
Sekarang Shanum berdiri di depan puing-puing bekas rumahnya. Semuanya hancur di depan matanya.
Setelah menerima telepon dari Pak Dirman, ketiga gadis itu langsung menuju ke rumah Shanum. Di saat yang bersamaan Diva juga menerima telepon dari Sergei yang mengabarkan bahwa ia menuju ke rumah Diva dari bandara.
Diva langsung menceritakan kejadian yang menimpa Shanum, bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah gadis itu. Sergei kaget dan berkata akan ikut melihat ke lokasi kebakaran. Dia ingin mencoba membantu Shanum dan keluarganya.
Sesampainya di sana, Shanum melihat orang sudah banyak berkerumun dan api yang berkobar besar. Api itu seakan-akan menjilat-jilat ke arahnya. Rasa panas yang menyesakkan juga terasa di sekelilingnya. Shanum mencoba menerobos kerumunan mendekat ke arah rumahnya yang sedang terbakar.
Namun langkahnya dihalau oleh salah seorang petugas. Tidak ada yang boleh berada terlalu dekat dengan lokasi rumah yang terbakar, karena dapat membahayakan.
Petugas pemadam kebakaran sudah membuat pembatas khusus agar orang yang menonton tetap berada di belakang garis batas itu. Shanum kembali terisak saat melihat penampakkan rumahnya.
Dia berteriak-teriak histeris memanggil-manggil nama kedua orang tuanya. Orang-orang yang berada di sekeliling mereka memperhatikannya. Farah langsung menariknya menjauh dan memeluknya. Diva juga ikut memberikan kata-kata menghibur kepada Shanum.
"Tidak, Ayah dan Ibuku! Farah... tolong Ayah dan Ibuku." Shanum masih meronta-ronta dalam pelukan Farah.
"Shhh... sabar, Sha," hibur Farah.
"Kau harus kuat, Sha. Kau tidak sendiri, kami masih ada di sini." Diva juga ikut menghiburnya. Mereka berdua ikut meneteskan air mata bersama Shanum. Tubuh gadis itu akhirnya melemas. Sesekali masih terdengar isak tangisnya.
"Non Shanum..."
Shanum melepaskan diri dari pelukan Farah dan menoleh. Dia melihat Pak Dirman, Bi Inah, Bi Ema dan Mang Jali. Wajah Mang Jali dan Pak Dirman tampak kotor penuh jelaga. Wajah semuanya tampak sedih.
"Maafkan kami, Non. Kami tidak dapat membawa Bapak dan Ibu keluar dari rumah," ucap Bi Ema sambil sesekali mengusap air matanya dengan punggung tangan. Bi Inah juga ikut menangis tersedu-sedu.
"Apakah ada lagi yang tertinggal di dalam selain Ibu dan Ayah?" tanya Shanum dengan suara tersengal serak.
"Tidak ada, Non. Tadi itu Mang Jali sedang mengantar Bi Ema untuk membeli makanan yang diminta oleh Ibu. Ibu Non seperti orang yang sedang mengidam, dia ingin sekali dibelikan asinan di perumahan sebelah. Dan saat kami kembali api sudah mulai membesar. Mamang mencoba masuk ke dalam rumah, tapi tidak bisa," jelas Mang Jali.
"Apakah ada hal mencurigakan sebelum terjadinya kebakaran, Mang?" tanya Shanum lagi.
"Sebelum kejadian kebakaran itu ada seorang wanita dan seorang pria yang datang mencari Non. Mereka seperti bukan orang asli sini, Non," ungkap Pak Dirman.
Shanum mengerutkan kening. Dia menatap ke arah kedua sahabatnya.
"Apakah mereka berbicara dengan bahasa kita, Pak?" tanya Farah.
"Yang pria iya, Non. Tapi yang wanita tidak. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa yang tidak saya mengerti."
"Terus apa mereka dibiarkan masuk ke dalam rumah, Pak?" tanya Shanum.
"Iya Non, Bapak persilahkan masuk dan mereka menunggu di ruang tamu. Bapak kira dia teman Non. Karena yang pria bilang kalau dia teman saat kemarin di luar negeri. Setelah itu mereka diajak berbincang oleh Ayah Non. Dan Bapak kembali ke pos jaga, tidak tahu apa yang dibicarakan mereka."
Shanum mendadak pusing. Siapa orang-orang itu? Seingatnya tidak ada pria yang ia kenal bisa menggunakan Bahasa Indonesia di Astrakhan. Dan tidak ada wanita yang ia kenal di sana, kecuali Chinua dan pegawai Khan.
"Shanum..." panggil sebuah suara.
Shanum melihat Sergei melangkah cepat menghampiri mereka. Pria itu berjalan sambil sesekali melihat ke arah api yang berkobar. Wajahnya tampak mengeras. Dia terlihat marah.
"Aku turut prihatin, Shanum," ucapnya. Shanum mengangguk dengan senyum sedihnya. Pria itu lalu mendekati Diva dan menggenggam tangannya. Dia membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Diva menggigit bibirnya, lalu balas berbisik di telinganya kembali.
Sergei lalu mengecup jemari gadis itu. Pertunjukkan kasih sayang itu tak luput dari perhatian mereka semua yang berada di situ. Dan Farah langsung berdecak kesal dan berkata, "Tolong ya, ada yang sedang berduka di sini." Diva langsung melepas genggaman tangan Sergei sambil tersipu malu.
"Ada yang ingin kukatakan, Shanum. Ini penting! Dan maaf, sebaiknya kita berbicara di sana saja." Sergei menghampiri Shanum dan mengajaknya menjauh.
Setelah mereka telah berdua saja. "Ini bukan jenis api biasa, Shanum. Api ini adalah api sihir."
Shanum langsung menatap Sergei, dia memicingkan matanya. "Maksudmu, ada yang berniat membunuhku dan keluargaku, begitu?"
"Bisa jadi, Shanum. Yang membuatku heran, mengapa dia mengincarmu. Kau kan sudah tidak berada di tanah klan. Dan juga tidak berhubungan lagi dengan Khan dan bersitegang dengan Klan Batbayar."
Mata Shanum berkedip ketika mendengar kata-kata Sergei. Gadis itu terkejut dengan ungkapan tentang api sihir yang telah membakar habis rumahnya.
Dan dadanya terasa sesak saat mendengar kata-kata Sergei, bahwa ia sudah tidak berhubungan lagi dengan Khan. Semuanya bercampur-aduk dalam batinnya hingga membuatnya kehilangan orientasi.
"Aku akan memperlihatkan padamu. Agar kau percaya."
Sergei langsung menjentikkan tangannya. Waktu seketika berhenti bergerak. Orang-orang di sekeliling mereka membeku. Sergei melepaskan cahaya biru dari kedua tangannya. Dan cahaya itu bergerak menghampiri setiap orang, membentuk lapisan di sekeliling mereka yang membeku itu.
Ia lalu bergerak untuk menepuk pundak Diva serta Farah. Diva tersenyum tipis dan mengusap kedua pipi pria itu. Tatapan mata mereka penuh cinta dan saling mendukung satu sama lain. Shanum merasakan sesuatu berdenyut nyeri tepat di jantungnya. "Betapa beruntungnya Diva," ucapnya dalam hati.
Semua kegiatan itu dilakukan oleh pria itu dengan sangat cepat tanpa keraguan. Shanum melihat pria itu mulai merapalkan mantra. Lalu api itu bergerak-gerak menuju Sergei. Seakan-akan ingin menyerangnya.
Shanum langsung mengangkat kedua tangannya dan bergerak mundur. "Farah--Diva, berlindung di belakangku, cepat!" Kedua sahabatnya itu langsung berlari ke belakang Shanum saat mendengar perintahnya.
Dia menciptakan pelindung dengan kekuatannya. Cahaya berwarna keemasan itu bergerak membentuk sebuah kubah yang melindungi ketiganya.
Wajah Farah dan Diva terlihat pucat. Mereka sangat syok melihat api yang bisa menyerang di depan sana. Begitu juga warna biru yang mengelilingi orang-orang yang tidak bergerak bagaikan kepompong.
Sergei masih menyerang dengan kekuatan cahaya birunya. Dia bergerak melayang di udara. Berputar, melompat, dan menerjang api yang menyerangnya.
__ADS_1
Shanum tidak berani membantunya. Dia menunggu aba-aba dari pria itu. Karena ia takut salah bertindak. Dia tidak ingin malah menjadi penghambat yang akan mencelakakan Sergei.
"Shanum, tolong kau bantu aku. Kau serang dari sisi sebelah Barat. Jangan takut, percaya saja pada kekuatanmu. Aku akan menjaga di sisi Selatan."
Setelah aba-aba itu muncul, Shanum langsung melesat, berlari menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Sergei.
Dia melepaskan kekuatan cahaya keemasannya. Cahaya itu menghentak api yang kini telah terbelah menjadi dua bagian.
"Serang ke titik pusatnya yang berwarna lebih gelap," teriak Sergei lagi.
Shanum memicingkan matanya, mencari-cari titik pusat yang dikatakan Sergei. Aduh, yang mana ya? Warnanya sama semua lagi.
Shanum masih belum bisa menemukan titik yang berwarna lebih gelap itu. Di tengah-tengah kekalutannya dalam mencari, dia seakan-akan dituntun untuk melihat ke arah sisi sebelah kirinya. Dan Voila... ia menemukan titik berwarna lebih gelap dari yang lain itu.
Shanum lalu memusatkan kekuatannya ke satu titik itu. Dia menembakkan dengan penuh konsentrasi. Api itu perlahan mengecil lalu menghilang sama sekali. Shanum melihat api di posisi sebelahnya, tempat Sergei berdiri juga telah menghilang.
"Kita berhasil, Shanum." Sergei tersenyum lebar. Diva langsung berlari menghampiri pria itu dan memeluknya. Sergei mengecup rambut gadis itu, dan dibalas dengan senyum malu di wajah Diva.
Shanum perlahan melangkah mendekati mereka. Diikuti oleh Farah yang berjalan bagaikan orang linglung.
"Setelah ini apa yang akan kita lakukan? Mereka pasti akan curiga kalau apinya tiba-tiba mati dengan sendirinya," tanya Shanum.
"Percayakan saja padaku. Aku akan merubah pikiran mereka, dan menanamkan dipikiran setiap orang bahwa petugas pemadam sudah berhasil memadamkan api."
Ada keheningan cukup panjang, lalu Sergei mengaku, "Yah, aku bisa merubah pikiran siapa pun dan menanamkan pemikiran baru sesuai dengan yang kuinginkan."
"Itu sungguh mengerikan. Jangan pernah mencoba masuk ke pikiranku, Sergei. Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu," sahut Shanum. Dia tidak bisa membayangkan jika pikirannya di otak-atik oleh pria itu, sehingga ia akan kehilangan pikiran berharga yang seharusnya masih dimilikinya.
"Apakah kau juga menanamkan rasa penuh cinta hingga tergila-gila di hatiku, Sergei?" tanya Diva tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya. Dia memicingkan matanya tampak curiga.
"Apakah itu yang kau rasakan selama ini padaku, Hon? Aku sungguh tersanjung." Bibir pria itu tampak melebar penuh, dia tersenyum sangat manis. Matanya menggelap dan wajahnya terlihat bersinar.
"Oh, kalian berdua ini. Aku sedang patah hati, kasihanilah aku!" ucap Shanum memelas.
"Maaf, Sha. Kau sih!" Diva melotot pada Sergei.
"Bukan aku yang bertanya kan, Hon." Pria itu masih tersenyum lebar.
"Awas saja, aku akan membalasmu," desis Diva sambil cemberut.
"Maaf, aku cuma bercanda. Aku akan mengaku, Hon. Untuk perasaan aku tidak bisa merubahnya. Karena perasaan itu jauh lebih rumit dibandingkan pikiran. Kau bisa percaya dengan kata-kataku kan?"
"Kau tidak berbohong?" tanya Diva lagi dengan tatapan ragu.
"Oke, aku percaya padamu." Diva kembali tersenyum ke arah Sergei.
"Apakah kau kenal dengan salah satu Empath ini, Sergei?" tanya Shanum.
"Tidak, Sha. Seorang Empath biasanya akan menyendiri, jauh dari manusia lainnya. Mereka sangat sensitif, dan tidak suka bersinggungan dengan banyak emosi negatif yang membuat mereka lelah," kata Sergei.
"Oke, cukup dengan penjelasanku. Sekarang saatnya aku mengembalikan waktu ke sediakala. Tolong, kalian segera kembali ke tempat tadi sebelum aku menghentikan waktu. Agar tidak menimbulkan kecurigaan," tambahnya.
"Tunggu sebentar, Sergei."
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Aku... aku ingin masuk ke dalam rumah. Aku ingin mencari jasad orang tuaku," ucap Shanum dengan lirih.
Sergei menggeleng. "Tapi di dalam berbahaya, Sha. Pastinya ada bagian-bagian bangunan yang rapuh karena terbakar."
"Aku akan berhati-hati," katanya penuh harap. Dia memperlihatkan mimik memelasnya.
Pria itu menghela napasnya. "Baiklah, kau boleh ke sana.Tapi aku harus ikut."
Shanum tersenyum cerah, ia menganggukkan kepalanya.
Sergei menoleh ke arah Diva. "Aku menemani Shanum ke dalam dulu ya, Hon. Kau dan Farah tunggu di sini saja, di dalam berbahaya. Aku tidak bisa mengawasi kalian semua."
"Oke, jaga diri kalian baik-baik," sahut Diva.
Mereka lalu berjalan bersama dengan hati-hati untuk masuk ke dalam rumah. Sergei membuat sebentuk cahaya dari sihirnya, yang membantu memberikan penerangan kepada mereka.
Shanum menemukan ruang tamu sebagian sudah hangus terbakar. Tangga yang menuju lantai atas masih ada, tapi susurannya sudah menghilang. Gadis itu menaiki tangga dengan hati-hati.
Menurut penuturan Pak Dirman, kedua orang tuanya berada di atas saat kebakaran terjadi. Api berasal dari bawah, sehingga mereka terjebak di lantai atas.
"Kita ke kamarku dulu ya, ada barang yang ingin kuambil." Shanum langsung menuju ke arah kamarnya, tanpa menunggu persetujuan pria itu. Dia membuka pintu kamarnya dan terperangah. Shanum mengerdipkan matanya, dia takjup melihat kamarnya tidak terbakar sedikit pun.
"Mengapa kamarku masih utuh, Sergei?" ucapnya masih tertegun. Dengan langkah hati-hati ia mendekati ranjangnya. Lalu menatap heran pada sekelilingnya.
"Aku tidak tahu, Shanum. Ini memang aneh." Sergei juga terlihat melongo pada penampakan kamar itu.
__ADS_1
"Apakah kau merasakan ada bahaya yang akan mengancam kita di sini, Sergei?"
"Tidak, aku tidak merasakan aura bahaya apa pun." Pria itu menyipitkan matanya dan menatap dengan waspada.
"Baiklah, aku akan mengambil barang-barangku yang penting. Sebentar ya." Shanum lalu mengambil kopernya dan memasukkan semua hal penting ke sana.
Setelah dua puluh menit berlalu. "Astaga, kau mau pindah rumah, Shanum. Ini banyak sekali. Sergei menggeleng sambil meringis.
"Ini semua penting, Sergei. Aku tidak mungkin meninggalkannya di sini. Oh, iya, hampir saja lupa."
Gadis itu mendekati salah satu lukisan pemandangan. Kemudian ia menggeser pigura lukisan itu. Di balik lukisan ternyata ada sebuah pintu kayu. Shanum mengambil kunci dari sakunya, dan membuka pintu dengan anak kunci tersebut.
Setelah pintu kayu itu terbuka, dibaliknya terdapat lagi sebuah lemari besi kecil. Dia lalu menempelkan sidik jari jempol kanannya pada salah satu bidang, terdengar bunyi klik, dan pintu lemari besi itu pun terbuka. Shanum segera mengambil sebuah dompet dan sebuah kunci dari dalamnya.
"Aku baru tahu, ternyata seorang gadis juga memiliki lemari tersembunyi yang sungguh rumit." Sergei tersenyum geli sendiri memperhatikan Shanum.
"Iya dong, memangnya cuma pria saja yang boleh punya."
"Memang apa sih isinya?" tanyanya penasaran.
"Cuma buku tabungan, kunci Save Deposit Box, dan kunci apartemenku." jawab Shanum sambil memasukkan dompet yang berisi buku tabungan, dan kunci-kunci yang tadi disebutkannya ke dalam tas.
"Oh... aku kira isinya kalung berlian dan barang berharga lainnya. Ternyata cuma itu saja," goda Sergei.
"Hei, ini semua berharga untukku. Lagipula hal yang jauh berharga lainnya aku simpan di Bank, lebih aman daripada di rumah."
"Kau sungguh gadis pintar. Dan apa barang-barangnya sudah semua, Shanum? Tidak ada lagi yang tertinggal kan."
"Iya, sudah semua. Ayo kita bawa turun dulu koper-koper ini." Shanum langsung bersiap mengangkat salah satu koper.
Sergei memutar bola matanya. "Tidak perlu, kau akan menghabiskan waktu kita untuk bolak-balik ke luar kalau begitu. Aku ada cara yang lebih mudah."
Sergei lalu membaca sebuah mantra kembali, dia menyentuh salah satu koper. Dan secara ajaib koper itu mengecil menjadi seperti seukuran kartu ATM yang berada di dompetnya.
Matanya terbelalak lebar. "Aku sampai tidak bisa berkata-kata, Sergei. Kau memang memiliki banyak kemampuan sihir yang unik."
"Ini sangat dibutuhkan untuk yang memiliki profesi sepertiku, Shanum. Aku banyak bepergian, dan tidak ingin banyak direpotkan oleh barang bawaan." Pria itu cengar-cengir sambil kembali mengecilkan koper yang ingin di bawa oleh Shanum.
"Oke, sudah semua. Total ada lima koper ya," kata Sergei.
"Ya, semua sudah aku masukkan ke dalam tas ranselku."
"Tapi, omong-omong, bagaimana jika petugas asuransi memeriksa kebakaran ini. Dan orang yang bertugas, menemukan kejanggalan di kamarku ini, Sergei. Dia pasti akan heran dan bertanya-tanya mengapa kamar ini bisa lepas dari api?"
"Benar sekali. Kalau begitu sekarang aku akan membakar kamarmu agar sama penampakkannya dengan ruangan lain."
"Oke." Shanum segera beranjak dan berdiri di dekat pintu kamar.
Sergei mulai dengan ranjang, ia mengeluarkan kekuatan cahaya birunya. Bedanya cahaya biru kali ini berbentuk api. Dia mulai bergerak menyebarkan api ke seluruh ruangan. Namun keanehan terjadi di ruangan itu. Mendadak muncul seberkas kemilau berwarna keemasan dari dalam laci meja rias.
Kemilau itu menyebar ke seluruh ruangan dan membuat seluruh api di ruangan itu seakan-akan hanya mengambang di udara dan padam. Kemilau itu memancarkan semacam perlindungan kepada seluruh ruangan dari api.
Sergei menoleh ke arah Shanum. "Apa yang ada di laci meja rias itu?"
Shanum langsung bergerak cepat menuju laci meja, dan ia menemukan sebuah kalung emas. Ia mengambil kalung emas dengan bandul berbentuk kelopak bunga dari sana. Bentuk kelopak bunga yang sangat mirip dengan tanda lahir di telapak tangannya.
"Aku lupa pada kalung ini. Kalung ini tiba-tiba berada di leherku saat aku tersadar dari salah satu mimpiku. Aku tidak tahu siapa yang memakaikannya padaku. Yang kuingat tentang mimpi itu, ada seorang wanita yang bernama Nekhii. Dia mengatakan bahwa aku sudah ditunggu olehnya. Tapi aku tidak pernah menganggap serius mimpi itu."
Sergei tertegun. "Nekhii... Nama itu seperti nama salah seorang peramal terkenal yang sudah lama menghilang. Dan dia memiliki kekuatan tidak hanya itu. Kau yakin Shanum? Dari literatur kuno yang pernah aku baca. Nekhii adalah seorang legenda yang kekuatannya sungguh luar biasa."
"Aku tidak bercanda, Sergei. Wanita itu sudah menemuiku dua kali. Satu kali saat di kota Sarai Batu dan satu lagi di dalam mimpiku itu."
Sergei tampak berpikir sejenak. "Berarti kalung itu diberikan olehnya untuk melindungimu, Shanum. Karena kau memakainya setelah kau bermimpi bertemu dengannya kan."
Shanum memegang kalung itu sambil termenung. Ia lalu bergerak untuk mengenakan kalung itu di lehernya yang jenjang.
Yang masih menjadi tanda tanya besar di pikirannya, yaitu mengapa bandul kalung itu memiliki bentuk yang sama dengan pola di telapak tangannya?
"Jangan pernah lepaskan kalung itu, Shanum," ucap Sergei lagi. Shanum mengangguk sambil memegang bandul kalung.
"Baiklah, tadi kau tidak berhasil membakar ruangan ini. Sekarang aku akan mencobanya dengan kekuatanku," ucapnya.
Shanum lalu mulai membakar ruangan itu dengan cahaya keemasannya. Dia merasa sedih melihat kamarnya perlahan mulai dilalap api. Biar bagaimana pun kamar itu sudah ditempatinya sejak kecil.
Dia berhasil membakar kamar itu. Sejak kalung itu dipakainya, sihir perlindungan sudah tidak melindungi kamar itu.
"Aku akan menunggu di sini untuk menjaga agar api tidak menyebar kembali, sekaligus nanti akan memadamkannya. Kau langsung saja ke kamar Ayah dan Ibumu, Shanum. Aku tidak akan lama."
Shanum menganggukkan kepalanya, lalu menuju kamar kedua orang tuanya di ujung lorong lantai dua itu.
Ia memasuki kamar yang sudah penuh dengan puing-puing. Dengan jantung berdebar kencang dan keringat dingin yang mulai terasa di telapak tangannya, ia memindai keseluruhan ruangan. Ia menyalakan aplikasi flashlight dari ponselnya untuk membantunya melihat, dan mencoba masuk jauh lebih ke dalam.
__ADS_1
Memindahkan potongan perabotan yang terbakar yang menghalangi langkahnya. Dengan perasaan berkecamuk yang menyesakkan dadanya. Shanum mencoba menemukan jasad kedua orang tuanya.