
Shanum duduk di ranjang, dengan lengan memeluk tungkai, dagu ditumpukan ke lutut, dan mencoba menjernihkan berbagai pikiran serta emosi yang menyerangnya. Dia menutup ikatannya, agar tidak dapat membaca kembali perasaan yang berkecamuk di dalam diri Khan.
Shanum melirik Khan. Pria itu masih memandang langit-langit, sibuk dengan pikirannya sendiri. Khan tidak menyadari jika ia sudah membuat Shanum menderita di sebelahnya. Gadis itu menghela napasnya. Dadanya yang dihantam kekuatan api masih menyisakan sedikit rasa sesak.
Namun sekarang bertambah satu lagi kesakitan yang menyerang dadanya, yaitu rasa curiga dan cemburu terhadap wanita yang bernama Sarnai. Shanum menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh bersikap seperti ini. Belum tentu kecurigaannya ini akan terbukti. Kalaupun nanti terjadi, terus kenapa? Apakah itu harus membuatnya terpuruk?
Dia menginginkan pria itu, dan ia tidak bisa mengalah begitu saja. Dia bukan gadis penakut, ia pemberani. Meski nantinya ia harus bertindak memalukan memperebutkan Khan dengan siapa pun yang berniat mengambil pria itu dari dirinya, ia akan melawannya dengan gigih.
Mungkin dia akan dicap sebagai gadis yang tidak tahu diri ataupun tidak punya etika. Tapi dia tidak mau menyesal dan menghabiskan sisa hidupnya dengan melewatkan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.
Baginya, hidupnya mungkin teramat singkat, tanpa ruang bagi penyesalan. Karena itu, kenapa ia tidak boleh bersikap posesif kepada prianya?
"Adri..." Shanum berbisik di telinga Khan. Berusaha memancing pria itu yang masih diam membeku.
Khan tersentak sadar dari lamunan atau apa pun yang sedang ia pikirkan. Pria itu menoleh ke arah Shanum.
"Ya," katanya datar.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Adri."
"Aku tidak bisa menjawabnya," kata Khan singkat. Tak ada kelembutan, atau pun rasa geli, hanya ketegangan dan bayangan gelap terpancar dalam bola matanya.
"Aku tidak mau membahas soal Sarnai, dia---" Khan terdiam, menyentuh rambutnya sambil menghela napas. "Adalah masa lalu."
Shanum menggeser tubuhnya, menjauh, mengambil beberapa langkah ke pinggir ranjang dari sisi yang berlainan dengan posisi Khan, dan duduk di sana. Ia memegang dadanya, lalu mengusap wajahnya.
"Kau baik-baik saja, Shasha?" tanya Khan sembari bangun dari posisi tidurnya. Pria itu beringsut mendekati Shanum. Dia sepertinya merasakan kegelisahan gadis itu.
Shanum tidak menolak saat Khan mengambil telapak tangannya dan menarik dagunya agar menoleh ke arahnya.
"Shasha, lihat aku." Khan memanggil gadis itu agar menatapnya, sementara sejak tadi Shanum terus menunduk tidak mau melihat wajah Khan.
Akhirnya Shanum mendongak dan berkata, "Maafkan aku, Adri." Seolah-olah ia merasa menyesal sudah mengungkit tentang Sarnai.
"Untuk apa?" tanya Khan dengan tenang.
"Karena kedepannya aku tidak akan mengalah pada wanita mana pun. Kau priaku, kekasihku, belahan jiwaku. Jadi aku tidak akan melepaskanmu tanpa perlawanan."
Kata-kata Shanum itu terdengar sangat posesif dan hal itu membuat mata Khan terperanjat kaget.
"Jadi kau harus terbiasa oleh hal itu. Kecuali kau mengatakan keberatan padaku sekarang, maka aku akan mengerti dan menjauh," lanjutnya tegas. Terjadi jeda, Shanum menarik napasnya.
"Meski itu tentu saja akan menghancurkan hatiku," kata Shanum kembali dengan suara lirih.
Khan langsung membekap mulutnya. Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan diteruskan, aku tidak mau ini berujung menjadi pertengkaran," kata Khan dengan gigi terkatup. Shanum terlihat rapuh, namun penuh tekad, terlihat sangat luar biasa cantik di mata Khan. Pria itu melepas bekapan tangannya, dan menarik tangan gadis itu ke hadapan wajahnya.
"Tangan yang indah, seindah wajah pemiliknya," ia menggumam, membalikkan tangan Shanum dan menciumnya dengan lembut tepat di tengah bagian paling peka di tengah telapak tangannya.
Pria itu mendengar desah lembut lolos dari bibir gadisnya. Ia jadi ingin mendekapnya erat serta menciumnya dengan lembut, dan manis. Meski hal itu akan membuat gadis itu marah.
"Apakah aku boleh menciummu?" tanya Khan langsung tanpa basa basi. Mata Shanum mengerjap, lalu perlahan membola, wajahnya tampak gugup, ketika ia sudah bisa mencerna makna ucapan Khan.
Hal yang salah untuk ditanyakan, putus pria itu muram, karena ia tak seharusnya membuat gadisnya menjadi takut.
"Maaf, anggap saja aku tidak pernah menanyakannya," kata Khan sembari bergerak bangun dari duduknya.
"Boleh," kata Shanum dengan pelan.
__ADS_1
Khan mengedipkan mata karena kaget. Dia langsung menoleh. Dia menatap Shanum dengan pandangan tidak percaya.
Shanum menganggukkan kepalanya sembari tersipu malu.
Khan kembali duduk di samping gadis itu dengan gerakan canggung. Awalnya dia hanya menatap dan Shanum menunggu dengan jantung yang berdetak cepat.
Kemudian, pria itu menarik dagu Shanum, sembari menelan ludah. Tidak ada satu pun kata-kata yang sanggup keluar dari mulut keduanya. Dada Khan berdebar kencang dan darahnya berdesir hebat.
Ia masih menatap wajah gadisnya dengan ragu, sementara kekasihnya itu sudah memejamkan matanya sembari mendongak pasrah. Khan menghembuskan napasnya, ia tersenyum lembut dan menggeleng.
Khan menarik kepala Shanum dengan lembut lalu mencium keningnya. Dia memejamkan matanya dan berdiam cukup lama meresapi kehangatannya.
Kemudian Khan menarik gadis itu semakin merapat, jatuh ke dalam rengkuhannya.
"Mengapa kau berubah pikiran, Adri?" tanya Shanum dengan suara bingung di sela-sela dekapan pria itu.
"Aku tidak bisa melakukannya, Shasha," jawab Khan.
Tubuh Shanum langsung kaku, dia merenggangkan pelukannya. Wajahnya terlihat gusar, dan menatap tajam pada Khan.
"Apakah karena tadi kita membicarakan tentang Sarnai, kau merasa tidak bisa menciumku? Karena dengan melakukan itu kau jadi menodai kenangan tentang kalian," kata Shanum berasumsi dengan melotot ke arah pria itu.
Khan merasakan ketegangan yang tak asing lagi di perutnya, serta sensasi bahwa seluruh saraf tubuhnya mewaspadai bahaya. Dan ia merasakan sesuatu yang nyata terlepas dari genggamannya, tak terjangkau saat ia berupaya menangkapnya. Perutnya serasa ditonjok.
"Tentu saja tidak! Aku tidak bisa melakukan itu bukan karena Sarnai. Aku melakukannya untukmu. Karena aku menghargaimu. Aku ingin kita melakukannya saat kau sudah sah menjadi istriku."
Shanum tertegun, ia tidak menyangka mendengar kata-kata itu dari bibir Khan.
"Apakah kau masih meragukan cintaku, Shasha?" desah Khan lirih sembari mengacak rambutnya. Wajah frustasi terlihat di dirinya.
"Aku tadi merasakan melalui ikatan kita..." Shanum menelan ludahnya. "Kau masih merasakan sesuatu pada wanita itu. Dan itu membuatku..." Suara Shanum terdengar tercekat, dan tersiksa.
Khan melihat pertanyaan, pertentangan dan keraguan gadis itu. Shanum merasa kecewa saat ia tidak jadi mencium bibirnya, dan gadis itu juga merasa dia tidak menginginkannya lagi. Seketika Khan menarik Shanum ke dadanya dan mencium rambutnya dengan membabi buta. Shanum tidak tahu betapa tersiksanya ia menahan nalurinya untuk mengklaim gadis itu.
Shanum melawan, meninju dadanya sembari menggeram kesal. Dan Khan tak mengacuhkan setiap pukulan, hanya tertuju pada cara menenangkan gadis itu.
Khan lalu mendorong Shanum rebah ke atas ranjang. Ia menjepit tangan Shanum di atas kepalanya, menggunakan bobot tubuhnya untuk menundukkan Shanum dan menatap gadis yang terbaring terengah-engah di bawahnya.
"Oh, Sayang. Kau tidak tahu bagaimana inginnya aku menciummu. Betapa sakitnya diriku berusaha melawan keinginan itu. Kuakui tentang Sarnai, rasa sakit yang ditorehkannya belumlah hilang. Maafkan, jika hal itu menyakitimu."
Shanum berhenti melawan, ia mendesah lelah, dan menatap dengan ekspresi kalah. "Baiklah, kini aku tahu jawabanmu. Maaf, aku tidak sanggup memiliki kekasih yang masih dibayang-bayangi oleh kisah masa lalunya."
Wajah Khan memucat, jantungnya serasa jungkir balik di dalam dadanya. Dia masih tak percaya mendengar Shanum mengucapkan kalimat itu.
"Tolong pergilah." Shanum menolehkan wajahnya. Dia menutup matanya, tidak mau melihat wajah Khan.
**Dia m**enyuruhnya pergi? Sungguh mustahil.
Khan menatap Shanum dengan pandangan keruh dan sama menyakitkannya dengan serpihan kaca.
"Baiklah," kata Khan dan beranjak dari ranjang. "Ya, kau akan melepaskanku dan menyuruhku pergi."
Shanum langsung membuka matanya, dia bangkit duduk. Wajahnya terlihat tidak senang, pikir Khan, berusaha membaca wajah gadis itu, sadar sejak tadi ia tak memahami baik Shanum maupun dirinya sendiri.
"Baiklah," ulang Khan dan akhirnya memahami alasannya. Ia berdiri menghadap meja rias. Ia bisa merasakan kelelahan tak terperi diseluruh tubuhnya, tapi saat ini sepertinya tak penting.
"Aku mencintaimu, Shasha. Aku tak bisa memaksamu melakukan yang tak kau inginkan. Kau terlalu berarti bagiku." Khan mengawasi wajah Shanum dari cermin, tak sanggup menatapnya langsung, seolah ucapan Shanum telah mengubah hatinya menjadi batu.
"Aku mencintaimu dan karena itu aku akan melepaskanmu," ucap Khan lagi dengan pahit.
__ADS_1
"Oh, Adri."
Mata Shanum mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis," kata Khan tak berdaya. Sepertinya bahkan melepas Shanum tak mampu membuat gadis itu bahagia. "Katakan apa yang kau inginkan dan akan kulakukan, hanya jangan menangis."
Seiring dengan ucapan Khan, muncul kesadaran yang bergetar di dalam diri Shanum, tepat di bawah kulitnya, lalu meresap semakin dalam. Betapa luar biasanya, mengetahui bahwa dia sangat dicintai oleh pria itu. Hingga dia sanggup melepas Shanum.
Shanum sekarang merasa yakin, bahwa dia akan tetap berjuang untuk rasa cinta ini. Meski nantinya ada banyak pertentangan atau pihak-pihak yang berusaha memupuskan perjuangannya. Tadi ia sebenarnya ingin menguji Khan. Dia ingin tahu apa jawabannya. Dan jawaban pria itu sudah sangat tepat.
Menurutnya, cinta sejati tidaklah egois. Kebahagiaan pasanganmu adalah segalanya untukmu, meski hal itu berarti akan mencabik-cabik hatimu.
"Tetaplah di sisiku, Adri. Tolong," kata Shanum dan Khan melihat gadis itu tersenyum di balik air matanya.
"Aku tidak jadi melepasmu, Adri." Shanum beranjak menghampirinya. Memeluk punggung pria itu, dan akhirnya Khan berbalik sembari memegang tangan Shanum. Khan menatap matanya.
"Kau ingin aku tetap bersamamu. Apakah kau berubah pikiran lagi?" Khan terlihat lebih bingung ketimbang marah akan sikap Shanum.
"Maaf, tadi aku mengujimu. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya terhadap Sarnai," kata Shanum, menangkup wajah tampan Khan, menatap matanya.
"Kukatakan pada diriku aku harus tahu seberapa jauh rasa cintamu terhadapku. Dan aku bisa menoleransinya selama kau tetap mencintaiku sedalam saat ini. Aku yakin suatu saat hanya akan ada aku di sini." Shanum menunjuk dada pria itu dengan telunjuknya.
"Shasha." Khan mengucapkan namanya bagai sumpah sembari menimang wajah Shanum dengan kedua belah tangannya seolah sedang menimang benda paling berharga sejagat raya.
Shanum tersenyum lembut, saat dirasakannya pria itu mengusap air mata di pipinya dengan jemarinya. Ia menemui pandangan Khan yang dalam. Pria itu tersenyum hangat, dan berkata, "Aku ingin kau percaya padaku. Jangan pernah meragukanku. Percayalah... Rasa cintaku kepadamu tak terukur."
"Jadi kau tidak keberatan dengan sikap posesifku itu, Adri," kata Shanum dengan pandangan serius.
Khan menggeleng. "Berarti kita serasi, Shasha. Kita berdua sama-sama posesif." Wajahnya menyeringai penuh kebahagiaan.
Shanum memukul dada pria itu dan terkekeh geli. "Aku baru tahu ada pria yang bisa bahagia mendapatkan kekasih yang posesif bukannya merasa sesak napas. Biasanya pria kan lebih suka bebas seperti burung."
"Oh, aku akan selalu bahagia, Sayang. Sangat suka terikat, asalkan bersamamu. Karena kaulah segalanya bagiku," bisik Khan, suara seraknya terdengar sangat seksi.
"Hei kalian dua merpati yang berada di dalam. Apakah aku bisa menganggu sebentar? Aku sudah menunggu sejak tadi ini. Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kalian berdua."
Mereka berdua berpandangan mendengar suara yang mendadak muncul dari balik pintu. Lalu Shanum tersenyum geli. "Sepertinya itu suara Sergei, Adri. Dia mencari kita."
"Huh, buat apa dia malam-malam ke sini. Mengganggu saja," gerutu Khan.
"Tidak boleh begitu. Mungkin saja ada hal penting yang mau dia bicarakan, sehingga tidak bisa di tunda sampai besok," kata Shanum sembari menarik tangan pria itu dan melangkah menuju pintu.
Shanum membuka pintu kamar dan menemukan Sergei sedang tersenyum geli sembari menatap mereka. Di sebelahnya berdiri juga Diva dengan senyum penyesalannya, gadis itu mengucapkan kata 'maaf' tanpa suara kepada Shanum.
"Ada apa? Kau sudah menginterupsi kejadian indah yang terjadi diantara kami tadi," kata Khan dengan ketus.
Diva langsung membekap mulutnya, wajahnya seketika memerah. Dan Sergei mendengus kesal ke arah Khan. "Sialan kau! Jangan membuatku harus memukulmu karena sudah mencemari pikiran Lunaku dengan kata-katamu yang ambigu itu."
Shanum yang awalnya tidak mengerti mendadak paham bahwa kata-kata Khan bisa menimbulkan kesalahpahaman. "Kau harus jelaskan kepada mereka dengan kalimat yang jelas, Adri. Jangan bermakna ganda," protes Shanum sembari melotot pada Khan.
"Mereka saja yang pikirannya kotor. Aku kan tidak bilang kita habis bercinta," sahut Khan langsung tanpa di saring lagi.
"Astaga, mulutmu itu, Adri." Shanum langsung mencubit lengan pria itu yang sekeras batu. Wajah nya juga tampak bersemu merah.
Sergei memutar bola matanya. "Aku sudah tahu. Seorang Khan Adrian tetaplah pria kaku dengan sederet aturan yang wajib dipatuhinya. Kau tenang saja Shanum, dia tidak akan mungkin mencemarimu sebelum kalian menikah. Karena aturan di klan juga sangatlah ketat mengatur soal itu. Jika kau sudah tercemar, kau tidak akan bisa menjadi ratu. Kau hanya akan menjadi selir yang bahkan derajatnya pun akan dipandang sebelah mata oleh banyak orang," kata Sergei sembari terkekeh geli.
"Benarkah? Kok aku tidak pernah mendapatkan informasi soal itu. Apalagi yang masih kau sembunyikan dariku, Adri? Aku akan sangat kecewa jika nanti harus mendengarnya kembali dari orang lain." Shanum melirik Khan sembari menyipitkan matanya.
Sergei tertawa semakin keras mendengar ucapan Shanum. Pria itu sangat senang melihat sikap serba salah dan tak berkutik yang dialami Khan saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Diva langsung menyikut pinggang Sergei sembari melotot. Dia tidak tahan melihat wajah Khan yang semakin dingin dan kaku menahan amarah. Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah dari kedua pria itu di depan pintu kamar ini.