Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 105 Bercak Hitam


__ADS_3

Bercak hitam itu terpisah-pisah, terpecah menjadi bentuk-bentuk tak terhitung. Terlalu besar untuk ukuran kawanan burung. Dan bukan fenomena alam menurut Osbert, yang tentu saja hafal seluk-beluk wilayahnya.


"Kau harus memberitahukan sinyal bahaya kepada Chinua dan orang-orang di kastil. Begitu juga penduduk di kota ini, Osbert," perintah Khan.


"Penduduk sudah menyadarinya," jawab Osbert singkat. Shanum melihat penduduk di sana mulai menunjuk-nunjuk, ada yang berteriak-teriak, bersiaga, dan juga ada yang berlari-lari. Mungkin mereka mencari tempat berlindung.


"Kita kembali ke kastil sekarang juga," kata Osbert. Pria itu lalu mengucapkan mantra dan membuka portal. Cahaya berkilau perpaduan warna perak dan biru muncul menyerupai pintu tak jauh dari mereka. Osbert membuat gerakan mengarahkan untuk masuk ke dalam sinar itu.


Khan meraih Shanum dalam gendongan, lalu membawanya melompati cahaya itu. Mereka muncul di salah satu teras kastil yang menghadap laut.


Khan menurunkan istrinya itu dari gendongannya dengan lembut. Shanum berpijak dengan kedua kakinya di atas lantai marmer, ia menoleh dan melihat Farah muncul dari portal, lalu disusul oleh Diva dan Osbert yang muncul belakangan.


Portal mulai meredup dan tertutup bagaikan layar, lalu hilang sama sekali dari pandangan setelah mereka semua telah berada di kastil. Shanum melihat es menari-nari di ujung-ujung jemari Osbert, angin mulai berputar di sekitar mereka. Pria itu mengawasi sekelilingnya.


Dia melihat bercak hitam itu berubah bentuk menjadi sekumpulan manusia yang terbang mengelilingi kastil sambil menjerit mengerikan. Mereka berusaha menembus memasuki kastil. Tapi tindakan itu sia-sia, kastil itu dilindungi oleh mantra.


"Syukurlah kalian sudah kembali. Sepertinya ada yang berani mengantarkan nyawa mengirimkan pasukan sihir hitam menembus perlindungan kota ini." Mendadak Chinua muncul dan bergabung bersama mereka.


"Mereka mendarat di tebing laut sebelah selatan. Makhluk-makhluk menjijikkan bagaikan kabut menyerbu kemari. Kastil ini sudah kuperkuat dengan pelindung tambahan. Semoga bisa bertahan sementara kita merancang strategi untuk melawan mereka" Chinua memberikan isyarat kepada mereka untuk masuk ke dalam kastil.


"Osbert..."


"Saya, Ratu."


"Kau perintahkan pasukanmu untuk bersiaga. Setelah itu kau menyusul kami. Aku, Khan dan Shanum akan ke ruang singgasana." Chinua mengajak mereka untuk pergi ke ruangan tersebut. Namun mendadak Chinua berhenti melangkah, dia melirik ke arah Farah dan Diva.


"Aku lupa ada manusia tanpa kekuatan sihir di sini. Osbert, mulai sekarang, tanggung jawabmu untuk melindungi mereka berdua."


Osbert mendesah kesal. Sepertinya dia tidak menyukai perintah Chinua untuk menjaga kedua sahabat Shanum itu.


"Apa kau tidak punya ruang perlindungan khusus, Chinua?" Khan bertanya sembari mengerutkan keningnya.


"Untuk apa aku memerlukan ruang perlindungan. Selama ini tidak pernah ada yang berhasil menyerangku," jawabnya dengan arogan.


"Seharusnya kau berpikir bahwa di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Tentunya masih ada orang yang memiliki sihir lebih tinggi darimu. Jadi kemungkinan penyerangan terhadap tempat ini dapat dilakukan," celetuk Shanum.


"Sayangnya sampai dengan saat ini aku belum pernah menemukannya. Dan kalaupun ada, aku tidak akan percaya begitu saja kekuatan mereka lebih kuat dariku dan pasukanku." Chinua menjawab dengan pongah.


Shanum mendengus mendengar jawaban Chinua. Dia tidak heran mendengar rasa percaya diri dan arogan yang menguasai wanita itu. Selama ini sepak terjang Chinua sangat ditakuti oleh seluruh Klan, hingga tidak ada yang mau berurusan dengannya.


"Kau tak perlu repot, Osbert, kedua sahabatku akan bersamaku dan Khan," kata Shanum.


"Tidak bisa. Kalian akan bersamaku di garis depan. Hanya Osbert yang bisa membawa mereka keluar dari tempat ini. Dia hafal jalan rahasia di kastil ini." Chinua menjawab dengan ekspresi tegas.


Shanum menghela napasnya. "Oke. Tolong jaga kedua sahabatku, Osbert. Aku percayakan mereka kepadamu."


Shanum menghampiri kedua sahabatnya. "Maaf ya, kalian jadi ikut terbawa ke peristiwa berbahaya ini."


"Kami mengerti, Sha. Ini bukan kemauanmu," jawab Diva. Gadis itu mencoba mati-matian menutupi rasa takutnya. Dan hal itu tetap dapat terbaca oleh Shanum. Di antara kedua sahabatnya memang Diva yang tidak menguasai ilmu beladiri.


"Jangan khawatir, Osbert pasti bisa membawa kalian ke tempat aman." Shanum berkata lagi guna meyakinkan keduanya.


Shanum mendengar Farah mendengus keras. "Aku tak yakin pria cantik itu mampu."


"Farah!" Diva memberikan pelototan garang ke arah Farah, setelah melihat emosi mulai terbentuk di mata Osbert.


"Osbert pasti bisa melindungi kalian berdua. Meski perilakunya kurang meyakinkan, tapi dia salah satu Jenderalku yang kompeten," potong Chinua.


"Bagaimana dengan Ibuku, Chinua?" tanya Khan mengalihkan pembicaraan yang mulai memanas.


"Dan orang tuaku," sahut Shanum ikut menambahkan.

__ADS_1


"Oh mereka sudah kembali ke mansionmu, Khan. Ibu Shanum mengeluh tidak sehat, dan suaminya bersikeras untuk membawanya ke rumah sakit para manusia. Pria itu tidak percaya dengan ahli pengobatan yang kupunyai di sini. Jadi akhirnya Ibu Khan mengantar mereka kembali ke Astrakhan," jawab Chinua.


Shanum mendesah lega. Setidaknya dia tidak perlu khawatir atas keselamatan orang tuanya. Masalah sakit yang sedang dirasakan ibunya dapat dipikirkan oleh Shanum nanti. Yang terpenting saat ini mereka semua berada di tempat yang aman, jauh dari situasi penyerbuan ini. Dan harapan Shanum semoga ibunya hanya mengalami sakit ringan saja, bukan jenis penyakit yang berat.


"Kalau begitu aku akan menghubungi Eej, agar mereka jangan kembali ke sini dahulu," sambung Khan. Pria itu lalu memisahkan diri, dia berusaha mengirimkan telepati kepada Eej, ibunya.


Kemudian situasi berubah sangat cepat, seolah-olah mereka berada di bawa oleh angin kencang, pasukan itu sampai di pinggiran kastil, melepaskan kekuatan-kekuatan gelap ke arah dinding kastil.


Shanum melihat dari kaca pengintai milik Chinua, dalam pergerakannya menuju kastil, sebagian pasukan itu melepaskan juga panah-panah ke arah orang-orang yang berlarian panik mencari perlindungan di jalanan.


Meski sebagian besar melawan dengan kekuatan sihir mereka masing-masing, tapi adu kekuatan itu tampaknya tidaklah sebanding, kekuatan musuh jauh lebih kuat dari mereka.


Dan mereka yang memiliki sihir dapat mengelak dari panah-panah tersebut, akhirnya memilih melarikan diri. Tapi yang tidak memiliki, akan terkapar mati tertembus panah. Shanum melihat Chinua menggemeretakkan giginya, menggeram ketika melihat penampakan di kaca tersebut.


Shanum mendesah keras, dia juga ikut marah bercampur sedih melihat ada korban yang berjatuhan akibat penyerbuan ini.


"Mereka mulai bisa menembus lapisan pelindung tambahan yang kupasang. Sebaiknya kita berpencar untuk melawan. Khan, Shanum, dan aku akan bersama pasukan elit pelindungku, sedangkan Osbert kau bersama pasukanmu. Batgard dan pasukannya sudah kukirim melindungi kota."


"Ratuku, bagaimana dengan kedua gadis ini. Aku tidak mungkin bertempur dengan membawa mereka bersamaku," kata Osbert.


"Kau bisa membawa mereka ke tempat yang menurutmu aman, Osbert. Dan berikan mantra perlindunganmu kepada mereka. Masa melindungi dua orang saja kau berkeberatan." Chinua mengangkat alisnya.


"Biarkan kedua sahabatku bersamaku saja, Chinua." Shanum mencoba menengahi situasi yang mulai tidak enak itu.


"Tidak bisa. Kita akan berada di garda depan. Osbert dapat menyelinap keluar kastil ini. Dan kurasa, aku tahu penyerangan ini ditujukan kepada siapa sebenarnya. Mereka mengincarmu Khan dan juga istrimu ini." Chinua menatap ke arah Khan dan Shanum.


"Tolong jangan tersinggung. Aku dapat berkata begitu karena pelindung yang terpasang di wilayahku ini tidak pernah ditembus selama aku membuatnya. Hanya tikus pengkhianat dengan sihir tinggi, yang bisa membuka mantra perlindungan itu. Dan hal itu baru terjadi sejak kedatangan kalian dan rombongan ke sini," tambah Chinua.


"Jadi kau bermaksud menuduhku membawa seorang pengkhianat kemari!" Khan menggeram, ekspresinya terlihat tersinggung.


"Aku tidak menuduhmu dan keluargamu. Tapi untuk anggota klanmu yang lain aku masih menyangsikannya."


"Adri sudah! Saat ini bukan waktunya untuk bertengkar sesama kita. Musuhmu bukan Chinua, tapi orang-orang yang berada di luar kastil ini." Shanum meletakkan jemarinya di siku tangan Khan sembari menatapnya dengan wajah memohon.


"Siapa takut?! Aku dengan senang hati meladenimu mencari pengkhianat itu," balas Chinua dengan wajah datar.


Shanum menggelengkan kepalanya. Kedua orang ini memang sama-sama arogan dan mudah tersinggung. Shanum harus banyak bersabar dan bersikap netral, berusaha meredam timbulnya perseteruan berkelanjutan di antara mereka.


"Oke, sekarang aku akan membuka sisa perlindungannya. Osbert, kau bersiap keluar menuju pintu rahasia. Kami akan memancing mereka masuk dari pintu utama. Pergilah, Osbert!" Chinua memberikan isyarat dengan tangannya kepada Osbert untuk keluar dari ruang singgasana itu. Dan Osbert mematuhi perintah ratunya.


"Kalian berdua, ikut aku," kata Osbert kepada Farah dan Diva. Kedua gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka patuh mengikuti perintah pria itu.


Chinua langsung mengucapkan mantra, tangannya membentuk pola tertentu, cahaya berwarna biru keluar dari tangannya. Kemudian cahaya itu melesat ke atas, menembus langit-langit dan menghilang dari pandangan. Mereka memang tidak melihat lagi cahaya tersebut, tapi suara letupan terdengar samar-samar setelahnya.


Mereka bertiga sudah bersiap di ruangan singgasana itu. Mendadak Shanum melihat para pria bermunculan di sekeliling mereka, mengenakan pakaian gelap dengan wajah cantik menggemaskan. Shanum terpana, inikah pasukan elit pelindung ratu yang diucapkan Chinua tadi?


Pasukan elit itu tidak terlihat garang sama sekali. Mereka lebih mirip sepasukan model yang sedang bersiap untuk mengikuti fashion show.


Pakaian gelap pas badan memang mencetak kumpulan otot di tubuh mereka. Terlihat kekar dan kokoh. Rambut mereka yang panjangnya rata-rata sebahu, berwarna keemasan serta coklat terlihat terawat. Rambut itu ada yang diikat, ada juga yang dibiarkan berkibar indah terbawa angin yang mengembus dari pintu yang terbuka.


Jangan meneteskan air liur, Shasha. Tutup mulutmu yang terbuka sejak tadi itu.


Shanum mendengar suara Khan menggeram di dalam kepalanya. Dia seketika tersadar dari keterpukauannya. Shanum menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering.


Ya ampun, Adri. Itu pasukan elit milik Chinua? Mereka semua sangat cantik dan gagah. Mengapa Chinua memilih dikelilingi oleh pria-pria cantik? Dan aku tak yakin mereka bisa membantu kita membasmi para bedebah golongan hitam ini.


Ya, mereka bisa. Kau tidak boleh menafsirkan kekuatan mereka hanya dari penampilan, hal itu sangat menipu. Aslinya mereka itu berbahaya, Sayang. Aku pernah mendengar, jika padukan elit pelindung ratu itu adalah sekumpulan orang-orang terpilih yang memiliki kekuatan sihir luar biasa.


Tapi mereka lebih mirip gerombolan model dibandingkan petarung terpilih. Apakah kau punya pasukan elit seperti ini juga, Adri? Kalau ada bolehkah aku bertemu mereka?


Shanum mendengar suara dengusan dipikirannya dan decakan kesal. Sepertinya suaminya itu merasa jengkel mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


Shanum memperdengarkan tawa geli dalam ikatan mereka. Tidak perlu cemburu, Suami. Bagiku, tetap kau yang paling tampan. Aku hanya penasaran, apakah memang para pria di dunia sihirmu ini tidak ada yang jelek.


Kemudian Shanum mendengar kembali suara dengusan. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka kau memperlihatkan tampang bodoh di depan orang lain. Dan tidak semua memiliki wajah sempurna. Kau belum bertemu saja dengan yang kurang sempurnanya.


Percakapan dalam ikatan itu terputus, ketika gerombolan penyerang memasuki ruang singgasana. Mereka memiliki wajah seperti manusia pada umumnya, tidak mengerikan seperti yang menyerang kota. Kelompok yang masuk ke dalam kastil bukanlah monster mengerikan seperti yang mereka lihat lewat cermin tadi.


"Hei, Bajingan... kemarilah, lawan kami! Seenaknya saja kalian sudah memasuki wilayahku tanpa izin!" Chinua berkata angkuh sambil berkacak pinggang.


"Maafkan kami yang sudah bertindak kurang sopan mengganggu wilayahmu, Your Majesty. Kami hanya menginginkan kedua orang yang berada di samping Anda itu," jawab salah satu dari mereka yang cukup berwibawa.


Shanum mengernyitkan kening. Apakah pria itu adalah pemimpinnya?


"Tidak bisa! Mereka keluargaku. Dan untuk apa kau meminta mereka?" geram Chinua sambil mengepalkan tangannya.


"Kami harus membawa mereka. Dengan kerelaan atau pun dengan paksaan." Pria itu menjawab dengan datar.


Shanum mengangkat alisnya. Dia heran, seingatnya tidak pernah ia mengganggu orang lain hingga menimbulkan dendam. Dia hanya pernah bersinggungan dengan Chinua dan Sofia. Dan tidak mungkin pria ini berasal dari Klan Bataar. Shanum tidak pernah melihat pria itu saat pertarungannya dengan kelompok Sofia.


Shanum memicingkan matanya, menatap satu persatu pria dan wanita yang berada di ruangan itu. Lalu dia melihat seorang pria bertopeng melangkah dengan santai membelah kerumunan. Shanum mengenal pria itu. Dia adalah pria pemilik sihir hitam yang pernah muncul dalam mimpinya.


*Sialan! Itu pria jahat yang berada dalam mimpiku waktu itu, Adri.


Kau pernah memimpikan pria itu? Kapan? Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku*?


Shanum mendengar nada suara penuh emosi dari Khan di dalam kepalanya.


*Aku tidak sempat mengatakannya, Adri. Karena setelah itu banyak peristiwa yang terjadi di antara kita.


Kau berutang penjelasan padaku, Shasha. Dan jika kita bisa mengakhiri pertarungan ini dengan kemenangan, aku akan menuntut ceritamu.


Oke... nanti pasti aku ceritakan. Tidak perlu khawatir sih*.


"Baru begitu saja sudah marah. Huh, kekanakan sekali!" gumam Shanum sembari mengerucutkan bibirnya.


Aku mendengarmu, Shasha.


Shanum menoleh ke arah Khan dengan bingung. *Tapi aku kan tadi bicaranya tidak dalam hati. Mengapa kau bisa tahu?!


Kita terhubung sempurna saat ini, Shasha. Ucapanmu baik diucapkan mau pun tidak diucapkan aku pasti tahu.


Sepertinya aku harus bertanya kepada Eej, bagaimana caranya memiliki privacy untuk diriku sendiri dalam urusan ikat-mengikat jiwa ini.


Silahkan saja. Pasti jawaban Eej adalah tidak ada. Aku bisa yakin akan hal itu*.


Shanum mendengus mendengar kalimat arogan pria itu. Lalu dia memusatkan kembali pandangannya ke arah pria bertopeng yang kini sedang membungkukkan tubuhnya.


"Perkenalkan, Your Majesty. Aku dari Klan Yang Terlupakan. Sebut saja kami seperti itu. Kau sudah mendengar ucapan salah satu rekanku barusan. Jadi, jika Anda tidak mau terjadi pertumpahan darah lebih lanjut, sebaiknya kau serahkan kedua orang itu."


"Untuk apa?" tanya Chinua dengan nada suara sangat dingin, hingga siapa pun yang mendengar akan menggigil dibuatnya.


"Bukankah tadi kau sudah mendengar jawabannya. Mengapa harus ditanyakan kembali? Apakah kau memiliki gangguan dengan pendengaranmu, Your Majesty?"


"Lancang...!" Chinua menggeram marah.


"Jawaban rekan berengsekmu tadi tidak menjawab pertanyaan dalam pikiran kami, pria jelek!" Shanum ikut menyahut dengan ekspresi marah. Sekujur tubuhnya menampilkan cahaya berwarna keemasan.


"Wow, Cantik. Itu sangat kasar. Aku tidaklah jelek. Kau pasti akan jatuh cinta padaku, kalau melihat wajahku di balik topeng ini. Em, tapi itu nanti saja di lain waktu, saat kau sudah menjadi milikku."


"Kurang ajar!" Kali ini giliran Khan yang menggeram marah. "Jangan pernah bermimpi untuk menjadikan Istriku sebagai milikmu, Sialan!"


Pria bertopeng itu lalu tertawa sangat keras. Tawanya terdengar licik dan mengerikan. Shanum merinding mendengar tawa pria itu. Pria itu membawa hawa jahat yang kental dalam tubuhnya. Seolah Shanum berhadapan dengan sosok Iblis yang menyerupai manusia. Sungguh membuat bulu kuduk berdiri dan jantung nyaris lepas dari dadanya.

__ADS_1


"Yang Agung Khan Adrian, akhirnya kau memiliki nyali menjadikan wanita mengagumkan ini sebagai istrimu. Sungguh sayang sekali..." Pria itu menyeringai dengan ekspresi kejam.


"Tapi aku tidak peduli. Wanita itu milikku, harus menjadi milikku. Dan kau, tidak pantas menjadi suaminya. Pria pengecut dan plin-plan sepertimu hanya cocok mati mengenaskan... di tanganku!"


__ADS_2