Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 124 Perang Kedua


__ADS_3

Sembari memperhatikan Khan, dan berpikir bagaimana menemukan kelemahan para mayat hidup itu, Shanum berhenti bergerak sepenuhnya. Keringat dingin semakin banyak keluar dari pori-porinya. Shanum menahan serbuan rasa sakit yang mulai mencengkeramnya.


Hingga membuatnya tanpa sadar mengerang keras. Dia menyadari ada yang salah dengan tubuhnya, dan hal ini dimulai sejak pedang ratu itu memilihnya. Namun biasanya, rasa sakit itu tidak separah ini. Shanum masih dapat menahan dan melupakannya.


Shanum kembali mengerang sangat keras sembari membungkuk, dan suaranya di dengar oleh Khan melalui ikatan mereka. Pria itu menoleh ke belakang, dan menemukan Shanum sedang berlutut menahan rasa sakit.


Shasha.


Bisikan penuh kekhawatiran berkumandang dalam ikatan mereka. Mata Khan memancarkan kepanikan. Pria itu berteriak keras, memberikan perintah untuk mundur, sembari berlari dengan cepat menuju Shanum, ia mengeluarkan sihir perlindungan di tengah pertempuran, sebagai batas antara pasukannya dan pasukan musuh. Hanya pasukannya yang dapat masuk ke balik perlindungan itu, sedangkan pasukan musuh akan terpental jatuh olehnya. Suara gema perintahnya diikuti oleh Sofia, Sergei, dan Chinua. Mereka serentak mundur mengikuti perintah Komandan tertinggi mereka.


Suara robekan keras terdengar dari punggung Shanum. Membuat wanita itu semakin menjerit keras menahan rasa sakitnya. Pakaiannya menghilang pada sisi itu, menampilkan gambaran sulur bercahaya di sepanjang tulang punggung Shanum, yang terlihat memancar dari pangkal pinggang hingga ke tengkuk.


Sergei yang berada pada posisi terdekat berjengit ngeri. Dia ingin bergerak menghampiri Shanum. Namun, sebuah cahaya mengelilinginya bagaikan kepompong. Membuat pria itu membatalkan niatnya. Sergei terpaku berdiri memandangi Shanum, diikuti oleh Khan yang sudah berdiri di sampingnya dengan tegak. Khan melangkah maju mendekati Shanum dengan ekspresi cemas. Namun langkahnya dihalangi oleh Sergei.


"Lihat saja dan perhatikan. Dia tidak akan bisa kau sentuh. Aku pernah membaca di salah satu literatur kuno, bahwa ada sebuah proses seperti ini dalam transformasi sihir. Dan proses ini sangat langka, hingga mulai dilupakan." Sergei berbicara tanpa menoleh, ia terkesima menatap ke arah Shanum.


"Maksudmu, dia bertransformasi menjadi lebih kuat?" Khan terpancing untuk bertanya.


"Mungkin saja. Semoga hanya kekuatannya yang berubah, bukan fisiknya. Aku tidak bisa membayangkan kalau Shanum berubah menjadi bertanduk dan bertaring," sahut Sergei sembari terkekeh.


"Oh, tutup mulutmu. Istriku bukan Iblis." Khan menjadi sewot mendengar candaan asal Sergei, dan dibalas kekehan lebih panjang dari pria itu.


Kini, Shanum bangkit dari posisi berlututnya, secara mengejutkan punggungnya yang terbuka diliputi oleh cahaya berwarna emas bercampur hitam berkilau. Cahaya itu membentuk pakaian baru di tubuh Shanum. Pakaian itu melekat di tubuhnya bagaikan kulit kedua, berwarna hitam gelap, dengan sisi transparan berwarna keemasan, pada bagian yang menutupi punggung dan rok yang menjuntai indah. Tetap menampilkan gambaran sulur pada punggungnya yang misterius.


Selain perubahan pada pakaian, wujud fisik Shanum juga mengalami perubahan. Setiap helai rambutnya, di selingi oleh warna coklat keemasan. lembut. Bola matanya tetap berwarna hitam berkilau, yang berbeda iris matanya berubah menjadi keemasan.


Khan terkesima melihat penampilan istrinya yang berubah bak dewi dalam sekejap. Bukannya ia tidak pernah menyadari bahwa istrinya merupakan wanita yang cantik sebelumnya, namun saat ini tampilannya lebih memukau dan lebih... menggoda. Naluri memiliki Khan terguncang hebat, dan merasa sangat ingin membawa wanita miliknya itu ke suatu tempat tersembunyi dari pandangan orang lain.


"Wow... Shanum, sungguh perubahan yang sangat memikat. Aku sampai tak sanggup mengedipkan mataku," ucap Sergei sembari terperangah.


Khan langsung beranjak berdiri di depan pria itu, ia menghalangi pandangan Sergei dengan sosok tubuhnya yang tinggi dan kekar.


"Hei, kau mengganggu penglihatanku. Minggir Khan, aku perlu melihatnya lagi." Sergei berusaha menghela tubuh Khan dari hadapannya.


"Tidak boleh. Dia milikku, Sialan! Kau tidak berhak mengaguminya seperti itu." Khan membalikkan tubuh seraya menggeram marah. Matanya berkilat keji.


Sergei tertegun. Lalu ia menyeringai. Tidak ada ekspresi takut pada wajah pria itu. "Sungguh tidak adil dirimu padaku, Khan. Coba kau perhatikan para pria lain yang sekarang sedang memelototi istrimu itu. Kau tidak melarang mereka? Mengapa hanya padaku kau bersikap begitu?" protes Sergei sambil bersedekap.


Khan mendadak kaku, lalu mengedarkan pandangannya pada orang-orang di sekelilingnya. Ia baru menyadari perkataan Sergei itu terbukti benar. Semua orang menatap terpesona pada istrinya. Dan hal itu membuatnya tidak suka, matanya langsung berkilat tajam.


"Jaga tatapan kalian dari istriku, jika masih ingin hidup!" ancamnya sambil berteriak keras.


"Astaga..."


Sergei memekik kaget, kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.


"Hei, apa yang terjadi? Dan mengapa kau menghentikan peperangan? Terus sekarang malah jadi mengancam orang-orang?" Chinua berbicara dengan raut wajah penuh tanya, sembari melangkah dengan cepat disusul oleh Dario tepat di sampingnya.


"Tidak ada apa-apa. Hanya ada seorang suami yang sedang mencemaskan pandangan orang-orang terhadap istrinya," celetuk Sergei dengan gelak tawa berkumandang dari bibirnya.


"Apakah itu benar, Khan?" tanya Chinua sembari memicingkan matanya. "Kau mengacaukan perang ini hanya karena cemburu?"

__ADS_1


Khan tidak menjawab. Ia melewati Chinua dan melangkah menuju istrinya.


"Oh, yang benar saja Khan. Khan... hei..." Chinua terlihat kesal merasa dianggap angin lalu oleh pria itu. Sambil menghentakkan kakinya ke tanah ia menoleh ke arah Dario. Dan Dario menjawab dengan ekspresi meringis tanpa kata.


Shanum memperhatikan seluruh perdebatan itu dengan pandangan mata bersinar geli.


"Kau sengaja ingin mengujiku, Shasha." Khan menatap tajam dan dingin ke arah Shanum. Sepertinya pria itu sedang ingin memperlihatkan sikap dinginnya yang melegenda itu.


Shanum tersenyum dikulum. "Aku tidak sedang mengujimu, Adri. Tapi harus kuakui," ujar Shanum saat matanya bersinar menggoda, "aku baru menyadari ternyata suamiku sungguh seksi saat bersikap posesif."


Masih dengan senyum menggodanya, bermandikan kekuatan yang kini memancar dari tubuhnya, Shanum mengirimkan gambaran ke dalam pikiran Khan sembari melepaskan dengan mudah perlindungan mereka. Bunyi desisan terdengar di udara, dan musuh dapat dengan mudah menyerang mereka kembali.


Khan berhenti, dan tersentak. Wajahnya seolah habis ditonjok dengan keras. Istrinya dengan mudah melepaskan sihir perlindungan yang dimilikinya tanpa mantra pembatalan yang rumit. Dia mengalihkan pandangannya dengan cepat ke sekelilingnya, kemudian kembali ke istrinya dengan tercengang.


"Oh... Aku pasti sedang bermimpi," kata Sergei sambil mendesah. Bersamaan saat tiga sosok wanita bak bidadari muncul di samping pusaran cahaya, di samping tubuh Shanum. Para wanita itu memakai pakaian transparan yang mirip dengan Shanum. Bedanya mereka memiliki sayap berwarna keemasan yang sangat indah. Wajah mereka sangat khas Asia. Dengan kulit seputih susu, bibir tipis berwarna merah, hidung mungil menggemaskan, mata sipit dengan netra hitam berkilau dan tubuh sintal cenderung seksi.


Kedua pasukan tampak terkejut di tempat.


"Ini... ini adalah..." bisik Chinua terpana tak mampu meneruskan kata-katanya.


Kemudian mereka ternganga melihat tiga wanita cantik bagai bidadari yang menghantam ke barisan prajurit Avraam, dan teriakan-teriakan pun kembali dimulai.


Tubuh-tubuh berjatuhan di depan mereka, tubuh-tubuh mayat hidup itu ambruk setelah mereka lewati, semuanya berupa abu yang terbungkus baju perang. Dibabat habis dengan mudah langsung di kepala lalu dibakar dengan api sihir, menimbulkan kengerian luar biasa pada setiap orang. Sebagian prajurit yang merupakan manusia, kabur karena melihat kesaktian ketiga wanita itu, dengan wajah ketakutan mereka yang paling dalam.


"Sekarang, bolehkah kau mengizinkan aku ikut berperang dengan leluasa, Adri?" tanya Shanum sambil melangkah mendekati Khan.


Khan masih membeku, ia memperhatikan dengan serius pergerakan ketiga wanita itu.


Mendengar panggilan Shanum, ia tersadar dan menoleh ke arahnya. Pria itu tidak menjawab, ia hanya menyeringai sembari mengulurkan tangannya ke arah pasukan Avraam, yang sekarang berusaha memperbaiki kekacauan yang merajalela itu.


Jari-jari Khan terarah.


Kekuatan sihir merah meletup darinya. Sekumpulan besar pasukan Avraam memudar dalam sekejap.


Cahaya merah, potongan-potongan besi tergeletak di tempat mereka berada sebelumnya.


Khan terengah-engah, sinar matanya sedikit liar. Serangan itu terarah dengan baik. Membelah pasukan itu menjadi dua.


"Kau mendapatkan izinku, Sayang. Sekarang kita mitra yang sesungguhnya," sahut Khan dengan alis terangkat, dan kekaguman merayap di wajahnya.


Shanum tersenyum kecil. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan pertunjukkan ini."


"Oke, siapa takut." Khan mengedipkan mata, dan menerjang dengan gesit ke pasukan musuh di depan mereka. Khan memberikan komando untuk menyerang kembali kepada seluruh pasukan mereka.


Mereka semua bergerak mematuhi perintah, termasuk Sergei yang ikut melancarkan serangan kedua. Sinar biru menghantam kumpulan pasukan lawan yang kini terekspos dengan berkurangnya pasukan mayat hidup. Membuat mereka terpecah-pecah.


Tiga wanita tadi kembali ke sisi Shanum yang kini ikut melancarkan kekuatannya untuk menghancurkan musuh.


"Kau mendapatkan makhluk abadi pelindung penyihir pertama yang pernah muncul," ucap Sergei sambil bertarung di samping Shanum.


"Benarkah? Kalau begitu, aku sangat beruntung," jawab Shanum sambil bergerak lincah berubah-ubah dan berputar-putar didampingi sabetan pedang ratu dalam genggamannya. Darah bercipratan di mana pun Shanum dan ketiga wanita pelindung itu menerjang, dengan jeritan memilukan dari prajurit-prajurit musuh yang terkena serangannya. Sebagian bahkan kelihatannya mati hanya karena ketakutan.

__ADS_1


Pasukan mereka, untungnya tidak mundur ketakutan melihat tindakan brutal ketiga wanita pelindung itu, sementara ketiganya berlari ke arah barisan musuh sambil mengeluarkan suara teriakan yang lembut namun mematikan.


Shanum tetap meraungkan perintah melalui pikirannya yang terhubung dengan ketiga wanita itu, bahwa hanya pasukan Avraam dan sekutu-sekutunya yang boleh mereka serang.


"Bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu, Sergei?" Shanum bertanya kepada pria itu di sela-sela pertarungannya.


"Aku ini salah satu pelacak terkenal kau ingat. Jadi semua literatur rahasia sudah berhasil mengisi koleksi perpustakaan tersembunyiku. Tentang ketiga wanita pelindung itu disebutkan dalam salah satu buku kuno," jawab Sergei sembari menahan laju pedang salah satu pasukan musuh, lalu menusuknya dengan sekali sentakan.


Shanum tidak berkomentar lagi. Dia kembali disibukkan oleh pertarungan dalam peperangan itu. Begitu juga dengan Sergei, pria itu melesat ke depan mendekati Khan.


Suara dari kedua pasukan beradu... Shanum tidak punya kata-kata untuk menggambarkannya. Zuunaa bertarung bersama kekasihnya, pria itu menjaganya dengan kewaspadaan tinggi. Sementara Sofia sendiri mengarahkan kekuatannya dalam bentuk bola api yang membakar tubuh para musuh.


Sedangkan Sarnai, Shanum tidak melihatnya di pertempuran ini. Kemana wanita itu?


Dalam pikirannya, Shanum sangat senang jika wanita itu pergi untuk selamanya. Karena keberadaannya di tempat ini pun tidak dibutuhkan oleh mereka. Wanita itu tidak berguna. Tingkahnya hanya memancing amarah di antara mereka.


"Sudah mulai berantakan," kata Chinua, meski barisan mereka, terutama pasukan Khan, Sergei, Sofia dan milik Chinua masih bertahan.


"Belum," kata Khan. "Banyak yang belum melewati baris depan. Kita harus menunggu sampai perhatian Avraam tertuju ke tempat lain."


Dimulai dengan Khan menyerang maju ke barisan depan pertempuran itu.


Perut Shanum terasa teraduk-aduk. Pasukan Avraam mulai bergerak, mendesak ke depan. Ketiga wanita pelindung menyerbu jauh ke dalam barisan, tapi prajurit-prajurit Avraam dengan cepat bergerak menutup lubang di barisan.


Khan berteriak keras memerintah barisan depan agar terus bertahan. Panah-panah api dan es melambung dan jatuh di kedua sisi. Panah-panah itu menemukan sasaran mereka. Berulang-ulang kali. Seolah kedua kubu memantrai panah-panah itu untuk bisa memburu tepat ke sasaran.


"Ini tidak akan selesai sampai kita menemukan bajingan itu," bentak Chinua mulai tidak sabar.


"Aku akan mencari Avraam langsung," sahut Shanum.


Khan menggeram. "Tidak."


"Aku sekarang mitramu, Adri. Jadi, kau tidak bisa melarangku." Shanum menjawab dengan ketus.


Khan tampaknya mendengarkan, meskipun dia sudah berpaling menebas pasukan musuh yang menghampirinya. Pikirannya terhubung dengan Shanum dan mengirimkan sinyal kekhawatirannya.


*Aku akan baik-baik saja, Adri. Sekarang, aku memiliki ketiga pelindung di sisiku.


Hati-hati*.


Hanya dua kata itu yang diucapkan Khan sebelum Shanum melesat pergi dengan ketiga wanita pelindungnya.


Suara dentuman terdengar di udara. Kedua pasukan tampak berhenti untuk menengok. Dan Shanum ikut berhenti di posisi terdepan.


Muncul pasukan yang menyeruak di bukit sebelah Timur, satu baris pasukan memakai pakaian berwarna hijau rumput khas penyihir dengan kekuatan alam. Dari balik bukit itu, Taban muncul, berbalut pakaian berwarna sama, dengan jubah coklat menjuntai dari bahunya. Dia melangkah membawa pasukannya dengan langkah mantab menuju baris depan pertempuran.


Shanum tercekat kaget. Dia menoleh ke arah Khan dan teman-teman mereka yang lain. Semuanya ikut terpana. Dan hanya Dario yang terlihat tenang tanpa ekspresi. Shanum memicingkan matanya, ia curiga Dario sudah dapat mencium pengkhianatan Taban sebelumnya. Namun, entah mengapa pria itu menyimpan untuk dirinya sendiri. Shanum berpikir ia akan menanyakan hal ini nanti kepada Dario.


Kemudian Khan menggeram keras sebagai peringatan, dia tidak mau repot-repot mengendalikan dirinya. Suaranya menggema di sekeliling bukit tersebut.


Taban hanya bereaksi dengan menaruh tangan di kepala pedangnya dan berkata, "Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku kepadamu, Khan. Mari kita bertarung."

__ADS_1


__ADS_2