Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 116 Misi


__ADS_3

Shanum melihat Avraam mengamati dengan pandangan menelisik ke arahnya. Kemudian pria itu melipat tangannya di dada, sembari menyandar di tembok.


"Jelaskan!" ucapnya dengan ekspresi serius.


Shanum berdeham. Dia berusaha tenang, meski dadanya bergemuruh gugup. "Aku sudah memikirkan ucapanmu waktu itu. Tentang menjadi milikmu..." Shanum berhenti berbicara.


Avraam mengangkat alisnya mendengar ucapan Shanum yang terputus.


Wanita itu menghela napasnya. "Aku akan berusaha untuk membuat suamiku tidak berharap lagi kepadaku..."


"Bagaimana caranya," potong Avraam.


"Em, aku akan mengembalikan kalung pemberiannya yang saat ini kau simpan, berikut pakaian yang kupakai terakhir kali. Dan aku--aku akan menulis sebuah surat berisi perpisahan kepadanya."


Kata-kata yang barusan diucapkannya terasa menyayat batinnya, dan Shanum berusaha mensugesti pikirannya bahwa semua ini untuk kebaikan Klan Altan.


"Kau yakin, Khan Adrian akan melepasmu begitu saja?"


Kepala Shanum langsung mendongak. "Aku tidak tahu. Dia pasti tidak akan menyangka bisa terjadi seperti itu, menurutku tidak ada salahnya mencoba."


"Suamimu itu pasti akan marah besar." Avraam terkekeh geli.


"Tapi aku tetap menyangsikan dirimu. Melihat dari sikapmu terhadapku. Aku rasa kau tidak serius dengan ucapanmu." Avraam menatap tajam ke arah Shanum. Berusaha mencari setitik kebohongan di sana.


"Aku harus minta maaf. Kuakui, memang tidak mudah untuk merubah perasaan yang ada sejak lama. Khan adalah kekasihku sebelum kami menikah, sedangkan kau... aku tidak mengenalmu."


Avraam terdiam, pandangannya tetap terlihat lekat. Shanum tidak goyah, dia tidak berusaha mengalihkan pandangannya. Mereka beradu tatapan untuk beberapa saat.


Namun sesaat kemudian ekspresi Avraam berangsur-angsur melembut. "Oke, kalau begitu kita akan mencoba mengenal lebih dalam. Mungkin mulai besok kau bisa menghabiskan waktu bersamaku."


Rasa lega memenuhi pikiran Shanum. Dan dia berpura-pura mempertimbangkan ucapan pria itu, kemudian mengangguk. Shanum mendekatkan dirinya pada Avraam, memeluknya. Dan merasa muak dengan setiap sentuhan bagian tubuh mereka.


Avraam membalas dengan pelukan erat, lalu merenggangkan pelukan mereka, namun lengannya masih melilit di pinggang Shanum. "Aku senang, kau mau mencoba menerimaku," ucapnya pelan.


Shanum memaksa mendongak untuk memandang wajah Avraam seraya tersenyum.


"Aku dengar tadi kau sempat menghilang. Nara tidak bisa menemukanmu di mana-mana."


Jantung Shanum langsung bergemuruh. "Aku tadi sempat tersesat sebelum akhirnya menemukan kamar ini," ungkap Shanum.


Avraam mengelus punggungnya. "Mengapa kau tidak mencari Nara?"


"Aku tidak dapat menemukan satu orang pun. Kemana perginya orang-orang hari ini, Avraam?"


Avraam tersenyum lembut. "Kami memang rapat cukup lama hari ini. Yah, biasalah, membicarakan persoalan klan."

__ADS_1


"Apakah hal ini berkaitan denganku?"


"Tidak." Khan menjawab cepat.


Setelah itu Avraam melepas lilitan lengannya pada pinggang Shanum. "Masih ada hal yang harus kuurus. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal?"


Pria itu mengalihkan pembicaraan. Seolah dia enggan membahas lebih lanjut soal rapat tadi. Shanum tidak mendesaknya, karena ia tahu isi rapat tersebut.


"Ya, aku tidak apa. Em, Avraam. Bolehkah malam ini aku makan di kamar ini saja. Tubuhku cukup lelah setelah tadi cukup lama berputar-putar mencari kamar ini."


Avraam mengangguk. "Nanti aku minta Nara membawa makananmu ke sini."


"Terima kasih, Avraam."


Pria itu lalu meninggalkan kamar.


Shanum beranjak ke jendela. Menatap dalam diam saat sinar matahari memudar dan malam akhirnya tiba. Kerlap-kerlip bintang mulai terlihat, redup dan kecil di balik cakrawala.


Dalam hati Shanum bertanya, apakah sepadan, apakah menyerahkan dirinya seperti ini sepadan, demi mendapatkan kedamaian untuk Klan Altan. Bahkan kedamaian untuk seluruh klan. Benarkah mereka akan melepaskan begitu saja dendam yang sudah berakar ratusan tahun. Tidak ada yang tahu, dan hanya waktu yang bisa memutuskannya.


Setelah menghabiskan makanan yang diantarkan Nara, Shanum mengganti pakaian dengan gaun tidur panjang. Dengan senang hati ia mengenakannya, setelah keringat seharian masih menempel di kulitnya.


Lalu Shanum melompat ke ranjang, sambil mendesah keras. Permainan menyembunyikan diri dan penuh tipu muslihat hari ini cukup menguras tenaganya.


Hampir setengah jam, Shanum menendang-nendang seprai, berguling gelisah. Meski badannya lelah, entah mengapa matanya menolak untuk menutup dan beristirahat dalam lelap.


Semuanya menjerat dan berpusar-pusar di sekeliling Shanum. Dia berusaha tidak mengindahkannya. Namun terasa sulit.


Dia tidak dapat melupakan rencana-rencana mengerikan Avraam dan pengikutnya. Keinginan mereka untuk memburu semua hal yang berkaitan dengan Klan Altan.


Shanum tidak dapat melupakan wajah-wajah sedih orang-orang yang ia cintai saat peristiwa kerelaannya ikut dengan pria bertopeng itu. Terutama ekspresi Khan, suaminya.


Shanum yakin, tidak mudah bagi mereka untuk merubah rencana. Tapi dia pantang menyerah. Semua hal akan dilakukan olehnya, demi keselamatan orang-orang yang ia cintai.


Shanum membiarkan dirinya tersenyum lebih lama, sembari mengingat kenangan bahagianya bersama Khan. Perlahan matanya mulai menutup. Tampaknya kenangan akan suaminya itu bagaikan musik pengantar tidur yang membuat perasaannya tenang serta damai.


Beberapa hari kemudian, saat Shanum memastikan bahwa kalung, pakaian dan surat benar-benar dikirimkan ke mansion Khan. Dia mulai melancarkan misi selanjutnya. Selama satu minggu, Shanum memikirkan tentang hal itu, di sela-sela waktu yang ia habiskan bersama Avraam.


Sempat ia merasa ingin menyudahi saja misi ini, ketika melihat ekspresi Khan yang menghakimi. Batinnya menjerit mendengar kata-kata penuh kekecewaan dari pria itu. Shanum memang sempat lengah, tidak memblokir ikatan mereka. Hingga suaminya itu berhasil menghubunginya secara telepati melalui ikatan mereka, saat ia mengikuti Avraam berpatroli ke hutan sisi sebelah barat.


Untung saja saat itu Avraam dipanggil secara tiba-tiba oleh salah seorang anggota komplotannya. Mereka langsung menjauh dari Shanum, sehingga ia dapat sedikit bercakap-cakap dengan suaminya.


Semua yang dikemukakannya adalah omong kosong. Shanum mengakui, sangat sulit berpura-pura sudah tidak mencintai seseorang, sementara hatinya memendam rindu dan kesakitan yang teramat dalam.


Setelah pintu kamar tertutup di belakangnya, ia sudah tidak sanggup lagi menahan laju air matanya. Shanum menangis dalam diam. Menahan seluruh luka yang ia buat sendiri.

__ADS_1


Sejak saat itu, secara perlahan Avraam benar-benar membuktikan ucapannya. Dia memberikan keleluasaan kepada Shanum untuk lebih mengenalnya. Dan seiring dengan itu, ia menjadi lebih bebas bergerak di dalam klan pria itu.


Sebenarnya di balik sikap licik, arogan dan kejamnya, Avraam adalah pribadi yang lembut dan romantis. Andaikata Shanum tidak memiliki Khan, dan berbagi ikatan suci dengannya, mungkin ia bisa jatuh ke dalam pesona Avraam.


Dan di balik seluruh sikap manisnya itu kepada Shanum, muncul musuh baru yang selalu berusaha mencekainya. Awalnya mereka hanya sekedar mengganggu. Namun lama kelamaan sikap mereka mulai kasar cenderung jahat. Shanum dimusuhi oleh beberapa wanita yang menyukai Avraam.


Shanum dapat dengan mudah mendeteksi hal ini karena ia seorang wanita. Perasaannya sebagai wanita dapat melihat bahwa hanya wanita dengan kecemburuan akut yang dapat menghalalkan segala cara untuk menghilangkan saingannya.


Beberapa kali Shanum menerima tindakan-tindakan bulliying terhadap dirinya. Seperti menyebutnya ****** saat Avraam tidak bersama dirinya, membuatnya celaka saat berlatih bertarung, dengan nyaris membuatnya tertusuk pedang, dan percobaan-percobaan lainnya yang membuatnya mau tidak mau harus terus bersikap waspada.


Dari sekian banyak wanita, ada satu wanita yang tak pernah jera untuk mencelakakannya. Wanita itu bernama Chemira. Sayangnya Shanum tidak dapat mengadu kepada Avraam, karena Chemira adalah tangan kanan langsung pria itu. Wanita penuh tipu muslihat itu menyimpan kekejian dalam dirinya. Di depan Avraam dia akan bersikap ramah terhadap Shanum. Namun di belakang pria itu, dia berusaha memusnahkan Shanum.


Seringkali Shanum berkeinginan untuk melaporkannya kepada Avraam. Namun dia memiliki keraguan, ia khawatir Avraam tidak akan mempercayai ocehannya soalnya tingkah jahat Chemira.


Shanum hanya bisa menelan semuanya sendiri, dan selalu berusaha untuk pintar mengelak.


Namun kali ini Shanum tidak bisa lagi menghindar atau mencari cara untuk keluar dari jebakan Chemira. Wanita ular itu berhasil memperdayainya dengan berpura-pura menyuruh pelayannya untuk mengatakan bahwa Shanum di tunggu oleh Avraam di sebuah ruangan dengan segera.


Shanum tidak mengetahui jika ruangan itu adalah tempat tertutup milik Avraam, dan tidak pernah ada siapa pun yang boleh memasukinya selain pria itu.


Dengan langkah ringan Shanum menuju ke tempat yang ditunjukkan, tidak menyadari bahwa hal buruk sedang menantinya di sana. Avraam sangat kaget melihat Shanum tiba-tiba masuk ke ruangan terlarang itu. Shanum awalnya terpaku menemukan pria itu sedang menunduk menekuni beberapa kertas di hadapannya. Dia mengedarkan pandangan, melihat sebuah ruangan mirip dengan ruang kerja.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau tahu tentang tempat ini?" Pria itu terlihat marah.


Shanum syok bercampur bingung menerima amarah Avraam. Dengan rahang mengetat dan mata berpijar tajam, makna ucapan Avraam seolah ruangan itu terlarang untuk dimasuki.


Shanum mendadak gugup bercampur heran. Mengapa sebuah ruangan kerja terlarang untuk dimasuki? Apa yang disembunyikan oleh Avraam di dalam ruangan ini? Dan andaikata terlarang, mengapa tidak ada penjaga satu pun di luar ruangan untuk berjaga-berjaga?


"Katakan!" bentak Avraam.


Shanum melonjak kaget. "Itu tadi, a-ku... a-ku..." Ucapan Shanum terbata-bata tak mampu langsung menjawab. Dia tahu, kali ini nasib tidak berpihak kepadanya. Dia jatuh ke dalam jebakan ular berbisa yang memanfaatkan ketidaktahuannya.


Dengan menahan takut, Shanum berusaha menceritakan kronologisnya secara jujur. Namun Avraam meragukan ucapan Shanum saat ia menyebutkan nama Chimera. Shanum tidak mau mengalah begitu saja, ia tidak sudi disalahkan begitu saja. Dia meminta Avraam bersikap adil dengan memanggil dan memeriksa Chimera berikut kroninya.


Avraam langsung memanggil Chemira dan pelayannya. Dia di sidang di sebuah ruangan rapat. Keduanya tentu saja tidak mengaku, dan berdalih dengan alibi sedang berada di luar rumah dengan memberikan banyak saksi yang mendukungnya.


Shanum tidak bisa lagi melawan, dia harus menerima hukuman dari Avraam. Hukuman yang tidak masuk diakal menurut Shanum. Karena dia harus dihukum hanya karena masuk ke sebuah ruangan kerja yang tidak di jaga.


Selama satu bulan ia dihukum oleh Avraam untuk berada di sebuah ruangan tertutup tanpa jendela dan perabotan. Sebuah alas tidur tipis merupakan tempat ia tidur. Meski tanpa jendela, ruangan itu tetaplah dingin, dengan iklim yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannya. Shanum harus bertahan hanya mengandalkan pakaian tebal yang dikenakannya. Ruangan itu dimanterai khusus, ia tidak bisa menggunakan sihirnya di sana.


Selain itu, dia juga harus buang hajat memakai pispot, tidak ada air untuk mandi, dan membersihkan diri. Dia hanya mendapatkan sebuah tissue gulung untuk menyeka daerah khusus miliknya setelah ia selesai buang hajat.


Satu minggu pertama, Shanum masih tenang dan sibuk mengisi hari-harinya dengan latihan olah tubuh dan mengenang kebersamaannya dengan suaminya, keluarganya dan para sahabatnya. Namun setelah ia mendapatkan mimpi buruk berulang tentang pembantaian terhadap kedua orang tuanya, Shanum mulai merasa gelisah.


Dia takut jika mimpinya itu akan menjadi kenyataan, sedangkan ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong mereka. Dia harus keluar dari tempat terkutuk ini, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Saat makan siang diantarkan kepadanya oleh seorang penjaga, Shanum langsung bertindak melumpuhkan penjaga tersebut dan mengambil pedang yang tersampir di pinggangnya. Seketika Shanum mengiris salah satu lengannya dengan menggunakan pedang tersebut.


Darah mengalir dengan deras membasahi lantai, membuat penjaga yang sempat dilumpuhkannya tercengang. Shanum meringis, menahan rasa sakit sebelum kegelapan pekat mulai menelannya.


__ADS_2