Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 106 Pertukaran


__ADS_3

"Hentikan! Tidak perlu banyak bicara!" Chinua langsung menyerang. Dia melemparkan bola sihir ke arah pria bertopeng itu. Namun pria itu bisa menepisnya dengan mudah. Bola cahaya itu beralih menghantam dinding yang berada di belakang pria itu, dan menghancurkan dinding.


Melihat pria bertopeng itu diserang, seluruh pasukannya bergerak ikut menyerang balik. Shanum mendengar suara ledakan juga dari arah pintu. Dinding yang menopang pintu itu sudah hancur berantakan.


Keluar, Shasha. Lebih baik kita bertempur di luar ruangan. Berbahaya berada di sini!


Shanum mendengar perintah Khan di dalam ikatan mereka. Dia kontan berlari. Berlari ke sisi Khan, keluar dari kastil itu. Sepanjang perjalanannya, ia dan Khan banyak melawan kawanan pria bertopeng itu. Shanum berkolaborasi dengan Khan, dia menendang, memukul, menyerang, dan bertahan dari serangan dari berbagai sisi.


Shanum sempat melirik Chinua sedang melawan langsung pria bertopeng itu. Dia terkesima karena pria jahat itu dapat melayangkan pukulan sihir yang membuat Chinua memuntahkan darah. Namun, Chinua tidak menyerah begitu saja, dia kembali menyerang dengan ganas.


Awas Shasha dari arah sampingmu! Jangan lengah!


Shanum mendengar suara Khan menggelegar di kepalanya. Dia refleks membuat pelindung, hingga pedang yang nyaris memenggal kepalanya terpental.


"Jangan melukai gadis itu, Bodoh!"


Shanum mendengar pria bertopeng itu menggeram marah ke arah pria yang tadi nyaris membunuhnya. Matanya membola ketika melihat pria yang menyerangnya tadi terhempas jatuh oleh serangan pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu langsung menghukum di tempat temannya sendiri hanya karena Shanum.


Lalu Shanum kembali fokus saat ada yang berusaha menyerangnya. Dia mengelak dan menghantam tubuh mereka, satu demi satu dengan kekuatannya. Dia tidak boleh lengah, musuh bertambah banyak berdatangan ke tempat ini.


Di depan Shanum teriakan bertambah gencar, tampaknya suara Chinua sedang memberikan komando kepada pasukan elitnya. Sepanjang pergerakannya, Shanum berpisah dengan Khan.


Adri, di mana kau?


Shanum mencoba memanggil suaminya itu melalui ikatan mereka. Tapi tidak ada reaksi balasan dari Khan. Tidak mungkin pria itu tak dapat mendengarnya. Ikatan di antara mereka sudah sempurna.


Seharusnya Khan dapat mendengarnya, kecuali jika mereka berhasil melumpuhkannya. Shanum mulai cemas telah terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa Khan, dan berharap dugaannya itu tidaklah benar. Semoga suaminya tetap baik-baik saja tanpa kekurangan sesuatu apa pun.


Shanum sampai di tepi tebing yang menuju laut. Sepertinya kawanan itu sengaja memisahkan dan menggiringnya ke tepi laut. Shanum terlihat gugup, dia telah memasuki perangkap. Apa yang harus dilakukannya?


Shanum menatap ke arah kawanan yang kini berkumpul di hadapannya.


"Sebaiknya kau menyerah. Kami diperintahkan harus membawamu hidup-hidup," ucap salah seorang pria dari kawanan itu.


Shanum menyeringai. Kemudian dia melayang sembari mengangkat tangannya. Shanum memejamkan matanya, dan membukanya setelah beberapa saat. Netra matanya tampak berubah menjadi berwarna keemasan.


Shanum menghadap lautan, ia memanggil roh penjaga lautan. Dia seperti di bimbing oleh tangan tak kasat mata untuk melantunkan mantra pemanggilan itu. Seolah-olah menjawab panggilannya, roh itu bangkit. Shanum menyerah pada kekuatan yang menderu di dalam tulang-tulang, darah dan napasnya. Dia merasa roh itu mulai menyatu ke dalam dirinya. Shanum membuatnya tunduk padanya.


Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, air laut di belakangnya bergejolak, lalu naik lebih tinggi, membentuk sulur berputar mirip salah satu fenomena alam angin tornado.


Kawanan itu berhenti, terpaku di tempat saat Shanum berputar menghadap mereka. Lalu sulur berputar itu mengikutinya. Shanum mengarahkan tangannya dan sulur itu menyerang musuh-musuhnya. Kawanan penyihir hitam itu langsung berputar, melarikan diri. Namun sulur air dari lautan itu lebih cepat.


Dan Shanum mengimbangi kecepatannya, selagi dia berlari bersama sulur itu. Laut semakin bergejolak, angin bertiup sangat kencang. Satu persatu anggota kawanan itu tumbang, air menjejal masuk ke kerongkongan mereka, menenggelamkan mereka.


Shanum hanya tinggal menunjuk pihak lawan, lalu sulur air itu segera melakukan eksekusinya. Sedangkan untuk kawanan yang terbang di udara berhenti terbang, mereka terombang-ambing oleh angin. Tapi mereka masih dapat melancarkan serangan kepada pasukan Chinua.


Shanum mendongak ke atas, dia mengangkat tangan sejajar kepala dan mengepalkan tangannya. Air meredam mereka, pakaian mereka, wajah mereka, dan berubah menjadi es.


Es yang sangat dingin sehingga tetap beku di bawah cahaya, di bawah titik panas kekuatan mereka. Es dari bagian diri Shanum yang tiada ampun, tiada simpati untuk apa yang telah dan sedang dilakukan kawanan ini terhadap Klan Batbayar. Gadis itu memiliki kemampuan lain untuk membekukan air, kekuatan itu mendesis kuat menguasai setiap sel di tubuhnya.


Dalam keadaan padat membeku, lusinan kawanan itu bersamaan jatuh ke bumi dan hancur berserakan di jalan bebatuan. Shanum tak perlu melihat satu-persatu, kekuatan itu sudah tahu yang mana pihak kawan dan yang mana lawan. Dia hanya memberi perintah di awal dan memantau kehancuran pihak lawan di lapangan.


Mereka yang berada di langit berusaha melarikan diri, namun kekuatan Shanum tak dapat dihindari. Kekuatan yang diperlihatkannya saat ini sungguh mengerikan. Pihak lawan yang dilewati oleh Shanum tersapu habis, baik di darat maupun yang berada di angkasa. Keadaan merubah Shanum menjadi seorang eksekutor yang sadis.


Sementara itu di tempat lain, Osbert berusaha bertarung sambil menjaga kedua sahabat Shanum tetap hidup. Mereka berhasil menyelinap menuju jalan rahasia di kastil itu, namun di ujung pintu keluar, sudah menanti segerombolan pria kawanan penyihir hitam. Sepertinya setiap sisi kastil sudah dikepung oleh kelompok itu.


Jika sudah begini dengan terpaksa dia harus ikut bertempur. Padahal tadinya rencana Osbert, dia akan membawa kedua sahabat Shanum itu ke tempat yang aman dahulu tanpa bersinggungan dengan kawanan itu.


Kalau saja dia bisa membuka portal mungkin akan lebih mudah. Kedua gadis itu akan dikembalikan olehnya ke Astrakhan. Sayangnya, akses portal ditutup oleh Sang Ratu untuk menghindari kedatangan rombongan selanjutnya dari kawanan ini memasuki Abbasid.


Osbert melihat Farah ikut membantunya dengan gerakan beladiri yang dikuasainya. Sedangkan Diva terlihat pucat pasi sembari berlindung di belakang Farah dan Osbert.


Osbert terpana ketika melihat Farah berhasil mengambil pedang salah seorang musuh dan melukai beberapa orang dari kawanan itu.


Namun, meski Farah sangat lihai, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan musuh. Gadis itu hanya manusia biasa yang memiliki batas kekuatan. Kini Osbert melihat jejak-jejak kelelahan sudah terpancar darinya. Terlebih lagi, Farah harus bertarung sembari membawa beban, yaitu Diva.


Melihat hal itu, Osbert mulai merasakan respek kepada Farah. Gadis jelata yang dipandang sebelah mata olehnya ternyata adalah seorang pejuang. Sekarang, Osbert menatap dengan kacamata yang berbeda terhadap gadis itu.


"Hei kalian, masuk kembali ke dalam lorong rahasia. Aku akan membuat mantra perlindungan. Jangan pernah keluar dari sana," teriak Osbert.

__ADS_1


Mendengar aba-aba Osbert, Farah langsung berlari masuk kembali ke dalam lorong rahasia sembari menarik tangan Diva. Setelah mereka berada di dalam, Osbert mengucapkan mantra, lalu sinar berwarna lembayung muncul dari kedua belah tangannya, sinar itu menutupi jalan masuk dari lorong rahasia bagaikan tembok batu yang kokoh.


Melihat hal itu, pihak lawan semakin beringas. Mereka memanggil bala bantuan. Osbert menatap kecut pasukan tambahan yang tentunya akan menyerangnya.


"Kau pasti bisa, Osbert. Buktikan bahwa kau seorang pria, meski wajahmu cantik," teriak Farah.


Mendengar ucapan Farah, Osbert mendengus keras. Baru saja dia kagum dengan gadis itu, kini mulut ceriwisnya itu kembali lagi membuatnya kesal.


"Oh tutup mulutmu, Gadis Jelata! Aku tidak perlu kata-kata penyemangat dari mulutmu yang beracun itu." Osbert membalas dengan nada suara dingin.


Kemudian Osbert tidak sempat lagi mendengarkan ucapan absurd yang keluar dari mulut gadis itu. Dia sibuk melawan kawanan yang menyerangnya.


"Apa yang kau lakukan? Jangan membuat pria itu kesal, Farah. Sekarang ini kita bergantung kepadanya. Bagaimana kalau dia menelantarkan kita di sini hanya karena mulutmu yang kurang pendidikan itu?!" Diva mengomel kepada Farah dengan ekspresi cemas.


Farah memutar bola matanya. "Dia tidak mungkin meninggalkan kita di sini. Biasanya seorang bawahan itu patuh kepada atasannya. Kan tadi Ratu Chinua sudah memerintahkan kepadanya untuk membawa kita ke tempat yang aman."


Tiba-tiba suara dentuman terdengar di telinga mereka berikut goncangan yang membuat kedua gadis itu tersentak. Diva malah langsung tiarap di tanah. Sedangkan Farah berjongkok sembari mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan hati-hati.


Farah melihat ada seorang wanita sedang mengucapkan mantra sembari melepaskan bola energi berwarna hitam pekat. Wanita itu sangat imut. Berwajah manis dan menggemaskan. Keseluruhan penampakan wanita itu sangat menipu, dengan tubuh mungil namun mampu mengeluarkan kekuatan sedahsyat itu tanpa berkedip.


Hanya pancaran bola matanya dan ekspresi wajahnya saja yang mencerminkan kekuatannya. Bola mata itu terlihat berkilat kejam, dengan ekspresi sadis yang menyertai setiap kekuatan sihir yang ia lakukan.


Farah mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan Osbert. Kemudian matanya terbelalak lebar. Dia melihat Osbert sedang melayang di udara, tubuhnya dikelilingi oleh banyak sulur hitam.


Pria itu bergerak-gerak memberontak ingin melepaskan diri sembari menggeram marah. Wajah cantiknya tampak kelam mengeluarkan amarah. Akan tetapi, sulur yang mengelilinginya itu mengikat tubuhnya dengan erat.


Farah kaget serasa bermimpi, dapat melihat hal yang sangat mustahil itu di depan matanya. Meski dia seharusnya sudah sering mengalaminya sejak bersahabat dengan Shanum. Namun hati kecilnya sebagai manusia biasa tetap saja terbiasa. Dari awal Shanum bercerita tentang mimpinya yang aneh, semua sudah terasa menakjubkan dan sedikit menyeramkan juga.


Akhirnya Osbert berhasil melepaskan diri dari sulur itu. Pria itu membekukan sulur menjadi es, kemudian menghancurkannya berkeping-keping. Dia berteriak sembari merentangkan tubuh, lengan dan kakinya di udara, lalu mendarat dengan memukau di tanah.


Suara ledakan kembali terdengar seiring dengan terbebasnya pria itu. Farah langsung berjongkok sembari menutupi kedua telinganya dengan lengan. Wajahnya menunduk, ia memejamkan matanya. Sedangkan Diva sejak tadi masih tiarap tidak berani berganti posisi.


Farah merasa ada yang berdiri di dekatnya. Dia mendongak, dan menemukan mata pedang segera ditempelkan di lehernya oleh seorang pria bertampang bengis. Farah mendengar suara percakapan antara pria itu, wanita imut tadi dan Osbert dengan bahasa yang tidak dipahami olehnya. Namun dari gestur wanita itu, dia tahu, bahwa percakapan itu bernada kecaman dan ancaman.


Farah tidak berani menggerakkan kepalanya. Dia terus menatap ke satu titik, ke arah Osbert yang terpaku di tempatnya berdiri sembari mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan. Farah mendengar suara tangisan lirih dari samping, tempat Diva tadi berada.


Farah melihat Osbert kembali dibuat tak berdaya oleh pihak lawan. Kali ini pria itu dibungkus oleh kabut hitam di seluruh tubuhnya, menyisakan hanya kepala dan kakinya saja. Kabut itu terlihat transparan tapi anehnya merekat kuat ke tubuh Osbert.


Farah tersentak ketika lengannya di tarik secara paksa oleh pria itu. Dia meringis saat merasakan lehernya sedikit tergores oleh pedang.


"Hei, pelan-pelan. Kau melukai gadis itu, Berengsek! Lepaskan mereka, keduanya tidak berguna untuk kalian. Mereka hanya sedang sial berada di tempat yang salah." Kali ini Osbert memaki pria bengis yang menarik tangan Farah dengan bahasa yang sekarang dipahami oleh gadis itu.


Pria bengis itu tidak peduli, ia terus melangkah seraya tetap menarik Farah dengan kasar. Diva dan Osbert tentu saja juga ikut ditarik paksa oleh dua orang pria lainnya, mereka mengikuti wanita imut yang berjalan dengan langkah cepat di baris paling depan.


Di sisi lain pulau, tepatnya tidak jauh dari pusat kota, Shanum masih terlihat menghabisi kawanan penjahat yang menyerang. Dia bergerak dengan gesit tanpa perasaan. Sembari bergerak dia berteriak dengan bahasa Mongolia untuk membuat penduduk kota Abbasid segera menjauh.


Banyak dari mereka yang tadinya ikut bertarung langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada Shanum mengambil alih situasi. Mereka memperhatikan dari jauh dengan ekspresi takjub. Tidak menyangka ada seorang wanita yang memiliki sihir setara bahkan mungkin lebih daripada ratu mereka.


Shasha... Di mana kau?


Shanum berhenti melangkah, dia mendengar suara Khan dalam ikatan mereka.


Aku di pusat kota, Adri. Kau di mana?


Berarti posisiku tidak jauh dari dirimu. Tunggu aku di sana, Shasha.


Oke.


Shanum mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari-cari suaminya itu. Namun diamnya Shanum ditanggapi dengan licik oleh pihak lawan. Mereka kembali mencoba menyerangnya kembali. Dan kali ini secara beramai-ramai.


Shanum menyeringai. Mereka pikir dia tidak akan sanggup melawan, dan gampang kalah oleh perilaku curang tersebut.


Shanum hanya perlu mengangkat jemarinya, dan gerombolan penyerang itu langsung berguguran satu per satu. Mereka diserang oleh air yang masuk ke telinga, hidung dan mulut, menenggelamkan mereka dari dalam. Air itu bergerak sendiri, seperti memiliki nyawa untuk bertindak.


"Astaga, Shasha. Baru terpisah sebentar dariku kau sudah membuat kegemparan." Khan menarik tangan Shanum lalu mendekatkan tubuhnya ke arah istrinya itu.


"Sia-sia aku mencemaskanmu sejak tadi, Istri." Pria itu mengecup cepat kening Shanum.


Lalu kening Khan mengernyit dalam. "Kau yang melakukan semua ini?" Khan bertanya dengan ekspresi kaget. Seolah pria itu baru menyadari banyak tubuh berserakan di sekelilingnya dengan kondisi mengenaskan. Meski situasi itu terlihat mengerikan, Khan tidak menampakkan ekspresi syok atau ngeri, pria itu bahkan tersenyum tipis ke arah Shanum.

__ADS_1


Shanum menjawab dengan menganggukkan kepalanya seraya menyeringai. "Ya, aku memanggil roh penjaga lautan."


Khan terpana, lalu menggeleng. "Lagi-lagi kau membuatku takjub. Istriku ternyata cukup sadis juga." Khan mengecup jemari Shanum. "Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi.


"Aku tidak apa-apa, Adri." Shanum mendesah lega. Tadinya dia sempat khawatir pria itu akan takut melihat keganasannya dalam bertindak. Tapi kekhawatiran itu tidak berdasar, Khan sudah ratusan tahun berkecimpung dengan dunia penuh kekerasan dan anarki, jadi mungkin dia sudah terbiasa.


"Kekuatan roh itu tidak menyakitimu?" tanya pria itu lagi dengan nada suara lembut.


Shanum menggelengkan kepalanya.


Khan mendesah lega, lalu meringis ketika secara spontan Shanum memeluk Khan.


Shanum refleks melepaskan rengkuhannya, dia memindai wajah dan tubuh Khan. Dan terkesiap saat melihat noda darah di pakaian suaminya itu.


"Kau terluka, Adri?"


"Hanya luka kecil."


Shanum menyentuh noda yang berada di pinggang pria itu dengan lembut, dan kaget saat mendengar pria itu kembali meringis. Shanum langsung menarik ke atas pakaian Khan dan menemukan luka goresan yang cukup dalam di sana.


"Begini kau bilang hanya luka kecil, Adri." Shanum berkata dengan nada suara ketus. Lalu dia meletakkan telapak tangannya di atas luka itu dan menyalurkan energi penyembuhnya. Luka itu perlahan tertutup dan kulit Khan kembali mulus.


"Jangan pernah menganggap remeh sebuah luka, Adri."


"Iya, Sayang," jawab Khan dengan senyum lembut ke arah istrinya.


"Wah... wah, ternyata kalian malah sibuk bermesraan di sini. Padahal kelompok kalian banyak yang sedang terluka."


Khan dan Shanum menoleh serentak ke arah asal suara yang menegur mereka. Dan melihat pria bertopeng itu kembali muncul.


"Memangnya ulah siapa itu? Karena dirimu, banyak kematian dan luka saat ini. Dan sekarang kau menyindirku, seolah aku yang bertanggung jawab atas semua itu. Sungguh tak tahu malu. Sebaiknya kau segera angkat kaki dari sini, jika tidak mau banyak korban lagi berjatuhan dari pihakmu." Shanum melotot ke arah pria bertopeng itu.


"Wow, sungguh seksi amarahmu itu, Cantik," goda pria itu dengan senyum nakal. Shanum mendengus kesal.


Dan Khan menggeram keras. "Hentikan rayuan yang kau layangkan pada Istriku itu, Sialan!"


"Sudah, Adri. Orang sinting tidak perlu diladeni, akan percuma. Kau hanya menghabiskan energi yang waktumu yang berharga." Shanum mengusap pundak Khan dan menatap sengit ke arah pria bertopeng itu.


"Hei, Pria Gila, apa lagi sekarang maumu? Kau mau bertarung? Ayo, aku sudah siap melayanimu." Shanum mengangkat dagunya, menantang pria bertopeng itu.


Pria itu tertawa geli. "Aku tidak ingin bertarung denganmu, Cantik. Kau tidak akan menang melawanku. Jadi tindakan itu sia-sia saja."


Shanum mendengus keras. Pria bertopeng itu sangat arogan, dan dia semakin tertantang untuk menukar kearoganan itu dengan kematian. Shanum langsung menggerakkan tangannya ke atas, bersiap menenggelamkan pria itu.


"Stop! Kalau kau teruskan, berarti temanmu ini akan mati," ucap pria bertopeng itu dengan suara keras.


Shanum membeku, dia langsung menurunkan lengannya, saat dilihatnya Farah dan Diva di dorong maju dengan pedang sebagai ancaman menekan leher mereka. Wajah kedua sahabatnya itu terlihat pasrah dan takut.


Shanum mendesah. "Apa maumu?" desisnya. Dia tidak menyangka Osbert gagal membawa keduanya ke tempat yang aman.


"Aku mau kau untuk ikut denganku. Kalau kau bersedia ikut dalam damai, teman-temanmu ini akan dilepaskan. Tapi kalau kau menolak...." Pria bertopeng itu menyeringai sadis. "Kepala mereka akan terpisah dari tubuhnya."


"Tidak." Khan menyerobot jawaban yang seharusnya diucapkan oleh Shanum. Dia bahkan baru hendak membuka mulutnya.


"Aku tidak memerlukan jawabanmu Khan Adrian. Tidak perlu ikut campur!" bentak pria bertopeng itu.


"Dia Istriku, Berengsek!" Khan mengepalkan jemarinya.


"Aku tidak peduli! Mau dia istri siapa pun, aku... tidak... peduli," kata pria bertopeng itu menjeda ucapannya, untuk memperjelas setiap patah katanya sembari menatap Khan dengan pandangan membekukan.


"Tadi bawahanmu mengatakan ingin membawaku juga. Silahkan kau bawa saja aku, tapi jangan dia," ucap Khan lagi.


Pria bertopeng itu tertawa meremehkan. "Giliranmu akan tiba, Khan. Tapi bukan hari ini. Kau seharusnya bersyukur aku tidak jadi membunuhmu hari ini."


"Tidak. Aku tetap tidak setuju kau membawa istriku," ucap Khan dengan ekspresi dingin sebagai balasan.


"Apa kau sudah memutuskannya, Cantik?" Suara selembut beledu namun beracun itu bertanya kepada Shanum. Dia tak mengindahkan kata-kata Khan barusan.


Shanum masih diam membisu, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Otaknya sibuk mencari solusi agar kedua sahabatnya selamat dan dia juga tidak perlu menjadi tawanan pria menjijikkan itu.

__ADS_1


__ADS_2