Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 93 Kekuatan Poison Absorber


__ADS_3

Setelah memandang kekasihnya dengan pandangan sendu, Khan meninggalkan kamar rawat Shanum. Dia keluar kamar dan tidak menyadari bahwa di balik bayang-bayang terdapat seseorang yang mengintainya.


Seseorang itu keluar segera setelah Khan menutup pintu kamar. Seseorang itu menghampiri Shanum dan menyeringai lebar. "Halo Cantik, kita bertemu lagi. Sayang sekali umurmu pendek. Padahal aku sedikit tertarik padamu, dan berniat merebutmu dari Khan Adrian. Seharusnya kau tidak perlu mengorbankan nyawamu untuk pria terkutuk itu. Sungguh perbuatan yang sia-sia," bisik sosok itu.


Sosok itu berbicara sendiri, seolah-olah Shanum dapat mendengar ucapannya. Sambil menyeringai dia mendekat, jubah panjangnya menimbulkan suara desir di ruangan itu. Jubah itu berwarna hitam pekat, berikut topeng hitam yang menutupi wajahnya, sosok itu terlihat misterius dan menyeramkan.


Dia perlahan mencondongkan wajahnya yang bertopeng itu ke arah tubuh Shanum. Kemudian menghirup wangi tubuh Shanum dengan mata tertutup dan wajah mendongak ke atas.


Dia membuka kembali matanya dan menatap wajah Shanum dengan pandangan lekat. Sekejap ia terdiam, lalu secara perlahan mengarahkan jemarinya seraya mengusap pipi Shanum, turun ke dagu manisnya yang terbelah lembut. Kemudian dia mengusap bibir gadis itu yang pucat.


Sosok itu mendesah keras. "Kau tetap terasa manis, meski sedang sekarat, Cantik," bisiknya.


Kemudian dia mengangkat kembali tubuhnya. Dia tersenyum gembira. Aku menunggu detik-detik berharga saat Khan Adrian melihat kematianmu. Hal itu akan sangat menyenangkan. Aku suka itu.


Pria itu pun mengangkat jubahnya, membuat suatu gerakan khusus lalu menghilang dari kamar itu dengan meninggalkan jejak kabut berwarna gelap.


Di kamar sebelah, Khan duduk di atas ranjang sembari menatap ke depan. Banyak kata bergaung di benaknya, dan ia terpaksa menghadapi kenyataan pahit, ia tidak akan bisa menyelamatkan kekasihnya dari cengkeraman kematian. Waktu terus berjalan, tenggat waktu satu bulan semakin dekat, sedangkan belum ada kabar baik tentang penawar racun itu.


Khan tidak tahu berapa lama Shanum dapat bertahan. Dan dia merasa keputusasaan mulai menghampirinya dan mengambil seluruh rasa optimis yang ia miliki.


Andaikan ada setitik harapan, ia rela melakukan apa saja sekuat tenaga untuk mendapatkan penawarnya. Bahkan hingga ke ujung dunia pun ia akan menyanggupinya. Dan seandainya ia terpaksa harus berpisah dari Shanum, ia akan berusaha menerimanya.


Begitu banyak seandainya... begitu banyak kemungkinan. Kepergian Shanum sama saja dengan membunuhnya, tapi demi kekasihnya, demi kesembuhan gadis itu, Khan akan melakukan segala cara.Yang ia butuhkan hanya kesempatan.


Khan turun ke lantai bawah dan memasuki ruang makan. Ia menemukan para pelayan sedang mempersiapkan meja makan untuk sarapan. Dia memang terlalu cepat turun ke ruang makan dari waktu sarapan yang biasanya ditentukan.


Salah seorang pelayan langsung sigap menyambutnya dengan hormat. Wanita pelayan itu menanyakan apa yang ingin Khan nikmati terlebih dahulu. Khan tampak berpikir sejenak, kemudian ia meminta secangkir kopi tanpa gula dan roti sandwich isi daging asap.


Khan duduk di kursi menunggu pesanan kopi dan sarapannya. Masih memikirkan jalan keluar untuk menyelamatkan Shanum.


Sarapan pagi itu dilakukannya dengan otomatis hanya untuk mengisi perutnya. Setelah seluruh sarapannya habis, ia langsung kembali ke kamar rawat Shanum dan duduk di salah satu kursi di ruangan itu.


Ia menghabiskan sepanjang siang hari untuk bekerja lewat tabletnya atau berbicara lewat ponsel dengan para asistennya. Khan benar-benar melakukan kegiatannya sembari menjaga Shanum. Dan seperti biasanya kedua orang tua Shanum juga sudah berada di kamar tersebut ikut menjaga putri mereka.


Dimas, ayah Shanum, tidak pernah lagi mengajaknya bicara. Dia mengeluarkan kata-kata hanya kepada istrinya. Dan biasanya, Raisa, ibu Shanumlah yang sesekali mengajak Khan berbincang-bincang. Mungkin untuk membunuh keheningan dalam kesedihan yang semakin mencekik di setiap harinya.


Seiring dengan bergantinya hari, kesadaran bahwa Shanum belum juga mendapatkan penawar dan akan mencapai titik kritisnya semakin melukai Khan.


Bagaimana mungkin ia sanggup menghadapinya?


Walaupun topik itu tidak pernah jauh-jauh dari benaknya, ia berusaha untuk tidak memikirkannya. Khan masih berharap mukzijat akan menghampiri mereka.


Malam ke dua puluh, seorang wanita yang tidak disangka-sangka datang kepada mereka. Wanita itu adalah Chinua. Wanita itu datang ditemani oleh Dario. Khan tahu, Dario sangat memuja Chinua sejak dahulu. Dan sejauh apa hubungan mereka saat ini, Khan tidak ingin terlalu banyak ikut campur.


Jika mereka bisa bersatu, Khan akan ikut merasa bahagia untuk sahabatnya itu. Syukurlah kini wanita itu akhirnya mau merubah dirinya menjadi lebih manusiawi. Semoga dengan kesabaran dan cinta dari Dario, Chinua akan menjadi pribadi yang semakin baik.


Chinua menyapa semua yang berada di ruang rawat itu dengan anggukan sopan seraya tersenyum tipis. Wanita itu menghampiri ranjang rawat dan tanpa permisi langsung membuka balutan perban di bahu Shanum, ia memeriksa keseluruhan lukanya dengan seksama. Kemudian Chinua memejamkan matanya, ia memindai dengan telapak tangannya. Cahaya berwarna biru berpendar di luka Shanum.


Setelah beberapa saat, Chinua membuka matanya kembali. Ia mengedarkan pandangan ke arah Khan dan kedua orang tua Shanum. Keningnya berkerut dalam.


"Ada masalah?" tanya Khan dengan wajah sedikit khawatir.


Chinua terlihat bingung. "Shanum tidak hanya terkena racun tapi juga sihir hitam. Dan anehnya sihir hitam itu tidak bisa bergerak kemana-mana. Sihir itu sepertinya terjebak di satu tempat saja, sehingga tidak membahayakan tubuhnya."


"Terjebak bagaimana?" sahut Dimas, ayah Shanum. Pria itu menunggu jawaban Chinua dengan ekspresi was-was yang sama dengan Khan tadi.

__ADS_1


"Sihir hitam itu seolah-olah tidak bisa bergerak karena ada suatu kekuatan yang menahannya," jawab Chinua.


"Bagaimana dengan racunnya? Apakah kau bisa menyembuhkannya?" desak Khan dengan wajah penuh harap.


"Sepertinya tubuh Shanum masih berusaha melawan efek dari racun itu. Dia sangat kuat, aku sendiri takjub dia mampu bertahan selama ini. Dan untuk bisa menyembuhkannya aku tidak bisa." Chinua bergerak menjauhi ranjang, lalu duduk di bangku yang telah diambilkan Dario untuknya.


Wajah Khan berubah menjadi keruh. Tadinya dia berharap Chinua dapat mengobati Shanum. Wanita itu juga memiliki sihir penyembuh seperti Shanum.


"Tapi aku tahu bagaimana cara untuk menolongnya menetralkan racun itu," kata Chinua lagi.


Khan langsung menolehkan kepalanya dengan cepat dan berkata, "Kau tahu, cepat katakan," desaknya.


Chinua memandang Khan dengan ragu. "Tapi aku tak yakin Shanum akan bisa mendapatkannya dalam waktu dekat."


"Jangan menguji kesabaranku, Chinua!" Khan menggertakkan rahangnya kesal.


Tiba-tiba pintu mendadak terbuka. Mereka serempak menoleh dan menemukan Eej masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah.


"Apakah kondisi Shanum menjadi kritis?" tanya wanita itu tiba-tiba.


Hening.


Khan berdeham. "Tidak. Dia masih dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya."


Eej menghela napas panjang. "Syukurlah kalau begitu. Aku belum menemukan cara untuk menyelamatkan nyawanya dari racun itu."


"Kebetulan kami sedang membahasnya saat ini, Eej," sahut Khan.


"Apakah kalian sudah mengetahui penawarnya?" tanya wanita itu lagi.


"Kalau begitu katakan." Eej mengarahkan pandangannya ke wajah Chinua. Wanita itu terlihat gugup. Dan mereka semua yang menunggu jawaban Chinua juga tampak gelisah.


Chinua tersenyum. "Aku tadi baru ingin mengatakannya, tapi terpotong oleh kedatanganmu." Chinua menghela napas dalam. "Dia bisa disembuhkan oleh seseorang yang memiliki kekuatan Poison Absorber."


Eej mengerutkan keningnya. "Apakah ada orang memiliki kekuatan seperti itu?" Wajah wanita itu menunjukkan seluruh keraguannya.


"Ada, aku saksi hidupnya," jawab Chinua kembali. Wanita itu melepaskan tangannya dari pegangan Dario. Lalu ia menarik roknya sedikit ke atas, dan di betis sebelah kanan wanita itu terdapat bekas luka dengan bercak berwarna ungu.


"Racun Helm Iblis tetap meninggalkan bekas di tubuh. Tapi tidak perlu cemas, corak warna itu tidak mengandung bahaya."


"Lanjutkan ceritanya," kata Eej lagi. Wanita itu memandang Chinua dengan ekspresi penasaran.


"Aku pernah terkena racun yang sama dengan Shanum, dan bisa sembuh. Karena ada seorang Poison Absorber yang menolongku. Saat Dario menceritakan padaku soal keadaan Shanum aku langsung berusaha mencari orang tersebut. Namun sayangnya aku tidak menemukannya, dia sudah pergi dari kediamannya yang terakhir dan kami kehilangan jejaknya."


Eej tertawa ringan ketika mendengar ucapan Chinua. "Kalau begitu mudah, kita tinggal mencari orang lain yang memiliki kekuatan itu."


Chinua tersenyum. "Itu juga sudah kucoba. Tapi sampai dengan saat ini belum dapat menemukan orang yang memiliki kekuatan seperti itu. Ternyata kekuatan itu sangat langka, bahkan lebih langka dari seorang Empath."


"Berarti kita kembali ke jalan buntu," desah Eej. Wajahnya berkerut tidak senang.


"Andaikata kita bisa menemukan orang yang memiliki kekuatan itu apa yang harus dia lakukan pada Shanum?" Tiba-tiba Khan melemparkan pertanyaan lain yang membuat semua orang yang berada di sana heran.


"Orang itu harus melakukan proses berpelukan skin to skin dengan Shanum selama tiga hari berturut-turut," jawab Chinua.


Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat kaget. "Maksudmu, harus..."

__ADS_1


Eej tidak dapat meneruskan kata-katanya. Wajah wanita itu secara mendadak memerah.


"Apa maksud dari 'skin to skin' itu?" tanya Raisa dengan wajah bingung. Dia mengedarkan pandangannya, dan semakin heran ketika melihat semua orang yang berada di sana tiba-tiba menjadi salah tingkah.


Suara dehaman terdengar keras dari samping Raisa. "Biarkan aku yang menjelaskan kepada istriku." Dimas lalu mendekati telinga istrinya itu dan berbicara dengan pelan. Wajah Raisa kontan memerah, ia kini mengerti arti dari kata yang ditanyakannya tadi, dan sekarang jadi dia yang ikut salah tingkah tertular yang lain.


"Apakah tidak ada cara lain?" Khan sebenarnya tidak mau mengikuti arus percakapan soal 'skin to skin' ini. Percakapan ini menyingkapkan terlalu banyak informasi intim yang tidak ia inginkan terjadi kepada kekasihnya.


Chinua menggelengkan kepalanya. "Hanya itu caranya untuk menetralkan racun Helm Iblis. Dari informasi yang kudapatkan, tiap jenis racun memiliki karakteristik tersendiri. Dan penanganannya juga harus berbeda-beda."


"Bagaimana kau tahu kalau cara itu yang digunakan oleh orang yang menolongmu itu. Bukankah kau sedang dalam kondisi tidak sadar saat itu?" Eej kembali menimpali penjelasan Chinua dengan wajah curiga.


"Proses penyembuhan saat itu disaksikan oleh salah seorang pelayan wanitaku. Jika kau tidak percaya aku dapat mendatangkannya ke sini dan menjelaskan kepada kalian tentang peristiwa saat itu." Chinua mengangkat alisnya, terlihat menantang kecurigaan Eej tadi.


"Beruntungnya yang menolongku itu seorang wanita. Jika dia pria, mungkin setelah aku sadar, aku akan langsung membunuhnya tanpa berpikir dua kali," sambungnya dengan wajah datar.


"Wanita ini, apakah dia menceritakan tentang ciri khas kekuatannya itu?" tanya Khan semakin penasaran.


Chinua memandang Khan dengan ekspresi yang menggelikan. "Mengapa kau jadi penasaran dengan kekuatan itu, Khan. Bukankah seharusnya kita mencari orang yang memiliki kekuatan itu?"


"Katakan padaku agar aku dapat lebih memastikan orang yang memiliki kekuatan tersebut."


Chinua tampak berpikir sejenak. "Sepertinya wanita itu pernah berkata kalau dia dapat sembuh dengan cepat dari efek racun, karena tubuhnya dapat menetralisir segala jenis racun. Dia akan sakit pada awalnya, tapi sakit itu tidak akan sampai mengancam jiwanya. Reaksi itu lebih kepada penyesuaian yang dilakukan oleh tubuhnya terhadap racun. Andaikata dia terkena racun yang sama kembali, maka tubuhnya akan mengenali, dan tidak akan menimbulkan efek apa pun yang berarti di dalam tubuhnya."


Khan membeku, kemudian duduk. "Sepertinya aku tahu siapa yang dapat menyembuhkan Shanum," ucap Khan sembari tersenyum gugup.


Eej terdiam. Wajah syok terlihat di ekspresinya, seolah ia juga memiliki pemikiran yang sama dengan putranya.


"Kau tahu?" Chinua memiringkan kepala ke arah Khan. Begitu juga dengan Dimas, dia mengangkat alisnya, matanya memancarkan ekspresi tajam ke arah Khan.


"Itu adalah kau, Yang Agung," ucap Dario menyela dengan wajah kagum. "Selama ini kau selalu cepat sembuh jika terkena racun apa pun. Kami tidak pernah mencurigainya, karena kami pikir kau adalah orang yang memiliki sihir kuat. Tapi ternyata dibalik perkiraan kami yang salah itu, kau memiliki kekuatan khusus yang langka dalam tubuhmu."


"Wow," kata Chinua dengan takjub. "Jadi selama ini kau menyembunyikan kekuatan langka di tubuhmu itu Khan."


Khan mendesah. "Ya. Aku sendiri tidak tahu kalau kekuatan ini ternyata sangat berarti," jawabnya dengan suara rendah.


"Kalau begitu semua masalah terpecahkan. Kau tinggal melakukan 'skin to skin' dengan Shanum dan dia akan segera sembuh," tutur Chinua dengan nada suara santai.


Mendengar ucapan Chinua, terjadi kehebohan yang lucu di ruangan tersebut.


Mulut Eej menganga lebar, tampak kaget.


Wajah Raisa, ibu Shanum memucat.


Dario tersenyum geli sembari menggeleng.


Dan Dimas, ayah Shanum mengetatkan rahangnya dengan keras.


Khan yang mendengar hal tersebut menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merasa dadanya digedor dengan kuat. Dan darahnya terasa menghangat. Hasrat untuk menuntaskan ikatan berpasangan di dalam jiwanya mendadak ingin terlepas.


Khan sekuat tenaga menahannya. Walau bagaimanapun ia tidak mau lepas kendali. Bukan saatnya untuk melakukan hal itu, sementara kekasihnya sedang terbaring sekarat. Prioritasnya kini adalah menyelamatkan gadisnya terlebih dahulu.


Namun, Khan juga tidak tahu apakah dia masih sanggup bertahan jika nanti harus melakukan perbuatan intim seperti itu dengan Shanum. Dan yang lebih penting, apakah dia diizinkan untuk melakukan 'skin to skin' dengan Shanum oleh orang tua gadis itu.


Melihat dari ekspresi ayah Shanum yang menyeramkan saat ini, Khan meragukan dirinya akan disetujui untuk melakukan perbuatan itu.

__ADS_1


__ADS_2