
Setelah Sukhba dan istrinya keluar dari tenda, suasana tetap hening. Shanum memperhatikan ekspresi tegang masih tampak di wajah Khan. Pria itu sedang menatap ke arah pintu tenda, namun pancaran matanya seolah sedang tidak fokus. Shanum yakin, pikiran pria itu sedang berkelana ke tempat lain.
Dan Shanum dapat menebak pastinya tentang permasalahan Sukhba dan istrinya yang dipikirkan oleh suaminya.
Shanum menghela napas. Dia bahkan mereka semua tidak bisa melarang pria itu untuk meninggalkan pertemuan, atau pun tidak menyetujui hasil vonis yang dipilihnya terhadap anak mereka.
Kebebasan berpendapat tetap dihargai dalam setiap klan, asalkan dalam prosesnya tidak melakukan salah satu tindakan anarkis yang dapat memancing perpecahan.
Namun Shanum tetaplah penasaran, hal spesifik apa tentang Klan Bataar yang melahirkan ekspresi setegang itu pada suaminya. Tidak mungkin Khan berekspresi seperti itu jika tidak ada hal penting yang dipikirkan olehnya.
Shanum boleh beropini, tapi tetap saja dia harus menemukan pusat permasalahannya tanpa mengundang kecurigaan orang lain. Dan sepertinya dia harus ikut campur lagi kali ini.
"Zuunaa dan Sofia, apakah klan kalian masih mendukung kami?" tanya Shanum sembari mengedarkan pandangan ke arah kedua wanita itu. Dia melihat Zuunaa sudah kembali di bangkunya di samping pasangannya, dengan pundak berdekatan.
Sedangkan Sofia tampak terkejut. Zuunaa yang sedang dalam posisi berbicara pelan dengan kekasihnya langsung mendongakkan kepala, dan memandangnya dengan tatapan bingung.
"Mengapa Anda bertanya seperti itu, Shanum? Apakah kau meragukan kesetiaan kami?" tanya balik Sofia kepadanya.
Shanum mendesah. "Aku hanya merasa cemas. Kalian pastinya bisa mengerti kekhawatiranku itu."
"Kau tidak perlu cemas, Shanum. Tak perlu meragukan kami, seharusnya kau sudah tahu kalau kami tetap mendukungmu," timpal Zuunaa setelah pulih dari kebingungannya.
"Maaf, aku hanya takut vonis yang kuberikan terhadap adikmu dapat mengancam balik kami. Bisa saja Ayah dan Ibumu menyerang kami dan mengobarkan perang baru..."
"Tidak akan," potong Zuunaa.
"Aku bisa memberikan jaminan padamu soal hal itu. Ayah dan Ibuku tidak akan bisa menyerang kalian."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Setahuku dia masih Yang Agung Klan Bataar," seloroh Sergei.
Zuunaa menyeringai. "Pria itu sudah tidak memiliki pendukung, karena aku secara diam-diam sudah mengambil alih kepemimpinan di klan." Zuunaa menjawab dengan tegas dan tenang.
Suara kesiap kaget terdengar di ruangan itu dan juga suara percakapan yang sebagian besar berisi ketidakpercayaan atas ucapan Zuunaa.
"Maksudmu kepemimpinan klan sekarang berada di tanganmu? Tapi bagaimana bisa? Kami tidak pernah mendengar ada perubahan tampuk kepemimpinan di Klan Bataar." Khan ikut bertanya seraya mengangkat sebelah alis.
Semua orang di ruangan itu fokus menatap ke arah Zuunaa. Ada yang menatap curiga, memandang penasaran, mereka menunggu jawaban wanita itu.
Oriod terlihat gusar, ia membuka mulut namun langsung dicegah oleh Zuunaa. Wanita itu menggelengkan kepalanya, tanda dia mau pria itu ikut campur. Melihat tanda tersebut, Oriod tidak jadi merangkai kata, yang mungkin bisa membantu kekasihnya dalam meyakinkan orang-orang di ruangan tersebut.
"Secara tertulis Ayah memang masih Yang Agung Klan Bataar. Namun dibalik layar aku yang berkuasa. Para tetua dan dewan bangsawan kami sebagian besar sudah berbalik mendukungku. Tampaknya mereka sudah lama tidak puas dengan kinerja Ayah. Dan kemiliteran juga sudah seratus persen kuambil alih. Jadi, tinggal menunggu tanggal pastinya saja, aku akan mempensiunkan Ayah dari jabatannya."
Suara riuh kembali terdengar di ruangan itu. Semua orang berusaha berkomentar.
"Apakah kau mau melakukan kudeta, Zuunaa?" tanya Sergei dengan suara menggelegar mengalahkan suara lain di ruangan itu.
"Ya. Kau yakin kudeta itu tidak akan berimbas kepada klan kami?" tanya salah seorang tetua yang bernama Batu. Pria itu sepertinya takut kembali harus terjun ke medan perang.
"Hei... Hei, cukup!" ucap Chinua dengan suara keras. "Tidak perlu terlalu di dramatisir. Biarkan saja dia melakukan kudeta.Kalau diperlukan aku bersedia membantu. Kau tinggal bilang saja, Zuunaa. Dan, menurutku pria bajingan dan dungu itu memang sudah sepantasnya turun dari tahtanya. Toh selama ini dia juga tidak mengurusi klannya."
"Upss, maaf Zuunaa kalau mulutku agak kurang sopan," kata Chinua sambil terkekeh geli. Ucapan maafnya terlihat hanya basa basi, tidak diimbangi oleh bukti nyata. Dengan terdengarnya suara tawa geli itu saja sudah cukup membuktikan, bahwa wanita itu tidak serius merasakan penyesalannya karena sudah berkata kasar.
Dan di samping Chinua, Shanum tampak mendengus keras. Bibi buyutnya itu memang tidak pernah berubah, suka seenaknya sendiri, tidak pernah bisa mengekang mulutnya untuk bebas menghina serta bicara ketus tentang orang lain. Shanum sampai heran, apa yang dilihat oleh Dario, sehingga pria itu tergila-gila kepada bibinya itu.
Untungnya Zuunaa tidak mengambil hati ucapan Chinua. Sepertinya wanita itu sudah mengerti karakter keras dari Chinua. Zuunaa hanya membalas dengan anggukan sembari diiringi oleh senyum tipis di bibirnya.
"Oke, kita sudahi pembahasan soal situasi di Klan Bataar. Semoga proses pengambilalihan nanti tidak berakhir dengan pertumpahan darah. Aku yakin kau, Oriod dan Sofia dapat mengatasinya dengan baik. Dan seperti kata Chinua, aku juga bersedia mendukung jika kau membutuhkan bantuanku." Khan berusaha mengembalikan pertemuan itu ke susunan acara sesuai agenda awal.
Topik selanjutnya yang bergulir adalah tentang calon pemimpin Klan Erebos. Mereka sudah mendengar dari Nekhii bahwa perwakilan rakyat klan tersebut sudah meminta Shanum yang duduk di tampuk kepemimpinan. Namun Khan menolaknya mentah-mentah dengan beralasan Shanum adalah pasangannya, dan dia berkeberatan pasangannya menjadi ratu di klan lain.
__ADS_1
Percakapan itu, konfrontasi itu-- harus ditunda saat Nekhii menjanjikan pada mereka bahwa ia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Shanum. Para perwakilan itu mengangguk, tanda menerima dan kembali ke tenda-tenda mereka.
Kini Khan, pemimpin klan lain, para tetua, dewan bangsawan membicarakannya dengan serius. Setelah perdebatan yang cukup panjang, semua yang berada di ruangan itu masih saja tidak bisa menemukan kata mufakat.
Akhirnya cara voting sebagai usulan dari salah satu dewan bangsawan dilakukan, dan hasilnya lagi-lagi menyisakan hal pelik. Dua orang dengan jumlah angka yang sama menjadi tantangan tersendiri untuk dipilih kembali hingga menjadi hanya tersisa satu orang. Dan mereka tidak bisa memutuskan bagaimana cara memilih salah satu.
"Bagaimana kalau kita meminta Shanum untuk memilih orang yang pantas memimpin Klan Erebos? Daripada kalian ribut sendiri tidak bisa mengambil keputusan sejak tadi," cetus Chinua dengan ekspresi bosan terlukis di mimik wajahnya.
Shanum mengusap kening. Merasa resah, karena lagi-lagi harus dia yang dikorbankan untuk memutuskan hal yang sangat penting tersebut.
"Semoga kau beruntung," bisik Chinua di telinga Shanum sembari menyeringai.
Shanum memelototi Chinua, menepis kekhawatiran yang mulai merekah di dalam perutnya, lalu berkata kepadanya, "Kenapa harus aku yang mengambil keputusan sih," protes Shanum dengan suara pelan.
Dengan wajah polos Chinua berkata, "Kan kau yang diminta oleh klan itu. Lagipula kau juga pemegang pedang ratu dari klan itu kan."
Bayangan-bayangan mengedip di wajah Shanum. "Lantas kenapa? Kurasa tidak ada hubungannya semua itu dengan keharusan diriku memilih salah satunya," tanyanya setengah protes.
Chinua memutar bola matanya. "Ayo lakukan saja. Aku sudah bosan berada di tenda ini sejak tadi," bisik Chinua kembali.
Sampai kapan kami menunggu pembicaraan rahasia di antara kalian, Sayang...
Shanum mengerjap-ngerjap dan menoleh cepat ke arah suara yang menggema dalam pikirannya, dan menegurnya itu. Dia menemukan Khan mengangkat setengah alisnya dengan senyum geli di bibir.
Shanum mengalihkan pandangannya, melihat pandangan penuh rasa ingin tahu dari orang-orang, terlihat menunggu.
Keheningan menetap. Khan menyenggol Shanum sembari tangannya menarik dan meremas telapak tangannya. Seolah pria itu memberikan dukungan kepadanya untuk segera memberikan jawaban.
Astaga, kepalanya mendadak pusing. Shanum menggigit bibir. Dia perlu perpanjangan waktu untuk memutuskan, sedangkan saat ini dia dipaksa menentukan dengan segera. Shanum tidak berani bertindak gegabah dalam memilih, karena semua nama yang terpilih adalah orang-orang yang pantas mendudukinya.
Pertama Dario, pria itu sudah sering menggantikan dan mewakili Khan selama ini. Dia memiliki sihir yang cukup tinggi dan juga memiliki sikap tenang dan berhati-hati dalam menghadapi setiap situasi. Pria itu pasti dapat menjadi pemimpin yang bijaksana dan hebat.
Kedua Nekhii, wanita itu adalah nenek dari Avraam, dia pernah berada di posisi ratu dalam klan tersebut, meski hal itu sudah ratusan tahun yang lalu. Tentunya sekarang pun wanita itu masih mengingat seluk beluk tentang klan tersebut. Sihirnya pun sudah tak bisa diragukan lagi, dia salah satu penyihir legendaris yang dimiliki dunia sihir.
Khan tidak langsung menjawab. Pria itu tampak memikirkan dengan seksama jawaban dari pertanyaan Shanum.
Apa yang kau pikirkan dalam kepala mungilmu itu, Sayang? Kau yakin ingin melakukan itu?
Khan melempar balik pertanyaan Shanum dengan pertanyaan lagi yang muncul dalam benaknya.
Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Adri.
Khan tersenyum tipis lalu mengedarkan pandangannya ke arah seluruh peserta pertemuan itu, "Kalian tidak berkeberatan kan dengan permintaan ratuku?"
"Aku bersedia menunggu dengan penasaran," seloroh Sergei dengan senyum di wajah bak malaikatnya.
"Segera panggil tiga orang perwakilan klan tersebut," perintah Khan.
"Tidak, Adri. Aku ingin mendatangi tenda mereka."
Hening.
Khan menarik Shanum berdiri. Lalu dia menariknya sembari berkata, "Aku perlu berbicara empat mata dengan istriku."
Khan tidak menunggu untuk melihat reaksi orang-orang yang berada di ruangan itu. Dia menggenggam tangan Shanum seraya berjalan dengan gesit.
Shanum melihat pria itu hanya menatap para pengawal yang berada di depan tenda dengan isyarat, lalu para pengawal itu mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Apa yang ingin kau lakukan, Adri?" tanya Shanum dengan suara parau, sambil melirik ke arah pasangan jiwanya.
__ADS_1
"Ada hal-hal lain yang lebih ingin kulakukan terlebih dulu."
Khan menariknya masuk ke dalam salah satu tenda, yang ternyata adalah tenda mereka. Mereka berhenti di tengah-tengah ruangan. Pintu tenda tertutup rapat, ditiup angin sihir dan memancarkan cahaya merah keemasan menyebar ke sekeliling tenda.
Perlahan, tangan yang menggenggamnya merayap menyusuri lengannya ke atas, sembari tangan satunya menarik tubuhnya mendekat. Khan menatap Shanum dengan ekspresi buas. Dan Shanum menelan ludah dengan jantung berdebar kencang melihat tatapan itu.
Shanum tahu Khan tidak menyukai permintaannya tadi. Pria itu marah. Dan amarahnya itu memancing suatu rasa tak asing di dalam tubuh Shanum. Shanum merasakan gairah, dan dia seolah tak berdaya untuk menekannya.
Shanum menikmatinya, kerongkongannya sesak saat meletakkan tangannya pada dada Khan yang berotot, detak jantung yang kencang di balik pakaian pria itu menggaung di tangan Shanum. Tangan Khan masih menelusuri lengannya dan berputar mengelus di sana dan memegangi bahunya.
Ibu jarinya membelai dengan irama lembut di atas pakaian Shanum, sementara itu matanya mengawasi wajah Shanum.
Tidak ada ekspresi geli, yang ada hanya kebuasan. Anehnya Shanum melihat hal itu indah. Lebih indah dari ekspresi rayuannya tadi.
Shanum tercekat saat menyadari dia berubah menjadi masokis, karena hanya masokis yang merasa bergairah menunggu kemarahan dilampiaskan kepadanya.
"Adri..."
Tulang punggung Shanum terkunci dalam bekapan erat salah satu lengan Khan. "Jangan berani bersuara, Shasha."
Shanum kembali menelan ludah. Lalu mengangguk dengan patuh. Jari-jarinya menyisiri rambut Shanum, mengangkat wajahnya. Senyum kaku dan dingin terlukis di rahangnya yang kokoh.
Kepala Khan mendekat, tatapannya terpaku pada mulut Shanum, lapar berkilat di mata coklat keemasannya...
Kau nakal Shasha. Sangat nakal, dan perlu dihukum.
Suara dalam benaknya itu menyentak Shanum, menggetarkan seperti gemuruh lonceng. Kata nakal dan hukum terdengar berat, membuatnya waspada.
Shanum menggeleng. "Tidak perlu mengintimidasiku, Adri. Kita cukup bicara dengan kepala dingin. Karena aku tidak pernah bermaksud memancing amarahmu."
Sttt... Aku sudah bilang jangan bersuara.
Shanum gemetar. Mendadak dia teringat kekerasan yang diterimanya waktu itu, membuatnya kembali terguncang.
Dan ketakutannya itu dapat dirasakan oleh Khan. Pria itu melepaskan tangannya untuk mengelus pipi Shanum dengan buku-buku jarinya, dan mendekatkan keningnya ke kening Shanum. Perubahan perilaku pria itu sempat membuat Shanum tercekat kaget. Terutama saat mendengar ucapan serak diiringi napas terengah dari mulutnya.
"Maafkan aku, Shasha."
Khan kembali menarik Shanum mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, dan sebelah lengannya mendesakkan seluruh wajah Shanum ke dadanya.
Khan mencium rambut Shanum. "Maaf sudah membuatmu takut," ucapnya lagi, dengan nada lirih.
Suara getaran kecil keluar dari kerongkongan Shanum saat ia mengangguk, balas memeluk suaminya dengan erat.
Shanum merasakan ikatan jiwa mereka mengencang, mengungkapkan rasa takut bercampur lara. Dan keseluruhan rasa itu hanya berasal dari satu sisi, sisi jiwa suaminya.
"Aku tidak suka kau mendatangi perkemahan klan tersebut, bukan karena aku khawatir kau terluka. Bukan itu--"
Khan menunduk untuk mencium sudut bibir Shanum.
"Tapi lebih kepada rasa cemas kau akan memilih membantu klan itu, sering pergi ke sana, dan... Meninggalkanku," ungkap Khan dengan jujur. Bibirnya menyapu daun telinga Shanum, mengobarkan kembali gairah yang sempat pupus.
"Aku akan tersiksa, Sayang." Bibirnya kembali menyusuri leher Shanum. Punggung Shanum sedikit terangkat, dia mengangkat kepalanya agar Khan lebih leluasa, menahan keinginannya untuk memohon lebih, memohon lebih cepat saat Khan berbisik, "Karena aku pasti akan merindukanmu."
Mata Shanum menutup pelan, dan kedua tangannya menyangga pinggang Shanum untuk semakin mendekat, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Khan mengusap punggung Shanum selagi pria itu menunduk untuk mencium bagian tengah lehernya.
Shanum mengerang, mencengkeram lengannya, kuku-kukunya menancap di otot-otot Khan--otot-otot yang bergerak selagi dia menggerakkan jarinya turun-naik dengan lembut di punggung Shanum.
Shanum nyaris tidak bisa menyusun kalimat dalam pikirannya. Otaknya mendadak lumer, oleh kedahsyatan gairah yang dibangunkan pria itu.
__ADS_1
Maka Shanum meraih tangan Khan, menuntunnya ke jantungnya, dan menaruhnya di sana. Shanum membalas tatapan redupnya sembari mengucapkan kata-kata yang bangkit di dalam dirinya, bersama setiap tarikan dan embusan napasnya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau milikku."
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan diri yang dijaga Khan sejak tadi. Mulutnya bergerak ke arah mulut Shanum. Bukan ciuman lembut. Tidak halus ataupun menjelajah. Akan tetapi mengklaim, liar, dan tak terkendali. Dan cita rasanya... panas tubuhnya, menuntut sentuhan lebih dalam dari itu. Shanum merasa ia telah pulang. Dia pulang ke rumah. Karena Shanum baru menyadari bahwa rumahnya adalah di mana pun suaminya berada.