
Khan berada di kota Och. Kota para penyihir dari Klan Altan. Dia dipanggil kembali ke Och oleh salah satu tetua klan, Turgen ingin bertemu dengannya. Pria itulah yang membuatnya harus berpisah dengan Shanum.
Sambil duduk di samping Turgen, di atas mimbar aula besar marmer dan emas bangunan tempat para tetua berkumpul, Khan mengerutkan keningnya dengan banjir tatapan mata, rasa gugup, dan keingintahuan para tetua kepadanya. Para tetua itu duduk melingkar di dalam ruangan. Ada lima orang tetua di klan ini.
Sambil menyipitkan mata, Khan mengamati Turgen dan yang lainnya. Tubuhnya menegang, perasaannya gelisah. Ada sesuatu yang salah pada para tetua ini. Seingatnya sudah ratusan tahun dia tidak pernah membuat masalah dengan mereka dan begitu juga sebaliknya.
Pria yang bernama Otgon berdiri dari duduknya, mengangkat tangannya memberi salam, dan membuka pertemuan. Khan memang sedang berada dalam suatu sidang dengan mereka. Pandangan Khan menyapu Otgon dan Ganzo yang duduk di samping Otgon. Otgon tetap meneruskan informasinya soal wilayah Klan. Namun Ganzo tampak berbeda, pria itu menunduk kecil, mengerling dari bawah alisnya. Tidak ada sedikit pun senyum di wajahnya.
Dalam bahasa klan, penampakan itu, kepala merunduk, mata tak berkedip menyorot tajam adalah sebuah tantangan. Khan membalas sikap itu tanpa sadar, darahnya seakan menyambut Ganzo. Ini seperti naluri sederhana yang tak lekang waktu, ketika seekor macan berhadapan dengan macan besar lain yang memasuki wilayah yang sama. Bukan masalah pribadi, hanya untuk menegaskan kejantanan dan kekuasaannya, batin pria itu sambil menyeringai dalam hati.
"Yang Agung." Samar-samar Khan mendengar dirinya disebut. Khan mengembalikan konsentrasinya pada pria itu. Semua tetua memperhatikannya. "Ya."
"Selamat datang, Yang Agung," kata Otgon. "Kuharap pemanggilanku ini untuk hal yang benar-benar penting. Karena kalian sudah mengganggu jadwalku yang sangat sibuk," ucap Khan tanpa basa-basi. Turgen menggelengkan kepala, mulutnya membentuk senyuman masam. "Kau tidak sabaran seperti biasanya, Yang Agung. Aku yakin kau akan bisa mengendalikan gejolak yang terjadi akhir-akhir ini, yang membuatmu sangat sibuk itu."
Otgon tersenyum samar lalu melanjutkan laporannya setelah Turgen menyelesaikan ucapannya pada Khan. "Aku ingin menyampaikan bahwa kami menerima desakan dari para bangsawan klan tentang pendampingmu. Dan kami sudah setuju untuk membuat sebuah kompetisi." Otgon berhenti sejenak sambil memperlihatkan senyumnya.
"Para calonnya tentunya harus sesuai dengan seleramu. Siapa pun dari mereka yang unggul dalam kompetisi dan menjadi pemenangnya, maka wanita itu yang akan menjadi ratumu. Em, jadi sekarang tolong sebutkan tipe wanita seperti apa yang kau inginkan?" Otgon tidak tahu jika ucapan dan pertanyaannya tadi bukannya membuat Khan senang.
Mata Khan kosong, wajahnya kosong. Namun kemudian...
Para tetua berteriak, insting mereka mengambil alih ketika kekuatan Khan meledak ke seluruh ruangan.
Jendela-jendela bergetar.
Perabot hancur beterbangan.
Dalam satu napas, ruang pertemuan itu masih utuh.
Tarikan napas berikutnya, ruangan itu hancur menyerpih, serapuh cangkang tipis.
Semuanya memasang tameng dengan kekuatannya masing-masing. Namun kekuatan Khan sungguh dahsyat, beberapa dari para tetua itu tetap menerima dampaknya. Ada yang mengeluarkan darah dari hidungnya, dan mulutnya. Yang paling ringan merasakan kupingnya berdenging kencang dan pandangan mata berkunang-kunang.
Khan terengah, napasnya yang tersengal nyaris seperti habis berlari maraton.
Seluruh tetua gemetar, gemetar hebat sekali sampai-sampai ada yang berpikir tulang-tulangnya akan menyerpih seperti perabotan tadi. Tapi Turgen segera tanggap, dia memaksakan diri untuk menahan tangan Khan dan menatapnya.
Turgen terperanjat. Dia melihat ada amarah, keputusasaan, luka, dan ketakutan di wajah itu. Semuanya tumpang tindih menguasai seluruh raga Khan. Di sekitar Turgen tidak ada serpihan yang berserakan, karena dia memang lebih kuat dibandingkan para tetua yang lain. Turgen mampu membuat pelindung yang kuat.
Khan segera menepis tangan Turgen, sesaat setelah dia mampu menguasai diri. Dia melangkah mundur. Namun Turgen tetap mantap melangkah ke arah Khan, menembus pelindung yang tak terlihat itu. Turgen mundur ketika dia membentur sesuatu yang padat.
__ADS_1
"Yang Agung," panggilnya. Dia melangkah lagi, dan garis itu menahannya. "Yang Agung, kumohon," bisik Turgen. Khan tidak menyadari bahwa garis itu, perlindungan itu...adalah sihirnya. Perlindungan itu, bukan hanya secara mental, melainkan juga fisik. Khan tertegun, karena dia baru tahu dirinya bisa memunculkan sihir itu.
"Khan," Turgen menggeram untuk yang ketiga kalinya sambil menyebut namanya bukan gelarnya. Turgen mendorong tangannya pada apa yang kelihatannya seperti dinding dan tak terlihat, dari udara yang mengeras. "Kita bisa membicarakan tentang hal ini baik-baik, Khan." Dia masih berusaha menarik perhatian Khan.
Khan menarik napasnya, lalu memejamkan matanya, dan pelindung itu pun terbuka. Wajahnya terlihat dingin saat semua tetua bisa melihatnya. "Aku tidak mau lagi mendengar omong-kosong kalian soal kompetisi pencarian jodoh untukku. Karena aku sudah menemukan jodohku sendiri. Jadi jangan ikut campur," geram Khan.
Pria itu lalu melangkahi serpihan puing-puing menuju pintu keluar ruang pertemuan itu. "Apakah jodohmu itu wanita yang bernama Shanum?" tanya Ganzo dengan suara keras. Khan berhenti melangkah, dia menoleh ke arah pria itu. Khan tampak menyeringai. "Kalau iya memangnya kenapa?"
"Cih, dia tidak cocok bersanding denganmu. Dia terlalu... manusia. Jadi tidak bisa menjadi pendampingmu sebagai ratu Klan Altan." Pandangan menghina terlihat di wajah pria itu. Khan seketika berada tepat di depan wajah Ganzo, dan Otgon berjengit melihatnya. "Tutup mulutmu!" kata Khan, sambil mengepalkan tinjunya untuk menghantam wajah pria itu. Kepalan tangan Khan mendadak di tahan oleh Turgen.
"Sebaiknya kalian semua keluar dari ruangan ini. Kembali ke tempat kalian masing-masing. Aku akan berbicara empat mata dengan Yang Agung." Turgen memberikan isyarat mata kepada semua tetua. Mereka kemudian menundukkan kepala tanda hormat, terkecuali Ganzo. Pria itu hanya melengos lalu keluar dari ruangan tanpa pamit sama sekali. Yang lainnya satu persatu keluar tanpa bisa menutupi wajah keingintahuan mereka.
Turgen menggelengkan kepalanya. "Maafkan pria itu. Dia memang arogan seperti itu sejak dulu." "Seharusnya aku juga sudah menghabisinya sejak lama," geram Khan. "Dan membuat peperangan terkutuk yang tidak akan ada habisnya," sahut Turgen. "Aku tidak peduli meski keluarganya memiliki pasukan tempur yang kuat. Jika dia mengusikku, tentunya aku akan membalas."
Turgen menatap Khan dengan pandangan tajam. "Apakah kau lebih mementingkan dirimu sendiri daripada rakyatmu? Kau tega melihat rakyatmu sengsara karena perang." Khan terdiam. Dia tidak dapat menjawabnya. "Baiklah kita mungkin bisa membicarakan ini di tempatku. Apa kau bersedia? Atau kau mau kita ke kediamanmu," tanya Turgen. Khan tampak memikirkan baik dan buruknya dia pergi ke rumah pria itu. Akhirnya dia mengalah, naluri Khan membimbingnya. Dia mempercayai pria itu. Di antara para tetua, dialah yang paling tidak memihak dan bijaksana. "Oke, kita ke tempatmu."
Atap coklat rumah Turgen terlihat biasa saja. Modelnya, dinding rumah, jendelanya, pintunya juga seperti rumah pada umumnya. Dengan jubah bertudung panjang yang menutupi kepala, dan jari-jarinya--seragam khas para tetua. Turgen memimpin langkah untuk naik ke serambi rumah. Dia berdiri di depan pintu besar rumah itu. Di belakangnya menunggu Khan dengan wajah dingin tak terbacanya seperti biasa.
Pintu terbuka, dan seorang pelayan berwajah bulat dan ramah bernama Thorik tersenyum sopan pada Turgen. Dia mempersilahkan mereka untuk masuk. Bagian dalam rumah itu terlihat sungguh sangat mewah dan elegan. Marmer pucatnya tampak hangat di musim yang paling dingin sekali pun. Kertas pelapis dindingnya juga berbeda-beda untuk tiap ruangan. Tampak senada dengan warna perabotan yang berada di ruangan tersebut.
Turgen mengajak Khan berjalan melewati lorong-lorong rumah itu. Mereka memasuki sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Turgen, menilik terdapatnya meja kerja besar berikut kursi berpunggung lebar yang sangat nyaman untuk digunakan, saat bekerja berjam-jam.
Turgen bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat, sampai kurang dari satu kaki dari karpet dekoratif yang terhampar di antara mereka. Baru ketika Khan membalas tatapannya dia berkata, "Akan kutunjukkan kepadamu."
Khan tahu apa maksudnya, lalu menyiapkan diri, memblokir suara lain yang terdengar di ruangan itu. Seketika, dia berada di ruang depan pikirannya, kantong ingatannya yang dipilih Turgen untuk dia lihat.
Cahaya menyilaukan mengalir ke dalam diri Khan, lembut dan menggema dari dalam pikirannya. Samar-samar Khan mulai melihat tampilan wajah. Kemudian banyak lagi yang muncul, hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
"Katakan bagaimana kalian para tetua melepas tanggung jawab terhadap aturan yang sudah ada selama berabad-abad. Kalian membiarkan Yang Agung tidak memiliki pendamping. Kami tidak bisa menerimanya. Kalian harus bertindak, jika tidak kami yang akan mengambil alih," kata Zadgad salah seorang bangsawan yang berpengaruh di Och.
"*Kami akan mencoba membicarakan dengan Yang Agung. Karena seperti yang kita ketahui bersama terakhir kali kita menjodohkan Yang Agung terjadi pengkhianatan hingga terbunuhnya Ayahnya sendiri. Aku tidak yakin kali ini dia akan menuruti saran kita." Turgen menjelaskan secara bijak kepada Zadgad.
"Jika dia menolak berarti kalian harus memaksanya. Atau dia harus menyerahkan kepemimpinan klan ini kepada sepupunya. Aturan tertulis tentang pernikahan sudah mengatur soal itu." Zadgad mendongakkan dagunya, memandang para tetua dengan gaya angkuhnya*.
Selesai. Khan membuka matanya. Dia merasa sedikit pusing, sihir merasuki pikiran memang menghabiskan energi. "Sebaiknya kau segera minum ramuannya, Khan." Turgen menyodorkan gelas kecil berisi cairan berwarna merah. Ramuan itu dapat mengembalikan energi yang hilang. Khan mengambil gelas tersebut kemudian langsung meneguknya dalam sekali tegukan.
Turgen mengamati wajah Khan. Dia menunggu reaksi dari pria itu. Khan berdeham, wajahnya terlihat semakin dingin. "Tidak akan ada perjodohan." Khan memberi Turgen tatapan datar sambil mengangkat bahu. "Coba saja kalian terus mendesakku. Maka aku akan melawan."
"Betapa arogan." Turgen menggeleng-gelengkan kepalanya. Khan memicingkan matanya. "Apa maksud ucapanmu itu?" desisnya. "Aku bilang kau arogan, Khan. Apa sekarang kau juga menjadi bodoh, tidak bisa mengerti maksudku?" Turgen mulai kehilangan kesabarannya dalam menghadapi Khan.
__ADS_1
"Siapa kau? Mengapa Khan yang kukenal cerdas jadi menyedihkan seperti ini?" tanya Turgen sambil tersenyum menghina. Khan mengumpat, "Sialan." Pria itu menggertakkan giginya tampak geram. "Tidak perlu berteka-teki, Turgen. Cepat katakan!" Khan menatap tajam pada pria itu.
"Jika kau memang sudah memiliki calon, mengapa tidak kau rayu saja gadis itu untuk ikut kompetisi. Tidak ada salahnya dia mencobanya. Toh yang memilih para pesertanya juga dirimu, bukan kami." Turgen tersenyum smirk.
Khan menghembuskan napasnya sambil memijat keningnya. "Tidak semudah itu Turgen," kata Khan. "Mengapa tidak? Dia salah satu keturunan Klan Batbayar. Memiliki sihir yang hebat, dan yang paling penting kau tertarik padanya."
Khan terperangah. Dia mengawasi Turgen cukup lama sampai pria itu tertawa geli melihat wajah terpana Khan. "Bagaimana kau tahu... ?" Turgen masih terkekeh geli sambil memegang perutnya. "Dia sungguh cantik, Yang Agung. Pantas saja kau tergila-gila padanya," goda Turgen.
Wajah Khan memucat. Matanya yang berwarna coklat keemasan bersinar tanda mengerti. "Berengsek, saat tadi kau membuka pikiranmu. Kau juga menyusup ke pikiranku." Khan mengepalkan tangannya. Wajahnya tetap dingin tidak terbaca.
Turgen yang melihat wajah dingin dan kaku Khan, mulai tertawa gugup. Meski pun Turgen tidak takut melawan Khan. Namun mereka bersahabat, tidak ada sahabat yang saling menyakiti. Dan Turgen tidak mau menyakiti pria itu.
"Maafkan aku, Khan. Aku hanya penasaran tentang gadis luar biasa yang sudah bisa mencairkan dinding es di hati seorang Yang Agung Khan Adrian." Wajah Turgen tampak memelas dan merasa bersalah. "Yang membuatku heran, mengapa dia mau padamu?" gumam Turgen.
Khan tertawa kaget. "Sialan kau Turgen. Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana bisa kau meragukan ketampananku." Dia mengamati wajah Turgen dan terbahak lagi. Tawa sungguhan, terbuka dan membuat wajahnya bersinar. Melihat tawa Khan, giliran Turgen yang terpana tidak percaya. Mulutnya menganga. Tidak pernah ada yang melihat Khan tertawa selama berabad-abad.
Turgen masih melongo. "Hei, Turgen..." Khan melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah pria itu. Turgen lalu tersadar, dia berdeham. Pria itu menatap Khan dengan pandangan dalam. "Ada apa, Turgen?" Turgen menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku jadi ingin segera bertemu dengan gadis ini," kata Turgen.
"Untuk apa?" tanya Khan sambil mengerutkan keningnya. "Aku ingin mencium tangannya dan mengucapkan terima kasih padanya. Karena dia sudah mengembalikan sahabatku menjadi dirinya yang sebenarnya," jawab Turgen sambil tersenyum. Khan mendelik. "Oh, jangan coba-coba. Kau berani menyentuh gadis itu, jangan harap masih bisa melihat hari esok."
Turgen bertepuk tangan. "Wow, semakin menarik. Ternyata sekarang kau juga bisa bersikap posesif, Yang Agung." Khan mendengus. "Jangan mengejekku, Turgen. Aku hanya tidak suka ada yang mendekati gadisku."
"Kalau sudah begitu, mengapa kau masih ragu? Bukankah jika dia ikut kompetisi dan berhasil, dia bisa menjadi milikmu, selamanya," kata Turgen. Tangannya gemetar, seolah-olah tengah merasakan pergolakan batin atas permintaan Turgen tersebut. Wajah Khan keruh, dia sedang berpikir keras untuk memilih kata-kata yang bisa diucapkan dan dapat diterima oleh sahabatnya itu.
Khan berkata parau, "Aku tidak bisa mengurungnya atau memaksanya tinggal karena kompetisi ini. Dia berasal dari negara lain, memiliki keluarga di sana yang mencintainya. Aku tidak mau menambah bebannya dengan memilih. Dia sudah memiliki banyak masalah yang belum terpecahkan."
Khan menghembuskan napasnya. Pandangannya menatap kosong. "Dan jika dia harus mengikuti kompetisi ini, bukankah aku menjadi egois. Aku memaksakan kehendakku, meski aku sangat ingin. Aku selalu menginginkan dia ada di sisiku," lanjutnya lagi. Khan mendongak, menatap Turgen.
"Apa kau sudah bertanya padanya? Apa yang dia inginkan?" tanya Turgen. Khan tidak memiliki jawaban. Dia tidak tahu. Karena dia belum menanyakannya pada Shanum. "Dan apa yang sebenarnya kau inginkan dari gadis ini, Khan?" tanya Turgen lagi.
"Jangan sampai kau membuatnya menjadi gadis pajangan yang hanya menempel padamu, sedangkan kau tidak bisa melepaskan hidupmu dari masa lalu."
Kata-kata Turgen sungguh menohok batinnya. Betulkah dia sudah melakukan itu pada Shanum? Benarkah dia masih belum bisa melepaskan masa lalu? Khan merasa dia sudah meninggalkan masa lalunya di belakang, saat dia mulai tertarik pada Shanum.
Khan mendongakkan wajahnya, matanya yang keras dan penuh tekad menatap Turgen. "Kau benar, aku harus bertanya padanya." Turgen tertawa. "Sudah kuduga. Kau tidak tahu apa yang gadis ini inginkan. Jika dia benar-benar memyukaimu, dia pasti akan setuju ikut kompetisi itu. Dan masalah ocehan Ganzo tadi, tidak perlu kau pikirkan. Nanti aku yang mengurusnya."
Khan tersenyum tipis mendengar kata-kata panjang Turgen. Dia tahu bahwa sudah waktunya ia melangkah ke depan. Sudah saatnya, dia mengatakan kepada Shanum tentang keinginannya.
Pasti akan sulit, dan Khan takut karena mungkin akan berat untuk dihadapi, tetapi... dia mau mencobanya bersama Shanum. Mencoba untuk... menjalin hubungan yang lebih serius. Khan ingin bersama dengannya, berjuang untuknya, dan membahagiakannya.
__ADS_1