang berwarna biru laut terlihat bekerlip, pelindung wajah dan tubuh terpasang, baik yang terbuat dari sihir maupun tameng besi. Tanah berguncang di setiap langkah menuju barisan pembatas.
Khan berkata dalam ikatan mereka, Jika pria itu dapat melacak dirimu melalui pedang ratu itu, dia sudah pasti akan langsung tahu saat kau menyelinap ke medan pertempuran. Jadi Shanum harus tetap berada di sisi Khan sesuai rencana awal mereka.
__ADS_1
Shanum tahu apa maksud suaminya itu. Jangan pernah mencoba jauh dari dirinya dan melepaskan mantra menyamar yang sudah pria itu ajarkan.
Khan diam sejenak. "Apa kau takut, Sayang?"
"Kau sendiri?" bisik Shanum.
Mata coklat keemasannya menangkap mata Shanum. Dan dia melihat keresahan terlukis di sana. "Ya," jawab pria itu sembari menggenggam erat jemarinya.
"Bukan mengkhawatirkan diriku. Melainkan dirimu," sambung Khan.
Shanum mendesah. "Kali ini aku tidak akan menghilang lagi dari sisimu, Adri. Aku berjanji."
Khan tersenyum, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Sofia berteriak memberikan perintah jauh di sana, dan pasukan gabungan mereka berhenti, seperti raksasa yang berhenti bergerak. Klan Batbayar, Klan Bataar, Klan Batzorig, dan Klan Altan, masing-masing pasukan dari para klan itu ditandai jelas dari perbedaan warna dan baju perangnya. Dari penyihir biasa yang berjuang bersama Yang Agung mereka hingga penyihir tingkat tinggi, terlihat ringan sekaligus mematikan.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan pasukan tambahan dari pihak Avraam yang akan datang untuk membantu mereka.
Dan pasukan Avraam yang sudah berada di sana tidak menyerang. Mereka sama saja seperti patung. Posisi diam mereka, Shanum tahu, hanya untuk menggertak mereka.
"Sihir terlebih dahulu," Sergei menjelaskan kepada Shanum. "Kedua pihak akan berusaha meruntuhkan pelindung yang menutupi pasukan.
Seakan menjawab Sergei, mereka melakukan itu. Sesuatu terasa berdesis di udara, menggeliat sebagai respons dari para Yang Agung yang tengah melepas sihir mereka sekuat tenaga, semua kecuali Khan.
Khan menghemat kekuatannya untuk digunakan setelah pelindung runtuh. Shanum yakin sekali Avraam melakukan hal yang sama di seberang dataran itu.
Pelindung kedua pihak hancur. Sebagian tewas karena langsung mendapatkan serangan yang tak terduga. Tidak banyak, tapi ada beberapa.
Sihir lawan sihir, bumi bergetar, rumput di antara pasukan layu, hangus menjadi abu. Dan udara panas memercik di batas langit.
"Aku lupa betapa membosankannya bagian ini, mengeluarkan atraksi sihir hanya untuk pamer kekuatan. Aku lebih menyukai serangan langsung, tapi mematikan," gumam Sergei.
Khan melemparkan tatapan hambar kepadanya. Pria itu berjalan ke tepi area kecil tempat mereka berdiri, seolah merasakan bahwa sebentar lagi kebuntuan akan tiba. Khan akan melayangkan serangan besar yang membinasakan pasukan setelah pelindung pasukan musuh melemah.
Serangan gelombang pasang berkekuatan dahsyat mulai bergemuruh. Tangan Khan mengepal di kedua sisi, memperhatikan pertempuran sesi pertama di hadapannya.
Di sebelah kiri Shanum, kekuatan Sergei menyala, siap melancarkan serangan tepat setelah Khan menyerang.
Shanum mendekat ke samping Khan. Di depan sana, kedua pelindung akhirnya bergetar.
Khan tetap memonitor laju pertempuran di depan mereka. Kekuatannya bergemuruh di bawah mereka, bergelombang bagaikan ombak di lautan.
Sebentar lagi. Beberapa saat lagi. Jantung Shanum menderu, seluruh tubuhnya terasa membeku, bukan hanya karena dinginnya cuaca yang kini pekat menyelimuti medan pertempuran. Dia merasakan sesuatu memaksa keluar dari dirinya. Dan Shanum mencoba menahannya mati-matian.
Perlahan, begitu pelan, mata Khan beralih ke mata Shanum. Terdapat serpihan kekuatan yang ada di sana, meredupkan suasana sekitarnya.
Shanum tersenyum kepada Khan. Mencoba menyamarkan keadaannya, karena pria itu pasti merasakan kegelisahannya melalui ikatan mereka. Namun, Khan kembali fokus kepada peperangan, tampaknya Shanum berhasil menutupi gejolak yang sedang berlangsung itu.
Akhirnya pelindung Avraam runtuh. Di depan barisan... cahaya keemasan muncul, memancar dan meledak dengan lembut.
Khan mengeluarkan suitan bernada tinggi. Pasukan Chinua bergerak. Suitan tadi adalah sinyal dari Khan. Mereka meluncur dengan cepat bagaikan ombak, tepat pada saat satu legiun bangkit dari pasukan Avraam dan penuh dengan makhluk-makhluk seperti mayat hidup, pasukan yang sudah mati, kembali bangkit. Kekuatan hitam Avraam menunjukkan wujudnya.
Aroma sihir semakin kental terasa, menyala, memasang dan mengunci pasukan musuh, dan prajurit-prajurit Sofia menghujani panah dengan akurasi yang mematikan.
Akan tetapi legiun mayat hidup itu sudah sangat siap. Dan saat mereka menanggapi dengan hujan serangan mereka sendiri, gelombang suara yang memekakkan telinga muncul dari mulut-mulut mereka. Suara itu memancarkan frekuensi tinggi yang membuat panah-panah itu hancur menjadi abu.
Suara itu tidak hanya menghancurkan panah, tubuh manusia juga menjadi hancur dalam radius terdekat dari mayat hidup itu. Tanpa kesiapan sihir perlindungan, maka pasukan Khan akan habis dalam sekejap.
Sebagian pasukan sudah tumbang dengan cepat , yang lainnya mengucap mantra perlindungan. Kemudian pasukan Sergei mulai menyerang. Mereka bergerak dengan cepat.
Dan ketika dua pihak itu saling berbondong-bondong menyerbu, Khan melancarkan serangan lagi, diikuti oleh gelombang kekuatan Shanum di samping pria itu. Mereka membelah dan mendesak barisan Avraam menjadi kelompok-kelompok yang tidak seimbang.
Dan sementara itu, suaminya... yang tampak oleh Shanum hanyalah pemandangan kabur antara gerakan kibasan pedang di tangan kanan dan sihir di tangan kiri, bergerak dengan cepat memimpin di depan.
Shanum melihat pasukan mayat hidup itu kembali berdiri dengan tegak. Serangan mereka tidak mempan terhadap pasukan mayat hidup itu. Dan pasukan mereka sudah berkurang semakin banyak. Shanum khawatir tidak sampai setengah hari mereka semua akan kalah oleh pasukan musuh.
__ADS_1