Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 60 Serangan Bola Api


__ADS_3

Ia menatap sebuah bayangan di dalam cermin di hadapannya.


Sesosok wajah cantik terlihat menyeringai menyeramkan dari dalam cermin.


"Apa lagi yang kau tunggu, bodoh!"


"Gadis itu harus mati!"


"Kau harus membunuhnya, sebelum dia menyadari kekuatannya yang sesungguhnya," ucap sosok dalam cermin tersebut.


"Tapi dia sekarang dilindungi oleh suatu kekuatan yang sangat besar, My Lady."


"Aku tidak bisa menembus sihir perlindungan itu."


Wanita dalam cermin itu menggeram marah.


"Kau dungu! Mengapa kau tidak mencari sumber perlindungan itu, lalu memusnahkannya."


"Baik, My Lady. Aku akan melakukannya."


"Dan aku tidak mau mendengar kalimat kegagalan lagi dari mulutmu, Sofia. Kemarin kau sudah melakukan satu kegagalan, membakar rumahnya, tapi gadis sialan itu tidak berada di dalamnya."


"Baik, My Lady. Aku tidak akan gagal kali ini."


***


Shanum menyingkirkan selimut dan mengayunkan kakinya ke pinggir ranjang, wajahnya terasa sedingin es. Dia tidak bermimpi buruk, tapi entah mengapa saat terbangun barusan perasaannya terasa tidak nyaman. Apakah hal ini merupakan suatu pertanda buruk?


Shanum masih duduk di pinggir ranjangnya, sambil memegangi kepala, ia memandangi karpet coklat gelapnya dan berusaha mengalihkan perhatian.


Shasha, apa yang terjadi? Mengapa kau gelisah? Apa kau bermimpi buruk lagi?


Suara Khan terdengar mengalir di pikirannya. Tampaknya pria itu ikut merasakan keresahannya pagi ini.


Aku tidak mengalami mimpi apa pun, Adri. Aku hanya terbangun dengan perasaan kacau dan merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini. Apa lebih baik kita batalkan saja pertandingan basket itu, Adri?


Khan terdiam. Sepertinya dia sedang mencerna ucapan gadis itu.


Aku tidak bisa membatalkannya, Shasha.


Baiklah, begini saja. Aku akan menyuruh Jullian bersiaga di lokasi. Jadi yang bertanding nanti hanya aku, Sergei dan Abdan.


Aku akan menghubungi Sergei dan meminta bantuannya. Aku yakin Sergei bisa membantu mensiagakan anak buahnya.


Dan aku juga akan meminta tidak boleh ada banyak penonton di dalam tempat pertandingan itu. Bagaimana, Sayang? Apakah itu cukup?


Oke, semoga tidak terjadi apa-apa ya.


Em, Adri....


Ya, Sayang...


Jam berapa kau datang ke sini?


Terdengar suara kekeh pria itu.


Apakah kau sudah merindukanku, Shasha?


Kalau iya memangnya kenapa? Tampaknya aku tidak bisa jauh-jauh darimu, Adri.


Nada suara Shanum terdengar lembut dan menggoda di dalam pikiran Khan. Hingga membuat dadanya bergetar.


Khan menggeram. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Shanum menunggu suara pria itu kembali dalam pikirannya. Tapi selama beberapa saat tetap tidak ada suara yang muncul.


Akhirnya Shanum tidak tahan lagi, dia mencoba menghubungi pria itu kembali lewat pikirannya.


Ada apa, Adri? Kenapa kau diam saja?


Shasha...


Ya, Adri.


Aku sudah di depan pintu kamarmu.


Shanum melongo. Bagaimana mungkin pria itu bisa masuk? Seingat Shanum, dia tidak pernah memberikan kunci akses pintu apartemennya kepada pria itu.


"Shasha, buka pintunya. Jika tidak aku akan mendobraknya."


Ya Tuhan, pria itu benar-benar sudah berada di depan pintu kamarnya. Bagaimana ini? Aku baru bangun tidur. Wajahku masih muka bantal dan mulutku juga pasti masih bau naga.


"Iya sebentar, aku ke kamar mandi dulu," teriak Shanum.


Setelah meneriakkan kata-kata tadi, Shanum langsung melesat ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya, mengambil cairan pembersih mulut, dan berkumur-kumur.


"Shasha..."


"Iya, sabar!"


Shanum tergopoh-gopoh melangkah menuju pintu kamarnya, dan memutar kunci. Belum sempat dia menekan gagang pintu untuk membukanya, tiba-tiba dari arah luar pintu sudah di dorong agar segera terbuka.


Shanum langsung bergerak mundur untuk menghindar, nyaris saja dia mencium daun pintu jika gerak refleksnya tidaklah bagus.


Dan belum selesai rasa kagetnya, dia sudah dikejutkan oleh satu hal lagi. Secara mendadak tubuhnya ditarik dengan kasar ke dalam rengkuhan hangat seseorang.

__ADS_1


Khan memeluknya dengan erat dan mencium rambutnya. "Kau berhasil membuatku meninggalkan hidangan sarapanku, Shasha. Jadi kau harus bertanggungjawab."


Shanum menghela napasnya dalam pelukan pria itu, mencoba meredakan napasnya yang ngos-ngosan karena kedatangan pria itu yang mendadak.


Ia lalu merenggangkan pelukan Khan. Shanum menatap lembut ke arah pria itu.


"Betulkah? Maafkan aku kalau begitu."


Khan membalasnya dengan senyum lembut yang sama sembari mengusap pipi gadis itu.


"Kau akan selalu dimaafkan, Sayang. Jadi, sekarang boleh kan aku memelukmu lagi?"


Shanum mengangguk.


Khan kembali memeluknya sembari melabuhkan banyak kecupan di rambut gadis itu, hingga membuat jantung gadis itu berdesir aneh.


Mereka berdiri seperti itu, saling berpelukan erat tanpa berkata-kata untuk beberapa saat. Saling menikmati ikatan mereka bersatu-padu. Dari bahasa tubuh mereka terlihat bahwa keduanya mendapatkan kehangatan dan ketenangan hati.


Keduanya juga tidak sadar, bahwa saat ini mereka dikelilingi oleh cahaya berwarna putih berkilauan. Cahaya itu memenuhi seluruh apartemen itu hingga radius cukup jauh di luar apartemen.


Jullian yang sedang berjaga-jaga di luar apartemen terbelalak kaget melihat cahaya tersebut. Ia kontan berlari ke tempat yang tertutup, dan ia berteleportasi ke dalam apartemen Shanum.


Dia tertegun saat muncul di dalam apartemen. Hal bahaya yang dikiranya sedang terjadi, malah kebalikannya yang kini dilihatnya. Pria itu melihat Yang Agung memeluk kekasihnya, dan cahaya putih berkilauan itu muncul dari tubuh keduanya.


Jullian yang sudah kebal rasa, tiba-tiba merasakan sentakan di dalam hatinya. Dia mendadak ingin jatuh berlutut dan meneteskan air mata bahagia. Cahaya putih berkilauan itu membawa hawa kebahagiaan yang tak terkira kepadanya.


Tak tahan dengan rasa sesak penuh suka cita yang menerpa dadanya, Jullian langsung menghilang dari ruangan itu. Ia kembali ke dalam hotel tempat mereka menginap dan mendapatkan respon aneh dari Abdan, temannya.


"Apa yang terjadi padamu, Jullian? Bukankah kau sedang menjaga Yang Agung di apartemen kekasihnya?"


"Aku tidak apa-apa, hanya tiba-tiba merasa haus. Setelah ini aku akan kembali ke sana."


Abdan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengendikkan bahunya, lalu kembali melakukan aktivitas melatih otot-ototnya dengan mengangkat beban, sembari mendengarkan musik.


Jullian mengambil air mineral kemasan dan minum cukup banyak untuk meredakan rasa sesak di hatinya. Setelah itu dia kembali ke tempatnya berjaga-jaga.


Saat menemukan cahaya itu sudah menghilang sepenuhnya dari lokasi di sekitar apartemen Shanum, pria itu langsung menarik napas lega.


Sementara itu, di dalam apartemen, akhirnya Shanum yang terlebih dahulu memecah keheningan di antara mereka.


Gadis itu kembali teringat tentang kehadiran pria itu secara tiba-tiba di depan pintu kamarnya dan hal itu membuatnya bertanya-tanya.


"Adri, bagaimana caranya kau bisa muncul di depan pintu kamarku. Kau tidak membobol pintu depanku kan?"


Khan sedikit tersenyum, mengangkat rengkuhannya, lalu menarik Shanum menuju sofa di ruang tamu. Gadis itu di dorong Khan untuk duduk di sofa.


Sedangkan pria itu mengambil posisi duduk dengan kaki bersila di lantai, menghadap Shanum, dan menaruh kepalanya di pangkuan gadis itu dengan lengan melingkari pinggangnya.


"Adri, mengapa kau menjadi manja sekali padaku? Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Adri?" tanyanya lagi sembari mengusap lembut rambut Khan.


"Itu artinya sama saja, Adri." Shanum memutar bola matanya.


"Terus tentang cara kau berhasil masuk ke sini seperti yang tadi kutanyakan..." Shanum mengangkat alisnya.


"Oh, tentang itu. Tadi aku memanggil Jullian. Dia yang membawaku dengan berteleportasi ke ruang tamu di apartemenmu ini."


Shanum tercekat, matanya melotot.


"Maksudmu, pria itu, yang ditaksir Farah bisa melakukan teleportasi?"


"Ya. Dia bisa."


"Dia juga yang membawaku ke sini dari Astrakhan. Tidak mungkin aku menggunakan pesawat saat ingin menemuimu. Hal itu terlalu beresiko memancing pertanyaan dan pemeriksaan pihak-pihak yang menahanku di Astrakhan," tambah Khan lagi.


Shanum menggeleng. "Aku tidak percaya kau ke sini dengan teleportasi. Dari Astrakhan pula." Gadis itu menatap tajam Khan, berusaha menerima informasi baru yang memberinya pandangan berbeda dalam caranya mempercayai segala hal yang berhubungan dengan dunia sihir ini.


Dia sudah mengalami banyak hal menakjubkan selama bersinggungan dengan dunia sihir, dan kini muncul kemustahilan lainnya. Selama ini teleportasi hanya diketahuinya dari tontonan di film layar lebar saja, dan tidak menyangka hal itu ada di dunia nyata.


Khan bangkit dari posisi bersilanya, lalu dia duduk di samping Shanum. Pria itu memegang pundaknya dan menatap kedua matanya dengan lembut.


"Kenapa kau terlihat syok, Shasha? Bukankah sudah banyak keajaiban sihir yang kau alami selama ini?"


"Betul sih. Aku kaget, karena masih banyak yang belum aku ketahui tentang duniamu itu, Adri."


Em, selain teleportasi, apakah masih banyak lagi hal mustahil luar biasa di luar sana?" tanyanya lagi.


"Ya, masih banyak. Suatu saat kau pasti bisa mengetahuinya," jawab Khan.


Shanum mendengarkan ucapan Khan dengan seksama. Gadis itu berpikir, sungguh dirinya masih perlu banyak belajar lagi. Dan entah mengapa berada seorang diri di dunia yang masih banyak menyimpan misteri itu mendadak membuatnya takut.


"Tolong jangan pernah tinggalkan aku, Adri."


Gadis itu menatap Khan dengan wajah sedih. Khan tersentak, dia kaget melihat ekspresi gadisnya yang tiba-tiba berubah. Dan dia tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan itu muncul dari bibirnya.


Tadi mereka sedang membahas soal kekuatan lain di dunianya, tapi secara mendadak gadisnya itu merubah arah pembicaraan dan kini merasakan kesedihan.


Khan menangkup wajah Shanum dan menatapnya. "Ada apa, Sayang? Mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu? Aku tentu saja tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Aku tadi mendadak merasa takut harus menghadapi dunia sihir ini sendirian. Kau tahu kan, sekarang aku sebatang kara. Orang tuaku masih belum jelas sudah meninggal atau masih hidup. Hanya dirimu yang kupunya saat ini, Adri," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Khan langsung membawa gadis itu kembali ke dalam kehangatan rangkulannya. "Sayang, jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu. Kau punya aku. Kau bisa mengandalkanku. Dan aku sangat mencintaimu. Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Shanum menatap Khan, mata hitamnya yang cantik membesar. "Ka-kau mau berjanji."

__ADS_1


Khan menarik napas dalam-dalam. "Ya, aku berjanji."


Sesuatu dalam diri Khan luluh saat menatap wajah sedih Shanum. "Oh, Sayang, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Aku akan menyesali seluruh hidupku yang panjang untuk setiap penderitaan yang terjadi padamu. Aku akan menyesali setiap air mata yang jatuh saat kau menangis, jika aku sampai meninggalkanmu."


Kemudian keduanya mendengar sebuah suara bergemuruh. Suara itu terdengar dari salah seorang dari mereka. Shanum melepas pelukannya dan berusaha menahan tawa yang hendak keluar.


Khan sadar, bahwa suara itu berasal dari dalam perutnya. Dia pun melirik ke arah perutnya sembari tersenyum geli. "Sepertinya aku harus makan, Sayang. Perutku sudah berteriak-teriak minta diisi."


"Oke, kau mau sarapan apa?" tanya Shanum.


"Apa saja, asalkan kau yang membuatnya pasti akan aku makan," jawab Khan.


"Aku bikin nasi goreng saja ya."


Khan menganggukkan kepalanya.


"Setelah masak, baru aku mandi."


"Oke," jawab Khan sembari tersenyum.


Shanum pun segera bangkit dari sofa menuju dapur. Dia mengambil bahan-bahan dari kulkasnya dan mulai memasak nasi goreng untuk kekasihnya itu.


Setelah Shanum mandi dan mereka berdua juga sudah kenyang. Kedua sejoli itu kembali duduk di sofa, sembari berpegangan tangan. Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita. Banyak hal yang mereka ungkapkan. Tentang masa kecil Shanum, tentang impiannya dan juga tentang Khan. Shanum senang mendengarkan kisah perjalanan pria itu dari masa ke masa.


Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Dan saat waktu mendekati pukul dua siang, Shanum mengajak Khan ke rumah Diva. Mereka berjanji untuk bertemu di sana. Mereka harus membahas strategi dalam pertandingan basket nanti.


Sekaligus di sana mereka juga membicarakan cara pengamanan yang terbaik di dalam gedung tempat pertandingan itu berlangsung. Khan menceritakan soal firasat buruk yang dirasakan Shanum. Dia ingin mereka semua tetap berjaga-jaga jika firasat itu terbukti terjadi.


Akhirnya waktu pertandingan pun tiba. Mereka sudah berkumpul di lapangan basket tertutup di dalam salah satu gedung. Pak Reno dan timnya sudah bersiap di sana saat mereka datang.


"Astaga, Pak Reno mengajak Kak Ryan dan Kak Seto. Para ahli basket kampus kita diborong semua sama dia," celetuk Farah.


"Iya, sepertinya akan terjadi pertandingan yang seru nih. Aku dari kemarin sudah mencari informasi tentang Pak Reno. Soalnya penasaran, kok dia memaksa minta tanding basket ke Khan. Dan ternyata Pak Reno itu tadinya pernah menjadi atlet basket juga." Diva memberikan informasi kepada kedua sahabatnya.


"Jadi, dia pernah menjadi atlet memanah dan juga menjadi atlet basket begitu?" tanya Shanum terperangah. Dia tidak menyangka kalau dosen pembimbingnya itu seorang yang multitalenta.


"Untuk memanah sepertinya cuma hobi deh, yang atlet cuma basketnya saja," jawab Diva.


"Sayangnya memanah cinta Shanum dia gagal," goda Farah sambil tersenyum geli.


"Dia gagal karena kalah start sama Yang Mulia Khan Adrian. Coba kalau dari dulu dia mendekati Shanum, sebelum Shanum pergi ke Astrakhan, hasilnya mungkin akan berbeda." Diva ikut menggoda sambil cengar-cengir.


Shanum hanya memutar bola matanya tanpa berkomentar apa pun mendengar godaan kedua sahabatnya itu. Dan mereka tidak melanjutkan percakapan, ketiganya sibuk mengamati sekelilingnya.


Shanum melihat bangku penonton hanya diisi oleh lima orang dari pihak Pak Reno, di luar dari para pemain dan wasit. Kelima penonton itu adalah para mahasiswa anggota Senat Kemahasiswaan yang ada di kampus itu. Shanum dan kedua sahabatnya tentu saja mengenal kelima orang tersebut. Mereka sering bersinggungan di banyak kegiatan kampus.


Kelima orang itu menatap Shanum, dan kedua sahabatnya dengan pandangan penasaran. Mungkin mereka bertanya-tanya apa yang menyebabkan Pak Reno mendadak mengadakan pertandingan basket ini.


Dan keterlibatan ketiga gadis itu yang merupakan mahasiswa di kampus itu juga tentunya menjadi topik yang patut dicurigai. Apalagi mereka melihat Shanum dan kedua sahabatnya bergaul akrab dengan para pria yang menjadi lawan di pertandingan ini.


Shanum mengalihkan pandangan ke arah lapangan. Dia melihat Pak Reno menatapnya dengan pandangan lembut penuh perasaan. Shanum tidak menyangka masih akan mendapatkan tatapan selembut itu setelah ia sudah banyak menyakiti pria itu.


Gadis itu tidak berani meneruskan tatapannya. Dia menolehkan kepalanya kembali. Sekarang dia melihat ke arah Khan. Pria itu menatapnya balik dengan tajam. Lalu pria itu menoleh ke arah lain. Shanum mengikuti arah pandangannya. Ternyata Khan memandang ke arah Pak Reno yang masih terpaku memandang ke arahnya.


Shanum tercekat.


Oh Tuhan, dia melihatku saat tadi saling bertatapan dengan Pak Reno.


Shanum mendadak merasa pusing. Meski dia tidak memberikan reaksi yang berarti kepada Pak Reno, tapi Khan pasti melihat makna pandangan Pak Reno kepadanya. Kini pandangan Khan kembali terarah kepadanya sembari tersenyum sinis, lalu dia melengos. Pria itu tidak mau menatap Shanum kembali.


Shanum panik, dia tidak mau pria itu mengambil kesimpulan yang salah terhadapnya. Ia berusaha menghubungi pria itu lewat telepati dalam ikatan mereka. Namun sia-sia, pria itu menutup aksesnya.


Shanum menggigit bibirnya karena gugup. Apa yang harus dilakukannya? Sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Tidak mungkin dia menghentikan pertandingan hanya karena ia ingin berbicara dengan Khan.


Suara pluit terdengar, tanda pertandingan akan di mulai. Shanum menghela napasnya, ia terpaksa menelan rasa galaunya hanya di dalam hatinya.


Pertandingan itu diawali dengan Jump Ball. Di mana wasit berada di tengah lapangan untuk melempar bola ke atas dan diperebutkan oleh dua orang dari masing-masing tim.


Jump Ball berhasil di raih oleh Sergei. Pria itu bergerak lincah mendribble bola. Gerakan Sergei dibayang-bayangi oleh Kak Ryan dari tim Pak Reno. Namun Sergei berhasil mengecoh dan terakhir melakukan Chest Pass ke Khan dan pria itu langsung menangkap bola, mendribble sesaat, kemudian bergerak dengan indah memasukkan bola ke dalam keranjang.


Tiga menit pertama Pak Reno dan tim tidak pernah berhasil memasukkan bola. Namun setelah itu Khan sepertinya memberi kesempatan pada tim lawan untuk dapat mengambil bola dan memberi mereka angin surga sesaat untuk mencetak angka.


Shanum tidak bisa menikmati jalannya pertandingan, karena dia sibuk merasa gundah. Gadis itu terlihat melamun dan mengamati ke satu titik di hadapannya.


Mendadak gadis itu tampak memicingkan matanya, mengamati suatu pergerakan mencurigakan yang ada di depan pintu ruangan ganti di tribun seberang.


Shanum kembali memicingkan matanya, memastikan apakah yang dilihatnya nyata atau sekedar khayalan. Dia melihat ada kilauan cahaya merah dari dalam ruangan itu. Gadis itu mendadak bangun dari duduknya. Dia harus mengecek ke ruangan itu.


"Aku mau ke toilet dulu ya," kata Shanum kepada para sahabatnya. Keduanya mengangguk sembari tetap serius menikmati jalannya pertandingan. Mereka tidak curiga akan tingkah laku Shanum.


Shanum menoleh ke arah sekelilingnya. Dia berusaha mencari Jullian, pengawal Khan. Namun pria itu tidak terlihat batang hidungnya. Di mana pria itu sekarang berada? Perasaannya menjadi semakin tidak enak. Tapi dia tetap harus tahu, apa yang berada di ruang ganti itu?


Shanum bergerak perlahan mendekati pintu itu. Dia menyusuri pinggiran tribun mendekati tangga yang mengarah ke ruangan itu. Saat dia nyaris mendekati pintu, tiba-tiba dari dalam ruangan muncul enam orang pria yang membawa bola api dalam genggaman mereka.


Shanum berhenti mendadak, dia tersentak mundur. Dia melirik ke kanan dan kirinya. Mencari bala bantuan jika diperlukan. Namun posisinya yang membelakangi lapangan sungguh merugikan sekaligus menguntungkannya. Jika dia bertindak mengeluarkan kekuatannya, seharusnya tidak akan terlalu terlihat oleh penonton dan itu keuntungannya. Tapi kerugiannya, dia tidak akan mudah terlihat oleh pengawal Khan.


Gadis itu akhirnya pasrah, dia tetap harus menghadapi para pria ini. Dia bersiap-siap mengeluarkan kekuatannya dan berharap semoga kali ini dia selamat.


Keenam pria itu menyeringai ke arahnya. Mereka serempak menembakkan bola satu persatu ke arah Shanum. Bola api itu tidak bisa menyentuhnya. Ia dilindungi oleh kalung yang dikenakannya.


Namun tiba-tiba Shanum melihat pancaran bola api itu melesat ke arah lain. Dia sempat teralihkan sesaat, mengira bola api itu sampai ke tribun yang berisi penonton. Dan ketika Shanum kembali melihat ke arah para pria itu, mendadak ia di hantam bola api besar hingga ia terlempar tak jauh dari lokasi tempat pertandingan berlangsung.


Shanum terengah, dadanya terasa sangat sakit. Dia tidak mengira, kalung itu tidak bisa menahan kekuatan bola api yang menerpanya. Shanum berusaha bangun. Tapi sakitnya sungguh luar biasa, hingga membuatnya meringis sakit. Dia mendengar banyak suara jeritan dan bau asap.

__ADS_1


Shanum sempat melihat Khan berlari ke arahnya. Namun dia tidak ingat apa-apa lagi setelahnya. Gadis itu tergeletak tak sadarkan diri dalam rengkuhan Khan yang berteriak memanggil namanya dengan panik.


__ADS_2