Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 54 Tambatan Hati


__ADS_3

Shanum merasa dia telah salah mendengar ucapan pria itu. "Maksudmu, kau memata-mataiku selama ini?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Tentu saja aku tidak bisa melepasmu pergi begitu saja. Kau kekasihku," katanya sambil menutup pintu. Dia tidak ingin ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka.


"Tidak mungkin." Shanum mendesah, dia bergerak ke arah sofa dan duduk dengan lesu. Jawaban santai dari Khan menohoknya. Seakan-akan jawaban itu adalah ucapan paling wajar untuk hubungan mereka.


Shanum bingung dengan perasaannya, di satu sisi dia senang karena pria itu ternyata sangat memperhatikannya. Tapi di satu sisi lain dia berpikir, bahwa terlalu overprotektif juga tidaklah sehat dalam suatu hubungan.


"Sampai kapan kau akan melakukan itu?" tanya Shanum.


Khan mendesah, lalu mendekat ke arah Shanum. "Setidaknya sampai aku berada di sisimu. Aku tidak mau kejadian dengan Sarnai terjadi lagi padamu. Aku ini pemimpin klan, dan pemilik banyak perusahaan besar. Musuhku sangat banyak, Shasha. Aku tidak mau kecolongan, dan menyaksikan mereka menyakiti dirimu."


"Tapi kita kan belum mempublikasikan hubungan kita, Adri. Bagaimana orang-orang bisa tahu."


"Siapa bilang? Orang-orang dari Klan Batbayar tahu, begitu juga dengan orang-orang di klanku. Bahkan aku sudah mendengar desas-desus di luaran sana tentang hubungan kita."


Shanum mendengus. "Aku tidak takut. Jika mereka berusaha menyakitiku, aku pasti akan melawannya."


"Aku percaya, gadisku bisa menjaga dirinya. Tapi tetap saja, aku harus berjaga-jaga untuk segala kemungkinan terburuk," jawab Khan sambil tersenyum.


"Em, Adri, jika kau terus memantauku, berarti selama ini kau juga tahu apa yang kurasakan?" tanya gadis itu.


Pria itu menatapnya dengan ekspresi ragu. Seakan-akan dia berhati-hati untuk mengeluarkan kata-katanya kepada Shanum.


"Shasha, aku mendapatkan laporan hanya soal kegiatanmu sehari-hari. Di mana kau sudah melanjutkan hidupmu. Aku tidak mendapatkan laporan soal perasaanmu, hingga saat kebakaran itu terjadi. Aku baru mendapatkan laporan bahwa kau sangat terpukul. Dan aku sudah tidak bisa lagi menunda untuk datang ke sini." Khan menghampiri Shanum, dan duduk di sampingnya.


"Keinginanku untuk bertemu denganmu sudah tidak dapat dibendung lagi. Persetan dengan mereka yang mengawasiku. Kau pernah mengatakan bahwa diri kita saling terhubung kan. Aku pun merasakannya, rasa sedih dan tersiksa yang kau rasakan. Aku merasakannya setiap hari." Khan menggenggam tangan Shanum dan meremasnya erat.


"Kau bisa merasakannya juga?" tanya Shanum dengan mata kembali berkaca-kaca. Khan mengangguk.


"Aku merasakan semuanya, Shasha. Hal itu menyiksaku. Dan untungnya Dario memberikan solusi untuk masalahku itu. Dia pernah mendengar dari Chinua saat mereka masih dekat dahulu. Kalau wanita itu sedang menawarkan kerja sama dengan orang yang punya kekuatan merubah wujud di klannya." Khan terdiam, pandangannya menerawang.


"Kekuatan itu sangat jarang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Biasanya hanya dengan sihir hitamlah, kekuatan yang serupa bisa dipelajari. Namun sihir hitam tidak bisa sembarangan dipelajari, jika diketahui oleh para tetua, orang yang mempelajarinya harus dibunuh. Sihir itu sangat terlarang, karena berbahaya." Khan menatap kembali ke arah Shanum.


"Dario lalu menghubungi Chinua, dan bisa mendapatkan tempat di mana orang tersebut tinggal. Ternyata Chinua itu tidak bisa merekrutnya untuk menjadi kaki tangannya. Dia menolak tawaran sang ratu," ucapnya lagi.


Shanum mengerjap, terkejut mendengar ucapan Khan. "Lalu bagaimana kau bisa merekrut orang tersebut jika Chinua saja gagal?" potongnya.


"Ceritaku belum selesai, Sayang." Khan mencubit gemas hidung Shanum.


"Hei, sakit. Jangan cubit-cubit!" protes Shanum.


Alis Khan terangkat. "Habisnya kau menggemaskan."


"Memangnya aku anak kecil yang lucu dan menggemaskan," jawab Shanum sambil memutar bola matanya.


"Kau tidak kecil. Malah kau begitu besar menguasai hatiku," katanya dengan lembut.


Mata Shanum membola. Dia tidak percaya pria di hadapannya ini berubah menjadi pria penuh rayuan hanya dalam waktu beberapa bulan, sejak mereka berdua tidak bertemu.


"Di mana kekasihku yang kaku dan dingin itu, Adri? Mengapa dia berubah menjadi romantis tingkat akut?"


Khan tersenyum geli. "Pria itu masih ada.Yang berbeda hanyalah pria itu sekarang sedang sangat berbahagia. Karena sudah bertemu dengan tambatan hatinya."


"Betulkah? Padahal gadis itu mengira kemarin itu dia sudah dilupakan. Dia sampai patah hati dibuat oleh pria itu. Rasanya sungguh menyakitkan," bisiknya sambil menatap serius pria itu.


Ungkapan hati Shanum membuat Khan berubah menjadi muram. "Shasha, aku--" Dia memejamkan mata dan mendesah. Dan saat pria itu membuka matanya kembali, ia berkata, "Tak pernah menjadi niatku untuk melukaimu. Sungguh. Tak pernah."


Dia mengulurkan tangannya menggapai Shanum dan berusaha membuat gadis itu menghadapnya. Saat Shanum ikut berbalik, saat dia menyerah, Khan menatapnya lekat dan berkata, "Tidak hanya dirimu. Hatiku juga sakit. Aku harus menahan rindu, menahan cemburu, dan juga menahan amarah. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya di dalam sini."


Khan menarik tangan Shanum dan menempelkan telapak tangan gadis itu di dadanya. Shanum merasakan detak cepat jantung pria itu di telapaknya. Jantungnya pun ikut berdenyut cepat dan berdebar meraba dada Khan.


"Aku sangat ingin merengkuhmu dalam pelukanku dan menghiburmu saat kau menangis. Ingin mengatakan bahwa aku akan selalu ada di sisimu, jadi kau bisa menjadikanku penopang dalam hidupmu."


Shanum mendongak dan menatap mata keemasannya yang tampak bersinar sedih itu. Dia merasakan hatinya ikut sakit melihat kesedihan di kedua bola mata itu. Karena sejujurnya, dia tidak bisa terus marah padanya. Dia sungguh-sungguh mencintainya. Mencintainya tanpa pernah berhenti.


Shanum mencintainya sejak hari pertama, dia tetap mencintainya, bahkan pada saat dia bersumpah untuk membencinya. Gadis itu tetap tak kuasa menyangkalnya, dia selalu mencintai Khan.


Shanum merangkum pipi pria itu dan menarik wajah Khan sangat dekat dengan wajahnya. Khan membalas tatapannya dengan dalam. Wajahnya melembut dan penuh cinta.


Rahangnya yang terpahat indah, mata coklat keemasannya yang bisa terlihat dingin hingga membekukan, atau pun bersinar hangat seakan-akan membiusnya, dan semuanya terpampang di hadapannya.


Waktu seakan-akan berhenti di antara mereka. Shanum memandang wajah yang dirindukannya itu. Entah mendapatkan keberanian dari mana, tiba-tiba Shanum mendekatkan bibirnya ke bibir Khan. Menghirup aroma feromon pria itu yang mengguncang hatinya. Dia lalu menempelkan bibirnya, dan mendengar suara kesiap kaget.


Shanum sontak menjauhkan wajahnya dengan seketika, saat merasakan energi kejut yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Seakan-akan pertemuan bibir mereka menimbulkan arus listrik yang menyetrumnya. Wajahnya terasa panas, sekujur tubuhnya terasa panas.

__ADS_1


Namun Khan tidak ingin ia menjauh, pria itu menariknya kembali mendekat. Matanya berkilat, dan ia mengerang. Khan menempelkan mulutnya kembali ke mulut Shanum. Ia memagut bibir gadis itu.


Shanum terkejut merasakan betapa lembut bibir Khan, dan tekanan lembut yang diberikannya, membuatnya gemetar. Shanum terengah, dan mendesah saat pria itu mencicipinya dengan belaian panjang dan perlahan.


Dada Shanum terancam meledak menjadi ribuan keping. Pikirannya mendadak kosong. Dan desir aneh terasa bergejolak di dalam perutnya.


Beberapa saat kemudian, ketika akal sehatnya mulai kembali, Shanum langsung mendorong dada pria itu sekuat tenaganya.


Khan tersentak dan menabrak punggung sofa, lalu kehilangan keseimbangannya, ia terguling menuju lantai. Shanum tidak sadar kalau dia sudah menggunakan kekuatannya saat mendorong pria itu. Suara gedebuk keras terdengar ke seantero ruangan itu. Kepala pria itu menghantam lantai.


Khan tidak bereaksi, ia masih merasa linglung. Meski kepalanya terasa sakit, pria itu tidak tampak meringis. Euforia dari kecupan yang dirasakannya mengalahkan rasa sakitnya.


Pria itu tetap pada posisinya, yaitu tergeletak di lantai yang dingin. Ia mengerjapkan matanya, dan menyentuh bibirnya pelan dengan ujung jarinya. Bibirnya terasa panas dan membengkak. Mulut pria itu kemudian perlahan-lahan melebar, membentuk sebuah senyuman bahagia, yang terlihat hingga ke pancaran matanya.


Lalu Khan tersadar, saat ia mendengar geraman Shanum. Sesaat perhatiannya teralihkan dari gadisnya. Gadis yang sudah membuatnya terhempas baik secara fisik maupun jiwa. Khan beranjak bangun dari posisinya, dan menoleh ke arah Shanum.


Shanum masih duduk di sofa dengan membekap wajahnya. Ia merasa malu luar biasa, wajahnya terasa sangat panas. Ia sudah bertindak agresif dan mencium pria itu. Astaga, mau ditaruh di mana wajahnya setelah ini.


Khan beringsut menuju sofa, dan duduk di sebelah Shanum. "Shasha," panggil Khan. "Hei, lihat aku," tegurnya. Khan memegang pundak Shanum dan berusaha mengarahkannya menghadapnya.


"Jangan ganggu aku. Aku tidak mau bicara padamu," sahutnya, dengan suara agak teredam oleh bekapan tangan.


Alis pria itu terangkat, ia menarik gadis itu semakin mendekat ke arahnya. Shanum membuka bekapannya, dan menepis tangan pria itu.


"Shasha. Ada apa denganmu?" tanya Khan heran. Pria itu menahan pergelangan tangan Shanum dalam genggamannya. Shanum memejamkan matanya, tidak mau melihat Khan.


"Buka matamu, Shasha," bisik Khan di telinga gadis itu.


"Tidak mau," jawab Shanum bersikukuh.


"Oke, kalau kau tidak mau membuka matamu, aku akan menciummu lagi."


"Jangan!" Mendengar kata-kata Khan, Shanum langsung membuka matanya sambil menutupi bibirnya dengan sebelah tangan. Tangan yang sebelah lagi ditahan Khan. Dan ia menemukan seringai pria itu, terlihat binar penuh godaan di matanya.


"Lepaskan tanganku, Adri," katanya dengan ketus.


"Tidak," tolak Khan.


"Lepaas--" Shanum menggeliat berusaha melepaskan diri. Namun pria itu tetap menahannya, tenaga Shanum tentu tidak sebanding dengan tenaga pria itu.


"Adri, please, lepaskan aku," mohonnya.


Wajah gadis itu kembali memerah. "Aku... aku malu. Tadi itu..." Shanum menggelengkan kepalanya.


"Tadi itu indah," ungkap Khan.


Shanum tercekat dan menggeleng. "Tapi... tapi kan--"


"Tapi apa? Kau menyesalinya?" tanya Khan lagi dengan pandangan tajam.


"Bukan begitu. Tapi tidak seharusnya kita melakukan itu. Ah, jika Ayahku tahu bisa-bisa kita langsung disuruh menikah, Adri."


Sesaat Shanum membeku. Setelah mengucapkan kata-kata tentang ayahnya Shanum mendadak sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca.


Khan melihat perubahan ekspresi gadis itu menjadi tidak tega meneruskan godaannya. Ia langsung menarik Shanum ke dalam rengkuhannya. Shanum seketika menangis dalam pelukan pria itu.


Dia memeluk erat tubuh Khan. Dekapan yang sangat ia rindukan. Ia mencurahkan seluruh kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan selama satu bulan ini di pelabuhan cintanya itu.


"Shasha, dengar--" Khan menarik napasnya dalam.


"Aku akan sangat bahagia jika harus menikahimu. Dan sangat ingin kita menikah dengan disaksikan oleh kedua orang tuamu. Jadi, menangislah sekarang sepuasnya. Keluarkan semua kesedihanmu. Setelah itu aku ingin melihatmu tersenyum kembali. Jangan cemas, kita pasti akan bisa menemukan mereka. Aku akan berusaha membantumu."


Shanum merenggangkan pelukan, mendongak ke arah Khan, lalu berkata, "Bagaimana jika mereka telah tiada, Adri?" Gadis itu kembali menyurukkan wajahnya ke dada Khan sambil terisak.


Khan mengusap rambutnya. "Shhh... jangan pikirkan yang terburuk dahulu. Kau harus tetap optimis mereka masih hidup. Dan jika nanti kenyataannya memang yang terburuk harus terjadi, kau tetap harus tegar. Aku akan selalu mendampingimu."


Khan terdiam sesaat, lalu dia mengecup rambut gadis itu sambil kembali membelainya. "Aku yakin kekasihku ini sangat kuat. Buktinya tadi aku sampai mendarat dengan keras di lantai akibat dorongannya. Mungkin salah satu bagian kepalaku ada yang terluka saat ini," goda Khan.


Shanum tidak menyahut. Namun Khan merasakan guncangan di dadanya. Perlahan, terdengar suara tawa yang tertahan di dalam rengkuhannya. Khan mendorong bahu Shanum dengan lembut.


Saat mata mereka berdua bertemu. Gadis itu tidak dapat lagi menahan tawanya. Suara tawa gadis itu membahana. Khan memperhatikan Shanum sambil tersenyum.


"Akhirnya, aku dapat mendengar lagi suara tawa itu. Suara tawa yang terdengar merdu di telingaku. Dan aku sungguh merindukan tawa indahmu itu."


Wajah Shanum kembali memerah, ia mengerang. "Sudah ah, jangan merayuku terus, Adri. Aku malu tahu," protesnya.

__ADS_1


"Tapi kau tidak terluka kan? Maaf tadi aku mengeluarkan gerak refleks yang terlalu berlebihan. Aku tadi merasa terkejut oleh..." Shanum tersipu malu.


Khan menggeleng dan berdeham. "Aku baik-baik saja. Oke, sudah cukup kata-kata manis untuk hari ini. Aku juga bingung, bagaimana bisa hanya dalam waktu satu hari, aku mendadak menjadi pujangga cinta. Kau benar-benar sudah merubahku, Shasha." Shanum balas tersenyum ke arah pria itu.


"Hmmm, sekarang ada yang ingin kutanyakan. Tentang kebakaran itu. Tolong ceritakan semuanya padaku."


"Sebentar, Adri. Aku mau ambil minum dulu ya. Omong-omong, kau mau diambilkan minuman apa, Adri?" Shanum bertanya sambil beranjak dari duduknya. Dan saat dia baru saja akan mulai melangkahkan kakinya, salah satu tangannya ditarik kembali oleh Khan.


"Cukup air putih saja, dan jangan terlalu lama. Aku tidak rela harus pisah jauh lagi darimu. Masih ingin berada selalu di dekatmu."


"Astaga, Adri. Aku cuma ke dapur. Itu dapurnya di sana. Terlihat kan dari sini. Baru juga tadi aku bilang, jangan merayuku lagi, Adri." geram Shanum sambil memutar bola matanya.


"Aku tidak sedang merayu. Aku cuma mengungkapkan apa yang kurasakan di sini." Khan menunjuk dadanya.


Shanum kembali bersemu merah. "Oke, cukup. Tenggorokanku menjadi semakin kering mendengarmu." Gadis itu melepas genggaman tangan Khan. Dan segera melangkah menuju dapur.


Khan memperhatikan gerakan Shanum. Dia tidak pernah melepaskan pandangannya. Seluruh gerak-gerik gadis itu dalam pantauannya. Dan pandangan mata Khan memandang lekat gadis itu.


Shanum merasakannya, dan dia menjadi salah tingkah sendiri. "Oke, aku tidak tahan lagi."


Shanum meletakkan gelas di atas meja dapur. Lalu berderap menuju Khan. Dia berkacak pinggang, wajahnya terlihat garang.


Khan mengangkat alisnya. "Ada apa? Sudah selesai minumnya?"


"Belum, aku jadi tidak bisa minum, gara-gara kau," dengusnya.


"Loh, memangnya apa salahku?" tanya Khan bingung.


"Itu matamu memperhatikanku terus. Seakan-akan aku..." Shanum menelan ludahnya.


"Ya--" Khan menatap penuh tanya.


"Seakan-akan aku sumber makanan yang hendak kau terkam dan kau nikmati."


Khan menyeringai mendengar kata-kata Shanum. "Well, ternyata kau bisa merasakannya. Aku tersanjung, Sayang."


"Aku tidak, yang ada malah risih. Sekarang kau menghadap ke depan. Eiits... tidak boleh melirik, apalagi tolah-toleh." Shanum memegang kepala Khan dan mengarahkannya ke depan.


"Nah iya, seperti itu. Terus seperti itu, tidak boleh bergerak sedikit pun."


"Yang benar saja, Shasha. Masa aku harus bersikap terus seperti ini. Bisa-bisa leherku kaku nantinya," protes Khan.


"Cuma sebentar. Aku tidak akan lama, oke," kata Shanum.


Khan menghela napasnya dan menggeram. "Ayo cepat, kalau sampai leherku pegal dan kaku nanti aku akan minta pertanggungjawaban darimu. Pokoknya kau harus memijat leherku."


Shanum mendengus lalu kembali ke dapur. "Sudah belum?" tanya Khan. "Ya ampun, baru juga mau mengangkat gelasnya ke mulut. Sabar dong, Sayang."


Khan seketika menoleh dan berkata, "Apa katamu tadi?" Wajahnya terpana.


Gadis itu melotot. "Di bilang jangan tolah-toleh."


"Bukan itu, tapi kata-kata yang tadi kau ucapkan," kejar Khan.


"Em... apa ya?" Shanum pura-pura berpikir. "Sudah lupa tuh." Gadis itu lalu mengendikkan bahunya, dan melanjutkan meneguk air dari gelas dengan wajah datar.


"Ooo--jadi tidak ingat ya. Benarkah? Hmm--" Tiba-tiba Khan sudah berada di samping Shanum. Dia lalu mengambil gelas dari tangan Shanum, menuang air dari teko dan meminumnya.


"Hei, itu gelasku!" protes Shanum. Khan tidak mengindahkan kata-katanya. Gadis itu akhirnya pasrah, tidak bisa melarang lebih lanjut. Dia memperhatikan Khan saat minum menggunakan gelas kesayangannya dengan perasaan aneh. Ada desir hangat yang menyeruak di dalam dadanya.


"Jadi, masih tidak ingat?" ulang pria itu setelah dia menghabiskan air untuk yang ketiga kalinya dari gelas itu. Khan menoleh pada Shanum. Gadis itu menanggapi dengan tersenyum smirk sambil kembali mengangkat bahunya.


"Oke. Bagaimana jika begini?" Khan lalu menunduk dan mengangkat Shanum. Dia memanggul gadis itu di bahunya. "Masih tidak ingat?" tanya Khan lagi. "Tidak tuh," jawab Shanum sambil terkikik geli. Khan lalu menepuk bokongnya.


"Hei, astaga." Shanum menjerit kaget. "Jangan lakukan itu."


"Bagaimana? Apa sudah ingat sekarang?" Khan menepuk lagi.


"Iya--iya. Sudah ingat. Tolong turunkan aku."


Khan mengikuti kemauan Shanum. Dia menurunkan gadisnya kembali berpijak ke lantai.


Mereka bertatapan dalam diam. "Katakan," ucap pria itu dengan suara serak. Shanum berdeham, dan berkata pelan, "Sayang--"


"Katakan lagi," pinta pria itu.

__ADS_1


"Aku sayang padamu," tambah Shanum sambil tersenyum malu-malu.


Khan memejamkan matanya. Dia lalu mendekatkan keningnya ke kening Shanum. "Aku juga sangat menyayangimu. Dan sangat mencintaimu, Shasha."


__ADS_2