
Shanum mendengar suara tawa membahana tak jauh dari dirinya.
"Akhirnya dia tewas. Aku sangat puas. Sangat... sangat puas." Pria itu kembali tertawa dan meracau seperti orang gila. Pria yang tak lain adalah Taban, bersuka cita atas kematian Khan.
Sementara pihak musuh bergembira, Shanum berkubang oleh rasa kehilangan, ia tidak menyangka mantra itu ternyata berbahaya. Jika tahu akibatnya seperti ini, lebih baik tadi ia mencari cara lain.
Shanum mengusap wajah Khan dan merebahkan kepalanya di dada pria itu. Dia tidak mengindahkan sekelilingnya dan keselamatannya. Dia melupakan pihak musuh masih berada di tengah-tengah mereka, dan bahaya itu tentunya masih mengancam.
Meski posisinya senantiasa dijaga oleh ketiga wanita pengawalnya, Shanum seharusnya memperhatikan Avraam yang kini melangkah berusaha mendekat. Pria itu masih terobsesi untuk memiliki Shanum, apalagi dengan keadaan saat ini, ketika suaminya telah wafat.
Tinggal beberapa langkah lagi Shanum berada di dalam jangkauannya, Avraam sudah dihadang oleh tiga wanita cantik pelindung Shanum. Mereka menunjukkan wajah datar dengan pedang terhunus di depan wajah Avraam.
Avraam menyeringai, dia mengeluarkan mantra sihirnya dan menyerang ketiga wanita itu. Tapi mantra yang dilancarkannya bisa dipatahkan dengan mudah oleh mereka. Avraam terus menyerang, bahkan mengalihkan mereka dengan berusaha membawa ketiganya menjauh dari Shanum. Tapi sia-sia, mereka tetap melawan di tempat, tidak terkecoh sedikit pun.
Sedangkan para Yang Agung lain beserta rekannya selalu bersiaga memperhatikan pertarungan itu, sembari memperlihatkan wajah duka mereka ke arah Shanum. Mereka sebenarnya masih bertanya-tanya tentang ketiadaan Khan, namun tetap tidak bisa memaksa mendekat untuk mengeceknya. Hanya energi Khan yang tidak terlihat dan tanda-tanda lain yang bisa dijadikan patokan oleh mereka.
Shanum merasakan keheningan dalam kepalanya. Dia berada dalam dunianya sendiri, tidak memedulikan ocehan gila Taban. Tidak juga pertarungan antara Avraam dan ketiga pelindungnya. Shanum mati rasa. Kepalanya tetap berada di dada Khan, mencari detak yang tidak juga terdengar.
Akhirnya Sergei tidak tahan. Ia mendekati Shanum dan menepuk lembut bahu Shanum. "Shanum... Kita harus mundur. Kembali ke markas dan memikirkan cara untuk mengakhiri perang ini, hingga bisa keluar dari tempat ini. Khan harus dikuburkan, Shanum. Jika memang dia sudah tiada. Aku dan yang lainnya sudah memasang perisai..."
Sontak Shanum mendongak dan menatap ke arah Sergei. Dia menepis lengan pria itu dengan keras. Matanya menatap nyalang dengan ekspresi marah. "Tidak ada yang boleh menguburkan suamiku. Dia masih hidup," pekik Shanum.
Sergei mendesah. "Khan sudah wafat, Shanum. Kau harus merelakannya. Apakah kau tidak bisa melihat dari roman wajahnya, dan juga energinya."
"Tidak! Jangan pernah berani mengucapkan kata-kata dusta itu kepadaku."
Kemudian Shanum kembali menatap ke arah Khan. Dia mulai mengguncang tubuh pria itu, meneriakkan namanya, terus mengguncangnya sambil terus berteriak.
Saat dia melihat tidak ada respon dari Khan, ia memeluk kembali tubuh itu dengan erat sembari mulai terisak.
"Tidak... Adri. Jangan lakukan ini padaku. Banguun... Tolong bangun, Adri. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku." Suara raungan bercampur tangis Shanum terdengar memilukan. Setiap orang yang mendengarnya ikut memperlihatkan ekspresi sedih, bahkan ada yang sampai ikut menitikkan air mata.
Avraam yang sedang bertarung, mendadak menghentikan aksinya. Dia menatap ke arah Shanum dengan wajah mengetat menahan gusar. Avraam tidak menyukai Shanum menangisi Khan dan berteriak mengungkapkan cintanya kepada pria itu.
Secara perlahan Avraam mundur, kembali ke pasukannya, meninggalkan pertarungannya. Untuk saat ini terpaksa dia menahan diri, sembari mencari cara membawa Shanum kembali ke klannya.
Sergei masih berdiri mematung. Dia tidak tega melihat kehancuran yang terpancar di mata Shanum. Menyaksikan kehidupan wanita itu mulai meredup.
Chinua perlahan mendekat. Dia menyenggol Sergei. Wanita itu tidak bisa lagi bertahan di tempatnya dan melihat Shanum sedang menghancurkan diri sendiri. Chinua tahu, cepat atau lambat Shanum akan mengikuti belahan jiwanya, dan hal itu masih dapat dicegah saat ini.
"Kau punya ide bagaimana caranya membalik mantra itu? Dan membawanya kembali?" tanya Chinua.
Sergei mengusap wajahnya. "Aku tidak mengerti soal mantra itu. Tampaknya Shanum mempelajari sihir hitam. Yang kutahu, sihir hitam itu sangat sulit dikendalikan. Seharusnya yang bisa menjawab hal ini adalah pria bernama Avraam itu. Tapi, aku tidak yakin dia akan bersedia membantu."
Chinua mendengus keras. "Yah, pria itu justru sedang diuntungkan saat ini. Tidak mungkin dia mau melepas begitu saja keberuntungannya itu."
"Sebenarnya aku ingin memeriksa Khan. Tapi, bagaimana aku bisa melakukan itu? Shanum tidak mengizinkan aku mendekat," sahut Sergei dengan wajah sedih.
Chinua menarik napas dalam, lalu ia menunduk. Dia berusaha berbicara dengan Shanum. Wanita itu mengucapkan kata-kata untuk menyadarkan Shanum. Namun semua kalimat itu tidak bisa didengar oleh Shanum, karena yang bisa didengar oleh Shanum saat ini hanyalah Aku mencintaimu, yang bukan pernyataan belaka melainkan salam perpisahan dari Khan sebelum pria itu tiada.
Dan semua orang yakin, Khan sudah tahu itu. Pria itu tahu tidak ada sisa kekuatannya lagi, dan menghentikannya sama saja akan menggagalkan rencana Shanum. Khan menyerahkan segalanya. Dia berkorban untuk keselamatan ayah mertuanya dan juga istrinya.
Chinua mulai tidak sabar, ia mencoba menarik Shanum, tapi wanita itu mengeluarkan suara berupa erangan atau teriakan lagi, dia memberontak. Chinua menyerah, ia melepaskannya. Sama seperti Sergei tadi, Chinua tidak berhasil menjauhkan Shanum dari sisi Khan. Lagi-lagi mereka gagal memeriksa pria yang sedang terbujur kaku itu.
Shanum masih tersedu, ia berpikir tidak bisa hidup seperti ini, tidak bisa tahan menjalani ini, tidak bisa bernapas. Tidak bisa sendiri tanpa pasangan jiwanya.
Kemudian, ada tangan lain yang menyentuh leher Khan. Mencoba mencari denyut nadi di sana. Tangan itu tidak berusaha menjauhkan rengkuhan Shanum pada dada Khan. Tangan itu bahkan mengusap lembut kepala Shanum.
__ADS_1
Shanum melepaskan pelukannya dan mendongak, dia melihat Eej sedang tersenyum sendu. Titik air mata terlihat di sudut-sudut matanya.
Shanum meraih tangan Eej, lalu dia memeluknya erat, memohon, meminta--
Eej menjauhkan tubuhnya, menggeleng. Tetes air mata di wajahnya semakin deras mengalir. Kepada Shanum dan yang lain ia berkata, "Dia benar-benar sudah tiada."
Shanum membekap mulutnya sembari terisak. "Maafkan aku, Eej. Semua ini karena aku, ini salahku. Jika aku tidak merapal mantra terkutuk itu... dia..."
"Dia..." Eej berkata dengan serak, lalu menggelengkan kepalanya, memejamkan matanya. "Tentu saja dia akan melakukan ini, mengorbankan dirinya," katanya, cenderung kepada dirinya sendiri dibandingkan orang lain.
"Kumohon... Tolong bantu agar dia bangun," Shanum berkata, tanpa tahu kepada siapa dia bicara. Jari-jarinya menggaruk baju Khan, berusaha menyentuh jantung yang ada di baliknya. Seolah semua ini hanya mimpi, bukan kenyataan.
Tangan-tangan memegangi Shanum. Semuanya berlumuran darah dan terluka, tapi terasa lembut. Shanum berusaha menarik diri, tapi tangan-tangan itu memeganginya kuat-kuat selagi Sofia berlutut di sampingnya, "Aku turut berduka."
Kata-kata yang meruntuhkannya. Meruntuhkannya dengan cara yang tidak ia kira masih bisa meruntuhkan, memutuskan untaian dan pengikat. Shanum sudah tidak lagi bisa mengingkarinya.
"Shanum... ikhlaskan." Eej mengusap lembut rambut Shanum. "Dia melakukan ini untukmu. Seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang pasangan jiwa," tambah Eej.
Shanum memejamkan mata. Rasa duka yang ia rasakan terasa menusuk jantungnya. Shanum yakin dirinya akan gila tanpa pria itu. Ikatan batin itu tinggal serpihan dan cabikan. Beterbangan tertiup angin imaji di dalam dirinya. Shanum merampasnya, menarik-nariknya, seolah dia akan menjawab.
Berdiamlah. Berdiamlah, berdiamlah.
Shanum memegangi serpihan-serpihan dan cabikan-cabikan itu, mengais-ngais kekosongan yang bersembunyi di baliknya.
Berdiamlah.
Shanum memandang Chinua, bibirnya tertarik dengan kaku. Memandang Dario. Lalu Eej. Dan Sergei, dan Sofia, Zuunaa terisak di sisi Oriod. Lalu yang terakhir Ulagan. Shanum menggeram, "Aku tidak ingin hidup."
Wajah mereka kosong.
Shanum berteriak kepada mereka, "AKU TIDAK INGIN HIDUP. BUNUH AKU."
"Tolong...," ujar Shanum, bernapas berat. "Aku tidak bisa hidup tanpanya."
"Kau harus hidup, Shanum. Kau bisa hidup tanpanya. Seperti aku yang bisa hidup hingga sekarang, meski belahan jiwaku telah pergi meninggalkanku," sahut Eej dengan hati-hati. "Lakukan untuknya, Shanum. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia."
"Aku tidak peduli. Lakukan." Ketika mereka tidak bergerak, Shanum mengerahkan kekuatannya, bersiap untuk memaksa ke dalam pikiran mereka, tanpa memedulikan aturan dan hukum yang ia langgar. Shanum tidak peduli, jika itu bisa--
"Shanum, urusan kita belum selesai." Suara lantang memecah suasana tegang dalam kelompok itu.
Shanum menoleh dan menemukan Avraam berteriak dari balik pelindung. Wajah wanita itu mendadak berubah menjadi kaku. Rahangnya mengetat, dan matanya memancarkan amarah hebat yang saat ini masih berusaha dikekang olehnya.
Sergei melangkah ke depan. Perlahan ia mengangkat tangannya dan membuka pelindung. "Kalau kau mau mati, lawan mereka. Biarkan kau gugur secara terhormat."
Shanum mengangguk, wajahnya terlihat bertekad untuk menyongsong kematiannya, lewat perantara pasukan musuh. Jika memang semesta mengabulkan keinginannya, ia sungguh sangat bahagia bisa menyusul suaminya.
Shanum melihat Avraam dan kroni-kroninya. Bahkan Sarnai yang sudah pasti dengan wajah aslinya, sebagai wanita bernama Tunaya, ikut berdiri dengan gagah tanpa terikat seperti tadi.
"Ah, akhirnya aku melihatmu. Ayo kita kembali ke rumah kita, Shanum. Kau sudah bebas sekarang," kata Avraam. Pria itu tersenyum lembut ke arah Shanum.
"Siapa dirimu hingga bisa berkata seperti itu? Aku bukan milikmu, Avraam. Dan aku tidak sudi ikut bersamamu tanpa perlawanan." Shanum mendekati pria itu.
Avraam menggeram. "Kau milikku. Pria sialan itu sudah mati. Untuk apa kau masih mengharapkannya."
Shanum menyeringai. "Aku hanya milik suamiku, hingga akhir hayatku. Dia pasangan jiwaku."
Avraam tertegun. Dia mungkin sangat kaget mendengar Khan adalah pasangan jiwanya. Pria itu menatap ke arah kelompok Shanum. Mengamati mereka semua--dan menemukan beberapa dari mereka menyeringai.
__ADS_1
Tidak ada kebaikan di wajah pria itu. Tidak ada ampun. Mata Avraam berkilat menahan amarah. Dia merasa dibodohi. Avraam tahu, tentang ikatan pasangan jiwa itu. Mereka tak terpisahkan. Rela melakukan apa pun untuk pasangannya.
Dan, Avraam merasa muak. Karena masalah ikatan itulah yang membuat neneknya sendiri rela meninggalkan kakeknya. Membuang klannya sendiri dan keturunannya.
"Baiklah. Tampaknya hanya aku di sini yang terlambat mengetahuinya." Ada sesuatu yang bergerak di mata Avraam. Akan tetapi bukan kebaikan. Bahkan bukan emosi sama sekali.
Avraam berteriak, kepada prajuritnya untuk kembali ke posisi semula, kepulan bayangan hitam merebak darinya.
Shanum melihat Taban dan Sarnai jadi-jadian bergabung di depan barisan. Keduanya tampak antusias untuk melancarkan serangan.
Shanum menoleh ke belakang dan menemukan pasukan dari kubu mereka pun sudah bersiap. Rekan-rekan seperjuangannya kembali ke posisi masing-masing. Hanya Eej dan ketiga pelindungnya yang berdiri tak jauh dari dirinya.
Shanum mencari-cari sesuatu, di tempat tadi jasad Khan terakhir berada.
"Mereka sudah memindahkannya ke tempat yang aman, Shanum," kata Eej sembari melangkah mendekat.
Shanum termenung. Sebuah dilema yang tidak masuk akal menyerang dirinya. Dia merasa sedikit keberatan berada jauh dari jasad pasangan jiwanya. Tapi dia tidak mungkin membawa-bawanya juga di dalam pertempuran ini.
Shanum menutup matanya, ia berpegangan padanya. Pada tubuhnya, pada cabikan ikatan jiwa mereka.
Tetaplah di sini, Shanum memohon dalam ikatan mereka. Tetaplah di sisiku.
Cahaya keemasan menyala di seluruh tubuh Shanum.
Aku mencintaimu, Adri. Tetaplah di sisiku.
Shanum menjerit, tubuhnya melayang di udara. Rambutnya berkibar dan seluruh cahaya itu membungkus tubuhnya dalam kilaunya yang mencengangkan.
Matanya terbuka, terlihat kilau coklat keemasan di sana, menjadi sama dengan netra mata Khan. Kalung jiwa bersinar di lehernya, bersamaan dengan meledaknya energi sihir dari dalam tubuh Shanum.
Semua yang berada di sana membeku, tidak berani bergerak. Mereka menatap Shanum dengan ekspresi takjub.
Jeritan itu berhenti. Keheningan merebak. Dalam hening... Shanum mulai merapal mantra. Mantra yang muncul dari kedalaman jiwanya. Mantra yang membawa serta kepedihan, pengorbanan dan cinta tak berujung.
Cahaya keemasan itu mulai menyebar. Secara luar biasa mengikat satu demi satu pasukan musuh dalam belitan bagai kepompong. Cahaya itu juga melesat ke pasukan kubu Khan. Menimbulkan kepanikan saat ada beberapa prajurit yang ikut terikat.
Mantra itu terus berlanjut. Dan sebagai balasan... suara bisikan terdengar di seluruh padang itu. Cahaya penuh warna muncul dari semua arah. Dari dalam tanah, dari pepohonan, dari air dan dari batas cakrawala.
Shanum kembali menjejak tanah. Suara mantra itu berhenti. Kemudian dadanya naik, mengangkat kepalanya serentak sembari menoleh ke satu arah di sisi kanannya.
Shanum tak mampu bergerak, tak mampu bernapas---
Khan terlihat melangkah dengan pelan ke arahnya, diikuti oleh dua orang wanita. Dan salah satunya Shanum kenal teramat dalam. Dia adalah nenek Khan, Nekhii.
Semua orang terperangah. Bukan hanya tentang kebangkitan kembali Khan, namun juga kedua wanita yang tampaknya dikenali oleh beberapa orang yang berada di sana.
"Nenek..." Shanum mendengar Avraam berkata dengan keras.
"Ibu..." Kembali suara heran bercampur bingung terdengar dari bibir lain. Sergei menatap ragu ke arah salah satu wanita itu.
Shanum masih membeku di tempat. Tidak berani mengalihkan pandangan. Meski banyak suara terdengar di sekelilingnya. Tatapannya terpaku kepada sesosok pria yang memandangnya dengan dalam. Hanya sosok pria itu yang bisa mengambil seluruh konsentrasinya saat ini.
Shanum mengerjap. Matanya kembali mengerjap. Seolah ia sedang meragukan penglihatannya saat ini. Shanum tidak berani berharap. Dia sangat takut semua ini hanyalah ilusinya akibat syok yang dialaminya.
Tanpa kata, wanita itu memerosot dan berlutut. Sudah cukup batinnya disiksa begitu dalam. Dia tidak sanggup lagi bertahan, bahkan kewarasannya sedang diuji.
Air mata mengalir di kulit cantik wajahnya selagi sepasang kaki berdiri tegak di hadapannya. Shanum terus menunduk, terisak dan mengepalkan tangannya di atas lutut.
__ADS_1
Lalu sepasang kaki itu menekuk, dan ikut berlutut. Tangan hangat pemilik kaki itu mengusap pipi Shanum. Menghapus air matanya, menariknya ke dalam rengkuhan.
Shanum tidak bisa mengangkat kepalanya, tidak bisa melakukan apa pun selain memeluknya, menikmati tiap denyut jantung, napas dan gemuruh suaranya saat pria itu berkata serak, "Aku kembali, Shasha."