Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 24 Garis Darah


__ADS_3

Suasana mansion malam ini sungguh mencekam. Sesuai dengan kondisi hati pemiliknya. Sepanjang perjalanan dari museum, Khan dan Shanum tidak berkata sepatah kata pun. Wajah Khan sangat dingin dan kaku. Rahangnya menegang, dan dipenuhi energi yang siap meledak kapan saja. Sedang Shanum selalu melihat ke arah jendela, tampak enggan menatap pria itu.


Setelah mereka sampai, Shanum segera dibawa ke kamar tempat Khan pernah dirawat. Sudah ada seorang dokter dan seorang perawat yang menunggu di sana. Shanum langsung diberikan baju ganti dan dibantu menggantinya, serta dibersihkan luka-lukanya oleh perawat tersebut. Setelah itu dia disuruh berbaring di atas tempat tidur untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter.


"Luka dan bengkak di mata anda sudah mulai membaik. Tidak ada tulang patah, hanya memar," ucap sang dokter. Dokter itu tiba-tiba mengernyitkan dahinya. "Apakah kau memiliki riwayat pemulihan lebih cepat terhadap cedera dan luka?" tanya dokter itu. Shanum menganggukkan kepalanya. Lalu dokter itu tersenyum kepada Shanum.


"Ah, saya mengerti. Baiklah, saya akan meresepkan obat dan salep. Lekas pulih ya," ucapnya. Kemudian dokter tersebut duduk di salah satu bangku dan menuliskan sesuatu di ponselnya.


Selama proses itu Khan berdiri di sudut ruangan, tampak mengamati. "Kami sudah selesai Yang Agung. Obat dan salep untuk memarnya nanti akan diantarkan kemari. Saya pamit undur diri." Dokter itu menundukkan kepalanya tanda hormat. Dan Khan menganggukkan kepala untuk membalasnya. Lalu dokter dan perawat itu keluar dari ruangan.


Setelah itu ruangan kembali hening. Shanum tidak melihat ke arah Khan. Dia memejamkan matanya. "Aku tahu kau tidak tidur, Shasha," bisik Khan. Shanum merasakan Khan memegang tangannya dengan lembut. Shanum membuka matanya dan menoleh. Dia melihat perasaan tersiksa terlihat di mata pria itu. Shanum mencondongkan tubuh dan menyusupkan kepala di leher Khan. Merangkulnya erat-erat. Shanum merasakan Khan menciumi rambutnya, namun tidak terdengar bisikan darinya.


"Adri, maafkan aku," bisik Shanum. Khan mendongakkan kepala Shanum. "Jangan pernah lagi pergi tanpaku, Shasha. Terutama saat ini, karena kau masih berada dalam bahaya. Aku sedang berusaha menyelidikinya." "Iya, aku salah," jawab gadis itu. "Kau membuat usiaku berkurang seratus tahun, Shasha," ungkap pria itu. "Usiamu sudah banyak, Adri. Berkurang seratus pun tidak apa-apa bukan," cengir Shanum.


Khan tampak menaikkan alisnya mendengar kata-kata Shanum. Lalu dia memencet hidung gadis itu. "Aduh... sakit, Adri," sahut gadis itu sambil cemberut dan mengusap-usap hidungnya. Khan terkekeh. Shanum melongo melihatnya, dia belum pernah melihat seorang Khan Adrian mengakak seperti itu.


"Kenapa?" tanyanya. "Waduh, hal yang mustahil telah terjadi," bisik Shanum. "Maksudmu?" Khan mengerutkan keningnya. "Coba diulang, Adri. Aku ingin mendengarnya lagi," pinta Shanum. "Apa yang diulang?" "Itu tadi kekehanmu. Aku ingin merekamnya," ujar Shanum.


Khan tampak mendengus sambil memutar bola matanya. "Yah, tidak bisa diulang ya," tutur Shanum. "Tidak," jawab Khan singkat. "Baiklah, jika tidak bisa," sahut Shanum kecewa. "Omong-omong, kenapa kamu tiba-tiba muncul di sana, Adri?" sambung Shanum.


"Aku merasa tidak tenang selama meeting. Jadi setelah selesai aku langsung ke museum. Dan ternyata benar, kau keluar dari pintu dengan keadaan berantakan seperti habis dipukuli. Siapa yang sudah melukaimu, Shasha?"


"Entahlah, Adri. Dia orang asing, yang awalnya berpura-pura meminta bantuanku mencari cincinnya yang jatuh di lantai. Wanita tua itu buta. Tapi aku juga ragu, apakah dia benar-benar buta atau hanya bualan saja. Karena saat dia melawan Sergei, gerakannya sangat lincah."


"Sergei? Mengapa ada Sergei di sana?" tanya Khan. "Sergei datang menolongku, saat wanita itu semakin gencar menganiayaku. Dia melawan wanita tua itu. Ternyata Sergei memiliki sihir juga, Khan. Dia bisa menghentikan waktu. Wanita tua itu juga berkata aneh. Dia memaksaku untuk menjawab siapa yang membunuh Batu? Aku bingung, siapa itu Batu? Aku tidak merasa kenal dengan orang yang bernama itu."


Khan mengernyitkan keningnya. Pria itu tampak berpikir. "Apakah ada hal lain yang dia katakan?" Shanum menggelengkan kepalanya. "Kau tidak melawan dengan sihirmu, Shasha." "Sudah, tapi kekuatanku tidak bisa timbul begitu saja. Hanya berhasil muncul saat situasi terdesak. Jadi aku harus babak belur dahulu baru kekuatan itu keluar."


"Aku akan melatihmu nanti, Shasha. Kau harus belajar mengontrolnya. Karena situasi semakin hari semakin mengkhawatirkan. Aku takut orang itu akan kembali untuk mencelakaimu..."


Suara ketukan di pintu memutuskan percakapan mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu. Khan mengucapkan kata-kata masuk, lalu handle pintu di putar. Taban muncul dari balik pintu sambil tersenyum meminta maaf. "Sergei ingin berbicara denganmu, Sir."


Khan melengkungkan alisnya. Pandangan matanya bertanya tanpa kata kepada Taban. "Pria itu datang bersama para sahabat Nona, Sir," tutur Taban. "Tadi memang aku yang meminta dia untuk mencari dan membawa Diva serta Farah pulang ke sini. Sebelum kejadian itu, mereka bertengkar dan meninggalkan aku sendiri di dalam ruangan museum. Jadi aku tidak tahu keberadaan keduanya saat keluar dari sana." Shanum menjelaskan kepada Khan.

__ADS_1


"Antarkan pria itu ke ruangan kerjaku." "Baik, Sir." Taban lalu pamit meninggalkan ruangan. Saat pintu di tutup, Khan berdiri. "Aku harus bertemu Sergei dulu ya," ujarnya. "Aku ikut, Adri." "Kau di sini saja, Shasha. Aku harus mengorek informasi dari pria ini." "Aku juga harus mendengarnya, hal ini berkenaan denganku. Aku harus tahu." Shanum memaksa, dan bergegas turun dari tempat tidur.


"Kau harus memulihkan kondisimu dahulu, Shasha. "Tidak, Khan. Aku mau ikut." Gadis itu menatap Khan dengan tajam. Khan tampak menghembuskan napasnya. "Oke," sahutnya kaku.


Mereka meninggalkan kamar tersebut. Saat keduanya memasuki ruang kerja Sergei sudah berada di dalamnya. Pria itu berdiri di depan lemari buku dan sedang memegang salah satu buku. Dia menoleh ke arah mereka, lalu tersenyum gugup. "Maafkan aku Yang Agung, aku sudah membaca koleksi bukumu tanpa izin." Pria itu menaruh kembali buku di tempatnya.


Khan menatap dingin pada pria itu. "Boleh aku duduk di sana, Yang Agung?" tanya Sergei. Khan menganggukkan kepalanya. Sergei menuju salah satu sofa dan tersenyum kepada Shanum yang sudah duduk di sana.


"Kita bertemu lagi, Nona Shanum. Teman-teman anda sudah aku antarkan dengan selamat." "Terima kasih, Sergei. Dan panggil saja aku Shanum," sahut gadis itu. Sergei tersenyum lebar. Wajah tampan pria itu sempat membuat Shanum terpaku. Khan yang melihat pemandangan itu mengertakkan giginya.


"Cepat katakan apa maumu?" ucap Khan ketus. Shanum menoleh ke arah pria itu. Dia melihat wajah kesal Khan. Shanum menaikkan alisnya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa Yang Agung harus melindungi Nona, karena dia dalam bahaya."


Khan menatap Sergei dengan curiga. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya. Sergei terlihat memucat. "Katakan!" perintah Khan. Sergei menelan ludahnya, lidahnya mendadak terasa kelu. "Bisakah aku dapat kepastian darimu, jika aku mengatakan semuanya, Yang Agung tidak... em, melukaiku."


Khan menatap pria itu dengan dingin. "Tergantung dari apa yang hendak kau katakan." Sergei yang mendengar jawaban itu semakin gugup, dia bergerak-gerak gelisah duduk di tempatnya. "Katakan saja, Sergei. Aku akan menjagamu dari amukannya," sahut Shanum sambil tersenyum tipis.


Ruangan seketika menjadi semakin dingin. Shanum menoleh ke arah Khan. Dia melihat wajah Khan begitu dingin dan kaku. Gadis itu menghembuskan napasnya, lalu berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekati Khan yang sedang berdiri sambil bersandar di meja kerjanya.


"Jika kau bersikap seperti itu, dia tidak akan bicara," bisik Shanum. Gadis itu lalu menggenggam tangan pria itu. Khan menatap dalam wajah Shanum, dia balas menggenggam erat tangan gadis itu. Ruangan berangsur-angsur kembali menghangat. Lalu Khan menarik tangan Shanum. Dia menghela gadis itu untuk duduk di bangku yang berada di belakang meja kerjanya. Pria itu kemudian menarik bangku lain ke posisi di samping Shanum. Dan ia mendudukkan dirinya pada bangku itu. Tangan Khan kembali mencari dan menggenggam erat jari-jemari Shanum.


"Baiklah, aku sebenarnya adalah salah seorang pelacak atau orang bayaran." "Apakah sama dengan pembunuh bayaran?" tanya Shanum. "Tidak, aku tidak dibayar untuk membunuh. Jasaku hanya untuk melacak orang atau benda serta menginformasikannya," jawab Sergei.


"Dari mana asal Klanmu?" tanya Khan. "Dari Klan Batzorig wilayah Yuan, Yang Agung." Khan mengangkat alisnya. "Klan yang sangat besar dan terkenal dengan sihir menghentikan waktunya. Bagaimana kau tahu Shanum dalam bahaya?" Sergei tersenyum tipis. "Sebentar, mengapa namamu bukan nama Mongolia?" tanya Shanum. "Ibuku berasal dari wilayah Yuan, tapi ayahku memang bukan berasal dari sana," jawab Sergei.


"Jadi kau berdarah campuran," ucap Shanum. "Ya, ibuku mencintai pria biasa." "Kau belum menjawab pertanyaanku, Sergei," desis Khan. "Dasar tidak peka," sahut Shanum pelan sambil mendengus.


"Aku sebenarnya ditugaskan untuk melacak seorang pembunuh. Orang ini sudah membunuh seseorang yang bernama Batu." "Shanum terbelalak. "Itu... nama orang yang disebutkan wanita tua itu," ucap Shanum. "Kau kenal dengan wanita tua itu, Sergei?" tanya Khan.


"Sayangnya aku tahu, Yang Agung. Tapi, saat kejadian itu aku tidak tahu bahwa wanita tua itu mengincar Shanum. Aku ke museum itu untuk bertemu Diva. Dia mengatakannya, saat aku mengontaknya lewat ponsel. Namun waktu aku sampai di sana, yang aku temukan adalah Nona Shanum sedang dikunci oleh sihir wanita tua itu. Secara otomatis aku langsung membantu."


"Siapa wanita tua itu, Sergei?" tanya Shanum. "Namanya Xanadu, dia adalah peramal kepercayaan Yang Mulia Chinua." Khan mengangkat alisnya. "Chinua, Ratu Klan Batbayar." "Betul, Yang Agung." Khan bangun dari kursinya lalu menuju ke sebuah meja cabinet dan menuang minuman yang terdapat di sana ke dalam gelas.


Shanum memperhatikan gerakan pria itu. Dia memicingkan matanya. Gadis itu menyadarinya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Khan. "Apakah kau kenal Ratu itu, Adri. Mantan kekasih mungkin," selidik Shanum.

__ADS_1


Khan terbatuk-batuk. Dia tersedak oleh minuman yang sedang dinikmatinya. "Anda tidak apa-apa, Yang Agung," tanya Sergei. Khan mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa dia baik-baik saja. "Wanita itu bukan siapa-siapaku, Shasha. Jangan berprasangka," ucap Khan sambil menarik napas dan memegang lehernya yang terasa perih.


"Ratu Chinua itu jarang keluar dari tempat persembunyiannya di pulau Abbasid, Nona Shanum. Aku juga kaget waktu melihat dia yang sudah menyewa jasaku."


"Lalu apa kau sudah menemukan orang itu?" tanya Shanum. Sergei menatap Shanum dengan tatapan sedih. Shanum tercekat, dia merasa kesulitan bernapas. Khan memicingkan matanya. "Jangan katakan apa pun!" geram Khan. Sergei tampak menelan ludahnya.


"Katakan, Sergei. Aku ingin tahu," sahut Shanum datar. Khan menatap Sergei dengan pandangan tajam. "Acuhkan saja dia, jika ini berkenaan denganku. Aku perlu tahu, please!" pinta Shanum. Sergei menghembuskan napasnya. "Maafkan aku, Yang Agung." Sergei menundukkan kepalanya. Lalu pria itu kembali menatap Shanum.


"Aku melihat kau membakarnya menjadi abu, Nona Shanum." "Maksudnya, pria yang waktu itu ingin menyerang kami. Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Shanum heran. "Aku bisa tahu saat kau menepukku," jawab Sergei.


Mata Shanum membola, dia membekap mulutnya. "Brengsek, berarti kau sudah mengatakan pada Ratu itu," teriak Khan. Kemudian cahaya merah tampak di kedua belah tangan Khan. Shanum yang masih terpana langsung tersadar.


"Adri, tidak." Shanum bergerak cepat menuju Khan dan memeluk tubuh pria itu. Khan terdiam kaku, dan cahaya merah itu pun perlahan menghilang. "Kita dengarkan dahulu penjelasannya, oke." Mata Shanum tampak memohon kepada pria itu.


"Cepat katakan," bentak Khan. Sergei terlihat gugup. Namun ia menganggukkan kepalanya. "Aku tidak pernah mengatakannya kepada Ratu Chinua, Yang Agung. Dan tidak tahu dia mengetahuinya dari mana." Sergei mengucapkannya dengan gelisah.


"Jika bukan kau yang mengatakannya, bagaimana orang suruhannya bisa menyerang Shanum?" hardik Khan. "Mungkin Ratu itu hanya mengira-ngira, Yang Agung. Aku sudah berusaha mengulur-ngulur waktu dan hanya mengatakan bahwa orang yang membakar Batu berada di kediamanmu, tapi tidak menyebutkan namanya," ungkap Sergei takut-takut.


"Mengapa kau tidak mengatakannya?" tanya Shanum. Sergei menatap gadis itu dengan pandangan malu. Wajahnya memerah. "Aku tidak bisa mengecewakan Lunaku." Shanum tersenyum mengerti lalu berkata, "Kau menyukai Diva ya." Sergei menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba leher dan tangan Shanum mengeluarkan cahaya. Gadis itu tersentak, dia menjerit sambil memejamkan matanya. Khan mencoba meraih gadis itu, namun dia tidak bisa mendekat. Cahaya itu seperti tameng yang melindungi Shanum. Lalu cahaya itu semakin membesar, Shanum terangkat ke atas. Dia terlihat seperti sedang melayang, kakinya tidak menapak tanah.


Barang-barang yang berada di dekatnya ikut terhempas. Khan tetap gigih mencoba mendekat, namun selalu terpental. Begitu juga dengan Sergei, dia juga tidak berhasil membantu. Sergei tidak berani mendekat kembali, ia tahu cahaya itu dapat mencederainya. Khan sendiri sampai mengeluarkan darah dari hidungnya dan mendaparkan luka gores di pipinya, karena ia terus memaksa untuk meraih gadis itu.


Kemudian setelah beberapa menit, situasi berubah. Shanum berhenti menjerit. Gadis itu perlahan turun, kembali berpijak ke lantai. Cahaya yang mengelilinginya terlihat mengecil dan meninggalkan pendar-pendar keemasan di sekujur tubuhnya. Dia membuka matanya, bola matanya ikut bercahaya.


Shanum lalu melihat ke arah Khan, Sergei dan sekeliling ruangan. Dia mengerutkan keningnya melihat ruangan itu menjadi berantakan. Meja dan bangku hancur berserakan. Gadis itu mengernyitkan keningnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya. Gadis itu bertanya ke arah Khan dan Sergei. Dia terpaku saat menyadari bahwa Khan mengeluarkan darah dari hidungnya.


Shanum perlahan mendekat. Dia meraih dan mengusap pipi pria itu. Lalu meraba hidungnya. Cahaya keemasan kembali muncul dari telapak tangan Shanum. Khan kaget, matanya terbelalak.


Ia merasakan hangat. Dadanya terasa lega, hidungnya tidak mengeluarkan darah lagi. Dan pipinya yang tergores sembuh. Seakan-akan dirinya tidak pernah terluka sama sekali. "Shasha..." Khan masih terpana, ia menatap wajah cantik Shanum dihadapannya. Gadis itu telah berubah, Khan dapat merasakannya.


"Kau tadi bercahaya, Nona Shanum. Cahaya itu tidak dapat ditembus. Yang Agung sudah mencoba menyelamatkanmu berkali-kali hingga ia terluka," jelas Sergei. "Aku mengira cahaya itu menyakitimu. Apa yang terjadi padamu?" tanya Khan.

__ADS_1


Shanum lalu tersenyum sangat manis. "Cahaya itu berbicara padaku. Aku kini tahu, Adri. Mengapa Ratu itu mengincarku. Mungkin dia belum menyadarinya. Bukan hanya karena aku telah tanpa sengaja membunuh pria yang bernama Batu itu. Tapi juga karena sebab lain. Kini aku tahu garis darahku. Dan semua ini tidak dapat dibiarkan. Ratu itu akan segera menyerang mansion ini, Adri. Kau harus bersiap."


__ADS_2