
Shanum sudah memainkan ikal rambut yang sama selama lima menit terakhir dan kelakuannya mulai membuat kedua sahabatnya kesal. Farah menggelengkan kepala dan meraih jus alpukatnya, meletakkan bibirnya pada sedotan.
Sedangkan Diva serius memperhatikan kegelisahan Shanum, dia duduk di samping Farah dengan siku ditumpangkan pada meja, dagunya diletakkan pada salah satu tangannya.
Ketiga gadis itu sedang berkumpul di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari kampus mereka. Selepas Diva dan Shanum mengurus administrasi di kampus, mereka sepakat untuk berkumpul di sana. Farah langsung menuju kafe, tidak ke kampus, karena dia sudah selesai mengurusnya sejak beberapa hari sebelumnya.
"Kau belum menjawabku, Sha. Apa rencanamu ke depannya soal hubungan percintaanmu? Dari tadi kami perhatikan kau asyik dengan duniamu sendiri," tegur Farah sembari memutar bola matanya.
Shanum menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau mengira mudah bagiku untuk memutuskannya? Tidak. Aku belum punya rencana apa-apa," jawabnya datar.
Farah menyeringai pada Shanum. "Oh, benarkah? Sejak kapan kau menjadi pesimis seperti ini. Shanum yang kukenal selalu optimis. Kami berdua pun bisa lulus sesuai jadwal tak lain karena bantuanmu. Masa hanya karena seorang pria yang bagaikan Bang Toyib, tak pulang-pulang dan memberi kabar, kau gelisah begini," sindir Farah.
Shanum mengangkat sedikit alisnya, hanya cukup untuk membuat Farah menyadari bahwa dia sama sekali tidak tahu apa yang sahabatnya itu bicarakan.
"Kenapa jadi bawa-bawa Bang Toyib sih, Farah? Ada-ada saja deh," celetuk Diva sembari terkekeh geli.
"Iya nih. Tidak ada sangkut pautnya kan antara kelulusan kita dengan Bang Toyib," sambung Shanum, senyum mulai terbit di bibirnya. Setelah sejak tadi wajahnya terlihat suram.
"Ishh, kau itu pura-pura bodoh deh. Maksudku itu tentang Khan Adrian, kekasihmu itu loh. Dia yang ibarat Bang Toyib. Kalau kelulusan itu hanya kalimat pemanis," jelas Farah sembari setengah sewot.
Shanum mendesah dan senyuman menghilang dari wajahnya. "Aku tidak tahu, Farah. Rasanya terlampau sulit untuk diungkapkan." Nada suara Shanum awalnya lembut, namun berubah pahit sebelum dia selesai mengucapkan kalimat terakhir.
"Maafkan aku," cetus Farah, merasa tidak enak karena mendesak gadis itu terus menerus.
"Begini, kau menjadi galau karena pria itu menghilang selama dua bulan ini kan. Bukan maksudku untuk terus mengingatkanmu tentangnya. Tapi apakah kau yakin akan pasrah menunggu seperti ini saja?" tanya Farah. Shanum tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya menghela napas sembari mengangguk lesu.
"Aku tidak suka melihat wajahmu yang selalu kusut, seperti pakaian belum di setrika begitu. Jadi ayolah, kau harus segera mengambil keputusan untuk bertindak!" desaknya lagi. Farah mencoba membuka pikiran Shanum agar tidak terpaku dengan kegelisahannya sendiri.
Shanum tersenyum kecil kepada Farah. Dia mengerti sahabatnya itu cemas melihat perilakunya selama dua bulan ini. Dia memang berhasil menyelesaikan skripsinya. Dan bersyukur Pak Reno telah dicuci otaknya oleh Sergei.
Saat peristiwa penyerangan di lapangan basket tempo hari, semua orang yang menonton pertandingan, dan yang berada di sana dihapus memorinya oleh Sergei. Tak terkecuali Pak Reno beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Sergei menjelaskan dengan santai sembari menyeringai, bahwa dia berlebihan dalam menghapus memori Pak Reno, hingga membuat perasaan cintanya kepada Shanum juga ikut terlupakan.
Dan Shanum mencurigai perbuatan pria itu pastinya tak lepas dari peran serta Khan Adrian. Karena jika Pak Reno melupakan perasaan cintanya, tentu saja seorang Khan Adrianlah yang paling diuntungkan. Dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan Pak Reno yang sibuk tebar pesona, mencoba terus mendekati Shanum. Apalagi tanpa dirinya berada di dekat Shanum untuk menjaganya.
Namun Shanum tidak mau mempermasalahkannya. Dia tidak merasa dirugikan atau pun kehilangan. Sebab dirinya memang tidak memiliki perasaan apa pun kepada pria itu selain rasa kagum.
Kini dia dan kedua sahabatnya tinggal menunggu waktu wisuda mereka yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Impiannya untuk menyelesaikan kuliah sesuai cita-citanya akhirnya terlaksana. Shanum tinggal menapaki langkah selanjutnya, yaitu mencari pekerjaan.
Ayah dan ibu Shanum juga sangat bangga kepada putri tersayangnya itu. Mereka bersemangat membeli pakaian baru untuk dipakai saat wisuda Shanum nanti. Dan mengenai Khan, setelah pria itu pergi, mereka mengajaknya bicara.
Lebih banyak Raisa, ibu Shanum yang memimpin pembicaraan dibandingkan Dimas, ayahnya. Ibu mengatakan bahwa mereka akan selalu mendukung siapa pun yang dipilih oleh putrinya itu. Yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaannya, bukan hal lainnya. Jika Khan Adrian bisa menjaganya dengan baik, dan membuat senyum selalu terbit dari bibirnya, mereka akan seratus persen mendukung.
Shanum sudah bisa tertidur lelap tanpa beban mendapati keputusan kedua orang tuanya itu. Gadis itu selalu ingin persetujuan sepenuhnya dari keduanya. Walau bagaimanapun restu orang tua di atas segala-galanya baginya.
Kemudian setelah seminggu berlalu, Jullian dan Abdan betul-betul kembali untuk menunaikan tugas yang diperintahkan kepada mereka oleh Khan. Mereka bahu membahu mengembalikan hutan yang berada di belakang vila menjadi seperti sediakala. Sedangkan Sergei, pria itu harus segera kembali ke Astrakhan karena bisnisnya membutuhkan penanganan segera, jadi ia tidak bisa ikut membantu seperti sebelumnya.
__ADS_1
Selama berada di lokasi hutan yang terbakar, di sela-sela waktu memperbaiki hutan, Shanum banyak bercerita. Raisa dan Dimas sangat syok saat Shanum mengungkapkan seluruh peristiwa yang terjadi selama mereka menghilang.
Ternyata putrinya itu kembali berada di dalam ancaman bahaya, dan harus bertarung untuk menjaga nyawanya serta orang-orang yang tidak bersalah agar tidak menjadi korban. Seluruh pertarungan diceritakan oleh Shanum, termasuk saat Khan melindunginya dari serangan, hingga menyebabkannya terluka parah.
Ayah Shanum seketika membeku kaget mendengar kata-kata lugas putrinya. Sedangkan sang ibu langsung melirik dengan wajah menghakimi ke arah pria itu. Shanum tahu dari pancaran matanya, ayah merasa menyesal, dan hal itu cukup membuatnya sedikit merasakan kelegaan. Setidaknya wajah ayahnya itu sudah tidak kaku lagi saat Shanum menyebutkan nama Khan dalam percakapannya.
Kedua orang tua Shanum juga melihat secara nyata keadaan hutan itu ketika belum diperbaiki oleh Jullian dan Abdan. Dan merasa takjub memandang kedua pengawal Khan itu, saat menggunakan kekuatannya, mengembalikan hutan yang tadinya meranggas terbakar menjadi hijau kembali. Yang lebih luar biasa lagi mereka hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menyelesaikannya.
Setelah memperbaiki hutan, mereka kembali ke kota. Ternyata secara diam-diam ayah sudah membeli rumah berikut perabotannya. Lokasi rumah baru mereka tidak terlalu jauh dari rumah Farah, sahabatnya. Dan karena gadis itu sedang tertarik dengan Jullian, maka setiap hari wajahnya tidak pernah lupa absen untuk datang ke rumah Shanum.
Tidak ada yang melarang dengan kedatangan gadis itu. Yang menjadi masalah adalah munculnya banyak pertanyaan dari semua orang yang melihat Farah mengejar-ngejar pria itu. Dan Shanum cukup lelah untuk menjawab banyak pertanyaan itu mewakili Farah.
Shanum mengetahui bahwa sudah bawaan Farah untuk bertindak agresif terhadap pria yang disukainya. Meski Jullian tidak pernah menggubris pendekatan yang dilancarkan oleh Farah, gadis itu tetap saja pantang menyerah melakukan pendekatan. Seperti juga Khan dahulu memperlakukan Shanum, Jullian bersikap kaku dan datar pada Farah.
Pada akhirnya Abdan yang selalu menimpali pembicaraan yang berusaha dimunculkan oleh Farah. Mungkin Abdan merasa kasihan kepada gadis itu, karena Jullian cuma diam saja, merespon seperlunya.
Yang lebih menyedihkan lagi, Jullian bersikap berbeda jika sedang fokus mengajarkan Dimas pengetahuan dasar tentang teknik berteleportasi. Dia akan banyak mengeluarkan kalimat-kalimat panjang, dan hal itu membuat Shanum tampak semakin serba salah. Dia merasa miris melihat wajah frustasi Farah, ketika memperhatikan interaksi antara ayah Shanum dengan Jullian.
Sebagai sahabat Shanum ingin membantu, tetapi tak tahu bagaimana cara melakukannya agar tidak terlalu kentara terlihat oleh Jullian. Shanum tidak mau membuat Jullian merasa risih dan melarikan diri kembali ke Astrakhan.
Selain Jullian, Abdan juga membantu mengajarkan ayahnya tentang pengetahuan sihir dasar, mereka berlatih dengan giat di waktu-waktu yang sudah disepakati bersama. Sekarang ayah Shanum itu sudah mulai lancar berpindah tempat sesuai keinginannya.
Shanum tersenyum sendiri ketika mengingat reaksi ayahnya waktu pertama kali berhasil berpindah tempat dengan usahanya sendiri. Wajahnya terlihat berseri-seri, seperti pria yang habis memenangi undian besar. Kata Jullian, ayahnya termasuk orang yang sangat berbakat, ia dapat cepat menyerap setiap instruksi yang diberikan olehnya dan Abdan.
Jullian dan Abdan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melatih ayah Shanum. Dimas berhasil dengan gemilang mempelajari kekuatan sihir yang diwarisi dari leluhurnya itu dalam waktu singkat.
Setelah hampir mendekati tiga bulan mereka berlatih, Jullian dan Abdan kembali ke Astrakhan, untuk menunaikan tugas mereka yang sebenarnya, yaitu sebagai pengawal Khan. Kala mereka masih berada di rumah Shanum, Khan masih sering memberi kabar kepada Shanum. Entah dengan meneleponnya atau pun mengirimkan pesan.
Shanum tak bisa menolak. Untungnya di hari itu dia hanya berada di rumah. Jadi seharian itu, dia berlaku seperti orang sinting memegangi ponselnya secara terus menerus. Hanya saat baterainya habis panggilan itu berhenti. Setelah baterai ponsel terisi penuh, kegiatan absurd itu dilakukan kembali.
Ayah Shanum hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh putrinya dan kekasihnya itu. Selebihnya dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Namun perbedaan mencolok terjadi dengan reaksi ibu, wanita itu malah terkekeh geli dan lebih sering menggoda kedua sejoli itu.
Kini, momen itu telah berlalu sekitar dua bulan lebih. Khan sudah tak pernah lagi mengirimkan kabar. Tak lama setelah kedua pengawalnya itu pergi, komunikasi mereka pun ikut terputus. Shanum tak tahu apa yang sedang terjadi dengan kekasihnya itu. Ia cemas memikirkan masalah yang mungkin sedang dialami pria itu. Sebab sebelum mereka berpisah, gadis itu sempat merasakan suatu firasat buruk dalam dirinya.
Dan kian hari, hatinya semakin meragu. Haruskah dia mengejar pria itu dan bergabung dengan sekelompok wanita yang bersaing demi mendapatkannya atau mengulur waktu sampai pria itu mendatanginya?
Melesakkan diri ke atas kursi berlapis di kafe itu, Shanum menatap kedua sahabatnya, yang sedang menatapnya balik dengan mata penuh tanya. Mereka menanti dengan sabar, menunggu Shanum selesai dengan lamunannya. Cukup mengerti untuk tidak mendesak gadis itu lagi, jika ingin mendapatkan jawaban yang membuat mereka penasaran.
"Jika aku mengejarnya, bukankah hal itu terlalu memalukan?" tanya Shanum tiba-tiba sambil meringis.
Farah mendengus. "Kau kekasihnya, untuk apa merasa malu. Kalau aku menjadi dirimu sudah pasti hal itu yang pertama kali akan kulakukan."
Diva memutar bola matanya. "Tapi kan Shanum bukan dirimu, Farah. Kalau saranku sih, sebaiknya kau menunggu saja dahulu, Sha."
"Huh, yang juga sedang galau akut! Siapa ya yang mengatakan padaku, setelah wisuda ingin mengejar seseorang ke Astrakhan? Mencari pria yang juga sama sedang meninggalkan seorang gadis di sini hingga sang gadis nelangsa tak berkesudahan. Atau jangan-jangan sesuatu yang buruk memang telah terjadi pada kedua pria itu," sindir Farah.
Diva langsung menepuk bahu Farah dengan mata melotot dan berkata, "Sembarangan saja kalau bicara! Tidak baik tahu menginginkan hal yang buruk terjadi kepada para kekasih kami."
__ADS_1
"Aku kan hanya menduga, siapa tahu saja benar. Soalnya mencurigakan sekali sih! Waktunya itu loh, kok bisa bersamaan. Keduanya selama sebulan lebih sama-sama tidak bisa dihubungi kan," seloroh Farah.
Pandangan Shanum beralih dari Farah ke Diva, kemudian berpaling lagi, tetapi kedua sahabatnya itu sempat melihat kecemasan di mata Shanum, dan juga hal lainnya. Sesuatu yang tampak seperti keraguan.
"Apa yang sedang kau sembunyikan, Sha? Aku tahu, pasti ada sesuatu yang kau pikirkan di kepala cantikmu itu." Farah menatap penuh selidik ke arah Shanum.
"Sebenarnya sebelum dia pergi, aku merasakan suatu firasat buruk," kata Shanum dengan gugup.
"Firasat buruk?" ulang Diva. "Tentang apa, Sha? Tolong kau katakan padaku," desak gadis itu.
Shanum mendesah sembari mengusap keningnya. "Aku tidak mendapatkan gambaran visualnya, hanya rasa tidak nyaman yang menekan pikiran dan dadaku. Selama ini aku mengabaikannya, tapi jika sekarang tak ada kabar terus, tentunya aku juga mulai bertanya-tanya kan?!"
Farah menoleh ke arah Diva. Mereka berpandangan dalam diam. Diva lalu mengalihkan pandangan matanya, ia terpaku menatap jemarinya yang terkepal di atas meja, wajahnya terlihat keruh.
"Sekarang yang kurasakan di dalam diriku sangat membingungkan. Di pikiranku berkumandang kalimat-kalimat positif bahwa dia baik-baik saja, tidak perlu ada perasaan cemas berlebihan. Tapi di sisi lain hatiku juga muncul keraguan. Bagaimana jika benar, pria itu sedang mengalami kesusahan?" Shanum menggigit bibirnya, dan melayangkan satu lirikan tersiksa ke arah para sahabatnya.
"Aku merasakan kehampaan di dalam ikatan kami. Seakan-akan aku sudah kehilangannya. Selama ini, meskipun kami saling menutup saluran ikatan tersebut, aku masih dapat merasakan getaran keberadaannya. Aku tidak bisa melukiskannya, tapi aku tahu bahwa dia ada di dalam jiwaku," ucap Shanum lirih.
Kilap basah terlihat di mata Shanum, dan dada Farah mencelus. Dia dan Diva tahu tentang ikatan jiwa yang terjalin di antara Shanum dan Khan. Mereka tahu Shanum dan pria itu bisa berkomunikasi melalui telepati, dapat merasakan perasaan satu sama lain melalui ikatan mereka, dan juga semua hal menakjubkan lainnya. Ikatan jiwa yang mengikat keduanya, ikatan itu juga yang kini membuat salah satunya merasa kehilangan.
"Kuharap Khan baik-baik saja, Sha. Begitu juga dengan priamu Diva." Farah menoleh ke arah kedua sahabatnya itu, lalu ia mendesah. "Ternyata memiliki kekasih itu cukup rumit juga ya," katanya lagi sembari meringis.
"Yah, begitulah," sahut Diva dengan suara serak menahan kesedihannya.
Mereka lalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada lagi yang berminat mengeluarkan suara, atau pun menciptakan suatu percakapan baru.
Mendadak di tengah keheningan yang sedang melanda, Shanum berdiri dari duduknya, ia memandang ke arah para sahabatnya dan berkata, "Oke, aku harus pulang. Farah mau naik taksi lagi apa ikut bersamaku?"
"Aku masih mau di sini dulu, Sha. Aku nebeng dengan Diva saja," jawab Farah. Gadis itu memang sedang tidak membawa kendaraannya. Mobilnya masih berada di bengkel untuk servis berkala.
"Ya, Farah ikut denganku saja, nanti aku antarkan sampai rumahnya. Sekarang aku masih menunggu kabar dari Mama, jadi apa tidak dibelikan kue kesukaannya itu," sambung Diva ikut menjawab. Mamanya Diva memang penggemar berat kue tart lemon buatan kafe itu. Diva sering diminta oleh Mamanya untuk membelikannya kue tersebut, makanya akhirnya mereka menjadi langganan tetap untuk nongkrong di sana.
"Oh, oke. Kalau begitu sampai bertemu di hari wisuda nanti ya." Shanum mengambil tas di atas bangku di sebelahnya, lalu menyangkutkan talinya di bahu.
Diva dan Farah mengangguk serempak, seraya tersenyum. "Hati-hati ya, Sha," kata Diva.
"Jangan frustasi loh. Tiga hari lagi kita di wisuda. Dan harus dandan yang cantik. Siapa tahu pujaan hatinya datang ke acara wisuda," cetus Farah dengan seringai khasnya.
Shanum tersenyum tipis. "Dan kuharap, Jullian juga datang," seloroh Shanum. Wajah Farah seketika terlihat memerah, ia berpura-pura tidak mendengarkan ucapan Shanum tadi. Tetapi Shanum tidak terkecoh, dia dapat membaca bahwa gadis itu masih tetap menyimpan perasaan khusus untuk Jullian.
"Wah, itu sih keinginan dari lubuk hatinya yang paling dalam tuh," ledek Diva. Senyum geli terbit di bibir gadis itu, saat dilihatnya wajah Farah semakin memerah. Senyumannya berubah menjadi tawa geli saat melihat Farah semakin salah tingkah. "Ciee, ternyata bisa belingsatan juga gadis setengah perkasa ini," tambah Diva.
Shanum yang sudah bersiap pergi malah ikut nimbrung kembali. Dia ikut mentertawakan Farah. "Tebakanku benar, kau ternyata masih menyukai pria kaku bagaikan papan itu kan."
Farah mendengus. "Kau tidak berkaca ya, Sha. Priamu juga sama, kaya es balok begitu!" sindir Farah.
"Astaga..." Diva ikut terkikik geli.
__ADS_1
"Haha... Es Balok! Kau itu, benar-benar deh. Ada saja celetukannya. Tapi heran ya, kok bisa sih tipe pria kita sama." Shanum menggeleng sembari tergelak, dengan tangan memegangi perutnya.
"Sudah ya, jadi sakit perut nih tertawa terus." Shanum lalu melambaikan tangannya, dia melangkah keluar dari kafe itu. meninggalkan kedua sahabatnya dengan tawa berderai dari mulutnya.