Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 64 Keinginan Khan


__ADS_3

Pembicaraan malam itu ditutup dengan kesepakatan untuk berkumpul kembali di apartemen Shanum keesokan harinya. Agar tidak memancing kecurigaan, Sergei akan pergi ke hotel Khan terlebih dahulu dan mereka menuju ke apartemen Shanum dengan bantuan kekuatan teleportasi Jullian.


Shanum juga sudah menghubungi Pak Maman yang bertugas menjaga vila keluarganya. Vila itu terdapat di salah satu kota beriklim sejuk, dan terkenal dengan pemandangan kebun tehnya yang sangat indah.


Khan ikut pulang ke hotel bersamaan dengan kepergian Sergei beserta Diva. Khan harus kembali ke hotel. Ia mengatakan kehadirannya akan mengganggu waktu istirahat gadis itu. Dan ia tidak mau Shanum ambruk dalam pertarungan nanti, karena kurang beristirahat.


Meski sebenarnya Shanum lebih suka ditemani oleh pria itu. Apartemen ini terasa sepi dan kosong tanpanya. Gadis itu sudah terbiasa dengan kehadiran Khan untuk menemani harinya.


Saat menutup pintu depan dengan lembut, gadis itu mulai berpikir kembali soal rencana kepergian mereka ke vila. Sebenarnya dia cemas rencana itu tidak akan berhasil, atau berakhir dengan terlukanya salah satu dari mereka. Tapi tanpa mencobanya mereka juga tidak akan bisa bergerak maju.


Shanum menghela napasnya, lalu beranjak ke balkon di teras ruang tamunya. Gadis itu memandangi langit malam yang terang dengan pencahayaan bulan purnama penuh.


Malam itu cuaca cukup hangat. Ia mendadak teringat rumahnya yang terbakar. Rumah keluarga tempat ia tumbuh-kembang, tempat ia merasa disayangi, aman, seolah tidak ada apa pun yang bisa menyentuhnya. Oh, dia teramat merindukan saat-saat itu.


Desah dalam melandanya saat angin menepuk-nepuk rambut ke wajahnya. Dia membawa helai rambut itu ke belakang telinga sembari tersenyum sedih. Gadis itu teringat kedua orang tuanya.


Hingga kini masih belum ada kabar dari pihak kepolisian tentang hasil pencarian mereka. Meski kasus itu tetap diproses, kecemasan belum bisa menghilang dari benaknya.


Ia tidak tenang sebelum melihat sendiri dengan mata kepalanya keadaan mereka.


Shanum menggenggam pagar pembatas balkon dan berusaha mengabaikan kepedihan yang bercokol dalam pikirannya tentang orang tuanya, yang mengikuti setiap langkahnya.


Kemudian pikirannya beralih. Ia teringat Khan. Setiap kali terpikir akan pria itu, ia akan tersenyum hangat. Hatinya membuncah oleh harapan. Pria itu sumber kebahagiaannya. Pria pasangan jiwanya, dan pemilik seluruh hatinya.


Shanum kembali mendesah, lalu membalikkan badannya. Dia masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu yang mengarah ke balkon.


Lalu ia melangkah menuju kamar mandi, bersiap membersihkan diri, dan sesudahnya menikmati makan malamnya yang terlambat.


***


"Hei, putri tidur, ayo bangun!" Shanum mendengar bisikan lembut di telinganya. Dia langsung terjaga dan membuka matanya. Gadis itu melihat Khan sedang tersenyum. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Shanum.


"Pukul berapa sekarang?" tanyanya sembari menguap. Shanum menggosok matanya yang masih terasa mengantuk. "Yah, sekitar pukul tujuh pagi," jawab Khan.


"Hmmm..." Shanum menggeliat di atas kasur. Khan menggeleng sembari terkekeh geli melihat tingkahnya. Pria itu tiba-tiba menariknya dan menyentaknya dari atas kasur. Shanum langsung menjerit kaget. Pria itu menggendongnya seperti sekarung beras, sambil menggeram.


"Adri, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Shanum sembari tertawa kaget.


"Kau membuatku gemas, karena tidak langsung bangun. Jadi aku membantu membawamu ke kamar mandi." Khan lalu perlahan menurunkan gadis itu di dekat wastafel. Dia mencubit hidung Shanum sembari tersenyum sayang.


"Apa mau sekalian aku mandikan?" katanya sambil menyeringai nakal. Shanum langsung merona mendengar ucapan pria itu. Dia menggeleng.


"Tidak mau," jawab Shanum singkat. Dia juga memutar badan Khan dan mendorong punggung Khan untuk segera keluar dari kamar mandi.


"Yakin tidak mau dimandikan?" Khan mengangkat alis, dengan senyum nakal untuk menggodanya kembali.


"Memangnya aku bayi yang harus dimandikan. Aku bisa mandi sendiri!" katanya. Shanum semakin keras mendorong pria itu ke arah pintu. Namun dia bergeming seolah-olah Shanum mendorong dinding batu, Khan tidak bergerak sedikitpun. Lama kelamaan napas gadis itu mulai berat karena lelah.


Shanum menghentakkan kakinya karena kesal pria itu masih saja menggodanya. Dengan cemberut, dia berkata, "Adri, aku mau mandi ini. Cepat keluar dong dari sini."


Pria itu lalu terkikik geli. "Oke, aku keluar. Setelah ini kau makan, sarapan sudah tersedia. Aku membawa makanan dari hotel."


"Iya." Shanum melambaikan tangannya tanda mengusir pria itu.


"Galak sekali," ucap pria itu sambil menyeringai.


Shanum memeletkan lidahnya, dia langsung menutup pintu kamar mandi setelah dilihatnya Khan sudah menginjak lantai kamar.


Di kamar mandi gadis itu cengar-cengir sendiri mengingat tingkah Khan tadi. Semakin hari tingkah laku pria itu sering mencengangkan dirinya, terutama sikap absurd dan romantisnya itu.


Selesai mandi Shanum berpakaian sekaligus mempersiapkan pakaian dan perlengkapan untuk dibawa ke villa. Dia membawa baju secukupnya, dan juga sweater untuk menghangatkan tubuhnya, karena udara cukup dingin di sana.


Dia keluar dari kamar sembari menjinjing tas besar. Jullian yang sedang berdiri di pojok ruangan langsung menghampiri dan mengambil alih tas gadis itu.


"Hai, Shanum. Ayo sarapan dulu," kata Sergei. Shanum melihat pria itu juga sedang menikmati beberapa makanan di piringnya. Shanum mengangguk sambil tersenyum menanggapi ajakan pria itu. Gadis itu mendekati meja cabinet yang berada di dapur.


"Maaf ya Shanum, barusan aku mengacak-acak dapurmu. Untuk mencari piring dan peralatan makan. Aku menunggumu sejak tadi, tapi kau tidak keluar-keluar dari dalam kamar. Soalnya perutku sudah kelaparan."


"Tidak apa-apa Sergei. Silahkan saja digunakan," jawab gadis itu. Saat sedang mengambil piring untuk memilih hidangan yang berada di meja, dia merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Shanum kontan menoleh dan menemukan Khan sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Aku juga lapar, Shasha," ucap pria itu pelan.


"Mengapa kau tidak makan?" tanya Shanum heran.


"Dia tidak mau makan kecuali bersamamu, Shanum," teriak Sergei.


"Ya, aku ingin diambilkan makan olehmu," sambung Khan. Dia memang sengaja ingin makan berdua dengan kekasihnya, seperti yang biasa ia lakukan. Meski perutnya sebenarnya sudah lapar, Khan menahannya.


Shanum memutar bola matanya mendengar ucapan Khan. "Terus mau sekalian disuapi begitu?" tanyanya.


"Boleh kalau kau bersedia," jawab Khan sembari tersenyum hangat. Pria itu menatap Shanum dengan pandangan sayang. Dan itu membuatnya tertegun.


Shanum langsung merinding, karena merasa ada percikan dalam ikatan mereka. Dan perlahan seluruh tubuhnya ikut menghangat. Shanum menarik napasnya yang terasa tersekat.


"Kenapa kau diam, Shasha?" bisik Khan dengan nada suara seksinya. Suara itu membuat perutnya mengencang.


"Um, tidak apa-apa. Oh iya, kau mau makan apa?" Shanum terlihat menutupi kegugupannya, namun tangannya yang memegang piring tetap terlihat bergetar. Wangi feromon pria itu tercium oleh hidungnya. Dan itu membuat Shanum semakin gelisah.


Khan lalu mendekat, dia mengambil sendok lalu memilih makanan yang diinginkannya. Setelahnya Khan mengambil piring dari tangan Shanum. Pria itu sengaja menyentuh sekilas tangan gadis itu dan berkata, "Terima kasih, Sayang." Lalu dia berbalik dan melangkah menuju sofa. Senyum tipis terlihat dari bibirnya.


Shanum mengikuti pergerakan pria itu melalui lirikan matanya, sembari menahan napas.


Shanum menghembuskan napasnya dan berkata melalui ikatan mereka.


Apa itu tadi, Adri? Mengapa darahku rasanya bergejolak. Apa yang kau lakukan padaku?


Sekejap tidak ada suara yang terdengar. Pria itu terdiam, lalu perlahan Shanum mendengar suara tawa menggoda dalam kepalanya. Gadis itu mengernyit. Pria itu tidak menjawab, tapi mendadak tertawa seperti pria kurang waras. Gadis itu langsung cemberut. Dia kesal karena Khan tidak menjawabnya, dan menjadi bertingkah aneh.


"Dasar pria gila!" gerutu Shanum.


"Ya, tergila-gila padamu," jawab Khan keras.


Shanum langsung menoleh mendengar kata-kata Khan, dan melihat pria itu sedang menyeringai ke arahnya. Sementara Sergei tersenyum geli sembari memutar bola matanya.


"Ah, kalian berdua ini. Aku jadi merindukan kekasihku kan," desahnya. Sergei langsung berdiri dari duduknya sembari mengeluarkan ponselnya. Dia melangkah menuju balkon. Kemungkinan pria itu sedang menghubungi Diva.


Shanum tidak habis pikir, ternyata pria-pria dari dunia sihir itu sangat hangat, melindungi dan penuh perhatian pada kepada kekasihnya. Setidaknya contoh yang ia lihat di depan matanya adalah seperti itu. Khan, Sergei dan Dario, mereka bersikap seperti itu. Dario malah nyaris mati hanya demi Chinua.


Setelah itu ia menuju sofa untuk dia orang yang letaknya di sisi kiri Khan. Dia sengaja tidak mau duduk satu sofa yang sama dengan pria itu. Meski tempat di samping Khan kosong. Ia tidak mau mendapatkan godaan dari pria itu lagi.


"Mengapa duduknya jauh di situ? Di sebelahku kan kosong," tanya Khan.


Shanum diam, dia pura-pura tidak mendengar ucapan Khan. Gadis itu tetap asyik mengunyah makanannya.


Khan mendatangi Shanum dan pindah duduk di sampingnya. "Jangan ganggu aku Adri, aku sedang tidak ingin melayani godaanmu."


Khan menghela napasnya sembari memperhatikan Shanum lekat. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu lalu merebahkan punggungnya dengan santai pada sandaran sofa dengan sebelah lengan diletakkan di arm panel. Netra matanya melayangkan pandang pada Shanum.


Hingga makanannya habis, pria itu tidak bergerak dari posisinya. Shanum juga tidak mengindahkan keberadaan Khan. Dia beranjak bangun berniat membereskan piring kotor bekas mereka makan dan mencucinya di dapur.


Khan tidak menghalanginya. Dan anehnya Shanum merasa heran. Biasanya pria itu akan berusaha membantu atau bersikap manis, tidak diam seribu bahasa seperti yang ia lakukan sekarang.


Saat Shanum selesai dengan cucian piringnya, Khan masih setia di tempat duduknya. Pria itu menunduk, entah menatap apa? Karena penasaran Shanum bergerak mengendap-endap mendekati pria itu.


Dia berdiri di belakang Khan dengan hati-hati agar pria itu tidak menyadari ia sedang mengintip. Dan saat Shanum tahu hal yang sedang dilakukan pria itu, ia tertegun kaget.


Khan ternyata sedang memandangi fotonya saat ia sedang berada di rumah kaca mansion pria itu. Rasa kesalnya seketika lenyap, berganti dengan perasaan sayang yang meluap-luap.


"Orangnya ada di sini, mengapa fotonya yang diperhatikan?" kata Shanum dengan tiba-tiba di dekat telinganya. Mendengar suara gadis itu secara mendadak membuat Khan tersentak kaget. Dia langsung segera mematikan layar dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.


Shanum bergerak memutar, ia melangkah ke depan sofa. Berdiri di hadapan pria itu lalu kembali duduk di sebelahnya. Mereka saling menatap dalam diam. Shanum tersenyum tipis ke arah pria itu.


Namun Khan hanya memandang tanpa ekspresi, datar, dan tidak tertebak. Shanum berusaha membaca melalui ikatan mereka, tetapi pria itu membentengi pikiran dan hatinya. Shanum tidak dapat membacanya.


"Ada apa, Adri? Mengapa tingkahmu menjadi aneh?" tanya Shanum.


"Apakah kau marah, Shasha?" tanyanya balik.


"Tidak, sekarang sudah tidak. Sejak aku melihatmu memandang fotoku di ponsel tadi," kata Shanum sembari tersenyum lembut.

__ADS_1


Khan menghela napasnya. Kemudian senyum mulai terbit di bibirnya. Sepertinya pria itu merasa lega. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Adri. Soal perasaan aneh yang kurasakan."


Khan menyugar rambutnya sembari tersenyum kembali. "Maaf, tadi aku hanya ingin menggodamu."


"Kau bohong, katakan yang sebenarnya, Adri. Aku akan mencoba tidak akan menghakimi. Aku tahu ada yang kau sembunyikan."


Khan berdeham. "Kau yakin ingin mengetahuinya. Tidak akan syok jika aku mengatakannya terus terang." Khan mencoba memastikan kembali kepada Shanum.


"Ya, katakan," ucap Shanum.


"Setelah musuh kali ini bisa ditangkap dan aku kembalikan ke Klan Bataar. Aku sebaiknya kembali juga ke Astrakhan."


"Mengapa?" tanya Shanum dengan kaget. Dia tidak percaya pria ini akan meninggalkannya kembali.


"Karena aku harus, Shasha."


"Jawab yang jelas, jangan setengah-setengah." Nada suara gadis itu kembali ketus. Matanya memicing menatap Khan dengan tajam.


Khan kembali menyugar rambutnya, lalu dia mengusap wajahnya. Pria itu terlihat gelisah.


"Jangan membuatku cemas, Adri. Katakan ada apa!" ucap Shanum tidak sabar.


"Hei, ada apa ini? Mengapa kalian bertengkar? Tadi menebar cinta sekarang malah jadi menabur kebencian," potong Sergei.


Shanum langsung melotot ke arah Sergei. "Maaf, sebaiknya kau kembali dulu ke balkon atau enyah kemana saja. Ada yang harus kubicarakan empat mata dengan pria ini." Shanum menunjuk Khan dengan wajah geram. Mendengar Khan ingin kembali ke negaranya membuat gadis itu mendadak emosi.


"Apa kau mulai merindukan gadis-gadis Seleksi itu?" Sekarang dia mulai berpikiran buruk tentang pria itu.


"Woa, sebaiknya aku keluar dari sini. Tidak mau menjadi korban pertengkaran kalian berdua." Sergei langsung bergerak menuju pintu apartemen. Namun sebelum sampai di depan pintu dia dihadang oleh Jullian.


"Sebaiknya aku membawa Anda ke suatu tempat dahulu dengan teleportasi. Jika Anda menunggu di luar apartemen ini, tentunya rencana kita akan sia-sia," kata Jullian dengan muka datarnya.


"Ah, iya... Kau benar sekali. Aku nyaris melupakannya. Ayo, kita pergi ke suatu tempat, keluar dari sini," sahut Sergei. "Hei, aku akan pergi selama tiga puluh menit. Jadi silahkan manfaatkan waktu kalian dengan baik," kata Sergei kepada kedua sejoli itu.


Kemudian keduanya menghilang dari hadapan Shanum dan Khan. Entah kemana Jullian membawa serta Sergei, yang pasti kedua sudah enyah dari tempat itu seperti permintaan Shanum.


"Sekarang tinggal kita berdua di sini, Adri. Aku tidak mau kau berkelit lagi. Cepat katakan!" desisnya.


Khan menggeleng, wajahnya tampak keruh. "Aku tidak ingin kau menjadi takut padaku, Shasha."


"Takut?" Gadis itu semakin bingung. Dia tidak mengerti dengan ucapan Khan yang berbelit-belit. Shanum mencoba meredam emosinya. Mungkin jika dia melunak pria itu akan mengungkapkannya.


Shanum mendesah lelah. "Baiklah, Adri. Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku tentunya tidak bisa memaksa. Sebaiknya aku menunggu di kamar saja. Kau bisa panggil aku dari depan pintu, jika Sergei sudah kembali," ucapnya.


Kemudian Shanum melangkah menuju kamar. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Gadis itu menutup salah satu matanya dengan punggung tangan. Pikirannya berkelana kepada pria yang berada di ruang tamunya itu. Pria yang bersikeras menutupi sesuatu hal yang membuatnya cemas dan bertanya-tanya.


Shanum tidak menutup ikatan mereka. Masih berharap pria itu merubah pikirannya dan berbicara lewat pikiran mereka yang terhubung.


Dan prediksi Shanum sungguh tepat. Setelah lima menit berlalu, suara pria itu bergaung di pikirannya.


Shasha...


Ya, Adri?


Maafkan aku.


Aku tidak tahu, Adri. Sekarang ini aku sendiri bingung, aku ragu masih marah atau tidak kepadamu.


Aku pun mengalami dilema, Sayang. Harus mengungkapkannya atau tidak.


Terserah kau saja, Adri. Seperti kataku tadi kan, aku tidak bisa memaksamu.


Shasha, hal ini tidak berkaitan dengan Seleksi. Kau harus percaya kepadaku.


Kalau kau tidak berusaha menjelaskannya bagaimana aku bisa percaya.


Baiklah, aku akan mengatakannya. Tadi itu aku merasakan kembali libidoku naik padamu. Sepertinya mantra ikatan ini tetap berusaha memaksa kita untuk menuntaskan prosesnya hingga akhir. Dan semakin ke sini terasa sungguh sulit untuk kutahan. Yang membuatku semakin cemas, kau ikut merasakan getaran itu, dan mulai terpengaruh.


Aku tidak mau mencemarimu sebelum kita resmi menikah. Karena seperti yang dikatakan Sergei, kau hanya bisa menjadi Selir jika sudah tercemar. Dan aku tidak mau kau menjadi Selir. Aku berharap kau menjadi Ratuku.

__ADS_1


Berdasarkan kejadian tadi, aku terpaksa mengambil keputusan untuk berjauhan denganmu. Karena hanya itu satu-satunya cara yang saat ini kuketahui. Saat nanti aku sampai di kotaku, aku akan mencoba mencari Nenek Buyutku, Nekhii. Dan semoga dia mengetahui solusinya.


Aku juga tidak mau berjauhan denganmu. Dan juga tidak mau saat berdekatan denganmu aku merasakan ingin menerkammu bagaikan hewan di musim kawin. Kini kau sudah mengetahuinya. Tolong dengan pengungkapan ini kau tidak menjadi takut padaku, Shasha. Atau menjadi benci kepadaku dan ikatan kita.


__ADS_2