
Dari sudut matanya, Khan telah melihat kilauan perak. Tapi hanya ketika ia ingin menoleh untuk lebih memastikan, Shanum sudah memeluknya dengan erat seraya mendorong mereka ke dalam kolam. Ia mendengar gadis itu terkesiap, hanya saat ia melihat noda merah tersebar di bahunya, ia menyadari apa yang terjadi.
Gadis itu menerima anak panah yang seharusnya ditujukan kepada dirinya. Anak panah itu menancap di bahu Shanum. Gadis itu perlu pertolongan seorang Penyembuh segera.
Air kolam di sekitar Khan berubah menjadi berwarna merah. Khan memeluk Shanum, dan di tengah kepanikannya, ia melihat gadis itu mengalami kejang-kejang di tengah ketidaksadarannya.
Mata Khan melebar, wajahnya memucat. Selembut yang ia bisa, pria itu memeluknya, berusaha untuk tidak menangis. "Tidak, Shasha..." gumam Khan tersedak. "Tolong... jangan lakukan ini kepadaku."
Kemudian kejang-kejang itu berhenti, darah mulai mengalir dari hidung, telinga dan pinggir bibir Shanum. Membuat Khan semakin panik.
Tidak, tidak, tidak. Firasatnya benar-benar terjadi, ia melihat gadis itu terluka untuk menyelamatkannya. Dan ia telah gagal untuk melindunginya. Dia mungkin... dia mungkin...
Tidak! Khan menolak untuk percaya apa pun selain bahwa Shanum akan sembuh, benar-benar sembuh, secara total. Namun, kemarahan bangkit dalam dirinya. Kemarahan dan kebencian, putus asa dan rasa sakit yang begitu banyak, emosi yang dipancarkan ke dalam tulang-tulangnya. Kesakitan itu membuat kepalanya tiba-tiba bagaikan dihantam palu godam.
Khan melihat kilasan-kilasan saat ia menyelam demi menyelamatkan seorang gadis, yang ternyata adalah Shanum. Kemudian saat ia menghadang laju panah di tempat lain untuk menyelamatkan gadis itu lagi. Kilasan itu mendadak muncul di matanya bagaikan tayangan film di televisi.
Khan melihat Shanum menangis tersedu-sedu saat menemukannya terluka parah saat menghadapi Chinua. Semua memori itu kembali dan membuat dada Khan terasa sesak. Ia tiba-tiba berteriak sangat keras, bahkan air di dalam kolam ikut bergejolak membentuk rangkaian ombak.
Cahaya merah yang merupakan kekuatannya mengurai dari seluruh tubuhnya. Semua orang yang mendengar jeritan pedih itu akan terpaku, bahkan ada yang sampai mencucurkan air mata, karena teramat memilukan.
Khan mengalami kesedihan yang terlalu dalam ketika mengingat bahwa Shanum ternyata memang kekasihnya. Ia sudah mengingat semuanya. Kejadian barusan ternyata menjadi pemicu seluruh rangkaian kenangan itu kembali ke dalam memorinya.
Khan tersentak sadar, dia harus segera membawa gadisnya keluar dari kolam. Dia berenang sambil menggendong Shanum beberapa saat kemudian. Sambil memerintahkan pengawalnya memanggil Jullian dan Abdan.
Setelah berada di bibir kolam, Khan melompat naik dengan bertumpu pada tangga kolam. Bobot tubuh Shanum dalam pelukannya tidak terasa berat sedikit pun baginya.
Setelah berada di atas, Khan meletakkan Shanum di lantai sembari bersimpuh di samping gadis itu. Khan memeriksa denyut nadi Shanum yang terasa lemah, kemudian dia memperhatikan batang panah yang menembus bahu gadis itu. Lalu mematahkan ujung batang kayu itu agar tidak menghalangi pergerakannya dalam menggendong Shanum.
Khan tidak berani menarik mata panah itu secara gegabah, karena khawatir dapat memicu efek yang berbahaya pada tubuh Shanum. Kemudian ia melihat gadis itu kembali kejang. Wajah Khan semakin cemas.
"Di mana Jullian dan Abdan?! Mengapa lama sekali kalian memanggilnya?!" teriak Khan sembari membentak para pengawalnya. Para pria yang tadinya berjaga-jaga di dekat Khan akhirnya berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkannya sendiri di sana.
Khan menyapukan tangannya yang gemetar di atas alis Shanum. "Tetap bersamaku, Sayang." Belum pernah Khan merasa begitu tak berdaya.
Lalu setelah kejang itu berhenti, darah kembali mengalir dari hidung, telinga dan sudut bibir Shanum seperti tadi.
Melihat penampakan Shanum yang berlumuran darah, hampir membunuh Khan. Pria itu segera menarik kepala Shanum, lalu mencium keningnya sambil bergumam sendiri. Bertindak gila berharap Shanum dapat mendengar setiap ucapannya.
Khan terus memeluk Shanum. Pria itu juga berusaha menyalurkan energinya lewat ikatan mereka. Ia berharap pemberian energi itu dapat bereaksi pada tubuh gadisnya.
Seiring dengan kembalinya ingatan Khan, ikatan jiwa mereka memang telah kembali tanpa penghalang. Dan dinding yang membatasi itu menghilang dari alam psikis mereka. Khan merasakan tubuh Shanum sedikit menghangat saat ia memberikan energinya.
Khan mengangkat kepalanya, dia melihat pendarahan itu telah berhenti. Ia mengusap darah dari hidung dan bibir Shanum dengan jemarinya dengan lembut. Khan tidak peduli meski tangannya penuh dengan darah Shanum.
"Aku mencintaimu, Shasha. Terlalu mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu," gumamnya dengan suara tersendat-sendat. Kesedihan terpancar dari bola matanya yang basah.
"Kami sudah di sini, Sir."
Khan mendongak, dia melihat Jullian berada di hadapannya, dan menyodorkan sebuah handuk kecil kepadanya. Khan menerimanya, dan mulai membersihkan wajah dan telinga Shanum dengan handuk itu. Setelahnya, ia membersihkan seluruh jemarinya yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Kalian, sudah mensterilkan hotel ini?" tanya Khan sambil mengedarkan pandangannya kepada keduanya. Mereka mengangguk serempak.
"Kita ke mansion." Khan memberi perintah kepada Jullian. Pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, bahwa atasannya itu ingin langsung berteleportasi menuju mansion.
"Dan kau Abdan, bawa serta yang lainnya, kendalikan situasi di hotel ini. Jangan sampai ada saksi mata yang melihat peristiwa barusan, dan cari bedebah kurang ajar yang sudah berani mencelakai gadisku," perintah Khan dengan suara dingin membekukannya.
Setiap orang yang mendengarnya akan merasakan ketakutan, karena getaran sedingin es itu tidak hanya berada di permukaan, namun ikut merasuk ke dalam pori-pori kulit mereka.
Abdan dan para pengawal langsung bergerak mengikuti perintah Khan. Mereka berkumpul di satu tempat, lalu berpencar sesuai dengan tugas masing-masing yang sudah diatur oleh Abdan. Sementara Khan dengan Shanum dalam gendongannya langsung menghilang bersama Jullian dari tempat itu.
Mereka muncul tepat di dalam kamar rawat yang berada di dalam mansion. Khan meletakkan Shanum di atas kasur dengan hati-hati. Jullian sudah menghilang kembali dari ruangan itu. Tak berapa lama dia muncul bersama dokter Lian dan seorang perawat. Mereka langsung bergerak cepat memeriksa Shanum.
"Aku harus melepas sisa anak panah ini dari bahunya. Kalian semua tolong mundur ke belakang, beri kami ruang. Aku curiga anak panah ini beracun," ucap dokter Lian. Khan dan Jullian mundur sesuai perintah dokter Lian.
"Tolong hati-hati Lian," ucap Khan dengan wajah khawatir.
"Kau tak perlu cemas. Aku tidak akan membahayakan gadis ini," jawab Lian.
Mereka melihat dokter tersebut memberi aba-aba kepada perawatnya dengan bahasa medis yang tidak mereka ketahui. Dokter Lian menarik anak panah dengan satu kali tarikan, dan tubuh Shanum langsung tersentak.
Semua orang membeku saat melihat ujung mata panah yang berhasil dicabut tadi. Karena pada mata panah itu mereka melihat bercak berwarna ungu. Anehnya warna ungu itu tidak menyatu dengan warna darah. Tampaknya tebakan dokter Lian tidak meleset, anak panah itu mengandung racun.
Jullian mendekat ke arah dokter Lian, lalu meminta anak panah itu. Ia mengamatinya dengan seksama, lalu mengendusnya. Lian mengernyit, kemudian berkata, "Ini racun Helm Iblis, Sir. Sangat mematikan, dan belum ada penawarnya." Jullian memberikan informasi itu kepada Khan.
Jullian sangat tahu seluruh ilmu tentang tanaman karena kekuatannya adalah kekuatan alam. Jadi pria itu bisa mendeteksi racun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Khan menyapukan tangannya yang gemetar di rambutnya yang basah. Dia masih syok mendengar Shashanya terkena racun yang belum ada penawarnya. Khan tak kuasa menerima jika kekasihnya itu tidak bisa disembuhkan.
"Sebaiknya kau juga berganti pakaian Khan. Jangan sampai kau ikutan tumbang karena hipotermia," tegur dokter Lian yang berada di sampingnya.
"Aku akan membawa Anda ke kamar, Sir." Jullian mencoba menawarkan kembali jasa teleportasinya. Khan mengangguk kaku, lalu dia segera menghilang bersama Jullian.
Sesampainya di depan pintu kamar, Khan bergegas masuk lalu menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air hangat di bilik shower. Dia bergerak cepat. Hanya dalam waktu lima belas menit, dia sudah kembali menghampiri Jullian yang sedang menunggu di luar kamar. Jullian membawa Khan berteleportasi kembali menuju kamar rawat Shanum.
Tak berapa lama saat Khan masuk ke kamar rawat, ibunya masuk secara mendadak. "Apa yang terjadi, Nak?" tanya wanita itu dengan pandangan khawatir.
Khan mendesah keras, dia menyugar rambutnya. "Shanum menyelamatkan nyawaku lagi, Eej. Dia menerima anak panah untuk menggantikanku." Kemudian mengalirlah cerita selengkapnya dari mulut Khan kepada ibunya tentang kejadian di kolam tadi.
Eej terlihat kaget, ia melotot, lalu dari sekian banyak hal yang dilakukan wanita itu, dan membuat semua orang yang berada di situ terpana adalah, ibu dari Khan itu menampar keras puteranya itu hingga dia tersentak ke samping.
Bekas telapak tangan wanita itu juga terlihat membekas di pipi pria itu. Khan meraba rahangnya, tapi kali ini ia terlalu mati rasa untuk merasakan rasa sakitnya.
"Kau anak bodoh. Apa yang sudah kau lakukan?! Tidak cukupkah kau menyakiti hatinya, bahkan kini raganya pun tidak mampu kau lindungi!"
Semua orang yang berada di sana tidak ada yang berani menolong Khan. Mereka takut melihat amarah yang terpancar dari mata ibu Khan tersebut.
"Ya, Eej. Aku telah gagal menjaganya." Akhirnya Khan menjawab sembari tercekat. "Dia tidak bisa diselamatkan Ibu, racun itu tidak ada penawarnya. Jika dia mati, aku akan gila Ibu. Apakah itu membuatmu merasa lebih baik?"
Hening.
__ADS_1
"Kalau begitu kau harus berusaha mencari penawarnya!" teriak Eej, sang ibu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya." Pengakuan itu menyakitkan, sangat menyakitkan, dan tidak dalam cara yang baik. Wanita itu menghela napas kasar ketika mendengar jawaban putus asa putranya.
Kemudian Eej menoleh ke arah dokter Lian. "Bagaimana keadaannya, Lian?" tanyanya.
"Sangat buruk. Aku harus segera memasang alat untuk membantunya bernapas."
"Berapa lama dia dapat bertahan?" tanya wanita itu lagi.
"Aku tidak dapat memprediksinya. Semua bergantung kepada kekuatan fisik dan sihir yang ia miliki. Karena gadis ini memiliki sihir yang kuat, kemungkinan besar dia bisa bertahan paling lama satu bulan."
Pandangan mata Eej menjadi keruh mendengar kata-kata dokter Lian. Wanita itu melangkah mendekati Shanum dan menatapnya dengan sedih. Gadis ini, sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa putranya. Dan putranya yang dungu itu masih saja berniat menyia-nyiakannya.
"Jullian, kau harus memberitahu orang tua Shanum. Dan bawa mereka ke sini. Walau bagaimanapun mereka harus tahu dengan kondisi putrinya saat ini," perintah Eej. Jullian mengangguk patuh lalu segera menghilang.
"Tolong kau rawat gadis ini, Lian. Aku harap dia bisa bertahan lebih dari sebulan. Karena aku akan mencoba mencari informasi tentang penawarnya."
"Biar aku saja yang mencari penawarnya, Eej." Khan menyanggah dengan lantang.
"Tidak perlu, kau jaga dia di sini selama dua puluh empat jam. Aku ingin kau melihat hasil perbuatan bodohmu itu setiap hari. Dan semoga dengan adanya hal itu kau bisa merenungi kesalahanmu, dan menyadari bahwa kau sudah membuat kekacauan di hidup gadis ini. Jadi nikmati rasa bersalah dan tersiksamu itu, Nak."
Setelah mengatakan kata-kata yang mengerikan itu Eej dengan tergesa keluar dari kamar. Wajah Khan terlihat pucat pasi mendengar ucapan ibunya. Dia tidak menyangka ibunya dapat memberikan hukuman sekejam itu kepadanya. Bukannya dia tidak mau menjaga Shanum. Bahkan menggantikan posisinya yang terluka seperti saat ini saja dia sangat bersedia.
Tapi melihat betapa pucat dan kejang yang sesekali menyerang gadis itu membuat batinnya tersiksa. Khan tidak sanggup melihat hal itu.
"Ingatkan aku untuk tidak membuat masalah dengan Ibumu, Khan. Dia sangat mengerikan jika sedang marah. Hukuman yang diberikannya sanggup membuat nyali seorang pria yang paling kuat sekalipun menciut." Dokter Lian menghela napasnya sembari menggeleng-geleng.
Khan mengacuhkan ucapan dokter Lian tersebut. Dia melangkah mendekati ranjang rawat Shanum dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Khan menatap kekasihnya dengan pandangan tersiksa, ia mengambil telapak tangan Shanum dan mengusapnya lembut. Kemudian melarikan jemari itu ke bibirnya, mengecupnya dan membiarkan jemari itu berada terus di sana.
Ia meminta maaf--maafkan aku. Please, maafkan aku. Oh sayangku, kau harus bertahan! Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika kau sampai meninggalkanku. Aku mencintaimu, tidak pernah dengan sengaja... Oh, Shashaku, karena aku kau jadi begini. Aku sudah banyak menyakitimu.
Akhirnya pria itu pun runtuh dari semua ketegarannya. Air matanya meleleh, turun di pipinya. Dia menunduk menangis dalam diam sambil tetap menciumi jemari Shanum. Sejak Shanum terluka, pria yang biasanya terlihat dingin dan kaku itu berubah menjadi rapuh.
Dokter Lian dan perawat yang bertugas di sana secara perlahan keluar dari ruangan itu. Mereka memberikan kesempatan kepada Yang Agung Klan Altan itu berduka untuk kekasihnya.
Pada malam kelima, Khan terbangun dari mimpi yang mengusik pada dini hari, duduk tegak di kamar yang berada di sebelah kamar rawat Shanum. Kulitnya bermandikan keringat. Seraya menyeka punggung tangan ke dahinya yang lembap, Khan mengedarkan pandangan, jantungnya berdebar-debar.
Seraya menyugar rambut yang basah dari keningnya, ia kembali ke suara latar konstan yang berputar-putar di dalam kepalanya. Bisakah ia menyelamatkan gadisnya, atau itu permintaan yang terlalu besar?
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Khan menemukan masalah tanpa solusi nyata. Rasa frustasi yang timbul akibat kesadaran itu membuatnya mustahil kembali tidur. Menit-menit berlalu sebelum akhirnya ia menyerah dan bangkit dari tempat tidur, membasahi wajah dengan air dingin dan berpakaian.
Dia keluar dari kamar dan membuka kenop pintu kamar sebelah tempat Shanum dirawat. Khan mendekati ranjang Shanum, menatap sendu wajah kekasihnya itu. Seharusnya Khan tidur di dalam kamar rawat Shanum. Dia bahkan sudah meminta tempat tidur lipat kepada Dario.
Namun ayah Shanum menentang keras niat Khan tersebut. Sejak kedatangannya, pria itu semakin memusuhi Khan. Dia memang tidak memukulnya atau mencederai anggota tubuhnya, tapi ucapan pria itu yang mengatakan bahwa dia pembawa sial untuk Shanum sungguh menohok hatinya.
Menurut pria itu, dia tidak cocok dengan Shanum, karena ia selalu membuat Shanum dalam bahaya. Dan ayah Shanum tidak akan pernah merestui hubungan Khan dengan Shanum, selamanya.
Khan sangat takut, jika gadisnya sembuh, ia akan dipisahkan darinya. Khan tidak akan bisa lagi bertemu dengan Shanum. Andaikata seperti itu nanti kenyataannya, mungkin dia akan kehilangan kewarasannya.Tanpa Shanum, hidupnya hampa, dan kehilangan arah. Karena tak ada Shanum disisinya, dia akan kehilangan sebagian jiwanya.
__ADS_1