
Setelah keluar dari ruangan Pak Reno, Shanum langsung pulang. Dia tidak sanggup bertemu dengan siapa pun. Pikirannya kacau, dan perasaannya semakin gundah.
"Sudah pulang, Nak? Tumben cepat," tanya Ibu saat melihatnya meletakkan sepatu di rak sepatu di dekat pintu.
"Iya, Bu. Tadi tidak jadi bimbingan, dosen Shanum harus pulang, sedang kurang sehat."
"Oh, begitu." Ibu mengangguk lalu melanjutkan kegiatannya menonton televisi.
"Shanum ke kamar dulu ya, Bu," katanya. Ibu mengangguk sambil tersenyum.
Gadis itu langsung menuju kamarnya di lantai dua. Dia meletakkan tasnya di tempat biasa, kemudian menuju ke kamar mandi.
Shanum menatap bayangannya yang memantul di cermin dengan pandangan sedih. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pak Reno terluka karenanya. Meski pria itu tidak menyalahkannya, dia tetap saja merasa sangat bersalah.
Belum lagi ungkapan perasaan Pak Reno tadi. Menambah beban yang tidak ia inginkan. Shanum membasuh wajahnya dengan air, mengambil sabun wajahnya, ia membersihkan sisa-sisa kosmetik.
Lalu mengambil handuk kecil di gantungan, di samping wastafel. Dia kembali menatap wajahnya sambil menepuk-nepuknya menggunakan handuk.
Dia melihat wajah biasa-biasa saja yang terpampang di sana. Mengapa wajah yang terlalu biasa itu bisa menarik minat seorang dosen yang notabene tampan, dan terkenal di kampus. Ia masih tidak bisa mengakui kejutan yang didapatkannya itu.
Sedangkan untuk satu sosok tampan lainnya yang juga menyukainya, tidak pernah membuatnya bertanya-tanya. Khan bisa saja tertarik padanya karena dia memiliki kekuatan sihir juga.
Kemudian secara bersama-sama melawan percobaan pembunuhan atas mereka. Belum lagi tentang mimpi-mimpinya, yang melibatkannya, Khan dan juga Sarnai.
Tapi Pak Reno, dia tidak tahu tentang kekuatan, dan sihir yang Shanum miliki. Pria itu menyukainya karena dirinya sebagai manusia biasa, tanpa embel-embel lain.
Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu, jika mengetahui tentang dunianya yang satu lagi. Mungkin pria itu akan berpikir ulang tentang perasaannya terhadap dirinya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Shanum mengerutkan kening. "Ya, Farah. Ada apa? Aku tadi sudah mengirimkan pesan ke Diva kalau aku ingin langsung pulang, tidak jadi datang ke kantin seperti perjanjian semula."
Shanum tertegun, matanya terbelalak, dan berkata, "Kau yakin, tidak salah dengar?"
Gadis itu menghela napasnya. "Apa? Kalian sedang dalam perjalanan menuju ke rumahku." Dia kembali terdiam tampak mendengarkan. "Oke, aku tunggu." Shanum segera menutup panggilan tersebut.
Dia mengigit bibirnya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Dia mendengar dari Farah kalau Pak Reno dirawat di rumah sakit. Dan Shanum tentu saja merasa cemas, sebab pria itu cedera adalah karena ulahnya. Bagaimana keadaannya, dan seberapa parah dia terluka?
"Non, maaf, ada temannya di ruang tamu," kata Bi Inah dari balik pintu sambil mengetuk pintu kamarnya.
Shanum membuka pintu. "Bi, mereka suruh ke sini saja ya. Terima kasih, Bi."
"Iya, Non." Bi Inah bergegas kembali ke ruang tamu.
Shanum tetap membuka pintu kamarnya. Dan sambil menunggu, ia mengeluarkan persediaan makanan ringan miliknya dari dalam lemari penyimpanan.
"Wow, ada snack kesukaanku," kata Diva sambil masuk ke dalam kamar. "Permisi, Ratu Bulan mau snack," tambahnya sambil terkikik sendiri.
Farah mendengus. "Istilah yang menggelikan."
"Loh, kata Yayang Sergei kan Luna. Dan Luna itu bukannya Ratu Bulan," sahut Diva sambil mengambil makanan ringan yang diincarnya tadi dari atas meja.
"Ya, Tuhan, kesurupan sepertinya nih orang." Farah mendekati Diva lalu menyentil keningnya.
"Aduh, sakit!" Diva mendorong tangan Farah sambil melotot.
"Yayang Sergei..." Shanum tersenyum geli sambil menggeleng.
"Iya, aku sudah jadi kekasihnya dong." Wajah Diva terlihat cerah. Matanya berbinar, dia tampak bahagia.
"Wah, selamat ya, Luna," ledek Farah. "Akhirnya, kabar baik itu datang juga," kata Shanum.
"Terima kasih, para sahabatku yang kece, muachh..." Diva melakukan Kiss Bye untuk keduanya. Farah membalas dengan memutar bola matanya, sedang Shanum tersenyum kecil.
"Omong-omong, tentang Pak Reno kau belum menceritakannya secara lengkap, Shanum." Farah menatapnya.
"Oh, tidak perlu bercerita soal telepon misterius itu. Aku sudah mendengarnya dari Diva. Dan sebenarnya aku juga tidak yakin pria sekelas Khan akan melakukan itu." Farah terkekeh geli sendiri.
"Ya, kami lebih ingin tahu soal mengapa Pak Reno sampai dirawat di rumah sakit?" potong Diva.
"Hei, seharusnya itu ucapanku. Kau seenaknya saja main serobot." Farah berdecak kesal.
"Habisnya kau lama, aku kan penasaran," sahut Diva sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalian ini, ampun deh!" Shanum menepuk keningnya.
"Ya, sudah. Ayo cerita, Sha!" Farah mengingatkan gadis itu tentang masalah pelik yang sedang terjadi saat ini.
Shanum menggigit bibirnya, lalu tersenyum getir. "Aku membantingnya ke atas lantai."
Farah melotot, dan Diva terkesiap pelan. Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Astaga, pantas saja dia dilarikan ke rumah sakit. Mengapa kau membantingnya, Sha? Dia kan bukan adonan untuk dibanting-banting." tanya Farah.
"Iya, adonannya sudah istimewa. Tidak perlu dibentuk ulang," sambung Diva konyol.
Shanum memutar bola matanya. "Aku membantingnya karena refleks, dia tiba-tiba memegang tanganku saat aku sedang gugup," jawab Shanum sambil meringis.
"Sebentar, aku masih belum mengerti. Tidak mungkin kau membantingnya hanya karena alasan gugup. Pasti ada sesuatu lagi, ayo mengaku!" Farah memicingkan matanya.
Shanum menghela napas. "Dia bilang..." Terjadi jeda. Gadis itu menelan ludah. "Dia terpesona padaku, dan mengajakku berbicara soal itu di dalam ruangannya." Shanum menjawab kembali dengan gelisah.
Kedua sahabatnya tertegun. Lalu Farah bersiul sambil menatap penuh arti. Diva langsung menghentikan kegiatan makannya.
"Aku sih sudah bisa menduganya. Tidak mungkin dia sampai niat sekali meneleponmu hanya untuk mendengar suaramu, jika dia tidak terpesona," ucap Diva.
"Dan kau tahu, Cantika sudah menyebarkan gosip tidak sedap akan dirimu. Dia menyindirmu sebagai pihak yang bersalah, yang menyebabkan Pak Reno masuk rumah sakit. Kami tidak sengaja mendengar bisik-bisik mereka saat di kantin," lanjut Diva lagi. Shanum merapatkan bibirnya, wajahnya terlihat kesal.
__ADS_1
"Sha, saat peristiwa itu apa ada yang melihat langsung kau membanting Pak Reno?" tanya Farah.
"Tidak ada. Bu Anna, Tedy dan Cantika datang saat Pak Reno sudah tergeletak di lantai. Mereka baru saja keluar dari lift bersama-sama."
"Oh, tidak... Jika ada CCTV di sana, dan merekam seluruh kejadian, maka semua akan bertambah runyam." Diva mengusap keningnya.
"Itu urusan mudah, besok akan aku pastikan. Aku kenal dengan Pak Soleh yang bertugas menjaga ruangan Server CCTV kampus." Farah menjentikkan jarinya.
"Semoga CCTV di lantai itu tidak menghadap ke tempat Shanum membanting Pak Reno ya," kata Diva.
"Diva, di mana Sergei? Pria itu bisa membantuku. Dia bisa menghapus ingatan seseorang." Shanum menatap Diva penuh tanya.
"Dia bisa melakukan itu, wow..." Diva terlihat bangga.
"Kau yakin, Shanum," tanya Farah memastikan.
"Ya, dia sangat bisa." Shanum tersenyum tipis.
"Kenapa aku menjadi semakin minder ya," ucap Diva pelan.
"Nah, syukurlah kau sadar diri. Kau dan Sergei tuh ibarat Dongeng Bapak Peri dan Upik Abu," ledek Farah.
"Loh, mana ada dongeng seperti itu? Kamu terlalu mengada-ada," protes Diva. Dan Farah tertawa geli melihat reaksi wajah sahabatnya itu. Dia memang hanya meledeknya.
"Hei sudah, bagaimana ini dengan Sergei, Diva?" tanya Shanum lagi..
"Kau coba saja telepon dia, Sha. Ini nomornya?" Diva memperlihatkan nomor ponsel Sergei yang terdapat di ponsel Diva.
Shanum menyimpannya, lalu mencoba menghubunginya. Beberapa kali ia mencoba, panggilannya tidak kunjung dijawab.
Akhirnya Diva tidak sabar, ia mencoba dengan ponselnya. Diva menghubunginya dengan mode Loudspeaker, agar Shanum juga dapat ikut mendengarkan.
Panggilan Diva langsung diangkat oleh Sergei. "Ya, Hon, ada apa?" tanya pria itu.
Farah mendengus. "Giliran Diva langsung diangkat."
Shanum terkekeh geli. "Wajarlah Farah, Diva kan Ratu Bulannya."
Diva tersipu-sipu mendengar ledekan kedua sahabatnya.
"Suara siapa itu?" tanya Sergei.
"Sorry, aku loadspeaker percakapan kita. Tadi Shanum menghubungimu tapi tidak diangkat. Dia mau bicara denganmu nih." Shanum mendekat ke layar ponsel.
"Well, sorry Shanum, aku tidak menyimpan nomormu. Jadi tidak kuangkat. Aku masih meeting dengan calon klien di Astrakhan. Saat aku melihat panggilan nomornya tidak dikenal, ya... aku acuhkan saja. Lain kali kirim pesan dulu ya, Shanum."
"Oh, kalau sedang sibuk tidak apa-apa Sergei. Em, kami akan menghubungi lagi nanti," tukas Shanum cepat.
"Oke, terima kasih atas pengertiannya. Dan Luna..." Merasa disebut namanya, Diva langsung muncul di layar ponsel. "I will call you again soon, I love you." Sergei tersenyum mesra pada Diva. Gadis itu mengangguk, wajahnya terlihat memerah. Sambungan pun terputus.
"Ehem, ciee... yang lagi berbunga-bunga tuh," goda Farah.
"Untuk apa kau cemburu padaku, Sha. Kau punya pria luar biasa yang memujamu, dan tidak cuma satu, tapi ada dua."
"Iya sih, tapi mereka berbeda tidak seperti kekasihmu." Shanum tersenyum miris.
"Hei, masih untung kau punya orang yang suka padamu, Sha. Aku lebih sedih lagi, cuma bisa gigit jari melihat kalian," kata Farah sambil mendengus.
"Makanya, jadi perempuan itu jangan suka asal bicara. Ini kalau berucap pedasnya minta ampun, cabai rawit satu karung muncul semua dari mulutmu. Sampai kapan pun pria tidak akan berani mendekatimu, jika tetap begitu," celetuk Diva sambil memutar bola matanya.
"Enak saja, masih lebih sadis Shanum. Kedua pria itu sudah pernah di banting olehnya, tapi herannya mereka tidak masalah tuh."
Shanum terkikik mendengar ucapan Farah. "Suatu saat kau akan menemukan pria yang tidak peduli dengan mulut pedasmu itu, Farah. Kau tunggu saja, tanggal mainnya."
"Ihh, memangnya film bioskop," timpal Farah.
"Ladies, bagaimana jadinya dengan Pak Reno? Sergei sedang di Astrakhan, tidak mungkin dia kemari dalam waktu cepat. Kecuali dia punya kemampuan berteleportasi." Shanum berkata dengan wajah memelas.
"Begini saja, besok kita coba mendatangi rumah sakit tempat Pak Reno di rawat. Pagi-pagi aku ke kampus dulu, mengecek rekaman CCTV. Diva, kau hubungi Sergei lagi dan ceritakan padanya. Siapa tahu dia punya solusi juga." Terdapat jeda, Farah mengerutkan keningnya, tampak berpikir.
"Dan Shanum, kau cari informasi di mana Pak Reno di rawat. Kau kan akrab dengan Mas Danu, Asisten Pak Reno, coba hubungi dia." Farah memberikan solusi sementara yang akan mereka lakukan.
"Bagaimana? Kalian setuju kan?" tanyanya.
"Siap," kata Diva. "Oke," jawab Shanum.
Farah dan Diva meninggalkan rumah Shanum. Mereka berjanji untuk saling memberikan informasi lebih lanjut.
***
Pagi menjelang. Shanum bergegas bersiap-siap. Mereka berjanji untuk bertemu di kampus pada jam yang telah ditentukan. Shanum dan Farah tidak membawa mobil mereka. Saat menuju rumah sakit mereka sepakat menggunakan mobil Diva saja. Dan Shanum diantar oleh ayahnya ke kampus, sekalian sang ayah berangkat menuju kantornya.
Mereka bertemu di parkiran. Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil Diva.
"Bagaimana CCTV, apakah aman?" tanya Shanum.
"CCTV aman, kamera itu tidak menyorot ke arah depan ruangan Pak Reno, tapi ke arah ruang tunggu yang berada di arah sebaliknya," ungkap Farah. Shanum menghembuskan napas lega.
"Sekarang informasi soal rumah sakit." Farah melirik Shanum.
"Oke, aku sudah dapat info itu. Tapi aku dengar dari Mas Danu, keluarga Pak Reno tidak mengizinkan siapa pun menengoknya. Pak Reno masih berada di ruangan ICCU. Dia belum sadar sejak kemarin." Shanum tampak mengerut di tempatnya. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ya ampun, ternyata separah itu keadaan Pak Reno. Apa kepalanya ikut terbentur lantai juga, Sha?" tanya Diva.
Shanum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya, Tuhan," ucap Diva sambil membekap mulutnya. Sementara Farah menatap Shanum dengan pandangan prihatin yang tidak bisa ditutupinya lagi.
"Aku harus bisa masuk ke ruangan ICCU itu. Tolong bantu aku, please!" Shanum mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon bantuan keduanya.
Alis Farah terangkat. "Dan apa yang akan kau lakukan di sana?" tanyanya.
"Aku akan mencoba menyembuhkannya." Shanum menjawab dengan penuh keyakinan.
"Hah, kau kan bukan dokter, Shanum. Bagaimana bisa kau menyembuhkan orang yang sedang koma?" tanya Farah lagi.
"Iya, bagaimana caranya?" sambung Diva bingung.
Shanum tersenyum. "Aku punya kekuatan untuk menyembuhkan."
"Kau yakin?" tanya Diva dengan wajah tidak percaya. "Ya, ini tidaklah lucu, Sha. Jadi jangan berkelakar," tambah Farah.
"Aku serius!" Shanum menatap kedua sahabatnya dengan tajam. Diva menganggukkan kepalanya ke arah Farah, seakan-akan memberikan isyarat kepercayaannya terhadap omongan Shanum.
Farah menghembuskan napasnya. "Oke, sekarang kita coba ke rumah sakit itu. Masalah bisa masuk atau tidaknya ke ruangan ICCU, bisa dipikirkan lagi nanti."
Kemudian mereka menuju ke rumah sakit tempat Pak Reno dirawat. Diva yang mengemudikan mobil. Sepanjang perjalanan ketiganya tidak berbicara apa pun, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Saat sampai di rumah sakit, mereka bertanya kepada salah satu perawat di mana letak ruangan ICCU berada.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah berada di lorong pintu depan ICCU. "Kita tidak mungkin masuk. Harus pakai kartu akses untuk membuka pintunya," kata Shanum terlihat frustasi.
"Di sini sepi sekali lagi. Tidak ada orang yang terlihat." Diva celingak-celinguk melihat sekelilingnya.
"Kalau ramai itu di pasar, bukan di sini kali," cemooh Farah.
"Dih, bukan begitu. Aku mau coba cari perawat, kali saja bisa izin masuk pakai kartu akses miliknya," jawab Diva.
Farah terdiam, keningnya berkerut tanda berpikir. Kemudian wajahnya menjadi cerah. "Terkadang kau pintar juga, Diva. Aku ada ide," ucapnya.
Lalu mereka menunggu dengan sabar, tak berapa lama muncul seorang perawat pria. Farah menyeringai. "Em, Mas Perawat, permisi. Maaf saya menganggu."
Perawat pria itu berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah mereka. "Ya, ada apa?" tanyanya.
"Jadi begini, teman saya ini mau menengok kekasihnya yang berada di ruang ICCU itu, Mas. Cuma kami tidak punya kartu aksesnya." Farah menjelaskan dengan wajah tersenyum manis.
"Memang tidak boleh sembarang orang masuk ke dalam, Mbak. Hanya keluarga dekat yang memiliki kartu akses yang boleh masuk. Itu pun harus atas seizin perawat yang bertugas."
"Tapi teman saya ini kasihan, Mas. Pria yang berada di dalam itu sedang koma karena dia menghadang salah satu keluarganya yang hendak mencelakakan teman saya ini. Dia kekasihnya, Mas. Dan sedang mengandung dua bulan. Makanya keluarga kekasihnya itu marah, hingga dia tidak diperbolehkan menjenguknya. Pokoknya mirip seperti film-film yang ada di televisi itu deh, Mas Perawat." Farah memperlihatkan wajah sedihnya.
Shanum menoleh bingung mendengar ucapan Farah. Dia hamil, ucapan kacau yang sungguh menyesatkan itu tidak bisa dibiarkan. Dia menggeleng, dan ingin membuka mulutnya untuk mengatakan pada Farah untuk menghentikan tingkah konyolnya itu.
Namun Diva mendadak menyikut pinggangnya. Shanum sontak menoleh ke arah Diva. Dia berbisik pelan di telinga Shanum. Untungnya jarak mereka dengan Farah dan perawat itu tidaklah terlalu dekat.
"Ikuti sandiwara Farah, Sha. Ayo Improvisasi saja. Kau pasti bisa," bisik Diva. Shanum tertegun. Dia melihat ke arah Diva lalu ke arah Farah yang masih berusaha meyakinkan perawat pria itu. Shanum lalu menarik napasnya, dan mengangguk.
"Bagaimana Mas, boleh ya teman saya bertemu kekasihnya? Sebentar saja Mas, tidak lama kok. Kasihan bayi dalam kandungannya, Mas. Jika kekasihnya itu tidak pernah sadar dari komanya dan harus..." Farah pura-pura tercekat.
"Bagaimana ya, Mbak? Aturannya tidak boleh sih," kata perawat pria itu.
Shanum lalu mendekat ke arah mereka. "Mas, tolong... demi calon anak dalam kandungan saya. Saya... saya ingin melihat wajahnya. Meski hal ini untuk yang terakhir kalinya. Saya berjanji tidak akan berisik di dalam atau menganggu. Saya tidak masalah meski diberi waktu cuma sebentar." Shanum tiba-tiba memecah keheningan yang terjadi.
Dia berkata dengan wajah memelas, dan meneteskan air mata. Sesekali dia mengusap ringan perutnya. Farah memperhatikan Shanum, dan menatapnya dengan kagum. Sedang Diva pura-pura menunduk sambil tersenyum tipis.
Perawat itu menghembuskan napasnya. Dia melihat ke arah Shanum, dan ke perutnya dengan pandangan kasihan. "Baiklah, tapi janji ya, Mbak. Tidak bisa lama. Dan temannya juga menunggu di sini saja. Nama pasiennya siapa Mbak?"
"Reno Axelle Adhiguna," jawab Shanum sambil mengangguk. Wajahnya terlihat berbinar-binar. Tampilan wajahnya yang bahagia kali ini bukanlah sandiwara. Gadis itu merasa senang akhirnya bisa berhasil masuk.
Shanum mengikuti perawat pria itu ke dalam ruang ICCU. Dia masih sempat sesaat menampakkan isyarat kata terima kasih tanpa suara dari bibirnya, ke arah para sahabatnya. Dan mereka mengangguk sambil tersenyum.
Shanum di bawa ke sebuah ruangan dengan suhu yang cukup dingin, dan penuh dengan suara monitor yang mendeteksi kinerja organ tubuh.
"Saya tinggalkan Anda berdua dengan pasien. Saya hanya bisa memberi waktu lima belas menit, dan akan menunggu di meja perawat," ucap perawat pria itu sambil tersenyum.
Shanum mengangguk sebagai reaksi. Waktu lima belas menit akan dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Dia menghampiri Pak Reno di ranjang rawatnya. Pria itu berada di ruangan ini sendirian. Tidak tampak ranjang rawat lain di ruangan ini. Sepertinya pria itu menempati ruang ICCU khusus.
Dia melihat wajah tampan Pak Reno yang terlihat pucat. Selang oksigen berada di hidungnya yang mancung. Alat monitor organ masih berbunyi seirama dengan denyut jantungnya.
"Maafkan saya Pak. Bukan maksud saya mencelakakan Pak Reno," bisik Shanum. Dia mulai meraba kepala pria itu, dan menyalurkan kekuatan penyembuhnya. Dia berharap sepenuh hatinya, Pak Reno bisa segera sembuh.
Sementara itu di luar ruangan, Farah dan Diva masih berdiri menunggu Shanum. Mereka mendadak menoleh saat melihat ada orang-orang yang mendekati ruang ICCU.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu keadaan kesehatan Reno? Masa dia bisa mendadak koma." Seorang wanita berumur yang masih cantik, dengan penampilan modis, terlihat bercakap-cakap dengan pria di sebelahnya.
"Aku tidak tahu, Ma. Reno memang adikku, tapi tidak mungkin aku mengawasi dia terus-terusan seperti anak kecil. Dia sudah dewasa kan," ucap pria itu. Wanita yang disebut Mama itu terlihat menggeram kesal mendengar jawaban sang anak.
Mereka berhenti di depan pintu masuk ruang ICCU. "Sebentar, tadi kartu aksesnya di mana ya?" Pria itu tampak mencari-cari di saku celana dan kemejanya.
"Astaga, aku meninggalkannya di mobil. Sebentar ya, Ma. Aku telepon Asep dulu untuk membawa kartunya ke sini." Pria itu lalu sibuk menghubungi seseorang.
"Kita tunggu dulu di sini sambil menunggu Asep."
"Terus apa informasi yang kau dapatkan tentang kondisi adikmu?"
"Dia mengalami cedera di otaknya. Kalau kata dokter yang merawatnya, hal itu karena benturan."
"Kok bisa, dia kan dosen. Kerjanya hanya berkutat dengan buku, pena dan menjalankan kampus milik keluarga kita. Bagaimana mungkin dia bisa cedera, di otaknya pula?"
"Aku tidak tahu Ma, hal itu masih diselidiki. Aku kan sehari-hari sibuk mengurusi rumah sakit ini dan juga rumah sakit lainnya."
__ADS_1
Farah dan Diva ikut menguping percakapan mereka. Sepertinya kedua orang ini adalah Ibu dan kakak dari Pak Reno. Keduanya berpandangan, dan tampak khawatir. Mereka sungguh takut akan kegemparan yang mungkin terjadi jika keluarga pria itu bertemu dengan Shanum di dalam.
Farah semakin cemas membayangkan peristiwa yang akan terjadi. Jangan sampai Shanum bertemu mereka di dalam. Semoga orang yang membawa kartu aksesnya masih lama datangnya. Dan mudah-mudahan orang itu mendadak ingin buang hajat dulu begitu, biar tambah lama.