Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 73 Kekuatan Ayah


__ADS_3

Shanum melihat tatapan setajam elang dan nyaris menghunus milik Dimas-ayahnya, lekat ke arah Khan. Dia meringis ngeri mendengar mulut pedas dan sikap posesifnya saat memarahi Khan. Gadis itu sungguh tiga kali dibuat syok oleh Dimas. Pertama kali ketika melihat kemunculan kedua orang tuanya itu, yang kedua saat Dimas mengenali Khan di tengah penyamarannya, dan yang ketiga saat dia bersikap kasar kepada pria itu.


"Ayah, sebaiknya kita berbicara di dalam saja. Tidak baik bersitegang di jalan seperti ini. Malu jika dilihat dan didengar orang lain," interupsi Ibu.


Shanum menoleh ke arah Ibu dan melemparkan senyum lega kepadanya. Ibu mengangguk seraya tersenyum balik ke arah putri tersayangnya itu.


"Ayo, Ayah. Kita bicarakan baik-baik di dalam saja ya." Shanum menggamit lengan Dimas agar beranjak mengikutinya masuk ke dalam vila. Shanum mengajak Khan untuk duduk. Tapi saat gadis itu ingin duduk di sebelah Khan, ayahnya segera menahan gerakannya dan menariknya untuk duduk di bangku paling ujung, jauh dari bangku tempat Khan duduk.


Shanum menjadi salah tingkah dan serba salah, namun dia tetap menurut. Meski Khan menatap dari ujung ruangan dengan pandangan kelam. Raisa, ibu Shanum akhirnya turut menemani putrinya untuk duduk di bangku yang berada di ujung ruangan itu. Di susul oleh Dimas, ayahnya, ikut duduk di samping mereka.


Shanum menatap ayah dan ibunya lalu bergeser menghampiri Raisa untuk memeluknya erat. "Aku tidak percaya bisa bertemu kembali dengan Ibu dan Ayah. Kalian menghilang berbulan-bulan. Aku bahkan mengira kalian ikut terbakar bersama rumah kita." Suara gadis itu terdengar tercekat, matanya terlihat mulai berkaca-kaca.


"Shhh, sudah, Sayang. Maafkan Ibu dan Ayah. Kami tidak bisa segera kembali atau pun menghubungimu." Raisa mengusap rambut Shanum dengan lembut. "Kami terdampar di hutan, Nak," tambahnya lagi.


Shanum langsung merenggangkan pelukannya, ia menatap Raisa dengan pandangan bingung. "Ibu dan Ayah diculik dan dibawa ke hutan?" tanyanya. Ibu menggeleng, kemudian tersenyum. "Ayah yang membawa Ibu ke hutan itu," jawab Ibu sambil meringis. "Maksudnya?" tanya Shanum lagi.


Gadis itu mengerutkan keningnya, dia semakin bingung mendengar ucapan Raisa. Karena untuk apa mereka pergi ke hutan jika bukan karena menjadi korban penculikan.


"Biar Ayah saja yang menjelaskan," sahutnya. Pria itu lalu mendekat ke arah Shanum. Dia duduk di sebelah gadis itu. Dimas terlihat gelisah, dia menyugar rambutnya sembari berdeham. Lalu dia mulai bercerita.


"Semua bermula sejak kedatangan seorang pria dan wanita yang mengaku sebagai temanmu saat berada di luar negeri. Mereka memiliki nama yang aneh, susah untuk disebutkan dan diingat. Karena bingung akhirnya Ayah meminta nama panggilan yang mudah, dan mereka mengatakan agar memanggil mereka sebagai Gerel dan Oriod saja. Meski tetap saja aneh jika disebutkan oleh lidah Ayah."


"Apakah nama lengkap yang disebutkan itu Zuunaa Sarangerel Sukhbataar dan Doriodats Batuhan?" Suara Khan terdengar memotong cerita Dimas. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Khan. Ekspresi heran terlihat di wajah Shanum.


Sedangkan Dimas mendengus saat mendengar pertanyaan Khan. "Aku sudah dapat menduga pasti semua masalah ini bermuara darimu. Kau mengenal kedua orang mencurigakan yang datang sebelum peristiwa kebakaran itu terjadi kan. Katakan apa mereka berhubungan denganmu?" Tuduhnya dengan suaranya terdengar tajam dan keras.


Khan menegang, wajahnya terlihat datar dan kaku. Pria itu tidak langsung menjawab. Dia menatap Shanum. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Mata Shanum membeliak. Pupilnya benar-benar melebar. Pria itu tahu, gadisnya pasti akan mulai bertanya-tanya tentang hubungan dia dan kedua orang itu.


"Yang wanita adalah mantan tunanganku, dan yang pria merupakan pengawal pribadinya," jawab pria itu. Khan tidak mau menutup-nutupinya. Ia ingin Shanum dan calon ayah mertuanya itu mengetahui, bahwa ia berusaha menjadi pria yang bisa dipercaya dengan kejujurannya.


Sedangkan Shanum berusaha keras mempertahankan napasnya agar tetap stabil. Terutama saat melihat wajah marah Dimas terhadap Khan. Gadis itu bagaikan makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tak dimakan ayah yang mati. Betul-betul dua pilihan sulit yang harus dihadapi. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


"Jauhi Shanum! Kau masih bisa mencari gadis lain yang sesuai denganmu. Sudah cukup kau menyakiti hatinya kemarin itu. Jangan sampai kali ini kau membuatnya terbunuh," kata Dimas.


Wajah Khan seketika terlihat dingin, kata-kata itu menghantamnya tepat di ulu hati bak palu godam. "Saya tidak ada hubungan lagi dengan kedua orang itu. Kami sudah sangat lama tidak pernah bertemu. Bahkan terakhir kali bertemu hubungan kami sangat buruk." Khan berusaha memberikan klarifikasinya. Dia tetap bersikukuh tidak mau disangkutpautkan dengan kedua orang itu.


"Apa peduliku?! Semua itu bukan urusanku! Aku tidak ingin putriku celaka. Sudah cukup penderitaannya selama ini dihantui mimpi buruk itu. Aku yakin putriku pasti sudah menceritakannya padamu." Pria itu semakin naik darah mendengar alasan Khan.


Untuk sejenak, dada Khan tertekan kencang dan kuat, tangannya terkepal di pangkuan karena menahan gejolak perasaan yang campur aduk di hatinya. Dia ingin marah, tapi tidak mungkin ia menyalurkan amarah itu kepada Dimas. Khan mengerti, ia hanyalah seorang ayah yang sedang berusaha melindungi anaknya. Namun Khan tidak bisa mengalah begitu saja. Shanum adalah pasangan jiwanya, tidak semua orang seberuntung dirinya mendapatkan keajaiban itu. Dia harus tetap berusaha, tidak boleh menyerah kalah.

__ADS_1


"Tapi, Sir... Saya serius dengan putri Anda. Saya berjanji untuk menjaganya. Shanum akan aman jika berada di sisi saya," kata Khan lagi.


Pria itu berdecih meremehkan. "Masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik darimu, yang bisa menjaga serta menyayanginya." Ayah Shanum itu masih tetap teguh pada keputusannya, dia tidak ingin Shanum menjalin kasih dengan Khan.


"Ayah..." panggil Shanum. Suara gadis itu gemetar. Kata-kata Dimas tadi menggema ke dalam dirinya, membuat sesuatu di dalam jiwanya retak. Dimas mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Shanum untuk tetap diam. Dan gadis itu menggigit bibirnya dengan wajah keruh serta pasrah.


"Maaf, Sir... saya tidak akan menyerah. Saya akan tetap memperjuangkan hubungan kami," ucap Khan dengan wajah penuh tekad.


"Oh, jadi kau berani menentangku. Biar bagaimanapun, Shanum itu putriku. Pokoknya aku tidak sudi kau dekat-dekat dengannya lagi. Sekarang sebaiknya kau kembali saja ke negaramu," usir Dimas dengan suara ketus.


Shanum sempat melihat sekelebatan ekspresi letih dan hancur di wajah Khan. Namun kemudian tak terlihat lagi, wajah itu berubah kembali menjadi kaku tak terbaca. Pria itu berusaha menutupinya. Gadis itu dapat merasakan juga hal itu bergema di dalam jiwanya, melalui ikatan mereka. Dia turut sakit menerima hantaman gejolak perasaan Khan, hingga akhirnya diputuskannya untuk menutup aksesnya.


Sedangkan Khan mengusap wajahnya, ia mendesah lelah. Ia berusaha menerka-nerka hal yang membuat ayah Shanum menjadi sebegitu membencinya. Apakah tentang masalah kebohongannya yang pertama itu? Atau masalah baru tentang kemunculan mantan tunangannya itu?


Bukan keinginannya, jika kedua orang pengacau itu mendadak muncul. Bukankah seharusnya pria itu mencari informasi terlebih dahulu tentang kebenarannya, sebelum menjatuhkan vonis terhadap dirinya.


Namun karena Dimas adalah ayah Shanum, dia sama sekali tak tahu harus berkata apa. Maka, ia berusaha mentolerirnya. Khan menarik napas panjang dan menoleh ke arah Shanum. Matanya memandang gadis itu dengan sendu. Melihat sang gadis yang ditatap hanya memperlihatkan ekspresi tenang dan datar.


Dalam sekejap, rasa percaya diri Khan goyah, dan dia bertanya-tanya apakah mungkin dirinya keliru. Keliru menganggap gadis itu akan memperjuangkan juga hubungan mereka. Karena sejak tadi, Shanum tidak mengatakan apa pun kepada ayahnya. Hanya satu patah kata, yang dapat dipatahkan oleh ayahnya.


Khan mencoba membaca perasaan gadis itu lewat ikatan mereka. Namun ia menutupnya, dia memutus komunikasi ikatan mereka. Dan hal itu semakin memancing rasa gelisah di hati Khan. Dia harus kembali ke Astrakhan. Jika sebelum kepergiannya hubungan mereka berakhir dengan kesalahpahaman, bagaimana ia bisa tenang meninggalkan gadis itu.


Kemudian suasana panas di ruangan itu terputus dengan kemunculan Sergei, Jullian dan Abdan. Dimas menatap tajam kembali ke arah ketiganya. Dan mereka bertiga terlihat bingung mendapatkan reaksi permusuhan dari pria itu.


"Siapa lagi orang-orang ini, Shanum?" tanya Dimas sembari menoleh ke arah putrinya. Shanum tidak menjawab, wajahnya datar menatap ke jendela. Gadis itu tidak berminat lagi untuk berada di tempat ini. Ia ingin kembali ke naungan kamarnya yang tenang. Dan melampiaskan segala kesedihan yang ia rasakan di dalam dadanya.


Sergei berdeham seraya tersenyum. "Saya Sergei, Sir. Anda masih ingat, kita pernah bertemu di bandara, saya yang membawa Shanum dan kedua temannya kembali ke negara ini."


Dimas mengerutkan keningnya sebentar, lalu wajahnya berubah cerah, "Ah... iya, kau pria yang memiliki pesawat itu." Dimas tersenyum ke arah Sergei. "Bagaimana kabarmu, Sir?" tanya Sergei. "Kami sempat panik mencari Anda berdua. Bagaimana Anda dan istri bisa selamat dari kebakaran itu?" Pertanyaan bertubi-tubi meluncur dari mulut Sergei. Hanya dia yang sepertinya mendapatkan respon baik dari Dimas, dibanding putrinya sendiri dan kekasihnya.


"Yah, aku juga bingung. Saat kebakaran itu kami terjebak di dalam kamar. Aku yang sedang memeluk istriku akhirnya pasrah menunggu ajal menjemput kami. Dalam ingatanku muncul kilas balik ketika Shanum masih berada di dalam perut Ibunya. Saat kami berada di suatu tempat terpencil di Kalimantan, tempat proyek pekerjaanku waktu itu." Dimas tampak tersenyum tipis.


"Ketika aku sedang bernostalgia mengenang masa-masa itu, mendadak suasana disekitarku berubah. Aku merasakan ruangan kamar menjadi menyempit, dan terlihat samar-samar. Saat aku mengedipkan mata, kami sudah tidak berada di kamar lagi." Dimas berpandangan dengan Raisa-istrinya, dengan senyum terbit di bibir keduanya.


Shanum melirik, tampaknya ia kembali tertarik mengikuti jalannya perbincangan itu. Dia terlihat membuka mulutnya, namun diurungkannya. Gadis itu tidak jadi memotong cerita ayahnya, ia masih merasa sedih dan kecewa terhadap pria itu.


"Aku melongo melihat hutan terbentang dipelupuk mata. Lalu aku menatap istriku. Kami berpandangan seperti manusia dungu. Awalnya aku mengira diriku terserang semacam halusinasi menjelang kematian. Tapi saat aku mendengar teriakan kaget istriku tentang monyet yang sedang bergelantungan di pohon, aku berpikir hal itu adalah nyata. Kami benar-benar sudah berpindah tempat. Kami lalu mencari pemukiman terdekat untuk meminta pertolongan. Untungnya letak pemukiman tidak terlalu jauh. Setelah aku bertanya dengan orang yang bersedia menampung kami, ternyata kami sedang berada di Kalimantan, di daerah tempat Shanum dilahirkan, di masa kini." Wajah pria itu terlihat takjub sendiri.


"Aku sendiri masih tidak mengerti, mengapa kami bisa berpindah ke daerah itu? Namun karena aku sudah mengetahui dari cerita Shanum, bahwa di keluargaku mengalir darah dengan kekuatan sihir, jadi aku tidak terlalu syok mengalaminya. Aku menganggap entah bagaimana caranya, leluhurku masih melindungi diriku."

__ADS_1


"Berdasarkan ceritamu, aku dapat menarik kesimpulan, itu adalah jenis kekuatan teleportasi," potong Sergei tanpa peduli Dimas yang sudah membuka mulutnya ingin melanjutkan kisahnya, harus menutupnya kembali mendengar ucapan mendadak dari Sergei.


"Apa itu teleportasi?" Dimas malah bertanya balik sembari mengerutkan keningnya.


"Anda tidak mengetahui apa itu teleportasi?" tanya Sergei lagi. Dimas menggeleng dengan wajah penasaran. Dia menunggu semacam penjelasan lebih lanjut dari pria itu.


Dan Sergei langsung menolehkan kepalanya ke arah Khan. Pria itu meminta persetujuannya untuk menjelaskan kepada Dimas perihal teleportasi. Apakah ia boleh membuka rahasia sihir dari salah satu kekuatan yang sangat jarang dimiliki itu? Terutama kepada manusia yang bukan anggota klan mana pun.


Meski jika dirunut berdasarkan silsilah, Dimas sebenarnya adalah keturunan dari Klan Batbayar. Tetapi, agar tidak menyalahi ketentuan yang sudah ada selama berabad-abad, Sergei tetap harus meminta izin kepada salah satu Yang Agung pemimpin Klan. Dan berhubung ada satu Yang Agung yang jelas-jelas hadir di ruangan itu, jadi pria itu tentu saja diberi kemudahan, ia tinggal meminta izin kepadanya.


Khan tidak langsung menjawab, ia melirik sekilas ke arah Shanum saat ia melihat pergerakan gadis itu. Dia memperhatikan gadis itu telah beranjak bangkit dari bangkunya. Pandangan Khan mengikuti arah gadis itu yang berbelok menuju ke suatu ruangan. Perilaku Khan itu tentu saja menjadi perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Karena pria itu sedang menjadi pusat pandangan mereka, dia ditunggu untuk memberikan persetujuannya perihal penjelasan teleportasi tadi.


Dimas mengerutkan keningnya, ia baru memperhatikan dan merasakan wibawa yang tidak biasa terpancar pada pembawaan pria yang mendekati putrinya itu. Siapa sebenarnya Khan Adrian? Mengapa Sergei menatap pria itu dengan hormat? Tidak mungkin seorang pengusaha kaya memiliki aura yang agung seperti itu. Dimas melihat pria itu lebih mirip seorang raja. Tapi masa sih seorang raja mau dengan putrinya yang notabene bukan siapa-siapa.


Wajah Khan masih tetap datar tanpa ekspresi, asyik melihat ke arah ruangan tempat Shanum sekarang sedang berada. Tapi saat ia mendengar dehaman dari Sergei, pria itu akhirnya menoleh. Ia mengernyit ketika mendengar Sergei berbicara dalam bahasa Mongolia kepadanya. Khan lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat tanpa suara mengizinkan Sergei menjelaskan tentang teleportasi kepada Dimas.


Dan Sergei memutar bola matanya, ketika melihat pria itu kembali mengarahkan matanya ke ruangan tempat Shanum berada, seperti tadi.


"Jadi, Sir, teleportasi itu kemampuan berpindah tempat hanya dengan membayangkan tempat yang hendak dituju oleh orang yang diberkahi kekuatan untuk dapat melakukannya. Berdasarkan cerita Anda tadi, saya yakin tanpa disadari Anda memiliki kekuatan itu," jelas Sergei sembari tersenyum tipis.


Dimas mengangkat alisnya. "Maksudmu aku juga memiliki kekuatan seperti putriku?"


"Ya. Dan tidak menutup kemungkinan Anda juga memiliki kekuatan lainnya. Dan kekuatan itu muncul di saat Anda terdesak atau hanya dalam keadaan genting saja," kata Sergei.


"Tapi mengapa setelah kejadian itu kekuatanku tidak pernah muncul kembali?" tanya Dimas.


"Anda tidak pernah mengasah kekuatan Anda itu dan melatihnya. Jadi Anda tidak bisa mengendalikannya," jawab Sergei lagi.


Sergei mengucapkan terima kasih kepada Shanum, saat gadis itu meletakkan minum di meja di hadapannya. Ternyata gadis itu dari tadi membuat minuman untuk mereka. Karena pelayan diliburkan olehnya, gadis itu sendiri akhirnya yang harus turun tangan sendiri.


"Jullian, aku harap kau dapat membantu Ayah Shanum soal teleportasi ini." Tiba-tiba Khan memberikan perintah kepada pria itu yang sedang berdiri tegak di dekat pintu itu.


"Baik, Yang Agung," jawab Jullian.


"Aku tidak perlu bantuanmu dan anak buahmu." Dimas menyela dengan nada suara ketus.


"Ayah..." Mendadak Raisa, ibu Shanum mencolek suaminya. Dimas menoleh dan mengangkat alisnya. Raisa mendekati pria itu dan berbisik di telinganya. Perubahan raut wajahnya sungguh kentara sekali, jika ia tidak menyukai hal yang sedang dibisikkan oleh istrinya itu.


Semua orang melihat kepada pasangan itu dengan pandangan penasaran. Mereka bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dibisikkan oleh ibu Shanum tersebut kepada suaminya?

__ADS_1


__ADS_2