
Mereka segera keluar dari kastil itu untuk melihat keindahan kota Abbasid setelah sarapan. Khan menggamit pinggang Shanum dengan posesif, seolah ia ingin mengumumkan kepada dunia bahwa Shanum adalah miliknya, dan tidak ada yang boleh merebut miliknya itu.
Shanum hanya menggelengkan kepalanya merasakan lengan pria itu semakin mengetat melingkari pinggangnya, ketika ia mencoba menjauh. Terpaksa Shanum harus menerima dengan pasrah tatapan geli dari Osbert dan kedua sahabatnya. Setelah menjadi suaminya, Khan sudah tidak menahan-nahan lagi sikap posesifnya terhadap Shanum.
Kota itu begitu indah, pemandangan laut yang dikelilingi tebing-tebing tinggi sesuai dengan mimpinya. Shanum menghidu dengan dalam, bau segar yang bercampur aroma garam itu membuat hatinya tenang.
Shanum melahap segala detail kota yang mulai tampak. Sinar matahari menyinari jalanan bersih yang terbuat dari batu-batu jalan yang berwarna abu-abu. Pria dan wanita dengan aneka pakaian lalu-lalang: sebagian memakai mantel seperti yang dikenakan rombongan Shanum untuk melindungi tubuh dari udara musim gugur yang mulai dingin, sebagian lainnya memakai baju berkuda dari kulit.
Di kota ini tidak terdapat kendaraan modern, kuda masih mendominasi transportasi utama. Suasana di sini begitu tenang, tidak ada yang terburu-buru dan hiruk pikuk seperti yang biasanya terlihat di kota besar. Di kejauhan, anak-anak tertawa riang. Mereka bermain dengan bebas dengan teman-teman sebayanya.
Jalan yang dilewati oleh mereka semakin menurun, memperlihatkan makin banyak rumah-rumah khas pedesaan yang cantik dengan cerobong-cerobong asapnya.
"Kau yakin ingin terus berjalan kaki, Sayang?" tanya Khan dengan lembut. "Apa kau tidak lelah? Semalaman aku sudah membuatmu aktif berolahraga di dalam kamar kita," goda Khan.
Wajah Shanum langsung memerah. "Ya, kalau aku lelah tinggal memintamu menggendongku. Biar bagaimanapun kau kan yang harus bertanggung jawab." Shanum tersenyum ke arah Khan.
"Hmm, aku tidak berkeberatan sama sekali, Istriku. Kalau kau mau sekarang pun aku bersedia." Khan semakin mengetatkan rangkulannya pada pinggang Shanum hingga dia tersentak ke arah Khan.
"Oh cukup sudah, kupingku bisa-bisa tercemar mendengarkan percakapan mesra dua sejoli yang sedang di mabuk cinta." Shanum mendengar suara protes Farah di belakangnya.
"Salah, sepasang suami-istri yang sedang merasakan manisnya mahligai pernikahan," sahut Diva sambil cekikikan.
"Jadi, kita salah ya sudah ikut bergabung dengan mereka. Seharusnya kita membiarkan saja mereka berduaan," Farah pura-pura terlihat kecewa sembari memutar bola matanya.
"Hei, gadis jelata. Jika kau tidak suka ikut dengan kami, silahkan kembali saja ke kastil sana," ucap Osbert dengan suara datar.
Farah sontak berhenti dari langkahnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah. Kini tidak ada lagi raut muka usil darinya, Farah melihat ke arah Osbert dengan mata melotot dan wajah garang.
"Apa urusanmu kalau aku hanya rakyat jelata? Memangnya siapa dirimu?! Pangeran, Raja, Presiden?!" Mata Farah menyorot marah.
"Dan jika memang kau memiliki setitik gelar kebangsawanan, memangnya itu berpengaruh padaku. Paling-paling juga kau hanya bangsawan tingkat terakhir yang berada di hirarki bangsamu ini," ucap Farah sembari melemparkan tatapan menghina ke arah pria itu.
"Kau..." Pria itu menarik napas dalam. "Jika tidak memandang Ratuku dan Yang Agung sudah kuhancurkan mulut berbisamu sejak tadi." Rahang Osbert mengetat menahan amarah. Jemarinya sampai bergemeretak dikepalkan olehnya.
Diva langsung menarik Farah menjauh dari pria itu. "Sttt... Farah, cukup! Kita berada di wilayah orang lain. Jangan sampai nanti kita pulang tinggal nama karena bersitegang dengan orang-orang sakti ini," bisik Diva dengan wajah berkerut khawatir.
"Aku tidak takut. Pria banci seperti dia, paling kesaktiannya cuma seujung kuku." Farah menjawab sembari mendengus sewot.
Diva menghela napasnya. Sahabatnya yang satu ini memang mulutnya susah di rem kalau sudah emosi. Kalau tidak ada Shanum dan Khan mungkin Diva juga tidak mau diajak ikut di acara jalan-jalan ini. Meski Sang Ratu sendiri yang memberikan perintah. Lebih baik dia berada di kamarnya saja.
Mendengar perdebatan antara Osbert dan Farah, Shanum langsung menghampiri kedua sahabatnya, tentunya dengan Khan yang mengikuti bagaikan bayangan kedua.
"Farah, apakah kau keberatan dengan perjalanan kita saat ini?" Shanum bertanya kepada sahabatnya itu. Dia ingin memastikan Farah tidak terpaksa mengikuti perjalanan mereka.
"Tidak. Aku hanya tidak suka dengan pria itu. Kenapa dia harus ikut sih. Mengesalkan saja." Farah terlihat cemberut sembari menghentakkan kakinya.
"Pria itu hanya menjalankan perintah dari Ratunya, Farah. Lagipula ini kan wilayahnya. Kita tetap perlu dia agar tidak tersasar di sini." Diva ikut menjawab seraya menghela napas lelah.
Farah masih terlihat gusar. Dia melirik ke arah pria cantik yang masih menatapnya dengan ekspresi tajam itu. Kemudian pria itu melengos ke arah lain saat melihat Farah memandangnya. Pria itu terlihat melangkah ke salah satu kios penjual buah yang berada tak jauh darinya.
"Oh ya, Farah, sekedar informasi. Osbert bukan bangsawan kelas teri. Derajatnya sama dengan Chinua dalam hal silsilah. Bedanya, dia bukan yang menguasai klan. Tapi tidak bisa dipandang sebelah mata juga. Pria itu menguasai pasukan yang berada di klan ini, dia seorang Jenderal," ucap Khan dengan nada suara datar.
Shanum langsung menyikut pinggang Khan saat dilihatnya wajah Farah sedikit memucat. "Cukup, Adri. Jangan membuat keadaan menjadi semakin keruh," bisik Shanum.
Namun, kemudian Shanum mendengar Farah mendengus keras. "Tetap saja aku tidak suka gayanya yang menghina sok bangsawan itu. Seolah aku adalah kotoran di matanya, yang harus segera disingkirkan karena merusak pemandangannya."
__ADS_1
"Um, apakah kau mengatakan yang sebenarnya, Sir?" tanya Diva mengindahkan jawaban Farah dengan wajah takut.
Khan menganggukkan kepalanya. Ekspresi dinginnya terlihat sangat serius. Jadi ketiganya tentu saja percaya dengan informasi yang diucapkan Khan.
"Astaga, Farah! Pantasan tadi pria itu sangat marah mendengar ucapanmu." Diva menepuk keningnya. "Mulai detik ini kau harus menjaga ucapanmu, Farah. Aku tidak mau kita celaka. Ingat, kau dan aku tidak memiliki sihir," kata Diva. Farah tidak menjawab, wajahnya tetap terlihat galak.
"Ya Farah. Aku juga berharap kau dapat menahan diri. Anggap saja pria itu tidak terlihat. Acuhkan saja dia. Kau pasti bisa." Shanum menepuk punggung tangan Farah.
Lalu Khan, Shanum mendekati Osbert yang sedang asyik menggigit apel di tangannya, diikuti oleh Diva. Farah terpaksa mengikuti di belakang mereka, masih dengan wajah ditekuk. Terlebih saat melihat pria cantik sok bangsawan itu melirik sembari mengangkat dagunya kepada Farah.
"Makan apel kok sendiri saja, Osbert?" ucap Shanum. "Kau mau, Istri. Kalau mau aku belikan," potong Khan. Shanum menggeleng sembari tersenyum.
Tidak, Adri. Aku hanya basa-basi saja untuk mencairkan wajah tegang yang terlihat di muka pria itu.
Shanum menjawab melalui ikatan mereka. Dan Khan menggeram tidak suka.
Tidak perlu basa-basi dengan pria itu, Shasha. Aku tidak suka kau perhatiannya dengannya.
Ya ampun, Adri. Aku hanya mencoba bersikap baik untuk mengembalikan situasi menjadi normal lagi.
Untuk apa? Kau tak lihat aura permusuhan di antara Osbert dan Farah masih tampak lekat.
Arghh... susah bicara denganmu. Dasar pria tidak peka.
Semua yang berada di sana merasa heran melihat Shanum mencubit pinggang Khan dengan wajah kesal. Mereka tidak tahu jika keduanya sedang berdebat di alam mereka sendiri. Khan mengaduh, dan melepaskan lilitan tangannya pada pinggang Shanum.
Shanum langsung berderap meninggalkan tempat itu sembari mengoceh sendiri. Khan dengan cepat mengejar istrinya yang sedang kesal itu dan mengindahkan penonton yang melihat pertunjukkan itu.
"Shasha... mau kemana? Jangan pergi sendiri, nanti kau tersesat." Khan melangkah dengan cepat mencoba menjajari langkah Shanum.
"Sayang..."
"Maaf..."
Khan berkata dengan lirih sembari menahan tubuh Shanum yang memberontak dalam pelukannya. Shanum langsung berhenti sesaat setelah kata maaf itu terucap.
Khan mendesah lega, ia mengusap punggung Shanum sambil mencium rambutnya dengan lembut. Kemudian pria itu merenggangkan pelukannya dan melihat bibir Shanum mengerucut. Khan menjadi gemas. Dia langsung mengecup bibir yang mengerucut itu.
Shanum terkesiap. Dia mengedarkan pandangan ke balik tubuh Khan. Ia melihat kedua sahabatnya menggelengkan kepala dan tatapan geli terpancar dari mata Osbert.
"Adri, malu tahu. Ini di tempat umum. Jangan asal main menyosor saja," gumam Shanum.
"Biarkan saja. Kau kan Istriku," sahut Khan singkat.
Shanum memutar bola matanya. Dasar pria Bar-bar.
Dan dia hampir merasakan tawa pria itu melalui ikatan mereka. Khan membalas, Ayo kita lanjutkan lagi penjelajahan kita.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan, melewati salah satu jembatan utama yang membentang di atas sungai tanpa bicara.
Shanum berhenti di tengah jembatan kayu yang penuh ukiran rumit. Khan berhenti di sampingnya selagi dia mengamati air biru kehijauan yang lewat dengan tenang di bawahnya.
Shanum dapat merasakan aliran arus jauh di bawah sana, endapan garam yang lumer di air tawar, rumput-rumput bergoyang yang menutupi tanah bertabur remis, binatang-binatang kecil yang berjalan ke sana kemari di antara bebatuan dan lumpur.
Mungkinkah Shanum dapat merasakan semua itu karena tempat ini adalah tempat dia berasal, sebagian darahnya menyambut panggilan alam tempat ini.
__ADS_1
Lengan bawah Shanum menekan birai batu jembatan yang lebar, jemari lentiknya diraih oleh jemari kokoh Khan.
"Hatiku damai berada di tempat ini, Adri. Seolah di sini adalah rumah lainnya yang baru saja aku temukan." Khan tersenyum, lalu mengecup jemari Shanum. "Jadi, di manakah rumah utamamu itu?"
Shanum menoleh, dan menatap kedalaman netra coklat keemasan pria itu. "Rumah utamaku saat ini adalah dirimu, Adri."
Pijar keemasan semakin pekat terlihat di mata Khan. Dia merapatkan bibir, menahan senyum. "Ya. Kau juga adalah rumahku, Shasha. Kau adalah pemilik diriku, pemilik napasku."
Shanum menelan ludah. Mendengar ucapan penuh arti dari Khan. Jantungnya berdegup begitu kencang sehingga Shanum tahu pria itu bisa mendengarnya. "Kau memang paling bisa membuatku kehilangan kata-kata, Adri."
Khan menyeringai. "Sebenarnya aku tidak membutuhkan kata-katamu saat ini, Sayang. Yang kubutuhkan adalah segera berada di dalam dirimu lagi dan mendengar jeritanmu yang seksi itu."
Blush.
Merah pekat terlihat di wajah Shanum. Dan gadis itu kemudian memutar bola matanya. "Tak kusangka ternyata dirimu sangat mesum, Suami."
Khan mengedipkan matanya. "Aku seperti ini hanya padamu, Istri."
Kemudian Shanum mendengar suara pertengkaran dari arah belakang mereka. Dia dan Khan serempak menoleh. Shanum melihat Farah sedang menunjuk-nunjuk Osbert dengan emosi menggelegak di matanya.
"Jangan sentuh aku, kau pria berengsek! Pasti kau yang sengaja membuat aku terjatuh. Hanya kau di sini yang bisa menciptakan lantai licin secara mendadak," tuduh gadis itu.
"Jika aku yang menciptakannya untuk apa aku menolongmu, Gadis Jelata. Tubuhmu tidak ringan tahu," jawab Osbert.
"Oh, jadi kau mengatakan aku gendut begitu. Cih, sudah bisa ditebak, kekuatanmu ternyata memang selembek wanita. Masa menahan tubuhku saja kau tidak sanggup. Dan aku bukan gendut ya, aku ini montok," teriak Farah sembari berkacak pinggang.
Secara mengejutkan Shanum melihat Osbert membekap mulut Farah sambil menguncinya dengan pelukan sehingga tidak bisa bergerak. "Diam kau, berisik sekali! Membuat malu saja!"
Shanum yakin Farah pasti sedang menyumpahi pria itu sembari menggeliat-geliat dengan membabi-buta. Diva terlihat syok melihat adegan itu, dia membekap mulutnya dan tidak berani bergerak dari tempatnya berdiri.
"Apa aku perlu menolong sahabatmu itu, Sayang?" Shanum mendengar Khan berbisik di telinganya sembari terkekeh geli. "Kalau menurutku sih sebaiknya kita tidak ikut campur. Aku penasaran ingin melihat reaksi selanjutnya dari kedua orang tersebut."
Shanum mendesah. "Ya, kita tunggu dulu. Jika pria itu bertindak keterlaluan baru kita turun tangan," jawab Shanum sembari menahan tawa.
"Aku akan lepaskan bekapanku kalau kau diam, Gadis Jelata. Jika kau setuju, anggukkan kepalamu," ucap Osbert.
Farah memicingkan matanya, tapi dia akhirnya menganggukkan kepala. Tenaganya mulai terkuras, kuncian pria itu sungguh kuat, meski tetap lembut tidak menyakiti. Saat perlahan Osbert melepaskan bekapan dan kuncian tubuhnya, Farah langsung menarik tangan Osbert dan menggigit jemari pria itu, lalu bergerak menendang onderdil kebanggaan milik Osbert.
"Ouchh... itu pasti sangat sakit," celetuk Khan.
Mata Shanum membola kaget, dia bereaksi kaget melihat perilaku sahabatnya itu. Shanum tidak menyangka Farah akan bertindak seekstrim itu. Biasanya hanya mulut gadis itu yang tajam bagaikan silet, hingga membuat orang yang menerima caciannya itu langsung mundur teratur tidak ingin meladeninya.
Tapi ini... Astaga...
Shanum melihat Osbert terbungkuk-bungkuk menahan rasa sakit. Dan Farah sudah menjaga jarak cukup jauh, menghindari pembalasan dari Osbert. Shanum juga otomatis bersiaga. Walau bagaimanapun Farah sahabatnya, dan dia tidak memiliki sihir. Jika Osbert mengeluarkan sihirnya tentu saja Farah tidak akan bisa melawan pria itu.
Shanum diam sejenak, mempertimbangkan apa sebaiknya dia menghampiri saja Osbert dan meminta maaf atas nama Farah. Namun, sungai yang mengalir di bawah mereka bergoyang. Bukan goyangan secara fisik, melainkan ada getaran pada arus, pada dasar sungai.
Khan seketika waspada saat Shanum mengawasi sungai, melihat kedua sisinya. "Apa itu?" gumam Shanum sambil terperangah. Shanum melongo ketika Khan menariknya menjauh. Pria itu mengangkatnya dan melompat secara cepat menjauhi jembatan. Shanum mengerjap, dia tiba-tiba diturunkan di sebelah Osbert yang tampak waspada juga.
"Farah, Diva, sebaiknya kalian ke sini," panggil Khan dengan nada perintah mutlak. Kedua gadis itu langsung menurut, mereka berlari menuju tempat Shanum berdiri.
Langit tak berawan, jalan-jalan penuh dengan obrolan dan kehidupan. Khan dan Osbert terus mengawasi, berputar pelan meneliti sekeliling mereka.
"Apa itu, Adri?" Shanum menunjuk gumpalan bercak hitam yang melaju dengan cepat ke arah mereka, makin dekat makin tampak menyebar luas.
__ADS_1
"Katakan kalau itu hanya fenomena alam yang tidak berbahaya, Osbert?" Shanum menoleh ke arah pria itu.
"Tidak. Itu bukan fenomena alam, My Lady," jawab Osbert dengan wajah serius.