
Shanum menangkap ekspresi terkejut dari semua orang. Meski ia juga merasakan hal yang sama, yang terpikir saat ini adalah perasaan yang dialami oleh Khan. Dan ia melihat rahang terkatup rapat dengan jemari mengepal erat di samping tubuh. Khan terlihat sedang menahan amarah.
Shanum mencari-cari dalam ikatan mereka dan tersentak, saat menemukan rasa kecewa pekat menyelubungi ikatan.
Tiba-tiba ada sosok meluncur dari barisan pasukan Avraam ke arah mereka, kabut hitam pekat melesat mengikutinya.
Khan mengerang, menggeliat di tanah.
Bumi seakan bergetar merespons.
Shanum bergerak dengan cepat menuju Khan, ia melihat Sergei berteriak, tapi ia tidak mendengar apa-apa.
Besarnya kekuatan itu, merobek-robek pelindung dari Khan. Kemudian pelindung tambahan dari Yang Agung lainnya.
Kekuatan itu memekakkan telinga. Kekuatan yang dilancarkan oleh Avraam. Kini pria itu menampakkan diri dan berdiri di samping Taban. Wajahnya sekeras granit, tak berpaling, hanya menatap pada satu arah, yaitu Khan.
Khan sudah tahu. Dia berusaha berdiri tegak sembari melihat Shanum, ketakutan dan kesakitan tampak di wajahnya. Lalu ia mengamati batas pelindung yang sudah hancur. Khan sudah tahu bahwa mereka harus berhadapan langsung dengan musuh. Hancurnya pelindung itu sepertinya melukai dirinya.
Shanum berdiri di sebelah Khan, memandangi pria itu, seakan khawatir. Namun bimbang apakah harus memeriksa luka pada tubuh pria itu, atau hanya bertanya mengeluarkan kecemasannya.
Tubuh Khan kembali kaku, erangan berat memecah dari mulutnya. Shanum melihat kekuatan gelap muncul dari tubuh Avraam dan Taban. Kenyataan terkuak secara jelas di depan mata mereka, bahwa Taban memiliki sihir gelap dalam dirinya.
Shanum merasakan Khan melepaskan kekuatannya, peringatan tanpa suara.
Yang Agung lainnya kali ini bersiaga, memasang kuda-kuda dan memperkuat yang sudah mereka kerahkan.
Khan berdiri di sisi Shanum, pedangnya terhunus, mata pria itu menyala-nyala memancarkan api asing di dalam dirinya. Sedangkan Shanum mengeluarkan pedang ratu, menyalurkan kekuatan keemasannya yang menyilaukan mata.
"Bersiaplah," Khan berbisik. "Kekuatan mereka tidak bisa dianggap remeh."
Kekuatan Shanum tertahan...
Shanum akan bersiap dengan sihirnya. Dia memberikan perintah dengan pikirannya kepada ketiga wanita pelindungnya.
Mereka hanyalah pengalihan, selagi serangan Shanum mencari titik sasarannya.
Waktu seakan melambat dan mengambang di udara. Kekuatan gelap dari kedua pria itu dilambungkan ke arah mereka. Ke arah padang stepa di mana ia tidak terlihat dan tidak mendengar, di mana ia hanya berupa titik cahaya yang terpantul dalam sinar matahari.
Taban menghilang ke dalam kerumunan prajurit. Kemudian pria itu kembali ke barisan depan.
Kekuatan Shanum yang sudah terhimpun, seketika menghilang.
Shanum tidak bergerak. Tidak berani bergerak. wajahnya memucat. Sebab Taban memegangi ayahnya di depannya, pedang menempel di kerongkongannya.
Itu sebabnya Taban menyeringai dengan licik. Dia sudah berniat akan melakukan tindakan tercela itu pada saat ia muncul, dan hanya ada satu cara untuk menghentikan kami melawan...
Dengan perisai manusia. Yang akan membuat mereka berpikir dua kali sebelum menyerang.
Ayah Shanum berdarah-darah, lebih kurus dibandingkan terakhir kali Shanum bertemu dengannya. "Shanum," pria itu terengah, matanya menangkap kilau amarah bercampur kesedihan dari mata Shanum.
Taban tersenyum. "Sungguh ayah yang penyayang, berusaha mencari putrinya yang menghilang. Sayangnya, dia salah memilih orang, bukan teman, tapi musuh yang ia ikuti." Taban maju selangkah dan kembali berkata, "Sekarang kalian saling menjauh, jaga jarak kalian satu sama lain."
Pria itu mengangkat dagunya, memberikan perintah untuk dipatuhi oleh Shanum, Khan dan ketiga wanita itu agar tidak saling berdiri berdekatan.
Shanum tidak mengucapkan apa-apa. Mereka dengan enggan mengikuti perintah dari pria itu. Perhatian Khan beralih ke seluruh padang itu, mengukur setiap keuntungan, setiap sudut.
Selamatkan dia, Shanum memohon keselamatan ayahnya kepada Khan.
Tolonglah Ayah, Adri.
Khan tidak menjawab. Pikiran pria itu mendadak buntu. Dia sangat ingin menyelamatkan ayah mertuanya itu, tidak ada kesangsian atas hal itu. Tapi, dia harus memilih dengan seksama, tidak ingin gegabah dalam bertindak. Salah satu langkah saja, nyawa ayah mertuanya akan terancam hilang.
Taban menelengkan kepala untuk melihat wajah Dimas yang berjenggot dan terbakar matahari. "Sekarang kau sudah bertemu putrimu kan. Dia berhasil kembali ke pangkuan suaminya. Namun, hal itu tidak akan bertahan, keduanya akan kembali terpisah. Kali ini untuk selamanya."
Dimas hanya memandangi Shanum. Mengabaikan manusia laknat di belakangnya dan berkata kepada Shanum, "Ayah menyayangimu, Shanum. Dan Ayah... Ayah menyesal sekali, Princess. Ayah minta maaf, atas segalanya."
"Kumohon," kata Shanum kepada Taban. "Untuk pertemanan kita selama ini, Taban." Suara Shanum terdengar berat dan serak. "Kumohon."
Taban terkekeh. "Pertemanan itu hanya omong kosong," kata pria itu datar. Kemudian ia menatap Shanum dengan tajam. "Kecuali kau dapat melakukan sesuatu untukku. Aku akan melepaskan Ayahmu."
"Katakan! Apa yang kau inginkan?"
Taban tersenyum licik. "Permintaanku cukup mudah, kau dan suamimu hanya perlu menyerahkan diri kepada kami."
Shanum menatap dan terus menatap ayahnya, yang menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Chinua muncul di samping Shanum. "Bajingan Pengecut, beraninya hanya menjadikan manusia lemah sebagai tameng kalian. Aku tidak takut pada ancamanmu. Jadi bersiaplah menyongsong ajalmu!" Wanita itu mengacungkan pedangnya dengan ekspresi murka, dan bersiap menyerang.
Taban seketika mengetatkan pedang pada leher Dimas. "Baiklah, berarti kalian yang merelakan pria ini untuk mati."
Shanum menarik Chinua. Dia menggelengkan kepala seraya menatap dengan pancaran mata penuh permohonan padanya. Chinua lalu berdecih keras sembari mengendurkan posisi tubuhnya dan mundur dengan hentakan kesal.
Akhirnya Chinua memilih bersikap mengalah dan tidak meneruskan keinginannya untuk menyerang Taban. Meski ia melakukan itu dengan setengah hati.
Saat Shanum berpikir dengan keras mencari cara untuk melepaskan ayahnya, Khan menatap tajam ke arah Taban. Tangan Khan bergerak ragu, pedangnya terangkat. Berusaha mengambil titik sasaran.
__ADS_1
"Mengapa?" tanya Khan.
Taban mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan lantang itu ke arahnya lalu menjawab, "Aku hanya bosan selalu berada di balik bayang-bayangmu. Bosan menjadi pria yang tak dianggap. Seharusnya aku yang memiliki seluruh harta dan kekuasaanmu itu. Selama ini aku yang bekerja keras. Kau hanya sibuk meratapi seorang wanita yang tak berharga selama ratusan tahun. Dan setelah kau menemukan Shanum, kau beralih disibukkan olehnya." Taban menatap nyalang kepada Khan.
Dan Khan mengetatkan genggamannya pada pedang. Bibir pria itu menipis menahan amarah. "Tidak kusangka kau menyimpan ambisi merusak seperti itu selama ini."
Taban tidak menjawab, dia hanya mengendikkan bahu lalu melarikan pandangannya kepada Shanum.
"Apakah kau sudah memutuskan, Shanum?" desak Taban. Pria itu terlihat tidak sabar mendengar keputusan Shanum dan meraih impiannya selama ini. Impiannya akan tahta dan harta yang sesungguhnya bukan miliknya.
Taban menyimpan rasa iri dan dengki kepada Khan. Dan rasa itu sudah menetap selama ratusan tahun di dalam dirinya. Taban dibutakan oleh ambisinya yang tak berkesudahan itu. Dia mengatur siasat dan berkomplot dengan Avraam untuk menghancurkan Khan. Tidak mempedulikan pertemanan mereka yang sudah berlangsung lama.
Shanum menatap Taban lama dengan keraguan, tapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
Dia pasrah, tidak menemukan jalan lain untuk menyelamatkan ayahnya, kecuali mengikuti kemauan Taban.
"Meskipun aku akan membunuh suamimu dan menyerahkanmu kepada Avraam?"
Shanum kembali mengangguk.
Dimas menggeram, "Jangan coba-coba menyentuh putriku dan menantuku dengan tangan kotormu--" Pria itu memberontak dari belitan Taban. Tidak memperdulikan goresan pada lehernya akibat gerakan itu.
"Jangan lakukan Ayah," teriak Shanum. Dia mengangkat tangan, dan bergerak menuju ke arah Dimas berdiri. Situasi menjadi kacau. Semua orang bergerak dari posisinya semula sembari menaikkan pedang. Aroma sihir terasa pekat di udara.
Langkah Shanum berhenti sesaat ketika ia mendengar suara gerakan lain melintas di sudut matanya. Sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, suara teriakan penuh amarah seorang wanita membahana.
"Mati kau, Shanum!"
Shanum melihat Sarnai menyerang ke arahnya sambil menggeram marah. Namun, sebelum wanita itu melancarkan energi sihir yang sangat kuat, Shanum melihat bayangan hitam mendorongnya kuat, hingga membuatnya terhempas jauh ke belakang.
Dia mendarat dengan keras di atas bongkahan bebatuan. Bebatuan itu menyerpih hancur ke segala arah akibat hantaman keras tubuhnya.
Shanum terbatuk kencang. Napasnya tersendat, ia mencoba menarik napas perlahan, meski punggungnya terasa sangat sakit. Efek benturan keras antara punggung dan batu tersebut membuat luka dalam yang cukup parah.
Shanum merasa tulangnya rontok, dan ada yang patah. Dia menahan rasa sakit itu sambil bersikeras bangkit ke posisi duduk untuk menyalurkan energi penyembuhnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Shanum mendongak, melihat Sofia berdiri menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Sepertinya ada tulang rusukku yang patah," jawabnya seraya meringis menahan sakit.
"Kalau begitu, kita harus segera ke tempat pengobatan." Sofia berkata sambil membantu Shanum yang mencoba bangkit dari posisi duduknya.
"Jangan dipaksakan kalau kau tidak sanggup," kata Sofia lagi.
"Kau yakin?" desak Sofia.
Shanum mengangguk, lalu ia mengalihkan pandang ke arah energi sihir pekat yang sedang gencar dikeluarkan. Shanum terperangah ketika melihat Sarnai sedang bertarung dengan Avraam.
"Pria itu melindungimu. Jika dia tidak memotong jalur sihir wanita itu, mungkin bukan hanya tulang rusukmu yang akan patah. Sepertinya pemimpin musuh itu menyukaimu."
Shanum tidak menjawab ucapan Sofia barusan. Dia diam sembari menatap ke arah pertarungan. Matanya memperhatikan Avraam dengan mudah mematahkan serangan-serangan Sarnai. Mereka terus bertarung sebelum pada akhirnya seorang pria menghentikan pertarungan itu. Entah siapa pria itu dan apa yang diucapkan olehnya sehingga keduanya berhenti saling menyerang.
Shasha...
Shanum tersentak. Dia menoleh dan mencari-cari Khan di tempat terakhir ia melihat pria itu.
Adri...
Kau baik-baik saja, Sayang?
Khan bertanya dengan nada resah terselip dalam suaranya.
Tulang rusukku patah, Adri. Tapi sekarang sudah mulai membaik.
Shanum mendengar suara desah lega dalam ikatan mereka.
Syukurlah kalau begitu.
Apa yang harus kita lakukan sekarang, Adri?
Kita terpaksa mundur.
Tidak bisa, Adri. Ayah masih berada di tangan mereka.
Aku tahu. Justru karena Ayah di sana, kita tidak boleh bertindak gegabah.
"Shanum Qamira...."
Shanum mendongak, mendengar teriakan keras Taban memanggil namanya. Percakapan batin antara dia dan Khan terputus secara otomatis.
"Kesabaranku semakin menipis, Shanum! Kau yakin memilih kematian untuk Ayahmu?"
Wajah Shanum memucat. Dia setengah berlari mendekati pria itu.
__ADS_1
"Jangan, Shanum! Pria itu hanya menggertakmu," sergah Sofia sambil mengikutinya dari belakang.
Namun Shanum tidak mendengarkan peringatan Sofia, kakinya semakin cepat bergerak. Shanum tidak bisa mengabaikan peringatan Taban. Bagaimana jika ocehan pria itu bukan sekadar gertakkan belaka. Shanum tidak akan pernah siap melihat ayahnya merenggang nyawa karena dirinya.
"Lepaskan Ayahku. Aku akan menyerahkan diriku," ucap Shanum dengan napas terengah-engah.
"Tidak, Shanum. Aku akan melepaskannya setelah kau membunuh suamimu terlebih dahulu." Taban tersenyum miring. Pria itu merubah pikirannya. Sekarang, Taban sangat menantikan Khan mati di tangan orang yang ia cintai. Sungguh sepadan menurut Taban, jika pria yang ia benci itu mendapatkan kematian yang mengenaskan.
Suara geraman terdengar dari bibir Sarnai. "Kau sudah berjanji padaku, Sialan! Pria itu akan kita siksa bersama-sama. Mengapa kau berkhianat?!"
"Diam! Kau tidak diizinkan untuk merasa keberatan. Jika bukan karena aku, kau tidak akan bisa berubah wujud seperti sekarang."
"Kau bukan Sarnai?" Ulagan maju dan berusaha mendekat. Tapi tindakannya itu dicegah oleh Sergei. Pria itu hanya bisa menatap ke arah Sarnai dari jarak jauh.
"Kau membongkar penyamaranku, Bajingan." Sarnai maju dan bersiap menyerang ke arah Taban. Namun, pria itu sepertinya sudah mengantisipasi perlawanan wanita itu. Taban mengucapkan sebaris matra dan Sarnai dikelilingi oleh kabut hitam menyerupai tali. Tubuh wanita itu kontan tidak bisa bergerak. Hanya mulutnya yang masih bisa mengeluarkan sumpah serapah kepada Taban.
Tapi tak lama kemudian, suara wanita itu pun menghilang. Taban menutup rapat-rapat mulut Sarnai dengan mantra. Kemudian Taban mengucapkan mantra yang berbeda, dan mereka yang melihat berseru kaget. Wajah Sarnai berubah menjadi wanita lain yang tidak mereka kenal.
"Tunaya?"
Zuunaa berkata dengan keras, kemudian membekap mulutnya.
Taban terkekeh. "Tidak menyangka kan, kalau adikmu masih hidup, Gerel."
Zuunaa atau Gerel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lalu mayat siapa yang kulihat saat itu?"
Taban tertawa semakin keras. "Aku hebat bukan, bisa membuat wajah orang lain menjadi adikmu."
"Bedebah, lepaskan adikku!" Zuunaa berteriak kencang sambil menghunuskan pedangnya.
"Kau yakin ingin melepaskan adikmu, Gerel. Adik yang sudah mengadu domba kalian saat itu. Adik yang sudah membuatmu kehilangan tunanganmu, kehilangan kasih sayang Ayah dan Ibumu. Kehilangan semuanya."
Zuunaa terpaku, ia diam membisu. Ekspresinya tampak syok mendengarkan tutur kata Taban. Sofia mendekati Zuunaa, lalu mengajaknya menjauh.
Shanum ikut tertegun melihat seluruh peristiwa mencengangkan itu. Dadanya bergemuruh keras. Dia mengenali wanita itu. Wanita yang bernama Tunaya itu adalah wanita yang muncul dalam mimpinya, orang yang sudah menyiksa Sarnai secara sadis.
"Oke, cukup tentang Tunaya. Urusanku sekarang ini adalah dengan Shanum. Bagaimana Shanum? Aku masih menunggu keputusanmu," ucap Taban sembari menyeringai dengan nada suara dibuat seolah-olah lembut, namun menyimpan segudang kemunafikan terselubung.
Shanum menoleh dengan cepat. Ekspresinya tampak bingung. "Aku..." Suara Shanum tercekat, ia tidak bisa meneruskan kata-katanya lebih lanjut. Otaknya masih susah mencerna kenyataan yang terbuka di depan matanya.
"Aku rela menyerahkan nyawaku demi dirinya," sahut Khan menyambung ucapan Shanum. Pria itu berdiri di samping Shanum dan menatap wajah istrinya itu dengan senyum teguh tersungging di bibir.
"Tidak, Adri." Shanum menggelengkan kepalanya, menolak keras niat yang dilontarkan pria itu. Shanum tidak bisa membunuh pasangan jiwanya. Dirinya akan ikut mati jika pria itu mati.
Mendadak dari sudut memorinya di kejauhan, di alam pikiran terdalamnya... dia ingat sebuah mantra yang pernah ia baca dalam salah satu buku sihir. Buku itu tersimpan di perpustakaan Avraam, yang tidak digunakan dan berdebu. Buku itu menceritakan tentang mantra-mantra sihir kuno. Bercerita juga tentang asal muasal dunia sihir dan kehidupan di kala itu.
Shanum meraih Khan--dengan tangannya, dengan pikirannya. Dia menemukan dinding pikiran pria itu terpasang, dinding kuat yang direntangkannya selama pertempuran. Shanum menyapukan tangannya di sana, tapi dinding itu masih berdiri.
Buka perisai dalam pikiranmu, Adri.
Khan mengerutkan kening mendengar desakan istrinya. Namun, ia mengikuti perintah itu tanpa banyak tanya.
Dan ketika Khan membuka perisai pikirannya, kekuatan Shanum menggelora di seluruh tubuhnya.
Pikiran mereka menyatu. Terjalin menjadi satu. Shanum mulai mengucapkan mantra yang ditemukannya dalam buku tersebut. Mengucapkannya dan merasakannya. Kata, napas dan jiwa melebur menjadi satu.
Kekuatan Khan mengalir ke dalam diri Shanum, keluar dari pria itu. Cahaya menari-nari di sekeliling mereka, hingga membuat semua orang mendadak membeku tidak beranjak. Hanya bola mata mereka yang masih dapat bergerak, menandakan pikiran mereka tetap sadar.
Khan tersentak, namun dia membalas dengan erat genggaman jemari Shanum. Khan tidak bergerak menahan, justru melepaskan seluruh kekuatannya untuk melebur bersama Shanum. Pria itu memberikannya kepada Shanum. Suaminya itu menyerahkan segalanya.
Aku mencintaimu, bisik Khan ke dalam pikiran Shanum. Wanita itu bersandar pada Khan, menikmati kehangatannya, bahkan saat kekuatan mantra itu masih menguasai.
Kekuatan brutal dan mentah semakin mengucur dalam dirinya. Shanum terus bersandar pada Khan, tanpa takut pada kekuatan itu, ada Khan yang memeluknya.
Kekuatan itu mengalir dan mengalir, bergemuruh dalam dirinya. Shanum mengucap mantra itu berulang-ulang kali. Dia merasakan Khan bergetar di sampingnya, mendengar napasnya yang berat. Shanum mencoba menoleh--
Aku mencintaimu, kata pria itu lagi.
Kemudian kekuatan itu mulai meredup, tapi tetap berderai. Shanum mengangkat tangannya dan memikirkan pedang di tangan Taban, ia ingin pedang itu berpindah ke tangannya.
Dan secara ajaib, ketika keinginan itu tercetus di pikirannya, pedang itu langsung melesat ke arah Shanum, dan ditangkap olehnya dengan gesit.
Kemudian, kebekuan mulai mencair. Gerakan samar terlihat pada masing-masing wajah.
"Pikirkan rumah kita, Ayah. Cepat." Shanum berteriak dengan keras sembari menyentak tubuh Dimas dengan sihir dari jarak jauh, agar pria itu sadar.
Dimas mendengarnya, dan ia mengerti maksud teriakan putrinya itu. Dimas langsung memikirkan rumah tempat istrinya berada saat ini dan ia seketika menghilang dari tempatnya berdiri. Dimas melakukan teleportasi, kekuatan yang ia miliki satu-satunya.
Setelah Dimas pergi, Shanum melepaskan jemarinya. Dia mengembuskan napas sambil bergetar. Dia berhasil. Dia berhasil membebaskan ayahnya.
Shanum menoleh. Butuh beberapa saat sampai dia bisa memahaminya, apa yang ia lihat.
Khan tergeletak di tanah. Tubuhnya tak bergerak dan wajahnya terlihat pucat bagaikan mayat.
Shanum terpaku. Jiwanya terasa kosong. Seolah ikatan di antara mereka menghilang. Shanum mendekat, ia jatuh bersimpuh di samping Khan. Menatap nyalang ke arah dada pria itu, merabanya dengan cepat, mencoba menemukan naik turun napasnya.
__ADS_1
Dan napas Shanum seketika tercekat, tubuhnya mendadak lemas. Dia tidak merasakan ada detakan di dada itu... dada Khan tidak bergerak. Suaminya itu telah tewas. Tewas karena kesalahannya.