Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 96 Terkejut


__ADS_3

Setelah melihat Kakek Chenghiz menghilang, Shanum merasa bingung. Dia ditinggalkan seorang diri berada dalam kastil ini. Mengapa dia masih berada di sini? Dan tidak menuju mimpi berikutnya seperti biasa yang sering dialaminya.


Shanum bangkit dari duduknya, lalu bergerak menuruni singgasana itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan berhenti tepat di tengah-tengah ruangan. Dia menghela napasnya. Gadis itu merasa resah, tindakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Saat sedang berpikir keras, Shanum mendadak membeku, matanya membelalak lebar. Tiba-tiba ia merasakan kehangatan menyebar di seluruh tubuh. Awalnya menebarkan kenyamanan, dan ia menyukainya. Namun semakin lama rasa hangat itu beralih menjadi rasa panas yang kian menyengat.


Tubuh Shanum bagaikan terpanggang dalam api, ia melangkah terseok-seok menuju ke jendela terdekat. Ia mengira dengan merasakan angin yang berhembus dari jendela dapat meredakan sedikit rasa panas itu. Namun ia salah, rasa panas itu semakin merajalela.


Shanum menjerit kesakitan, tersiksa, tak tahu harus berbuat apa. Dia membungkuk memeluk tubuh. Ia merasa sekarat. Ia pasti sekarat. Ini kali kedua ia merasakan sebuah mimpi yang bereaksi pada tubuhnya seolah nyata. Rasa terbakar itu entah bagaimana malah memerangkapnya dalam kegelapan, kegelapan di mana ia tak bisa menemukan jalan keluar.


Shasha--oh, Sayang. Ada apa?


Shanum merasa ada tangan yang membelai wajahnya, dan sekali ini, bukan panas yang dirasakannya tapi rasa sejuk. Dia ingin menggerakkan tubuh untuk meraih kembali rasa sejuk itu.


Kau harus bertahan, Sayang.


Shanum merasa familier dengan suara itu. Ya, suara itu milik pria yang sangat dirindukannya.


Adri... kaukah itu?


Shanum ingin berseru, tapi rahangnya terkunci, kesakitan membuat ototnya kaku dan mencegahnya bergerak sedikit pun.


Tolong aku. Kumohon.


Pinta Shanum dalam benaknya.


Saat ini Shanum tidak dapat membedakan lagi antara mimpi dan kenyataan. Kegelapan semakin pekat hingga ia bisa melihat tekstur licinnya, kejahatan yang merembes ke luar dari dalam tubuh menekannya. Mirip dengan kabut hitam yang ia lihat keluar dari pori-pori Khan saat pria itu terluka.


Sihir hitam itu!


Shanum menyadari seraya mengerang. Ada sihir hitam di dalam tubuhnya.


Apa yang terjadi pada Shanum?


Khan panik. Secara fisik ia juga merasa tersiksa. Namun ia masih dapat menahannya. Tubuh gadisnya bergerak-gerak dengan kuat. Khan terpaksa membuka matanya untuk melihat, konsentrasinya sudah buyar.


Khan telah berjanji untuk menolong kekasihnya, menyerap racun yang berada di dalam tubuh Shanum dengan kekuatannya. Hari ini adalah tepat hari ketiga Khan melakukan 'Skin to skin' dengan Shanum. Apakah proses penyerapan racun itu tidak berhasil?


Gemetaran, ia mendekap Shanum semakin erat ke dalam rengkuhannya. Namun kejang-kejang pada tubuh gadisnya kembali terjadi.


Tidak... Tidak!


Khan menolak untuk mempercayai bahwa mereka harus kembali ke titik awal. Seharusnya pada hari ketiga Shanum bisa membaik. Gadisnya akan selamat dari kesakitannya ini.


Khan mendesah putus asa. Shanum harus selamat, Khan membutuhkannya. Dia tak pernah lebih membutuhkan seseorang seperti ini.


Shanum akan selamat, pikir Khan lagi. Shanum-lah pemilik separuh dari jiwanya, bagian penting yang harus berada di jiwanya. Jika tidak ia akan selalu merasa kekurangan. Bagaimana selama ini ia hidup tanpanya, Khan tak tahu.


Khan menyadari, ia sangat mencintai gadis itu. Mencintai kekuatannya, keberaniannya, kecerdasannya, bahkan ia sangat mencintai pukulan gadis itu. Memang sungguh hal yang absurd, memikirkan semua hal itu disela-sela kepanikannya.


Khan kembali memeluk Shanum dengan erat sembari berkonsentrasi menyelami ikatan jiwa mereka. Khan tidak akan melepaskan ikatan ini. Pernikahan ini. Meski ayah gadis itu tidak merestui, walau semesta bergerak menentang. Meski gadis itu sendiri juga ragu berada di sisinya. Ia akan tetap mempertahankan Shanum. Sekarang, selalu. Tepat seperti yang sudah diucapkannya pada sumpah pernikahan mereka.


Panas, rintih Shanum. Panas. Air mata berlinang dari kelopak mata yang terpejam, terjebak di bulu matanya sebelum bergulir menuruni pipi.

__ADS_1


Shanum berbicara ke dalam ikatan jiwa mereka, Khan sempat mengira mendengar ucapan Shanum, telah meyakinkan diri bahwa ia salah dengar, tapi kini kebenaran tak bisa dielakkan. Koneksi mereka telah kembali. Penghalang yang sebelumnya ada telah hilang tak berbekas.


Khan tak berdaya di hadapan Shanum, rapuh dan ceroboh. Ia kini mendambakan koneksi itu semakin lengkap dengan kesembuhan Shanum.


Khan sedikit menyelipkan tangannya pada tubuh Shanum. Kemudian ia mengangkat tubuh itu lebih erat dalam dekapannya. Khan memusatkan lebih dalam konsentrasinya.


Ia memindai benak gadis itu dan merasa syok, ketika melihat kabut hitam mengepung gadisnya. Khan tergerak untuk mengerahkan seluruh kekuatannya. Cahaya berwarna merah mulai merangsek masuk ke dalam tubuh Shanum.


Shanum tersentak, ia mengenali getaran kekuatan ini. Rasa sakit di tubuhnya mendadak sirna. Bagaimana mungkin? Shanum mencari-cari dalam kegelapan--dan tak menemukan jejak kejahatan itu lagi.


Ia tak tahu penyebab sihir hitam itu mendadak hilang, tapi ia bisa mencari tahu. Dan mungkin, hal pertama yang harus ia lakukan adalah keluar dari kegelapan ini. Tekad menggantikan semua emosi lain dalam diri Shanum. Ia harus menemukan caranya.


Bantu aku kalung jiwa, tuntun aku menuju pasanganku.


Shanum mengucapkan hal itu dengan mencurahkan seluruh cinta dan kerinduan yang ia rasakan kepada Khan, dan kalung itu meresponnya. Cahaya keemasan meluncur masuk dengan mulus ke dalam kegelapan, seolah pintu yang tertutup mendadak terbuka. Lebih mengagumkan lagi, tak ada halangan. Shanum merengkuh cahaya itu, kemudian ia meluncur menuju jalan keluar.


Sementara itu, Khan membuka matanya. Pria itu terengah-engah menahan sakit. Kekuatannya tersedot habis, tapi ia tidak menyesal. Kini ia melihat bayang-bayang pucat pada wajah Shanum sudah memudar, mengembalikan warna kulitnya ke pendar keemasan yang indah. Kejangnya bahkan sudah berhenti. Khan tersentak lega, kelegaannya begitu besar hingga ia nyaris tercekik karenanya.


Jam demi jam berlalu, tubuhnya mencoba memulihkan diri. Meskipun kelelahan, Khan tak pernah mengizinkan dirinya terlelap. Ia tetap bangun, waspada, berjaga-jaga. Dan seperti biasa, berada di dekat Shanum selalu saja membuat hasratnya bangkit. Lebih kuat sekarang, mengingat betapa ia nyaris kehilangan gadis itu.


Khan melepaskan pelukannya, dengan susah payah. Khan harus menuju ke kamar mandi. Dia harus mandi air dingin untuk menurunkan kembali hasratnya. Pria itu keluar dari selimut yang menutupi tubuhnya dan Shanum dan turun dari ranjang. Selama tiga hari ini dia tidak melulu harus menyerap racun dari tubuh Shanum. Dia tetap dapat makan, membersihkan tubuhnya dan tidur.


Namun kian hari, keinginan untuk menuntaskan ritual berpasangan itu menggedor-gedor jiwanya. Aroma lembut Shanum terpatri dalam penciumannya. Kaki Shanum yang bertaut dengannya, membuat darahnya selalu memanas. Dan saat seluruh tubuhnya yang mendekap erat gadis itu, akan bergetar.


Segera saja Khan berkeringat, rasa dingin dalam tubuhnya lenyap, seolah tak pernah ada. Digantikan oleh kehangatan yang dipancarkan oleh kulitnya. Entah mengapa Khan selalu merasakan ketenangan dari kehangatan yang ia dapatkan.


Setelah kembali dari kamar mandi, ia memakai kembali pakaiannya. Pria itu melihat gadisnya sudah mulai pulih. Jadi menurutnya, tidak perlu lagi ia melakukan 'skin to skin' dengan Shanum.


Khan kembali menatap Shanum dengan dalam. Sangat bersyukur roman sehat gadisnya sudah kembali. Dan semoga tidak ada lagi perburukan kondisi setelah ini. Lalu Khan menguap lebar, pria itu tak sanggup lagi melawan rasa lelahnya. Ia pun kembali naik ke atas ranjang, memejamkan matanya dan terlelap.


Khan berjuang menembus kegelapan, mengusirnya dengan penuh tekad sama seperti ia ingat melawan musuh-musuhnya. Suara itu, begitu akrab, begitu penting.


"Adri, bangun."


Perjuangannya kian gigih hingga akhirnya, secara luar biasa, ia mampu mengerjapkan mata membuka, dan apa yang dilihatnya membuat napasnya tersentak. Shanum. Shanumnya yang terkasih membuka matanya. Gadis itu menatapnya dengan pandangan gelisah.


Apa aku bermimpi?


Khan tak berani bicara lagi, ia mengungkapkannya di dalam pikirannya.


Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, Adri. Aku bisa mendengar suaramu di dalam kepalaku lagi.


Khan tersenyum sembari menyibakkan rambut Shanum yang menempel di alis dan gadis itu merasakan kesejukan dari sentuhannya.


Khan mengamati Shanum, masih sangsi hal ini nyata. Rambut hitam ikal Shanum kusut mengelilingi bahu, pipinya terlihat merah merona. Dia terlihat sehat, wajah pucat itu telah sirna.


"Aku merasa aneh. Terbangun dengan dirimu sedang tertidur pulas di sampingku. Mengapa kau tertidur di sini?"


Shanum merasakan ketegangan Khan dan berpikir pria itu tersinggung dengan ucapannya. Namun tiba-tiba Khan menarik kepala Shanum mendekat dan mempertemukan bibir mereka.


Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu. Kau milikku.


Khan berkata dalam hatinya, di sela-sela kecupan yang ia berikan kepada Shanum.

__ADS_1


Shanum mendadak kaku, dan Khan merasakan reaksi gadis itu. Tapi Khan tidak peduli, satu tangan pria itu merapatkan tubuh mereka, memeluknya. Satu tangan Khan yang lainnya meluncur ke rambut Shanum, memperkuat kontak mereka.


Merasakan gairah dari tubuh Khan yang besar dan hangat rasanya seperti pulang dari tempat dingin. Dan samar-samar gadis itu menyadari sesuatu, ia tak mengira hal tersebut terjadi. Dia polos tanpa pakaian, hanya tertutup selimut untuk menjaga kesopanan.


Pikiran Shanum mulai tercerai-berai, tidak sempat lagi memprotes kejanggalan tersebut, saat lidah Khan menelusuri garis pertemuan bibirnya. Shanum tercekat, ia tidak mampu berpikir. Darahnya mulai menderu, dan lebih gilanya lagi ia membuka bibir menyambut pria itu, ajakan tanpa kata-kata agar Khan mengambil apa pun yang diinginkannya.


Ketika Khan menerima undangan itu, seluruh indra Shanum kacau. Sesaat kemudian indranya normal kembali, dan terfokus pada ujung lidah Khan yang menyentuh sudut bibirnya. Panas menyala jauh di bawah perut Shanum, menyebarkan kehangatan.


Khan terasa nikmat, benar-benar nikmat, seperti sesuatu yang sudah Shanum lewatkan tanpa ia ketahui, sampai sekarang. Shanum menghirup wangi pria itu yang berbau maskulin, dan keharuman itu langsung menuju kepalanya bagaikan minuman keras, membuatnya mabuk. Shanum pusing, jemarinya mencengkeram pundak pria itu, sementara ciumannya semakin menuntut.


Ketika tangan Khan meluncur ke perut Shanum dari balik selimut, sembari mengerang pelan, Shanum tersentak. Suara Khan mengirimkan gelombang-gelombang kejut yang bergetar dalam hati Shanum, menimbulkan hasrat yang memuncak.


Terkejut akan pikiran itu, Shanum menarik bibirnya dari Khan. Ia agak ketakutan. Gadis itu meletakkan tangan di dada Khan dengan napas terengah, dan merasakan jantung pria itu juga berdenyut kencang di bawah telapak tangannya.


Setelah menarik napas, Shanum mengembuskannya perlahan, berusaha mengontrol debar jantungnya.


Shanum sadar, ia bisa merasakannya dalam getaran ciuman yang mereka lakukan. Dia di sini, bersama pasangan jiwanya. Hidup.


"Mengapa kau menciumku, Adri?" tanya Shanum dengan wajah bersemu malu.


Khan mencium ujung hidung Shanum, lalu terkekeh geli. "Tumben kau tidak memukulku, Shasha. Terakhir kali kita berciuman kau menghempaskanku ke lantai," goda pria itu.


Mata Shanum membola. "Kau ingat? Oh Tuhan, ingatanmu sudah kembali?" seru gadis itu.


Khan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut.


Shanum langsung merangkul pria itu seraya tertawa gembira. Dia tidak menyadari bahwa napas pria itu tercekat mendapatkan dekapan dari Shanum.


"Shasha..."


"Ya."


Shanum mendongak ke arah Khan dengan wajah ceria.


"Jangan melakukan itu, Shasha. Aku tidak akan sanggup menahannya lagi," ucap Khan sembari meringis.


Shanum tertegun. Kemudian tangan gadis itu ditarik secara tiba-tiba. Ia meraih selimut dan mengetatkan genggamannya pada selimut itu.


Shanum berdeham. "Sebaiknya kau keluar, Adri. Aku harus berpakaian."


Khan berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baik, aku akan keluar. Pakaianmu ada di atas kursi itu." Khan berpaling, lalu bangkit dari ranjang.


"Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Kau pasti lapar," ucap pria itu lagi.


"Adri..."


Khan menoleh mendengar panggilan Shanum.


"Setelah ini kita harus bicara. Kau harus katakan semuanya," kata Shanum.


Khan tersenyum. "Ya, aku juga tidak ingin menutupi apa pun darimu, Shasha."


Setelah itu Khan meninggalkannya sendirian di dalam kamar.

__ADS_1


Percikan di antara mereka seharusnya tak mengejutkan Shanum, tapi nyatanya ia tercengang. Juga sedikit menyakitinya. Ia sangat malu, sudah bersikap bagaikan wanita murahan di hadapan pria itu. Entah mengapa penolakan Khan tadi yang seharusnya membuatnya lega, malah membuatnya kecewa.


__ADS_2